Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Candu Dekapan Kakak Ipar

Candu Dekapan Kakak Ipar

Pernikahan dengan putra keluarga konglomerat justru menjadi penjara bagi Djiwa. Diperlakukan layaknya pelayan oleh ibu mertua tanpa pembelaan dari suaminya sendiri, ia hidup dalam tekanan. Namun, situasi berubah sejak Radja, sang kakak ipar tertua yang berwibawa dan dingin, mulai memperhatikannya. Di tengah keputusasaan, sentuhan dominan Radja menyalakan api asmara yang salah. Terjebak dalam hubungan terlarang yang penuh dosa manis, Djiwa kini tidak memiliki jalan untuk kembali.
Bab
Bagikan

Bab 1

Menjadi menantu termuda di keluarga konglomerat bukanlah suatu kebahagiaan, melainkan penjara.

Djiwa diperlakukan layaknya pembantu oleh ibu mertuanya, dituntut sempurna, sementara suaminya hanya diam tak pernah membela.

Di rumah besar itu, semua mata mengawasinya.

Namun justru tatapan Radja—kakak ipar tertua yang dingin sekaligus dominan dan berwibawa, mampu membuat Djiwa tak bisa tenang.

Lelaki itu hadir di antara keputusasaan Djiwa tinggal di rumah besar itu, menyalakan api hasrat yang seharusnya tak pernah ada.

Semua ini salah. Cinta itu terlarang. Itu semua dosa.

Tapi ketika Radja menyentuhnya, Djiwa tahu dirinya telah terjerat dalam dosa paling manis dan tak ada jalan untuk kembali.

“Cari laki-laki lain untuk menghamili kamu, Wa.”

Ucapan Kaisar pagi itu, bagaikan palu godam yang menghantam dada Djiwa. Perempuan yang masih gadis itu seketika membeliakan bola matanya.

Bagaimana bisa, suaminya sendiri dengan begitu tenang memintanya untuk hamil bersama pria lain?

“Ka-kamu ... serius, Mas?” bisik Djiwa tak percaya, suaranya tercekat. “Kamu gak lagi bercanda, kan? Kenapa Djiwa harus hamil sama pria lain?”

Kaisar mendesah berat. “Aku sudah muak! Mami terus mendesak lagi soal ahli waris. Aku sudah muak dengan tekanan itu. Dan dia terus menanyakan kapan kamu hamil.”

Djiwa menelan ludahnya susah payah. “Kalau begitu ... kenapa gak sama kamu aja, Mas? Djiwa punya suami, kenapa Djiwa harus hamil sama pria lain?” tanyanya bingung.

“Kamu? Jangan bercanda! Aku gak akan mempertaruhkan malam-malamku dengan kamu!”

Ucapan Kaisar kali ini benar-benar menyayat hati Djiwa. Mulut Dijwa terbuka, tapi tak ada kata-kata yang keluar dari sana.

“Cari pria terhormat kalau bisa. Kalau tidak bisa, aku yang akan mencarikannya untukmu,” ucap Kaisar, suaranya tetap dingin, seakan apa pun yang ia katakan sudah final. “Aku tidak sedang bernegosiasi.”

Dada Djiwa terasa menyesak—seolah diremas dari salam. Kedua tangannya terkepal erat di samping tubuh, sampai buku-buku jarinya memutih.

Mulutnya sudah terbuka, hendak memprotes. Namun Kaisar lebih cepat, suaranya menampar udara lebih dulu.

“Kamu harus hamil, aku gak mau tahu! Menikahi kamu aja udah bikin aku malu di depan kedua saudaraku, dan sekarang kamu masih mau mempermalukan aku dengan tidak bisa memberikan keturunan?”

Kaisar menautkan tangan di depan dada, tatapan datar namun menekan. “Jadi, lakukan saja—atau biaya rumah sakit kakekmu aku cabut!”

Djiwa dengan cepat menggeleng, tak terima dengan ancaman itu. “Nggak, Mas. Jangan lakuin itu ke kakek, aku mohon! Kakek butuh biaya besar untuk rumah sakit sampai sembuh, Mas.”

Hembusan napas Kaisar terdengar berat, tapi bukan karena ragu. “Kalau begitu, hari ini juga kamu putuskan. Supaya aku tidak cabut biaya rumah sakit kakek kamu.”

Iya atau tidak. Itu pilihan tersulit untuk Djiwa. Apalagi ini menyangkut nyawa sang kakek.

Padahal pernikahan mereka baru berusia satu tahun. Dan selama itu, Djiwa baru tahu kalau suaminya selama ini tidak mencintainya.

Terpaksa. Ya, Kaisar terpaksa menikahinya karena wasiat sang kakek. Karena kakeknya dulu berteman sangat dekat dengan kakek Djiwa, dan memutuskan untuk saling menjodohkan cucu mereka.

Jika Djiwa tahu ini sejak awal. Sumpah demi apapun, Djiwa tidak akan pernah mau menikah dengan Kaisar. Padahal selama ini, dia mencoba mencintai sang suami.

Tapi pria itu tidak pernah sedikitpun membalas usahanya.

“Bagaimana?” Kaisar menaikkan satu alisnya, menunggu keputusan sang istri.

Djiwa menelan ludahnya berat. “Djiwa ... Djiwa akan pikir-pikir lagi, Mas.”

Tatapan Kaisar tetap dingin. “Baiklah, aku beri kamu waktu tiga hari dari sekarang,” setelah mengatakan itu, Kaisar meninggalkan kamar mereka.

Sementara Djiwa terpaku di tengah-tengah ruangan tersebut. Kakinya mendadak lemas setelah mengetahui fakta mengejutkan ini.

Tak hanya itu, tapi permintaan sang suami yang tak masuk akal.

Djiwa menghembuskan napas pelan.

“Ke mana aku harus mencari pria terhormat? Apalagi … anak itu bakal jadi pewaris keluarga Reinard,” gumamnya, terdengar bingung dan putus asa.

Djiwa tersentak ketika pandangannya jatuh pada jam dinding. Sudah pukul setengah tujuh pagi—sebentar lagi waktu sarapan.

“Ya Tuhan!”

Panik kecil menyengat dadanya. Djiwa langsung meninggalkan kamar, hampir setengah berlari menuju dapur.

Rutinitasnya sudah menunggu, menyiapkan sarapan untuk keluarga besar Reinard—yang terdiri dari ibu mertuanya, para kakak ipar, serta keponakannya.

Keluarga Reinard adalah keluarga konglomerat yang keras memegang adat patrilineal. Semua tinggal dalam satu atap, mertua, anak, menantu—hierarki yang tak pernah benar-benar terlihat, tapi selalu terasa menekan.

Dan Djiwa, sebagai menantu bungsu yang tak bekerja seperti dua menantu lainnya, otomatis menjadi tangan utama rumah itu. Memasak, beres-beres, memastikan semua berjalan sempurna.

Ia memang tidak sendirian, ada pembantu lain membantunya. Mudah mengurus rumah semewah dan seluas ini dengan para pembantu. Tapi tak mudah bagi Djiwa yang dituntut untuk melakukan semuanya tanpa kesalahan.

Ruang demi ruang seperti tak ada habisnya, dan tiap sudut menuntut kesempurnaan.

Sekitar setengah jam kemudian, Djiwa bersama dua pembantu lainnya akhirnya selesai menyiapkan sarapan. Dan kini tugas Djiwa melayani ibu mertuanya dan sang suami, Kaisar.

“Ini teh hijaunya, Mi,” Djiwa menyerahkan teh hangat milik sang ibu mertua ke hadapannya.

“Terima kasih,” ucap Sekar datar, tanpa menoleh.

Kini Djiwa giliran melayani sang suami. Tapi ketika dia hendak meletakkan roti panggang untuk Kaisar, pria itu segera menarik piringnya.

“Aku bisa sendiri, kamu langsung duduk saja,” kata pria itu dengan nada dingin.

Djiwa tersenyum kecil, lalu duduk di kursi sebelah kiri sang suami.

Baru saja tangannya hendak meraih roti panggang, suara ibu mertuanya yang tajam memecah keheningan meja makan.

“Satu tahun. Sudah genap satu tahun Djiwa menjadi menantu keluarga Reinard.” Sekar menoleh, tatapannya langsung mengarah pada menantu bungsunya. “Tapi kamu belum juga hamil.”

Pelan, tangan Djiwa yang tadi terulur menggantung di udara turun kembali ke pangkuan.

Ia menunduk dalam-dalam, jemarinya saling menggenggam erat. Tidak berani menatap siapapun—terutama ibu mertuanya.

Bahkan ia bisa merasakan tatapan para kakak iparnya yang mencemooh dari kedua sisi meja makan, membuat dadanya sesak.

Malu? Tentu saja. Keluarga suaminya benar-benar keluarga terhormat dari kalangan elit— memiliki garis keturunan Jawa dan Belanda murni.

Sekar Ayunda Reinard yang berdarah Jawa, dan suaminya mendiang Diederick Von Reinard yang merupakan konglomerat Belanda.

Pemilik perusahaan Grand Reinard Corporation, yang beroperasi di dalam dan luar negeri. Serta memiliki banyak anak cabang—mulai dari perusahaan industri, hotel, dan juga rumah sakit.

Kekayaan itu diwarisi anak-anak mereka, si tiga bersaudara. Radja si anak pertama, Sultan si anak kedua, dan Kaisar yang merupakan anak bungsu.

“Saya sudah membuat janji temu dengan dokter kandungan terbaik,” lanjut Sekar, mendorong kartu nama pada Kaisar yang duduk di sebelah kirinya—agar memberikan pada Djiwa.

Pria itu dengan malas meraihnya, lalu menyerahkannya pada sang istri tanpa menoleh. Gerakannya sangat malas, seolah tak tertarik sedikitpun.

Lalu Sekar menambahkan. “Saya tidak mau tahu! Kamu harus segera periksa.”

“Mungkin Djiwa mandul, Mi!” Inggrit—istri Radja, si sulung—menimpali, membuat semua yang di meja makan menatap ke arahnya. Sementara Radja sendiri, sang suami, hanya meliriknya sekilas.

“Bisa jadi, Mbak Grit. Sebenarnya Djiwa ini mandul, tapi dia sengaja tidak mau memberitahu Mami dan Mas Kaisar. Supaya tidak diceraikan!” imbuh Fairish—istri Sultan, anak kedua, ikut memanasi keadaan.

Kedua istri kakak ipar Djiwa memang selalu merendahkannya karena perbedaan kasta mereka yang bagaikan langit dan bumi.

Inggrit, merupakan lulusan S2 jurusan designer kampus ternama di Amerika. Tak hanya itu, Inggrit juga putri dari pengusaha kaya raya, dan sekarang dia mengelola butik besar.

Dan istri Sultan—Fairish, merupakan lulusan S2 Hukum, dan sekarang bekerja sebagai pengacara sekaligus anak dari pemilik Firma Hukum terbesar.

Sedangkan Djiwa? Hanya perempuan yang kebetulan beruntung menjadi kandidat menantu dari keluarga tersebut. Karena kakeknya adalah teman lama dari ayah Sekar yang merupakan kakek Kaisar.

Pernikahan mereka terjadi karena sebuah wasiat dari tetua mereka yang sudah meninggal sekitar satu tahun yang lalu, sebelum Djiwa dan Kaisar resmi menikah.

Kata ‘mandul’ itu seperti tamparan keras yang menghantam pipi Djiwa. Tuduhan itu menusuk harga dirinya yang sudah rapuh karena Kaisar tidak pernah menyentuhnya.

Djiwa merasakan wajahnya memucat. Ia melirik Kaisar di sampingnya, tetapi pria itu menatap piringnya dengan ekspresi bosan—seolah mendengarkan pidato yang sudah dihafalnya.

Seperti biasa, Kaisar tidak akan membelanya di depan ibu mertuanya itu. Tak bicara apapun, membiarkan Djiwa dimaki dan dihina di depan keluarganya.

Djiwa mengangkat pandangannya, menatap ibu mertuanya. “Mi, Djiwa ... rahim Djiwa baik-baik saja,” ucapnya berusaha membela diri, suaranya bergetar.

BRAK!

Sekar menggebrak meja dengan ujung pisau selai di tangannya—membuat semua yang di meja makan terlonjak kaget, sedangkan tatapan Sekar dingin dan menusuk.

“Tidak ada kata ‘baik-baik saja’, Djiwa! Lakukan apa yang saya minta, dan kirimkan hasilnya. Saya ingin memastikan sendiri!”

“Lakukan saja, Wa … apa yang dikatakan Mami,” akhirnya Kaisar membuka suara, setelah sejak tadi terdiam cukup lama. Namun bukan membela, melainkan ikut intimidasi sang istri.

Djiwa menelan ludahnya berat. Matanya yang merah sejak tadi tampak berkaca-kaca setelah pria yang seharusnya melindungi, justru ikut menyudutkannya.

“Lagipula,” Kaisar kembali melanjutkan. “Aku yakin yang bermasalah di sini kamu. Apa salahnya untuk cek ke dokter, agar bisa tahu kamu negatif atau positif mandul.”

Tangan Djiwa di atas pangkuannya sudah mulai bergetar karena menahan emosi. Mengepal erat sampai buku-buku jarinya memutih pucat.

Bagaimana bisa suaminya sendiri mengucapkan itu di meja makan, di depan seluruh anggota keluarga?

“Dengar baik-baik,” Sekar kembali buka suara, nada bicaranya tegas penuh perintah. “Saya beri kamu tenggat waktu tiga bulan dari sekarang. Kamu harus hamil.”

Setiap katanya penuh tekanan dan menuntut, membuat Djiwa kesulitan bernapas dengan baik. Tapi tak sampai disitu saja, Sekar menambahkan dengan nada ketus.

“Jika tidak, saya sendiri yang akan meminta Kaisar menceraikan kamu.” Nada Sekar merendah tajam, menusuk tanpa ampun. “Setelah itu kamu bisa pulang ke rumah gubukmu, dan menghabiskan sisa hidupmu merawat kakekmu yang sakit-sakitan itu.”

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Berlian yang Tersamarkan
9.3
Dahulu pewaris manja, Evelyn jatuh miskin setelah dijebak putri asli dan diusir orang tua angkatnya. Namun, ia bangkit dengan mengungkap identitas rahasianya sebagai peretas, desainer, dan dokter jenius. Saat orang tua angkatnya menuntut hartanya, Evelyn menolak dengan tegas. Ia pun mencemooh mantan tunangannya yang memohon kembali. Di tengah kemenangannya, seorang pria berkuasa datang melamar, menawarkan masa depan baru yang tak terduga bagi sang berlian.
Sampul Novel Husband billionare
8.3
Arkhana Jason, bos besar Grup Jason, hilang ingatan usai upaya pembunuhan oleh pamannya, Wira. Ia diselamatkan Nina di desa dan mereka pun menikah. Saat ingatannya pulih, Arkha menyamar demi membongkar kejahatan Wira, termasuk nasib orang tuanya. Setelah membalas dendam dan bersatu kembali dengan keluarganya, Arkha mendapati rumah Nina hancur akibat ulah istri Wira. Ia segera menyelamatkan Nina, mengungkap identitas aslinya sebagai miliarder, lalu memboyong mereka ke kota.
Sampul Novel Istri Penebus Hutang
9.8
Elara, gadis penuh harapan di tengah kemiskinan, harus menghadapi kenyataan pahit akibat ulah ayahnya, Hasan. Demi melunasi utang keluarga yang menumpuk, Hasan memaksa Elara menikahi Raka, konglomerat misterius yang menguasai dunia bisnis namun tak pernah muncul di publik. Meski hatinya hancur dan air mata tertahan, Elara tidak memiliki pilihan lain selain menuruti permintaan sang ayah. Kini, nasibnya terikat pada sosok pria berkuasa yang tidak ia kenal.
Sampul Novel Kecanduan Ciumanmu
8.6
Midori, gadis blasteran berusia 18 tahun bermata biru, tak sengaja berciuman dengan Kenzo Watanabe saat berlibur di pemandian air panas Jepang. Insiden itu memicu obsesi mendalam di hati Kenzo, meski ia telah dijodohkan dengan bangsawan bernama Ayumi Tokugawa. Hubungan mereka pun terbentur tembok tradisi serta jarak antara Tokyo dan Perth yang memisahkan. Akankah takdir menyatukan Midori dan Kenzo di tengah segala rintangan? Sebuah sekuel emosional dari kisah cinta miliarder.
Sampul Novel Kekayaan Tersembunyi: Menjadi Triliuner dalam Semalam
9.7
Setelah dihina dan diputuskan oleh kekasihnya yang berselingkuh di sekolah, Brian Tennant bersumpah untuk bangkit dari kemiskinan. Tak disangka, masa percobaan hidup sederhananya berakhir hari itu juga. Ia terkejut saat mengetahui bahwa keluarganya ternyata adalah pemilik kerajaan bisnis triliunan dolar, bukan sekadar pengusaha biasa. Kini, dengan kekayaan tanpa batas di tangannya, Brian siap membalas dendam kepada semua orang yang dulu merendahkannya.
Sampul Novel Membalas Para Pengkhianat
8.4
Aira Maheswari, putri pengusaha kaya yang tulus, menyerahkan takhta perusahaan kepada suaminya, Andra, sebagai bukti cinta. Namun, setelah berkuasa, Andra justru berselingkuh dengan sekretarisnya, Tiara. Ironisnya, ibu mertua Aira mendukung pengkhianatan ini demi menyingkirkannya. Enggan terus ditindas, Aira bangkit untuk melawan balik. Ia bertekad merebut kembali harta warisannya sekaligus menghancurkan rencana busuk orang-orang yang telah mengkhianatinya.