Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Candu Dekapan Kakak Ipar

Candu Dekapan Kakak Ipar

Pernikahan dengan putra keluarga konglomerat justru menjadi penjara bagi Djiwa. Diperlakukan layaknya pelayan oleh ibu mertua tanpa pembelaan dari suaminya sendiri, ia hidup dalam tekanan. Namun, situasi berubah sejak Radja, sang kakak ipar tertua yang berwibawa dan dingin, mulai memperhatikannya. Di tengah keputusasaan, sentuhan dominan Radja menyalakan api asmara yang salah. Terjebak dalam hubungan terlarang yang penuh dosa manis, Djiwa kini tidak memiliki jalan untuk kembali.
Bab
Bagikan

Bab 7

Radja baru saja tiba di Reinard Grand Corporation, perusahaan besar milik keluarganya yang beroperasi di dalam dan luar negeri.

Langkahnya tegas dan berwibawa saat memasuki gedung megah yang tinggi menjulang lima puluh lantai di depannya.

Begitu pria matang berusia tiga puluh tiga tahun itu melangkah masuk, suasana lobi langsung berubah.

Para karyawan yang sebelumnya asyik berbincang ringan sontak merapikan posisi masing-masing, berdiri lebih tegak, dan memberi jalan untuknya lewat.

Aura otoritas Radja memaksa ruangan untuk diam tanpa perlu ia mengucap sepatah kata pun.

Kakinya melangkah menuju lift khusus para petinggi perusahaan—lift yang hanya bisa diakses menggunakan kartu identitas eksekutif.

Tak sampai satu menit, benda logam persegi panjang itu akhirnya sampai di lantai empat puluh sembilan. Lantai dimana ruangannya berada.

Tangannya terulur hendak membuka pintu ruangannya, namun pandangannya terlebih dulu jatuh pada meja kerja sekretaris yang terletak di depan pintu—posisi standar sekretaris eksekutif.

Detik berikutnya, ia masuk ke ruangannya sambil menekan sebuah nomor di ponselnya.

“Halo, Pak, ada yang bisa saya bantu?” suara Arga—asistennya—terdengar di seberang.

“Pindahkan meja sekretaris di depan ruangan saya ke dalam. Letakkan tepat di sebelah kanan meja saya,” perintah Radja, nadanya tegas tanpa ruang sanggah.

“Baik, Pak.”

Radja berjalan menuju meja kerjanya, lalu duduk dengan tenang di kursi kebesarannya—kursi hitam elegan yang memancarkan wibawa seorang pewaris utama keluarga Reinard.

_____

Kini Djiwa telah tiba di perusahaan, diantar sopir dan Mbok Inem. Ia turun dari mobil dengan napas yang sedikit tertahan, mencoba menenangkan degup gugup di dadanya.

Ia tidak menyangka hari ini Tuhan berpihak padanya. Mobil pribadi keluarga Reinard yang biasa digunakan untuk mengantar Mbok belanja bulanan kebetulan pagi itu akan ke supermarket.

Dan Djiwa mengambil kesempatan itu untuk ikut dengan mereka, meski dia harus meminta maaf berkali-kali karena jarak supermarket dengan perusahaan sangat berbeda jauh.

“Permisi,” sapa Djiwa pelan ketika melihat salah satu karyawan berdiri tak jauh dari lobi lift.

“Iya, ada yang bisa saya bantu, Mbak?” tanya pria itu—Arga, sambil melirik Djiwa dari ujung kepala sampai ujung kaki. Sepertinya karyawan baru, batinnya.

“Perkenalkan, nama saya Adjiva Nadjwa … dipanggil Djiwa. Saya karyawan baru, sekretarisnya Mas Radja. Eh—maksud saya, Pak Rajendra. CEO perusahaan ini.”

Djiwa mengulurkan tangan. Arga menyambutnya dengan sopan.

“Jadi kamu sekretaris barunya Pak Rajendra?”

“I-iya,” jawab Djiwa cepat, gugup tapi berusaha terlihat percaya diri.

“Baik, kalau begitu ikut saya.” Arga melepaskan genggamannya dan berjalan lebih dulu, diikuti Djiwa dari belakang.

Mereka menaiki lift khusus ke lantai empat puluh sembilan—lantai VIP tempat ruangan Radja berada.

Begitu pintu lift terbuka, Arga membawanya masuk ke area kerja yang luas, mewah dan tenang.

Tatapannya terhenti pada papan akrilik persegi panjang di atas meja kerja. Di bagian atas tercetak jabatan CEO, dan tepat di bawahnya tertera nama lengkap Radja beserta gelarnya.

Rajendra Afnand Reinard, MBA.

Djiwa segera beralih pada Arga, mengekori pria itu dan berhenti tepat di depan sebuah meja rapi dengan perlengkapan yang masih baru.

“Nah, ini meja kerja kamu,” ujarnya sambil menunjuk meja tersebut.

Djiwa mengangguk kecil, tersenyum lembut. “Terima kasih, Pak.”

“Iya, sama-sama. Kamu duduk dulu saja. Sebentar lagi Pak Rajendra datang.”

“Iya, Pak. Sekali lagi terima kasih, ya. Mohon bimbingannya, soalnya saya benar-benar karyawan baru. Baru pertama kali kerja.”

Alis Arga terangkat. Baru pertama kali kerja? Dalam hati ia mendengus kecil. Bagaimana bisa CEO merekrut sekretaris tanpa pengalaman? Apa pakai jalur orang dalam?

“Oh … begitu.” Arga menyembunyikan ekspresi herannya. “Kalau begitu, saya permisi dulu.”

Djiwa mengangguk singkat, masih dengan perasaan gugup yang menempel di dadanya.

Gadis cantik itu melirik sekeliling—setiap sudut ruangan tampak begitu mewah, mulai dari furniture premium hingga jendela full kaca yang memperlihatkan panorama kota dari ketinggian.

“Ya Tuhan … aku gugup banget,” gumamnya pelan sambil meletakkan tas dan ponselnya di atas meja kerja barunya. “Aku butuh ke kamar mandi sebentar. Nenangin diri dulu dari tremor.”

Tanpa menunggu, ia melangkah cepat menuju kamar kecil yang berada di dalam ruangan VIP tersebut.

Pada saat yang hampir bersamaan, pintu ruangan terbuka—memperlihatkan sosok Radja masuk dengan aura dominan yang langsung memenuhi ruangan.

Langkahnya terhenti ketika melihat meja kerja Djiwa. Keningnya berkerut pelan. Barang-barang ada, tapi orangnya tidak.

“Ke mana dia?” gumamnya rendah sambil mendekat ke meja tersebut.

Ting.

Ponsel Djiwa yang tergeletak di atas meja berbunyi, menampilkan notifikasi pesan masuk. Secara refleks, mata Radja turun ke layar ponsel itu—dan sontak tatapannya mengeras.

| Mas Kai

[Wa, temui pria di kartu nama kemarin secepatnya.]

Di dalam toilet, Djiwa menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Gadis itu melakukannya sambil menatap refleksinya dari cermin wastafel.

“Bisa, Djiwa ... kamu pasti bisa,” gumamnya menyemangati diri. “Semalem aku udah searching apa aja yang dilakuin sekretaris selain ngurus kerjaan, aku pasti bisa! Semangat.”

Klek.

Djiwa terlonjak kaget saat pintu toilet dibuka dari luar. Ia terkejut mendapatkan Radja berdiri di ambang pintu dengan tatapan dingin seperti biasa.

Bola mata Djiwa membulat kaget. “M-Mas …?” ucapnya terputus ketika Radja melangkah masuk dengan santai.

Tatapan Djiwa langsung tertuju pada tisu bekas yang tadi ia pakai, masih tergeletak di tepi wastafel. Panik, ia hendak meraihnya.

Namun sebelum tangannya sampai, Radja lebih dulu bergerak.

Dengan satu gerakan ringan dan presisi, ia mengulurkan kedua tangannya ke wastafel dan menyalakan kran air untuk mencuci tangan.

Di saat yang bersamaan—tanpa sedikit pun memberi jeda atau memperhatikan ruang pribadi, tangan kanan pria itu melingkari pinggang ramping Djiwa.

Gerakan yang tampak natural bagi Radja, namun cukup membuat napas Djiwa tertahan di tenggorokan, ditambah jantungnya yang berdetak cepat.

Posisi mereka begitu dekat hingga Djiwa bisa melihat jelas rahang tegas Radja yang ditumbuhi bulu-bulu halus dari pantulan cermin.

Radja tetap setenang batu. Seolah menyentuh pinggang Djiwa hanyalah gerakan refleks yang sama saja dengan mengancingkan jasnya.

Djiwa menelan ludah. Ia ingin menyingkirkan tangan Radja, namun tubuhnya seperti menolak perintah. Ia hanya berdiri kaku, membiarkan sentuhan itu sampai Radja selesai membasuh tangannya.

Radja berdehem pelan, menatap refleksi dirinya sendiri, kemudian melirik Djiwa dari cermin—singkat, namun cukup untuk membuat jantung gadis itu melompat.

Jarak ini sangat dekat, bahkan terlalu dekat sehingga keduanya sama-sama bisa mencium aroma tubuh masing-masing. Radja yang maskulin dan tegas, serta Djiwa yang soft dan fresh.

“Mas …,” Djiwa akhirnya membuka suara, mencoba mengatur napas. Tatapan mereka bertemu dalam pantulan kaca. “Djiwa gak kelihatan, ya?”

Radja akhirnya menarik diri.

Tangannya meraih tisu, mengelap sisa air dari kedua telapak tangannya dengan gerakan terukur, sebelum membuang tisu itu ke tempat sampah tanpa menoleh sedikit pun.

“Begitu, ya?” sebelah alisnya terangkat tipis, dingin namun tetap tenang. “Saya kira tidak ada orang di sini. Biasanya, tidak ada yang berani masuk ke toilet pribadi saya.”

Bola mata Djiwa kembali membesar. Napasnya tercekat, rasa malu menjalari seluruh tubuhnya. Ia buru-buru menunduk, hampir refleks.

“Maaf, Mas. Saya gak tahu, saya benar-benar gak bermaksud pakai sembarangan. Saya mohon maaf banget.”

Radja menatapnya datar, sorot matanya mengiris tanpa perlu meninggikan suara.

“‘Pak.’” ucapnya tegas, memberikan penekanan. “Saya atasan kamu di sini, bukan ‘kakak ipar’ kamu. Hindari memanggil saya dengan sebutan yang sama seperti di rumah. Itu menandakan kamu belum bisa bekerja secara profesional.”

Nada suaranya tidak keras—tapi cukup untuk membuat dada Djiwa serasa diremas.

“I-iya, Pak. Saya minta maaf,” Djiwa masih menunduk, tak berani menatap langsung ke mata Radja yang dingin dan keras.

Tanpa memberikan tanggapan, Radja lantas meninggalkan toilet tersebut.

Djiwa mengangkat kepalanya, lalu beralih menatap ke cermin wastafel. Tangannya terangkat mengusap dadanya yang berdegup kencang.

“Ya Tuhan, baru pertama kali kerja udah ngelakuin kesalahan,” lirihnya pelan.

Ia mengetuk kepalanya sendiri tak terlalu kuat, “Bodoh kamu, Djiwa.”

Djiwa masih saja berceletuk sendiri di toilet, sampai suara Radja memanggilnya dari luar.

“DJIWA!” suaranya meninggi satu oktaf, membuat Djiwa buru-buru meninggalkan toilet.

“Iya, Pak. Ada yang bisa saya lakukan?” tanya gadis cantik itu ketika berdiri di depan meja kerja Radja, berusaha tetap terlihat profesional setelah insiden tak sopannya tadi.

Radja menatapnya lurus, dingin, tanpa sedikit pun keraguan. “Buatkan saya kopi,” perintahnya pendek dan tegas.

Djiwa segera mengangguk. “Se-segera, Pak,” ujarnya sebelum bergegas keluar dari ruangan. Pintu tertutup pelan.

Radja mengikuti langkah ringan Djiwa dengan tatapannya—hening, penuh kalkulasi.

Begitu bayangan gadis itu menghilang di balik pintu, pria itu menghembuskan napas singkat, lalu memalingkan wajah.

Matanya jatuh pada satu benda pipih yang terletak di atas meja kerja gadis itu—ponsel Djiwa.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Berlian yang Tersamarkan
9.3
Dahulu pewaris manja, Evelyn jatuh miskin setelah dijebak putri asli dan diusir orang tua angkatnya. Namun, ia bangkit dengan mengungkap identitas rahasianya sebagai peretas, desainer, dan dokter jenius. Saat orang tua angkatnya menuntut hartanya, Evelyn menolak dengan tegas. Ia pun mencemooh mantan tunangannya yang memohon kembali. Di tengah kemenangannya, seorang pria berkuasa datang melamar, menawarkan masa depan baru yang tak terduga bagi sang berlian.
Sampul Novel Husband billionare
8.3
Arkhana Jason, bos besar Grup Jason, hilang ingatan usai upaya pembunuhan oleh pamannya, Wira. Ia diselamatkan Nina di desa dan mereka pun menikah. Saat ingatannya pulih, Arkha menyamar demi membongkar kejahatan Wira, termasuk nasib orang tuanya. Setelah membalas dendam dan bersatu kembali dengan keluarganya, Arkha mendapati rumah Nina hancur akibat ulah istri Wira. Ia segera menyelamatkan Nina, mengungkap identitas aslinya sebagai miliarder, lalu memboyong mereka ke kota.
Sampul Novel Istri Penebus Hutang
9.8
Elara, gadis penuh harapan di tengah kemiskinan, harus menghadapi kenyataan pahit akibat ulah ayahnya, Hasan. Demi melunasi utang keluarga yang menumpuk, Hasan memaksa Elara menikahi Raka, konglomerat misterius yang menguasai dunia bisnis namun tak pernah muncul di publik. Meski hatinya hancur dan air mata tertahan, Elara tidak memiliki pilihan lain selain menuruti permintaan sang ayah. Kini, nasibnya terikat pada sosok pria berkuasa yang tidak ia kenal.
Sampul Novel Kecanduan Ciumanmu
8.6
Midori, gadis blasteran berusia 18 tahun bermata biru, tak sengaja berciuman dengan Kenzo Watanabe saat berlibur di pemandian air panas Jepang. Insiden itu memicu obsesi mendalam di hati Kenzo, meski ia telah dijodohkan dengan bangsawan bernama Ayumi Tokugawa. Hubungan mereka pun terbentur tembok tradisi serta jarak antara Tokyo dan Perth yang memisahkan. Akankah takdir menyatukan Midori dan Kenzo di tengah segala rintangan? Sebuah sekuel emosional dari kisah cinta miliarder.
Sampul Novel Kekayaan Tersembunyi: Menjadi Triliuner dalam Semalam
9.7
Setelah dihina dan diputuskan oleh kekasihnya yang berselingkuh di sekolah, Brian Tennant bersumpah untuk bangkit dari kemiskinan. Tak disangka, masa percobaan hidup sederhananya berakhir hari itu juga. Ia terkejut saat mengetahui bahwa keluarganya ternyata adalah pemilik kerajaan bisnis triliunan dolar, bukan sekadar pengusaha biasa. Kini, dengan kekayaan tanpa batas di tangannya, Brian siap membalas dendam kepada semua orang yang dulu merendahkannya.
Sampul Novel Membalas Para Pengkhianat
8.4
Aira Maheswari, putri pengusaha kaya yang tulus, menyerahkan takhta perusahaan kepada suaminya, Andra, sebagai bukti cinta. Namun, setelah berkuasa, Andra justru berselingkuh dengan sekretarisnya, Tiara. Ironisnya, ibu mertua Aira mendukung pengkhianatan ini demi menyingkirkannya. Enggan terus ditindas, Aira bangkit untuk melawan balik. Ia bertekad merebut kembali harta warisannya sekaligus menghancurkan rencana busuk orang-orang yang telah mengkhianatinya.