Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ceo suamiku (season 2)

Ceo suamiku (season 2)

Hidup Tasya mendadak berubah menjadi penuh gangguan sejak kehadiran Revan dalam kesehariannya. Sebagai CEO baru yang mengambil alih takhta kepemimpinan perusahaan dari sang ayah, Revan kerap bertindak menyebalkan dan mengusik ketenangan Tasya secara konstan. Hubungan profesional antara atasan dan bawahan ini pun diwarnai dengan berbagai momen menjengkelkan yang membuat Tasya sulit bernapas lega karena ulah bosnya yang terus mengejar dan mengganggunya.
Bab
Bagikan

Bab 3

"ihh sayang kok gitu sih, aku udah bela-belain nggak ke kantor demi kamu loh." Revan mencoba membuka selimut isterinya yang ditutup dari ujung kepala sampai ujung kaki.

"alah, palingan juga disuruh mamah." sindir Tasya tubuhnya masih terbalut dengn selimutnya.

"nggak yang, aku nggak ke kantor demi kamu loh." bujuk Revan.

"sudah sana pergi, aku mau lanjut tidur aja."

"loh kok gitu sih sayang, aku bela-belain buat kamu tadi aja aku berangkat ke kantor." jelas Revan.

"tinggal ke kantor aja apa susahnya." gerutu Tasya.

"yaudah aku mau jalan-jalan aja deh sama Dita dari pada kembali ke kantor." Revan sengaja membuat Tasya cemburu agar berada dirumahnya tidak sia-sia juga, baru saja melangkah kakinya keluar Tasya memanggilnya.

"Dasar cowok isterinya lagi kesakitan malah jalan sama cewek lain, emang yah cowok kaya gitu udah mainin cewek malah cari mangsa lagi." Revan merasa tersinggung dengan ucapan isterinya, kakinya melangkah mundur mendekati arah kasur.

"sayang kan aku cuma bercanda sama kamu." Revan ikut terbaring disebelah sambil memeluk istrinya dengan erat.

"udah sana jalan-jalan aja sama si Mak lampir itu." usir Tasya.

""hey, aku cuma bercanda sayang." Revan mengusap rambutnya dengan lembut ia heran mengapa isterinya jadi manja gini mungkin sedang kesakitan jadinya perlu dimanja.

"yang" panggil Revan tidak ada sahutan dari Tasya, Revan melihat istrinya sudah tertidur dengan pulas mungkin dirinya sedang kecapean. Revan membuka selimutnya yang ditutupi kepalanya agar tidak pengap.

"selamat tidur, aku sayang kamu." Revan mencium dahi Tasya lalu turun ke bawah ke arah bibirnya, hanya cium saja tidak lebih.

setelah Tasya tertidur Revan keluar dari kamarnya ia sungguh bete dirumah tidak ada kerjaan, lebih baik dirinya menonton TV saja dari pada gabut.

saat sedang menonton TV Revan berbaring di sofa kemudian datang si Mak lampir tau lah siapa orangnya kalo bukan si Dita lagi.

"mas kamu mau kopi nggak?" tawaran Dita untuk Revan ini kesempatan mendekatinya karena Tasya sedang tidur.

"boleh" tanpa menoleh ke arah Dita.

"aku buat dulu." lalu Revan mengangguk saja kemudian Dita kembali ke dapur untuk membuatkan minuman, setelah itu memberikan minuman itu kepada Revan.

"ini mas kopinya." Dita memberikan minuman kepada Revan.

"terima kasih"

"sama-sama mas." Dita duduk disebelahnya, Revan mencoba mundur posisi duduknya tapi Dita malah semakin dekat alhasil mereka saling berdekatan.

"bisa jauhan nggak."

"kenapa mas? biasanya kan kamu nggak nolak, apa karena Tasya melarang kamu untuk dekat dengan aku lagi." jelas Dita.

"Bukan" tanpa menatap Dita disampingnya.

"terus kenapa? tumben banget kamu begini mas." Dita memeluk lengan Revan dengan erat tapi Revan melepaskan pelukan itu agar isterinya tidak melihat dirinya berdua-duaan dengan wanita lain.

"saya lagi nggak mau diganggu, lebih baik kamu pergi dari sini sana." usir Revan.

"ihh kezel banget sih." batin Dita menghentakkan kedua kakinya lalu bangkit dari sofa.

"kamu kenapa?" Revan melihat Dita menghentakkan kedua kakinya dilantai.

"gapapa mas hehe." Dita hanya menjawab dengan cengengesan saja.

Siang hari Tasya terbangun dari tidurnya ia melihat disamping sudah tidak ada suaminya apa mungkin Revan kembali ke kantor lagi.

"Mas Revan mana yah." gumam Tasya beranjak dari tempat tidur kakinya melangkah ke arah keluar kamarnya.

"mas" panggil Tasya melihat suaminya sedang menonton TV.

"kamu sudah bangun." tanya Revan saat Tasya sudah berada didepannya.

"sudah mas."

"sini temenin mas nonton TV." Revan menarik pergelangan tangan isterinya agar duduk disebelah sofa yang ia tempati.

"mas, sudah jemput Risa belum." tanya Tasya sedari tadi belum juga bertemu dengan Risa.

"sudah tadi."

"kamu enggak ke kantor?" tanya Tasya sambil memakan cemilan yang ada dimeja.

"Hari ini aku mau dirumah, mau manjain isteri dulu." ucap Revan memeluk isterinya dengan erat, lalu mengecup leher jenjang milik Tasya.

"jangan aneh-aneh deh, malu takut diliat orang." Tasya menjauhkan kepala Revan dari lehernya agar tidak terjadi apa-apa.

"kita honeymoon yuk." ajak Revan pada Tasya.

"Gak mau, dirumah aja kan bisa." Jawab Tasya meneguk salivanya gugup dengan ajakkan Revan.

Dirumah saja Revan sudah seperti orang kesetanan, apalagi mereka cuma berdua disuatu tempat. Tasya yakin badannya langsung habis setelah digarap Revan semalaman.

"Ayolah, kita belum pernah honeymoon loh." Bujuk Revan menggoyang-goyangkan lengan Tasya seperti anak kecil.

Tasya menggeleng melihat cara Revan membujuknya. Kalau didepan Tasya sekarang Revan bertingkah seperti anak kecil.

Coba saja ketika mereka diluar, semua yang menatap Revan bisa saja langsung buta matanya karena tak kuat menatap tajamnya bola mata Revan. "Ayolah, aku pengen punya anak sama kamu, kalau dirumah diganggu orang rumah. Apa lagi ada Risa pasti terganggu.

"Revan terus membujuknya sampai Tasya menuruti keinginannya. "Tadi malam bisa tuh, empat jam malah." Jawab Tasya meledek Revan.

"Ya bisa tapi enggak enak sembunyi-sembunyi, kamu enggak bisa jerit-jerit kan tadi malam? Aku juga pengen coba dimeja makan, dikolam renang, diruang TV, di... Awww...aw... Aw... Ampun yank, ampunnnn..." Teriak Revan mengadu kesakitan berlari menghindari cubitan dari Tasya.

"Dasar mesummm...." teriak Tasya mengejar Revan.

"ihh kok mereka malah kejar-kejaran sih." Dibalik dinding tembok rumahnya Dita merasa kezel kenapa mereka berdua malah kejar-kejaran, kenapa enggak bertengkar saja pikirnya.

Revan tertawa melihat Tasya yang memulai kelelahan mengejarnya, Revan menghampiri Tasya.

"Ayolah, mau ya... ya... ya... Biar Risa punya adik." bujuk Revan lagi.

"ihhh ngapain sih mereka honeymoon segala, bisa-bisa Tasya hamil jadi hilang kan kesempatan gue." gerutu Dita menghentakkan kedua kakinya.

"Ternyata semalaman kamu ketawa misterius karena ini ya?" Tasya menatap Revan menyipitkan kedua matanya.

"Hehehe..." tawa Revan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Ayolah yank...."

"Mau nggak ya?" ledek Tasya, dirinya melihat Dita dibalik dinding tembok seperti sedang membuntutinya Tasya senyum-senyum sendiri ia punya ide untuk mengerjainya agar Dita semakin kezel kepada dirinya.

"kalau kamu enggak mau, jangan salahin aku kalau aku cari mommy baru sama adik buat Risa nih. kalo enggak aku nikah lagi sama Dita."

"ganti mommy baru aja noh, kalo bisa nikah sama gue." Dita setuju dengan ucapan Revan ia masih berada ditempat sembunyinya.

"kok ngancemnya gitu!" Tasya terpancing mendengar perkataan Revan.

"Yasudah sana cari istri baru! kalo perlu nikah saja sama mbak Dita." Tasya pergi dengan mata berkaca-kaca, namun Revan menahan pergelangan tangan Tasya.

Niat Revan hanya ingin menggoda Tasya, tapi mungkin sudah keterlaluan dengan perkataannya sampai membuat Tasya menangis.

"maaf... maaf... Aku cuma mau godain kamu aja yank, enggak beneran kok." Revan membawa Tasya kepelukkannya. "Makanya kamu mau ya." bujuk Revan lagi.

"Oke, aku mau bulan madu." setuju Tasya sudah berhenti menangis, ia melirik Dita dengan wajah kezelnya karena dirinya menerima ajakkan Revan.

"ihh kok diterima sih ajakkannya." Dita melototkan kedua matanya tidak percaya dengan itu.

"Bener? Yess..." Revan melompat kesenangan. Akhirnya dia bisa bebas berduaan dengan Tasya tanpa gangguan orang rumah.

"Tapi ada syaratnya." lanjut Tasya membuat Revan yang senang kembali lemas.

"Enggak mau ah, pake syarat segala."

"Masa kamu mau enaknya aja sih, tadi senang sekarang lemes gitu. Jadi enggak nih ajak aku Honeymoon" sebel Tasya.

"Ya jadi, tapi syaratnya jangan susah-susah yah." jawab REvan cepat

"Syaratnya bawa Risa juga tapi jangan ajak mbak Dita yah." Tasya melirik Dita sudah semakin kezel sedari tadi.

"Kurang ajar si Tasya, ngancam gue nggak di ajak lagi." batin Dita

"loh kok bawa Risa sih, enggak enak donk nanti diganggu." kezel Revan karena isterinya membawa anak kecil.

"Iya deh enggak jadi dibawa." terpaksa Tasya menuruti peintahnya, padahal dirinya ingin liburan bersama Risa disana.

"kamu mau liburannya kapan." tanya Revan memeluk istrinya dari belakang tubuhnya.

"Hmm... kamu maunya kapan." sambil berpikir satu tangan berada di dagunya.

"Besok gimana?"

"Cepat banget Mas." Tasya measa itu sangat kecepatan mengapa suaminya terburu-buru banget sih.

"Karena aku enggak tahan yank." Revan menaruh kepalanya dipuncak leher milik Tasya, tapi Tasya menghindarinya.

"Ihh mas lepas malu dilihat orang rumah." Tasya takut jika kedua orang tua Revan melihat mereka berdua.

"Enak yah berdua-duaan sampai enggak liat kondisinya." Tiba saja mamahnya datang langsung menjewer telinga milik Revan.

"Awhh... sakit mah." Tasya tertawa ngakak melihat suaminya dijewer oleh mamahnya sendirinya.

"kamu yah kalo mau bermesra-mesraan enggak liat tempat dulu." Nayla semakin kuat menjewer anaknya sampai telinganya memerah.

"Ampunnn mahhh... ampunnn... Yank tolongin aku" Revan meminta tolong kepada istrinya agar mamahnya melepaskan jeweran itu.

"Maaf mas aku enggak bisa hehe..." canda Tasya membuat Revan kezel.

"Awas aja kamu yank, aku akan menghukum kamu nanti malam." teriak Revan

"eh ehh jngan donk mas aku cuma bercanda, ok aku bakal bujuk mamah." terpaksa Tasya membujuk mamah mertuanya agar tidak dihukum oleh suaminya.

"mah tolong lepasin suamiku yah." dengan nada bermohon hanya pura-pura saja hehehe.

"enggak, biarin aja dia mamah hukum."

"noh kan mamah aja enggak mau lepasin." Tasya menaha tawanya melihat suaminya dihukum.

"Mah please, tolong lepasin aku sakit tahu mah..." mohon ampun Revan

"Enggak akan mamah lepasin sebelum kamu janji enggak akan lakukakan tadi lagi." perjanjian agar anaknya tidak melanggar perjanjian itu.

"Iya, Mah. aku janji enggak akan ngulangin lagi." Revan mengacungkan dua jarinya, mamahnya pun melepaskan jewerannya.

"Mamah dengar-dengar kalian mau Honeymoon yah?" tanya Nayla dengan penasaran apa yang diengarnya tadi benar atau tidak.

"Iya Mah, Mas Revan ngajak aku Honeymoon." ucap Tasya yang sebenarnya.

"Bagus donk nanti mamah bisa punya anak dari kalian dari pada anak haram itu." Nayla membanding-bandingkan dengan Risa.

"Mah. jangan sebut dia anak haram lagi aku enggak suka." Revan tidak suka mendengar ucapan mamahnya yang menyebutkan anaknya menjadi anak haram.

"kamu enggak usah belain dia." omel Nayla.

Tanpa mereka sadari Risa mendengar ucapan mereka bertiga dari kejauhan.

"Aku takut jika tante cantik punya anak pasti aku enggak dianggap dikeluarga Ayah." lirih Risa dari kejauhan.

"sudah-sudah jangan bertengkar lagi yah." Tasya sengaja memisahkan mereka berdua agar tidak terjadi pertengkaran lagi.

"Mamah duluan yang mulai yank." adu Revan.

"sudah mas kita ke kamar aja yah." ajak Tasya untuk menghindari suaminya dari mamahnya.

"Mah, kita pamit ke kamar dulu yah." Tasya menarik pergelngan tangan suaminya untuk pergi ke kamar Nayla pun hanya mengangguk saja.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95JVA" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95JVA
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Anak Rahasia Sang Kepala Mafia
9.5
Lima tahun mengabdi sebagai istri pewaris dinasti mafia Aropa, Dario Mahardika, wanita ini akhirnya menyerah karena suaminya selalu memprioritaskan Arisa. Ia pun pergi membawa koper, surat cerai bertanda tangan, dan kehamilan tiga bulan yang dirahasiakan. Saat Dario menyadari kehilangan ini, sang istri telah lenyap. Sang kepala mafia kini mengerahkan segala kekuasaan untuk mencarinya. Namun, wanita itu telah berubah menjadi ibu dan seniman tangguh yang tidak akan mudah memaafkan pria yang menghancurkan hidupnya.
Sampul Novel Cinta Terhalang Ukuran
9.4
Dhipta Wisnu Pratama tampak memiliki segalanya sebagai pewaris kaya raya dengan wajah tampan. Namun, di balik kemewahannya, ia menyimpan kekurangan fisik yang membuatnya ragu akan ketulusan cinta. Tantangan terbesarnya muncul saat ia jatuh hati pada Anandhila Prameswary, seorang aktris dan model papan atas yang mempesona. Mampukah Dhipta memenangkan hati Dhila dan meyakinkannya untuk menikah meski ia tidak sempurna? Inilah perjuangan Dhipta mengejar cinta sejati.
Sampul Novel Ketika Cinta Tak Mendapat Musimnya
8.5
Tujuh tahun menjadi sekretaris dan kekasih Navish, Cassia harus menghadapi kenyataan pahit saat pria itu bertunangan dengan orang lain. Berniat mundur karena patah hati, Cassia terkejut ketika Navish tiba-tiba membatalkan pertunangan itu di depan publik. Namun, sebuah acara lelang mengubah segalanya. Alih-alih dilamar, Cassia justru dihadapkan pada kemunculan 'cinta sejati' Navish yang berwajah sangat mirip dengannya. Di tengah gunjingan publik, Cassia akhirnya menyadari bahwa dirinya hanyalah seorang pengganti.
Sampul Novel Misi Cinta dan Kenikmatan
9.3
Alex Syarizal adalah pria berusia 28 tahun asal Sumatra yang hidup bergelimang harta warisan orang tuanya. Meski sukses mengelola bisnis pertanian hingga SPBU, ia masih melajang karena kesibukan karier. Di tengah kesendirian setelah kehilangan keluarganya, Alex terlibat dalam momen panas nan intim bersama Mirna. Saat Mirna mulai tersadar dan merespons rangsangan yang memberikan kenikmatan luar biasa, Alex menyapanya dengan lembut di tengah gejolak gairah mereka.
Sampul Novel Mr. Ergan Obsession
8.5
Ergan Tirta Alviano, CEO kaya raya sekaligus pewaris tunggal di Jakarta, terjebak dalam obsesi mendalam terhadap gadis biasa bernama Andira. Meski memiliki segalanya, cinta Ergan ditolak karena Andira setia pada kekasihnya selama dua tahun. Perbedaan materi tak menyurutkan langkah Ergan yang berkepribadian keras. Ia nekat menempuh berbagai cara, dari taktik halus hingga paksaan, demi memenangkan hati Andira. Akankah ambisi penuh emosi ini berujung pada cinta sejati?
Sampul Novel Perjanjian Cinta
8.2
Mila Prameswari terpaksa masuk ke dunia Rafin Adi Wijaya setelah pamannya menjualnya seharga lima ratus juta. Sang pengusaha kaya itu kemudian mengajukan kontrak pernikahan demi menguasai perusahaan. Syaratnya, Mila harus melahirkan pewaris laki-laki untuknya. Sebagai imbalan, Rafin berjanji akan melacak ayah Mila yang sudah lama hilang. Mampukah Mila menjaga hatinya di tengah ambisi Rafin? Akankah misi pencarian sang ayah berujung sesuai harapan mereka?