
Chasing Vampire
Bab 3
Banyak yang bilang Julian adalah kandidat kuat untuk menjadi seorang selebriti. Wajahnya yang tampan dan segar jika di depan kamera menjadi modal utama orang-orang di sekitarnya mengatakan hal tersebut. Akan tetapi, Julian menolak mentah-mentah. Pria berkulit pucat itu mengakui jika ia tidak bisa berbicara di depan kamera. Lagipula, hanya dengan satu kali penjelasan saja orang-orang bisa memahaminya.
“Sore semuanya, kali ini kita ada proyek baru. TV DKT sedang membuat acara variety show baru. Temmy ditawari untuk bergabung. Namun, syaratnya jika bergabung kita harus mempersiapkan tanggapan untuk naskah mereka. Aku minta tim kreatif bisa membedah dan memilah mana yang harus diganti atau tidak seperti biasanya,” ungkap Julian menjelaskan. Nada bicaranya selalu tegas sekaligus menenangkan. Apalagi tatapan matanya, sangat tajam hingga membuat lawan bicaranya bisa tunduk dan memilih untuk tidak bertatapan dengannya. Tim kreatif mereka langsung mengerti arahan bicara Julian.
“Besok, setidaknya kalian sudah memberikan naskah aslinya untuk saya supaya DKT bisa mengeceknya juga,”lanjut Julian. Elena mengacungkan tangan dan menanyakan sesuatu.
“Tolong jelaskan target penontonnya siapa? Lalu ditayangkan jam berapa? Oh, iya. Apa nanti Temmy harus memakai kostum tertentu?”
“Target penontonnya tentu saja semua kalangan karena ini acara variety show bertema keluarga, jadi harus sesuai dengan itu. Tidak perlu pakai kostum, hanya timbulkan kesan Temmy yang kalem.” Elena mengangguk paham meski raut wajahnya terlihat kurang puas.
“Ada yang perlu ditanyakan lagi, Elena?”
“Oh, tidak. Aku sudah cukup jelas,”kata Elena mencoba menyembunyikan kekhawatirannya. Padahal, jika dilihat isi naskahnya, waktu penayangan Temmy tidak terlalu banyak. Elena pun mmencoba mengobrol berdua dengan Julian pasca rapat mereka berlangsung sekitar setengah jam berikutnya.
“Maaf aku lancang. Setelah kubaca, screen time Temmy hanya sedikit. Apa kamu yakin mengambil pekerjaan ini?”
“Tenang saja. Itu baru naskah satu episode. Aku akan memastikan seberapa banyak Temmy bisa muncul,”
“Baiklah. Aku mengandalkanmu,”Elena mengedipkan satu mata pada Julian dan meninggalkan pria itu. Julian mengernyitkan dahi, bagaimana bisa Elena melakukannya segampang itu? Sepengetahuannya, wanita itu bahkan tidak pernah melakukan kerlingan mata kepada Abel. Tunggu, apa dia sedang menggodaku?
“Ehm... Elena. Apa kamu yakin tidak pernah mendengar nama Corry dalam kehidupanmu?"
"Corry lagi, ya? Aku sepertinya mengenal dia."
Julian menunjukkan minatnya yang tampak antusias usai Elena mengatakan hal tersebut. "Apa kamu... mengingatku?"
“Aku mengenal Corry ketika kami berpapasan di jalan. Dia seorang anjing, sebenarnya,” kata Elena asal. Julian mengumpat pelan, wanita satu ini tidak berubah sama sekali.
“Sialan. Memangnya kamu pikir Corry itu anjing,”gumam Julian lirih.
“Aku tidak tahu hubunganmu dengan mantan pacarmu seperti apa, tetapi yang jelas kamu harus menerima kenyataan jika dia memang sudah meninggalkanmu,”
“Ibu. Dia bukan mantan pacarku, dia ibuku.”Julian tidak ingin berbicara terlalu banyak pada wanita tersebut sehingga ia meninggalkan Elena berdiri terdiam seperti tidak tahu harus berbuat apa.
“Apa, wanita itu adalah ibunya? Jadi Julian terobsesi dengan ibunya sendiri? Ckckck... Kasihan,”kata Elena pada diri sendiri dan kembali pada kesibukannya.
**
Rutinitas kehidupan Elena Karenina tidak ada bedanya dengan pegawai kantoran biasa. Tinggal di sebuah kamar di apartemen kecil merupakan impian Elena sejak muda. Elena saat muda memiliki pencapaian untuk diri sendiri jika di usianya yang ke-24 tahun sudah harus keluar dari rumah. Terbukti sudah, di usianya yang sekarang membuktikan jika ia bisa mewujudkannya. Meski orangtuanya tidak pernah memberi target tertentu tentang hidup mandiri anak-anaknya, tetapi Elena sangat menyukai gaya hidup pegawai kantoran yang ia tahu.
Namun, ternyata semua itu cukup berat jika dijalani sendiri. Pekerjaan Elena bukan seperti pegawai kantoran biasa. Ia harus selalu standby 24 jam dan tidak dapat diperkirakan kapan selesainya. Mengingat ia bekerja di perusahaan agensi artis, maka mau tak mau ia mengikuti jadwal tersebut.
Belum lagi merawat diri sendiri selepas kerja. Menyiapkan makan malam, merawat diri agar tetap cantik, membersihkan apartemennya setiap hari, semuanya terasa berat jika seorang diri. Hal ini dirasakan karena sejak kecil Elena selalu menjadi putri di rumahnya yang selalu disediakan dan dilayani, bahkan sampai sekarang. Berdasarkan cerita ibunya, Elena dulu pernah sekarat ketika lahir karena ada kelainan yang entah apa penyebabnya.
Elena memiliki jantung lemah saat itu, namun ketika dirawat oleh orang pintar yang merupakan teman neneknya bayi mungil itu kembali sehat dan bertumbuh menjadi gadis cantik. Mungkin karena itu, orangtua Elena sangat menjaganya karena takut kehilangan. Saking sayangnya, kedua orangtuanya juga turut ikut campur soal hubungan asmaranya.
Dengan memiliki pekerjaan sebagai tim kreatif di agensi hiburan, tentunya menyita waktu Elena untuk memikirkan asmara. Sudah di usia 29 tahun Elena belum juga mendapat pasangan. Padahal, gadis ini merupakan salah satu idaman ketika di sekolah SMA-nya dulu. Wajah tirusnya yang bak model, mata bulatnya yang sempurna serta tulang air matanya yang menonjol membuat Elena memiliki wajah khas orang Eropa berat keturunan gen dari keluarganya walau ia orang Indonesia asli.
Maka tidak heran jika orangtuanya mulai mengusahakan anak gadisnya mendapat pasangan yang setara dari segi bibit, bebet dan bobot dengan cara mencari calon-calon menantu idaman. Bukannya Elena tidak menyukai orangtuanya menjodoh-jodohkannya, tetapi terkadang mereka memilih pria yang membosankan di mata Elena.
Intinya, Elena tidak suka pria yang lembek dan sombong. Elena suka dengan pria yang blak-blakan serta berwibawa. Saat orangtuanya mengetahui kriteria pria idaman putrinya, mereka bergerak cepat dan menemukan seorang lelaki bernama Jordan yang merupakan rekan kerja ayahnya di bank.
Sepulang kerja, Elena menyempatkan diri untuk mampir ke supermarket membeli beberapa persediaan di rumah yang sudah habis. Ia memilih-milih produk pasta gigi yang tidak biasa ia gunakan karena barang yang dicarinya sedang kosong.
“Apa bedanya pasta gigi ini dengan siwak? Ah, aku butuh yang mana untuk gigi sensitifku?” dengan menggumam pada diri sendiri, Elena membandingkannya sesuai dengan fungsi pasta gigi yang mirip dengan produk biasa ia pakai. Ketika ia sedang asyik membanding-bandingkan dan bertanya pada diri sendiri, seorang pria menunjuk salah satu produk yang dipegang Elena.
“Lebih alami menggunakan siwak. Pasta gigi ini bisa menjaga rongga mulutmu,” tuturnya mengakhiri percakapan dengan tersenyum manis. Elena yang tampak tidak nyaman dengan tangannya yang tiba-tiba menunjuk produk di tangannya mulai memahami maksudnya. Tampaknya rekomendasi pria itu benar.
“Terima kasih sarannya, Mas...” Elena merunduk sedikit dan memasukkan produk siwak yang belum pernah ia gunakan. Pria itu juga memberi salamnya lalu kembali sibuk memilih barang-barang lainnya. Ketika melihat pria tersebut, Elena seperti pernah melihatnya. Ia menduga jika pria tersebut tetangganya di apartemen. Akan tetapi, ia masih meragukannya.
Sesampainya di kediamannya, Elena langsung mendapat telepon rutin dari ibunya. Memutuskan untuk keluar dari rumah di usia muda tentu membuat siapa saja orangtua khawatir dengan anaknya, apalagi anak gadis. Oleh karena itu, wajar bagi seorang orangtua yang mengkhawatirkan anak gadis secantik Elena meski perilakunya tidak sekalem wajahnya.
Sambil menata hasil belanjaannya di kulkas, Elena sekali lagi mendengar ocehan ibunya tentang pria itu lagi. Namanya Jordan, pria yang dijodoh-jodohkan orangtuanya dengan Elena meski sudah berkali-kali ia menolak.
“Kemarin ayahmu cerita kalau Jordan memimpin rapat di kantornya. Ini ayahmu lho, yang bilang. Ibu cuma menyampaikan. Katanya Ayah, dia sangat bijaksana dan orangnya pintar. Buat Ibu, itu setara dengan kamu,” ujar ibunya bercerita tentang pria kantoran dengan panggilan Jordan.
“Elena ini cuma pegawai yang biasa-biasa aja, nggak yang wah begitu seperti dia. Jadi, sepertinya perkiraan Ibu salah, dia nggak bakal mau sama aku,” Elena mengeluarkan bungkusan buah jeruk kesukaannya dan membukanya untuk ditata di dalam baskom asal-asalan.
“Eh, jangan begitu. Walau kamu Cuma pegawai biasa, tetapi kamu bekerja untuk Temmy Curse. Kamu itu hebat Elena,” puji ibunya dengan sangat manis. Elena mau tak mau menyunggingkan senyumnya meski sang ibu tidak bisa melihatnya.
“Terus Ibu menelepon Elena untuk tujuan apa? Biasanya habis ngobrolin Jordan langsung minta-minta sesuatu nih.”
Di telepon tersebut, Elena mendengar suara ibunya sedang nyengir. “Begini, Ayah mengundang Jordan makan malam sama kamu lusa besok. Ibu minta kamu datang ya, Elena. Ini hari jadi pernikahan Ibu sama Ayah. Masa kamu nggak mau datang?”
Elena sudah menduga. Melihat tanggal yang bertengger di bufet dekat meja makan mininya itu membuat dirinya sudah berpikir bahwa ibunya pasti merencanakan sesuatu. “Kenapa harus aku yang datang? Kenapa bukan Carlo saja yang datang?”
“Elena, kamu tahu sendiri bagaimana kakak laki-lakimu itu. Ibu aja enggak tahu dia sekarang sedang di mana. Tiba-tiba saja muncul di rumah.”
Elena paham betul karakter kakak satu-satunya itu yang tidak pernah terbuka masalah pribadinya. Padahal, di usianya yang sudah menginjak 34 tahun seharusnya memikirkan memiliki keluarga. Namun, kakak laki-lakinya itu justru memilih hidup sebagai seorang petualang yang tidak pernah pulang.
“Lalu kenapa harus ada Jordan? Biasanya kita hanya merayakannya bertiga. Aku merasa aneh kalau ada dia, aku bahkan belum pernah bertemu dengannya secara langsung, Bu.”
“Justru itu, kamu harus datang supaya bisa bertemu. Baiklah kalau begitu, Ibu harus pergi sekarang. Intinya kamu wajib datang. Bye, Elena,” ibunya langsung menutup telepon dan tidak memberi kesempatan kepada Elena berbicara. Elena hanya menghela nafas panjang, ia memutuskan untuk menuruti kemauan ibunya untuk menyenangkan hati mereka karena sudah berusaha mencarikan jodoh untuknya.
**
Hari pertemuan itu tiba. Elena mengenakan baju terusan berwarna putih dengan menyeka rambutnya menggunakan jepit di sisi kiri. Penampilannya tidak terlalu mewah, tetapi Elena menganggapnya itu adalah yang terbaik dan berjaga-jaga jika ia tidak menyukai pria yang dijodohkan padanya.
Belajar dari pengalaman sebelumnya, Elena pernah bertemu dengan seorang pria yang kurang ia sukai. Akan tetapi, kesalahannya adalah ia berdandan terlalu cantik sehingga pria yang ditolaknya itu masih mengejar-ngejar Elena dalam beberapa waktu. Walau tidak semuanya begitu, tetapi wanita berperawakan ramping ini berjaga-jaga.
Elena bertemu dengan orangtuanya di sebuah restoran daerah pusat Kota Surabaya. Pipinya diciumi oleh ayah dan ibunya ketika ia sampai. Kedua orangtuanya mengatakan jika Elena semakin kurus. Padahal, Elena akhir-akhir ini makan cukup banyak karena pekerjaannya yang melelahkan.
“Jordan masih dalam perjalanan ke sini. Kamu makan kentang ini dulu gih,” tawar ibunya kepada putrinya yang cantik itu. Elena nyengir dan segera melahap kentang goreng yang disajikan lebih dahulu. Dengan gayanya yang santai, mulut Elena penuh dengan kentang goreng. Saat itu pula Jordan datang dengan aura wibawanya. Bahkan Elena hampir terkesima karena pria tersebut pernah ditemuinya di supermarket tempo hari.
“Elena, ini Jordan yang sering Ayah ceritakan ke kamu. Jordan, ini Elena putri saya,” ayah Elena memperkenalkan anaknya kepada rekan kerjanya yang masih sebaya dengan Elena. Dengan ramah, pria itu tersenyum sangat manis kepada Elena dan menjabat tangannya. “Hai, Elena. Aku Jordan,” katanya.
Elena sedikit membeku. Ia mengangguk dan menyalami tangan besar Jordan itu dengan mulut yang penuh kentang goreng. “El..Ena,” jawab wanita itu membuat ibunya sedikit malu. Bukankah dia pernah bertemu dengan pria ini tempo hari?
**
Anda Mungkin Juga Suka





