Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cinta di Ranjang Jenderal

Cinta di Ranjang Jenderal

Navila terpaksa menyerahkan kehormatannya kepada prajurit Erdan demi mendapatkan obat bagi ayahnya. Meski awalnya hanya rencana sekali saja, ia justru terjerat dalam keinginan sang Jenderal yang mulai jatuh hati padanya. Di tengah perseteruan dua kerajaan, mereka menyadari bahwa hubungan ini terhalang oleh waktu yang singkat. Akankah perasaan mereka mampu bertahan dan tersampaikan dengan tulus saat perang besar sedang berkecamuk di antara kedua belah pihak?
Bab
Bagikan

Bab 2

“Ikut aku,” ucap Tuan Deus yang langsung berbalik.

“Tapi Tuan, bagaimana dengan yang lain?” Seorang tentara menyeimbangi langkah tapi tak bermaksud menghadang Tuan Deus.

“Urus saja seperti biasanya,” ucap Tuan Deus tanpa memperlambat langkahnya. Tentara itu langsung berhenti dengan mengaruk-garuk dahinya seperti orang yang ragu. Beberapa langkah kemudian, Tuan Deus berhenti tepat sebelum memasuki teras bangunan itu.

Tuan Deus kembali berbalik, “Ikuti aku, nona bergaun biru muda.”

Navila tahu pria itu memanggil dirinya. Ia mencoba melangkah tapi kakinya sedikit gemetar. Udara malam mulai menembus pakaiannya. Lengan dan lututnya merasakan hembusan angin malam yang dingin. Kini Navila tahu mengapa para perempuan memakai mantel dan sarung tangan hangat.

“Kau cantik tapi menyebalkan, Nona. Cepat kemarilah dan ikuti aku,” ucap Tuan Deus yang menahan emosinya. Dua jarinya mengisyaratkan agar Navila segera menghampirinya. Navila tak bisa mundur lagi, ia mulai melangkah dengan menggenggam erat tangan Adeline.

“Tidak, tidak. Nona, hanya kau saja.” Jari telunjuk Tuan Deus melambai dengan cepat.

Adeline menggenggam tangan Navila dengan kedua tangganya. “Kamu harus bersabar.”

Kemudian genggaman tangan itu terlepas bersama anggukan kepala Navila. Ia mulai berjalan dengan lutut yang masih gemetar. Tangannya bersedekap di dada tapi telapak tangannya menggosok-gosok lengan yang dingin. Ia mengenakan dress yang panjang roknya di bahwa lutut tapi lengan bajunya pendek— tak sampai siku.

Navila mengikuti Tuan Deus yang berjalan dalam koridor Benteng Esthaz. Bangunan itu merupakan bekas bangunan militer milik Kerajaan Agelan, tapi sepuluh hari yang lalu tentara Kerajaan Erdan berhasil merebutnya.

Kabar mengatakan semua tentara Agelan tewas ketika bertahan di benteng itu. Beberapa mengatakan terjadi pertempuran sengit dalam mempertahankan benteng itu. Navila tahu kebenarannya, benteng itu ditinggalkan tepat sehari sebelum tentara Erdan datang.

Langkah kaki Navila terus mengikuti Tuan Deus yang menyusuri koridor bangunan. Mereka berbelok, lantai kayu yang mereka pijak berubah menjadi tanah. Terlihat sebuah bangunan megah dengan tiga tingkat. Navila tak mengenali isi dan seluk beluk bangunan di dalam benteng karena dahulunya merupakan tempat dengan akses terbatas bagi warga sipil.

Tuan Deus terus berjalan dan kemudian berhenti di depan dua orang tentara yang sedang duduk bersantai menikmati minuman hangatnya. Dua tentara itu langsung berdiri dengan sigap. Senapan laras panjang mengantung di dada mereka. Salah satu pria itu menatap dengan tatapan tajam dan waspada tapi pria lain tersenyum menjijikkan.

“Siapa kamu?” tanya pria yang memiliki tatapan tajam.

“Dia adalah Tuan Deus,” bisik pria satunya yang bermaksud menjelaskan.

“Aku datang untuk membawa hadiah kepada Jenderal,” ucap Tuan Deus dengan bangga.

Navila mendengar sebutan pangkat tinggi militer itu, perasaannya tertusuk tajam, ia tak menyangka disebut sebagai ‘hadiah untuk sang jenderal’. Sungguh buruk bila kesuciannya akan hilang di tangan seorang jenderal tua. Navila membayangkan bahwa orang yang berpangkat jenderal militer pastilah seorang pria tua seumuran ayahnya. Itu menjijikkan dan hina, tapi Navila sadar kepada siapa pun nantinya ia memberikan tubuhnya, perbuatan itu tetaplah hina.

Satu-satunya yang dia inginkan hanya obat untuk kesembuhan ayahnya, tapi bila mungkin ia harap tidak diperlakukan kasar.

Dua tentara itu tersenyum lebar seperti seorang anak kecil yang mendengar hadiah. Tatapan mereka seperti serigala yang kelaparan. Pria dengan senyum yang paling menjijikkan melangkah ke depan Tuan Deus. Ia berbisik dengan tatapan buasnya, “Meski aku merasakan bekas dari Jenderal Zhukov, aku tak keberatan.”

“Kami. Hahaha,” sahut pria satunya. Dua pria itu tertawa dan memandang Navila dengan penuh nafsu birahi. Navila semakin menundukkan kepalanya, ia terbayang perlakukan yang lebih bejat dari dua pria itu dari pada bayangan sang jenderal tua.

“Permisi, Tuan-tuan,” ucap Tuan Deus menerobos dua pria itu. Navila mengikutinya, salah satu pria mendekat dan mengendus bau parfum yang Navila gunakan, tapi ia tidak memedulikan.

“Aku bisa mencium bau apel yang manis dan segar,” ucap pria itu seperti mabuk. Perkataan itu benar karena Navila menggunakan sisa parfum apelnya. Ia merasa bodoh, harusnya ia tak memakai wewangian yang menarik perhatian.

Langkah Navila telah mencapai teras bangunan dengan lantai kayu. Tuan Deus berhenti tepat di depan pintu dan menoleh ke belakang.

“Percayalah, kamu akan mendapatkan yang lebih baik setelah melayani Jenderal. Tak perlu dengarkan dua orang itu, jika kamu mendapat perhatian Jenderal Zhukov, tak akan ada yang berani menyentuhmu,” ucap Tuan Deus.

“A-aku hanya ingin obat untuk ayah,” ucap Navila singkat.

“Kamu bisa mendapatkan lebih,” ucap Tuan Deus dengan membuka pintu.

Saat pintu terbuka, udara hangat dari perapian menerpa wajah Navila. Bau roti kayu manis tercium samar-samar. Perutnya pun langsung meraung kelaparan tapi tak begitu keras untuk didengar Tuan Deus.

Seorang laki-laki tua sedang duduk di samping perapian itu. Ia mengenakan pakaian dinas militernya, jas yang dia kenakan menandakan dia berpangkat cukup tinggi. Tangannya memegang gelas anggur dan pandangannya menoleh ke arah pintu.

" Selamat malam Mayor Nezhkov ," sapa Tuan Deus.

Sang Mayor tiba-tiba membuka matanya lebar-lebar. "Kau membawa barang bagus, Tuan Deus."

"Maaf Tuan, nona ini milik Jenderal Zhukov," ucap Tuan Deus dengan sedikit membungkukkan badannya.

Mayor Nezhkov kini tersenyum dan kemudian tertawa sendiri, dia seperti orang gila. Raut wajahnya bengis, ada keriput di bawah lengkungan matanya, dan dia mungkin berumur lebih dari 45 tahunan.

"Percayalah, Jenderal Zhukov tidak tertarik dengan perempuan. Kamu lebih baik memberinya mata-mata musuh dari pada perempuan cantik ini." Mayor Zhukov mulai berdiri dengan gelas anggur di tangannya.

Ia mendekat ke Navila dengan senyum binatang buasnya.

Navila bisa merasakan aura bejat dari pria tua itu. Ia sungguh tak menyangka pria itu adalah pria yang diwanti-wanti oleh Gia. Sorot mata pria itu sungguh menjijikkan, Navila tak sedikit pun berniat menggoda pria itu.

"Apa Tuan Nezhkov tahu keberadaan Jenderal Zhukov?" tanya Tuan Deus sambil menutup pintu tanpa membelakangi Mayor Nezhkov.

Mayor Nezhkov terus berjalan dengan mabuk. Ia menunjuk ke atas, "Dia ada di lantai tiga."

Langka Mayor Nezhkov masih belum berhenti. Ia meneguk sisa angur dan kemudian membuang gelas kosong dari aluminium itu. Gelas itu jatuh memantul beberapa kali, suaranya mengiringi langkah Mayor Nezhkov yang ingin menerkam Navila.

Tuan Deus berhasil menghadang terkaman itu tapi nafas bau alkohol tercium hingga ke hidung Navila.

"Aku mau kau, meski sisa dari Zhukov," ucap Mayor Nezhkov yang sedikit mabuk.

Navila terus menunduk dan diam. Perkataan itu sama menjijikkannya dengan dua tentara tadi. Semua tentara Erdan sama saja, pikiran mereka hanya ingin memuaskan nafsu birahinya.

“Tuan, perempuan ini milik Jenderal,” ulang Tuan Deus dengan sorot mata yang serius. Kedua pria itu saling menatap sangat dekat, tatapan mereka saling menantang dan siap berkelahi.

Mayor Nezhkov mundur satu langkah tapi sorot matanya masih menatap Tuan Deus dengan sangat tajam. “Agelan busuk.”

Tuan Deus melangkah tanpa memedulikan makian itu. Navila mengikuti langka pria itu ke tangga. Ia tak berani menoleh ke Mayor Nezhkov karena merasa wajah bengis dan bejatnya masih mengawasi.

“Aku tahu ini pertama kalinya untukmu,” kata Tuan Deus saat menaiki anak tangga menuju lantai tiga.

“Saranku, jangan bersikap kaku atau menolak. Ikuti saja permainannya saat dia menyentuhmu. Aku yakin malam akan berlalu dengan cepat. Mungkin kamu akan terbiasa nantinya.” Tuan Deus kemudian berhenti di sebuah pintu kamar. Ia mengetuk pintu itu tapi setiap ketukan yang ia dengar rasanya menabuh jantung Navila.

Pintu terbuka, ketakutan menghampirinya, tapi Navila harus melayani pria itu.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Anakku Tak Butuh Ayah Sepertimu
7.9
Alana nyaris tewas setelah diserang tiga pemuda di Gunung Lawu hingga terperosok ke jurang. Beruntung, ia diselamatkan oleh Arga, mantan anggota Kopassus yang kini menjadi buronan dan bersembunyi di hutan. Di tengah pemulihan luka fisik dan traumanya, Alana terjebak dalam dilema antara keinginan balas dendam atau bangkit kembali. Hubungannya dengan Arga yang keras namun protektif pun kian intens, memicu emosi baru yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Sampul Novel Bukan Perawan Kesayangan Tuan-tuan Gigolo
9.6
Dunia gempar melihat deretan gigolo tampan dan berharta yang justru mengejar cinta seorang gadis desa miskin. Meski dianggap lugu, ia sebenarnya pembunuh berdarah dingin yang telah mencelakai para pria tersebut. Keanehan memuncak saat para gigolo ini justru merasa terhormat jika harus meregang nyawa di tangannya. Mengapa mereka tetap memuja sosok yang berbahaya bagi hidup mereka? Sebuah kisah romansa penuh aksi tentang obsesi yang tidak masuk akal bagi orang awam.
Sampul Novel Cold-hearted girl
9.4
Seorang pembunuh bayaran wanita yang tangguh kini memegang misi baru sebagai pelindung seorang ilmuwan jenius. Keselamatan sang ilmuwan terancam setelah ia berhasil menciptakan sebuah penemuan yang sangat krusial. Namun, di tengah situasi berbahaya yang mengintai nyawa mereka, benih-benih asmara justru mulai tumbuh. Pertemuan intens ini memaksa sang gadis menghadapi konflik batin saat perasaan profesionalnya perlahan berubah menjadi cinta yang mendalam.
Sampul Novel DENDAM CINTA
9.8
Fanila tewas mengenaskan akibat pengkhianatan kekasihnya dalam sebuah misi berbahaya. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua melalui reinkarnasi ke tubuh Ziana, gadis yang dibenci keluarganya sendiri. Di kehidupan baru ini, Fanila kembali bertemu sang mantan yang ingin ia hancurkan. Masalah rumit muncul karena pria itu adalah kakak dari kekasihnya saat ini. Kini ia terjebak pilihan sulit: menuntaskan dendam lama atau menjaga cinta barunya.
Sampul Novel DI ATAS RANJANG MAFIA
9.7
Michele Lazzaro Riciteli adalah pemimpin mafia Roma yang kejam dan memiliki kondisi medis langka. Dirinya kebal terhadap rasa sakit fisik, namun ia juga tidak mampu merasakan kepuasan seksual. Hidupnya berubah drastis setelah terlibat cinta satu malam dengan Meghan Crafson, wanita yang secara ajaib bisa menyembuhkan disfungsinya. Demi mempertahankan sensasi yang selama ini hilang, Michele nekat memerintahkan penculikan Meghan. Apa rahasia di balik identitas Meghan sebenarnya?
Sampul Novel Melarikan Diri Dari Dekapan Neraka
9.0
Sejak kecil, hidupku dikelilingi oleh janji-janji manis yang palsu. Ryder menyelamatkanku saat aku berumur sepuluh tahun dan bersumpah akan menjagaku selamanya. Lima tahun kemudian, Wayne hadir dan memberikan komitmen serupa untuk melindungiku seumur hidup. Namun, semua janji perlindungan itu hancur berkeping-keping ketika aku menginjak usia dua puluh tiga tahun. Demi menyelamatkan cinta pertama mereka, kedua pria yang sangat kupercayai itu tega mengkhianatiku dan melemparku ke dalam laut yang dingin.