Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel CEO Mengejar Cinta Adik Mafia

CEO Mengejar Cinta Adik Mafia

Rio terjebak dalam pusaran dendam yang berubah menjadi cinta mendalam sekaligus penyesalan pahit. Meski perasaan di antara keduanya begitu kuat, ia dipaksa mengorbankan egonya demi melindungi keselamatan sang pujaan hati. Kisah ini membuktikan bahwa cinta tak pernah salah memilih sasaran, namun perjuangan untuk bersatu tidaklah semudah membalik telapak tangan. Rio harus menerima kenyataan bahwa mencintai tidak selalu berarti harus memiliki sosok tersebut.
Bab
Bagikan

Bab 3

Bab 3

Mengungkapkan jati diri

Seperti biasa kampus akan heboh jika kedatangan Kikan, apalagi jika Kikan diantar oleh tiga cowok yang berbadan kekar, cool. Ah menggoda kata perfek pas untuk ketiga kakak Kikan, yang terkenal amat gagah dan berwibawa wajar jika para cewek kampus banyak melirik ketiga kakaknya.

"Hai Kin! Kapan dong kamu kenalkan aku dengan kakakmu kak Andi yang Ando, juga tidak apa?" sahut sahabat Kikan yang langsung menghampiri Kikan yang baru sampai di parkiran kampus, melihat ke arah tiga cowok yang masih menatap adiknya hingga masuk ke dalam kelas itu.

Mereka selalu memastikan adiknya aman sampai dalam kelas.

"Kamu seperti bidadari yang dikelilingi cowok-cowok tampan. Ah … nasibmu bagus sekali sih Kin!" sahut Nita sahabat Kikan yang sangat mengidolakan kakak Kikan. Mereka bersahabat sejak lama hingga kini, tapi kedekatan kedua hanya batas dalam kampus saja, karena Kikan tidak diberi kebebasan dengan sang kakaknya.

"Bagus apaan, hidupku bak di neraka," balas Kikan menatap ke arah Nita. yang membuat Nita hanya terdiam ke arah Kikan. Bagaimana bisa seorang gadis hanya boleh pergi jika ke kampus saja.

Kikan yang sudah masuk kedalam kelas itu, dia menatap seorang cowok yang tengah duduk di kursinya. Selama ini tidak ada satu pria atau yang lainnya berani menduduki kursi Kikan, dengan tatapan kemarahan Kikan berdiri di sebelah Rio, yang terdiam menatap kedatangannya.

Bagaimana bisa dia tidak takut duduk di kursiku? Apa mereka tidak berkata tentang aku, atau karena dia murid baru yang belum mengenalku? Seakan tidak ada tanggapan dari Rio yang melihatku berdiri di sampingnya.

"Maaf, disini kursiku! Apa kamu bisa pindah dari situ?"

"Kamu bicara denganku?" sahut Rio dengan gaya melirik kiri kanan belakang lalu menunjuk dirinya sendiri. "Di kursi ini tidak ada namamu?" tanya Rio.

"Udah Rio, jangan nyari gara-gara dengannya nanti kakaknya bikin keonaran di kampus," bisik Toni yang masih sahabat Rio.

"Kamu anak baru sudah belagu," ucap Kikan dengan jengkel menatap ke arah Rio, yang masih memilih duduk dan tidak beranjak dari kursi itu.

"Kalau bukan karena aku sepuluh tahun kemarin kamu tidak akan seperti ini! Entah apa yang terjadi denganmu kalau aku tidak menolongmu dari anak-anak nakal itu," ucap Rio memandang Kikan lalu memilih pindah ke kursi lain.

"Apa maksudmu kamu?" ucap Kikan yang mengingat sepuluh tahun silam, saat dia diganggu beberapa anak nakal saat menunggu kakaknya menjemputnya.

"Apa ha, kenapa? Kamu ingin bilang iya aku ingat makasih! Gitu, maaf. Aku tidak menerima ucapan makasih lagi," ucap Rio seperti anak kecil yang tengah mengejek sahabatnya. Kikan pun berlari ke arah Rio dan memeluk Rio.

"Akhirnya ku menemukanmu!" ucap Kikan dengan sangat senang, ditambah senyum bahagia terpancar dari wajah cantiknya memeluk Rio. Seseorang yang di tunggu-tunggunya dari dulu, sosok pria yang selalu menemani mimpinya pahlawan kecil baginya itu.

"Ah aku kecewa denganmu Kikan! Kamu bisa melupakan superhero mu waktu kecil aku. Ahh …." Ledek Rio melempar wajah lesu, seakan sedang membuat Kikan merasa bersalah.

"Maaf! dulu kamu tuh gendut, hitam, pendek. Apa lagi ya! Ingusan," ucap Kikan melempar canda, yang dibalas senyum tipis dari wajah Rio yang kini memandang sosok wajah yang anggun berdiri di hadapannya.

"Oh ya! Bagaimana dengan dirimu, cengeng. Apa-apa main ngadu dikit-dikit kakak, dikit-dikit kakak lagi. Apa tidak bisa kamu berubah gitu, pergi kuliah diantar pulang dijemput ada cowok mendekat masuk rumah sakit! Bilang tu dengan kakakmu wajahmu dioperasi bikin jelek, kayak apa gitu ya! Terserah lah, yang jelas buat sejelek-jelek nya agar jangan ada pria yang menyukaimu, dan kalau tidak nih suruh kakak mu untuk mengurungmu di rumah saja agar jangan ada cowok yang jadi korban wajah cantikmu," ucap Rio, mengungkapkan apa yang dikatakan para sahabat nya tadi sebelum jadwal kuliah dimulai.

"Ah, kamu bisa-bisanya protes denganku, kalau berani tuh dengan tiga " A" ucap Kikan, yang masih belum bisa melepas tatapannya dari wajah Rio, seakan tidak percaya sosok yang pernah menolongnya dulu tumbuh menjadi pria yang tampan.

"Tiga A maksudnya?" tanya Rio heran terhadap Kikan.

"Tiga A itu,( Andi, Ando dan Andra) ucap Kikan dengan melepas tawa yang di balas dengan tawa Rio.

"Maafkan aku Rio, sudah tidak mengenali mu tadi"

Rasa bersalah timbul di hati Kikan, karena tidak mengenali sosok yang pernah ditemui sepuluh tahun silam, yang membuat Kikan selalu terngiang akan masa kecilnya itu.

"Boleh, dengan satu syarat, nanti sehabis kuliah izinkan aku yang mengantarmu pulang, aku ingin membawamu jalan ke suatu tempat,"

"Kamu mau mati Rio? Ah … kakakku tidak akan membiarkan aku jalan dengan cowok mana pun apalagi kamu sukur- sukur kakak tidak lagi mengikuti sampai kelas biasanya dia duduk di sebelahku sampai kelas habis. Apalagi jika dia lihat aku dekat atau ngobrol dengan cowok. habis riwayatmu Rio! Apa kamu sudah ingin mati?" tanya Kikan yang takut akan kakaknya, yang selalu marah jika tahu seseorang tengah mendekatinya, memandang Rio yang kini duduk disebelahnya, hari ini sukses Rio bisa menciptakan pelangi di wajah Kikan, yang terlihat selalu tegang dan tidak memiliki gairah untuk menjalani hari bahagia.

"Jika matinya denganmu, aku mau?" gumam Rio yang seakan ingin menghibur Kikan dengan rayuan recehnya, yang membuat Kikan menatap sinis ke arah Rio. Merasa apa yang dikatakan Rio itu hal basi. Jika langsung berhadapan dengan sang kakak nya juga ujungnya kabur belum melawan dengan menatap tiga A itu saja mereka seperti akan kencing berdiri, akibat rasa takutnya. Bagaimana bisa seorang Rio, orang yang baru dia kenal lagi berani berkata seperti itu seolah dia memiliki nyawa cadangan dengan menantang tiga A.

"Ah … kamu gila! Apa kabar kamu kemana saja selama ini! Waktu itu aku mencarimu untuk mengucapkan terimakasih tapi aku lihat kamu sudah dijemput, "

"Aku selalu ada di hatimu!" Rayu Rio, lagi ingin melakukan pendekatan Kikan, yang kini duduk disebelah Rio merasa sedikit bahagia dan bersemangat mengikuti kelas, dan sesekali kikan melirik Rio yang tengah serius menghayati materi yang diberikan oleh sang dosen.

Selain fokus untuk misinya balas dendam, Rio juga merupakan mahasiswa yang pintar, potensi untuk menjadi seorang pemimpin tentu terlihat dari postur Rio. Kelas pun usai, Rio menarik tangan Kikan hendak keluar.

"Jangan Rio, aku tidak ingin kakakku memukulmu! Atau menjauhkanku denganmu, please!" ucap Kikan yang memainkan kedua tangannya.

"Kita bisa bertemu lagi besok aku senang sudah mengenalmu! nanti jika saatnya aku akan memperkenalkanmu kepadanya!" tambah Kikan berjalan meninggalkan Rio.

"Ah, mungkin ini belum waktunya membuat Kikan jatuh hati denganku, jika saat itu tiba, akan aku pasti kan kakakmu mati di tanganku. Kini dia harus mendapat hukuman setimpal dengan apa yang telah dia buat dengan kakakku," batin Rio dalam hatinya, dia keluar dari kelas itu, serta memandangi kakak Kikan datang menjemput Kikan. Melihat Kikan yang sudah masuk kedalam mobil sang kakak, membuat Rio melempar tatapan tajam dengan rasa kebencian ke arah mereka.

"Kamu kenapa Rio? kamu suka dengan Kikan, jangan deh jika kamu mau aku bisa menolongmu mencari gadis yang jauh lebih cantik daripada Kikan, tapi jangan Kikan. Tidak ada satu pria pun di kampus ini yang berani mendekati Kikan bahkan jika kedapatan ngobrol sekalipun dengan Kikan. Akan dapat serangan dugem mentah dari kakaknya nyerah deh," ucap Toni yang melihat Rio begitu serius menatap Kikan.

Pandangan itu tidak lepas, sampai Rio melihat mobil saudara Kikan tidak tampak lagi, panas rasa di hati Rio ingin segera menjalankan misi balas dendamnya.

"Oh ya! Terimakasih idenya. tapi aku cuman menginginkannya! Apa kamu berniat menolong ku?" tanya Rio yang kembali menatap Toni.

"Aku masih ingin lanjut kuliah dengan tenang, maaf ya bro aku belum ada niat masuk rumah sakit aku ingin fokus, fokus ...." ucap Toni seraya berjalan dengan menunjukkan dua tangan nya ke mata nya lalu membuangnya ke arah Rio. "Fokus" sahut Toni lagi dengan berjalan mundur hingga toni pun pergi meninggalkan Rio.

Rio hanya melemparkan senyum dengan kekonyolan sahabatnya yang tidak ingin Rio mendekati Kikan.

"Ah, aku tidak akan mundur Kikan, sampai kamu benar- benar jatuh cinta denganku," ucap Rio yang memilih pergi ke makam sang kakak.

"Kak! Rio janji akan segera membalas dendam kakak, akan Rio buat mereka kehilangan adik mereka untuk selamanya, aku akan menghancurkan mereka satu-persatu kak! Kakak yang tenang ya! Aku tidak akan membiarkan mereka bebas dan bahagia kak" ucap Rio yang menangis nisan sang kakak

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95JZK" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95JZK
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel An Affair
9.2
Winter Samantha menyamar demi menghancurkan keluarga Smith yang telah merenggut nyawa orang tuanya. Ia sengaja menjerat Edward Smith dan putranya, David, ke dalam skandal perselingkuhan yang berbahaya. Namun, di tengah misi balas dendam tersebut, muncul Sean William, sahabat masa kecil yang mencintainya dengan tulus. Kini Winter terjebak dalam dilema besar: tetap menghancurkan musuhnya atau memilih hidup bahagia bersama lamaran cinta sejatinya, Sean.
Sampul Novel Apa Kamu Kurang Istri?
8.0
Dua minggu menjelang pernikahan, Felix Darmaji kembali menunda hari bahagia mereka demi Shifa Adnan. Ini adalah penundaan ketiga, setelah sebelumnya Felix pergi ke luar negeri dan menemani Shifa melukis di gunung. Kehabisan kesabaran, sang protagonis langsung melamar teman masa kecilnya, Callen Harlan, putra mahkota konglomerat properti. Saat Felix menyadari kesalahannya, ia hanya bisa menatap siaran langsung pernikahan megah mantan tunangannya dengan penuh penyesalan mendalam.
Sampul Novel CEO 1 Miliar Won
9.5
Kim Liu, pengacara muda yang selalu berbakti, terpaksa menyetujui perjodohan demi ibunya yang sakit parah. Ia menikah dengan Jung Jisung, CEO TJ Group yang kaya namun trauma akibat penculikan masa kecil. Meski awalnya dingin dan penuh rumor, Jisung perlahan luluh oleh ketulusan Liu. Namun, pernikahan rahasia mereka diguncang oleh kebencian ibu mertua, gangguan mantan kekasih Liu, serta intrik Song Minseo yang ambisius. Bisakah cinta tumbuh di tengah rahasia dan tekanan harta?
Sampul Novel Dijodohkan dengan CEO tanpa Hati
8.5
Satu bulan membina rumah tangga, Ana Puspita Ningsih belum pernah disentuh oleh Louis Kusnadi. Pernikahan paksa ini mempertemukan dua kepribadian yang bertolak belakang. Ana dikenal sebagai wanita penyantun yang tulus membantu kaum papa, sementara Louis adalah CEO arogan yang gemar menindas orang lain. Di balik kekayaannya, Louis sangat pelit dan kerap menyakiti hati istrinya. Ana kini harus bertahan menghadapi sikap suaminya yang sedingin es dan penuh amarah.
Sampul Novel I’m Always Be Yours
8.8
Freya Angelicia, supermodel menawan berusia 23 tahun, terjebak cinta tak terbalas pada kakak angkatnya, Max Xavierano Miller. Meski dikagumi dunia, Freya justru menghadapi kebencian dari pria yang ia puja. Max, miliarder sukses yang trauma akibat dikhianati tunangannya, mendapati hidupnya penuh kejutan saat bertemu kembali dengan Freya. Namun, tepat ketika Max mulai menyadari perasaannya, muncul saingan berat yang siap merebut hati Freya darinya.
Sampul Novel Istri Kampungan Kesayangan Presdir
9.1
Santi hanyalah seorang gadis desa yang nekat merantau ke kota besar demi menyambung hidup adik-adiknya. Takdir kemudian mempertemukannya dengan Bima, seorang CEO tampan sekaligus Casanova yang kerap bergonta-ganti pasangan. Meski terbiasa dengan kehidupan glamor, Bima justru mulai merasa luluh setelah mengenal ketulusan dan kepolosan yang dimiliki Santi. Perbedaan dunia mereka menjadi awal dari kisah romansa yang tak terduga di tengah hiruk pikuk kota.