Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cabe-cabean Kekasih Vice President

Cabe-cabean Kekasih Vice President

Pertemuan tak sengaja di kelab malam membawa Alexander Richard pada Soraya, gadis berusia 19 tahun yang imut dan jujur. Meski awalnya hanya menganggap hubungan ini main-main karena jarak usia delapan belas tahun, sang Vice President justru jatuh cinta terlalu dalam. Namun, rahasia masa lalu Soraya ternyata berkaitan dengan luka lama Alexander. Kini, ia harus berjuang menghadapi trauma besar demi mempertahankan cintanya pada gadis yang sangat memikat hatinya itu.
Bab
Bagikan

Bab 2

Alexander menatap gadis muda yang kini terbaring di atas ranjangnya. Ngorok, dengan bibir terbuka lebar. Meski begitu, tidak mengurangi pesona yang dimiliki gadis berambut hitam hingga sebatas pinggang itu.

Alexander duduk pelan di tepi ranjang, kemudian meletakkan kaki Soraya di atas pangkuannya, melepas sepatu yang dikenakan gadis itu sambil meneliti ukurannya.

40?

Kakimu besar juga. Alexander tersenyum kecil.

Detik berikutnya kedua mata Alexander tak kuasa menentang naluri, untuk menyusuri keindahan sepasang tungkai Soraya. Dimulai dari pergelangan kaki yang kecil, betis yang ramping, hingga sepasang paha yang sintal.

Alexander menjilati bibirnya sejenak. Nuraninya sedang berjuang menentang nafsu bergejolak yang siap menuntun kedua tangannya mengoyak pakaian kekurangan bahan gadis yang terbaring pasrah di ranjangnya.

Pakaian yang luar biasa provokatif, membuat lelaki alim manapun sanggup merasa bajingan seketika dengan sekali lihat, karena diam-diam menikmati kulit kuning yang indah sambil memendam imajinasi. Atasan blink-blink, yang hanya menutup dada bagian depan namun menampakkan seluruh sisi samping payudara, ah apa nama model pakaian itu? Alexander tidak paham.

Pakaian yang dikenakan Soraya seperti baru saja digunting dari toko kain. Rok mini yang menampilkan seluruh paha dengan belahan samping yang mempertontonkan garis pantat. Alexander menggeleng prihatin. Selera berpakaian gadis ini buruk. Namun memang merangsang. Ditambah, gadis ini cantik. Berwajah lugu seperti baru pertama kali keluar dari rumah, tetapi menjelma liar saat berdua saja dengannya di dalam mobil. Sungguh pesona yang sulit Alexander abaikan. Kabar baiknya, ia bukan lelaki alim. Sama sekali bukan.

Alexander menarik selimut demi menutupi tubuh Soraya dari tatapan mesumnya sendiri. Mencoba bersikap gentleman, meski tahu dirinya lebih pantas dilabeli bajingan.

Tidak, ia hanya laki-laki nakal. Sebut saja begitu. Yang bajingan dua pemuda di parkiran tadi, dan seorang lagi yang bernama Brandon. Alexander rasa, gerombolan itu pantas disebut keparat juga.

Alexander tersenyum geli saat dengkuran Soraya semakin keras. Sepertinya malam ini ia harus tidur di sofa. Alexander juga heran, kenapa ia mau repot-repot begini? Ia bisa saja meninggalkan gadis ini di kamar hotel dan pulang tanpa beban mengurusi anak orang.

Mungkin karena gadis ini cantik?

........ dan montok?

Sungguh tipenya.

Atau mungkin ia khawatir terjadi sesuatu yang buruk pada gadis ini saat sendirian di kamar hotel?

Ah entahlah.

Jemari Alexander tak tahan untuk menyusuri permukaan bibir Soraya dan mengelus dagu runcing itu sejenak, kemudian pelan-pelan mengatupkan bibir ranum kemerahan itu. Bibir yang tadi menciuminya dengan serampangan dan terburu-buru. Air liur gadis itu membasahi pipinya. Alexander jadi ingat, ia harus segera mencuci muka.

Alexander mengambil satu bantal kemudian berbalik dan mematikan lampu. Sudah cukup. Ia tidak ingin hilang akal

________________________

Soraya membuka kedua mata, saat merasakan lapar di perutnya yang berbunyi nyaring.

Sejenak ia mengejan, demi buang angin.

"Bruuuut!"

Ah, lega.

Apa? Aku dimana?

Soraya yang masih nyaman memeluk guling mengangkat pipinya dari atas bantal.

Kamar yang luas, dengan dinding abu-abu polos. Kedua matanya menangkap tirai tipis yang menutupi jendela besar. Soraya dapat melihat gedung-gedung pencakar langit yang berlomba tampil menyentuh langit.

Soraya memutar kedua matanya menjelajahi ruangan yang benar-benar asing. TV flat berukuran besar di atas bufet hitam, lampu dinding keemasan, dan ranjang dengan sprei putih. Soraya menelan ludah sembari mengurai otaknya yang masih kusut.

Semalam, ke club.

Bersama teman-teman.

Disuruh jaga sofa.

Lalu....

Muncul sekelumit wajah tampan berahang tegas, rambut hitam dengan poni membelah dahi, tatap tajam yang melunak dan bibir yang loyal menyungging senyuman karismatik.

Om itu!

Soraya terduduk dan menatap panik dirinya sendiri. Ia luar biasa lega saat mendapati dirinya masih berpakaian lengkap, dengan selimut tebal yang membuat tubuhnya hangat di ruangan ber-AC ini.

Tunggu! Aku ngapain sama om itu? Soraya berusaha merunut kejadian semalam, yang membuatnya berakhir sendirian di kamar asing ini. Namun yang ia ingat hanyalah wajah tampan yang tersenyum hangat, juga harum aroma musk yang entah bagaimana masih tertinggal di ujung hidungnya.

Soraya mengelus pelan kedua lengan demi mendekap dirinya sendiri. Berusaha membuat dirinya nyaman dalam situasi yang serba janggal. Ia menatap bantal dan membawanya ke dalam pelukan.

Tercium aroma yang sama. Aroma harum si Om Ganteng.

Soraya memejamkan mata, berusaha kembali mengingat apa yang terjadi setelah perkenalan singkat semalam. Namun, ia tidak berhasil mengingat apa pun.

Soraya memutuskan menuruni ranjang dan mengelilingi kamar bernuansa monokrom. Tidak banyak perabotan di kamar ini. Kaki telanjangnya bersentuhan langsung dengan karpet abu-abu gelap. Soraya membuka pintu dan melihat ruangan luas yang sepi.

Sofa hitam besar berlapis kulit segera mencuri perhatian. Kemudian menyusul perabotan minimalis yang juga serba hitam. Mantel hitam tersampir begitu saja di sandaran sofa. Terasa janggal, karena segala sesuatu di tempat ini terlihat begitu tertata rapi. Alih-alih seperti tempat tinggal, tempat ini begitu mirip seperti hotel. AC sentral, lantai marmer hitam, TV flat besar di depan sofa, dan aneka remote yang diletakkan rapi di dalam suatu wadah yang menempel di dinding.

Soraya memungut mantel hitam di sofa. Terlihat mahal dan elegan. Kedua matanya menangkap merek Dolce&Gabbana pada bagian dalam mantel. Namun bukan merek branded itu yang membuatnya terkesima, melainkan jejak aroma harum yang menempel pada mantel yang kini ia hirup dalam-dalam.

Wangi maskulin.

Soraya kembali meletakkan mantel itu pada tempatnya.

Kedua matanya menatap takjub jendela kaca menjelma dinding setengah ruangan. Soraya berjalan mendekati rak buku dan berdecak kagum, ketika ujung jemarinya iseng mendarat di salah satu buku dan ia tidak mendapati debu.

Tatapannya terhenti pada sebuah foto berukuran besar di dinding putih tanpa noda. Bibirnya membentuk segaris senyuman kecil saat melihat seorang pria tampan dengan setelan jas di dalam bingkai.

Itu dia. Om itu.

Soraya menatap lebih lama foto besar di dinding dengan sepenuh perasaan takjub.

Emang ganteng banget. Om ini apa sih? Tuan muda?

Senyuman Soraya tanpa sadar kian melebar, saat kedua matanya sibuk mengamati foto-foto lain dalam bingkai yang diletakkan berderet di atas bufet. Hanya ada foto om itu seorang diri. Tidak ada foto keluarga. Bahkan foto masa kecil juga tidak ada. Sangat berbeda dengan keadaan di rumahnya, di mana banyak ditemukan foto keluarga dan foto masa kecil tiap anggota keluarga. Tapi Soraya tidak ingin ambil pusing. Mungkin si Om memang hanya ingin memajang foto dirinya sendiri.

Sepertinya, si om memang belum menikah. Sungguh Soraya menyukai fakta yang sesuai dengan pengakuan lelaki itu semalam.

Ini rumah si om Ganteng itu. Soraya bernapas lega. Entah mengapa dalam sekejap merasa aman dan juga nyaman. Kedua matanya kini beralih menatap dapur yang menjadi satu dengan meja bar minimalis. Bahkan di sini tidak ada meja makan. Soraya menarik kesimpulan, sepertinya si om memang hidup sendiri dan mungkin jarang makan di rumah. Tunggu. Sepertinya ini lebih tepat disebut apartemen daripada rumah. Soraya kembali berjalan sambil mengamati ruang yang cukup luas tanpa sekat. Ia berjalan mendekati kulkas empat pintu dan menemukan catatan kecil menempel di sana.

Ada sandwich di atas meja bar. Kartu nama juga. Telpon saya kapan-kapan...

Kamu: maaf semalam saya mabuk. Terima kasih tumpangannya.

Sama-sama. Oh ya, jangan pulang pake pakaian kayak gitu. Ada mantel di sofa. Pake aja. Jangan lupa cuci tangan sebelum makan :)

How cute! Soraya tersenyum lebar dan segera duduk di balik meja bar bermotif marble hitam yang terasa dingin. Ia melihat nampan dengan sandwich yang masih terbungkus plastik, dan minuman instan yang masih tersegel.

Om ini apa? Pengusaha katering? Kenapa dari kemarin minuman dan makanannya masih segelan? Soraya membuka cepat bungkusan sandwich di tangannya dan melupakan pesan cuci tangan pada notes yang baru saja ia baca.

Oh ya!! Pil! Terus lanjut kenalan.....

Sambil mengunyah Soraya berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi setelahnya. Namun lagi-lagi, ia tidak berhasil mengingat apapun setelah perkenalan itu. Kedua matanya kini beralih menatap kartu nama di atas nampan.

Alexander Ricard

Executive Vice President - PT Bank Amec (Persero) Tbk

Dagu Soraya terjatuh begitu saja saat membaca kartu nama yang sengaja ditinggalkan untuknya.

O... jadi si om eksmud?

My God!!

Sandwich-nya terjatuh ke atas nampan. Soraya, setengah panik berlari kembali ke dalam kamar dan berusaha menemukan tas-nya. Ternyata diletakkan di atas meja nakas samping tempat tidur. Kemudian dengan tergesa, memindai nomor Alexander ke dalam ponselnya. Soraya membuka percakapan di grup dan memilih melewatkan puluhan unread message, demi mengetik cepat dengan dentuman di dada.

'Girlllssss!!!! Gue di apart om om!'

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CEO Iblis Azhar
9.3
Citra terjebak dalam dilema antara kebencian mendalam atas perlakuan kejam Azhar dan ketakutan kehilangan pria itu saat benih cinta mulai tumbuh. Di sisi lain, Azhar yang awalnya hanya ingin memperbudak Citra demi memuaskan nafsunya, justru mulai dikuasai naluri untuk melindungi. Hubungan penuh luka ini berubah menjadi ikatan yang rumit, membuktikan bahwa mereka adalah perasaan yang tepat namun hadir di saat yang tidak seharusnya bagi satu sama lain.
Sampul Novel Heal Me, Baby
8.1
Insiden ciuman tak sengaja membuat Sean Wilson, pria penderita fobia kuman, pingsan seketika. Keyra Minolia, mahasiswi pekerja keras yang menabraknya, dituntut ganti rugi terapi yang mahal. Karena miskin, Keyra terpaksa melunasi hutang dengan menjadi asisten rumah tangga Sean. Hidup mereka yang kontras pun beradu di bawah satu atap hingga orang tua Sean memergoki mereka dan memaksa keduanya menikah. Mampukah pernikahan ini menyembuhkan Sean dan menyatukan hati mereka?
Sampul Novel Hello Love Sign
8.7
Sandhya Sheina Aninditha sangat membenci keluarga Levanchois, namun terpaksa bertahan demi sebuah misi rahasia di tengah intrik kantor yang toksik. Saat ingin balas dendam dan mengundurkan diri, ia justru bertemu Samuel Clark Levanchois, pria paling berkuasa di keluarga itu. Samuel menawarkan kontrak bisnis yang menggiurkan demi membebaskan Sheina dari bos lamanya. Terjebak dalam persaingan dominasi, mampukah Sheina lepas dari jerat cinta pria yang sangat ia benci tersebut?
Sampul Novel Istri Keempat Sang Tuan Tanah
9.7
Demi melunasi utang, Lila terpaksa menjadi istri keempat Tuan Thakur, seorang tuan tanah kaya yang sangat dominan. Pria itu menegaskan bahwa pernikahan mereka bukanlah kontrak drama televisi yang mudah diakhiri. Tanpa ada kata cerai, Lila terjebak dalam komitmen seumur hidup kecuali maut memisahkan atau sang suami sendiri yang melepaskannya. Kini, Lila harus menghadapi kenyataan pahit dalam pernikahan penuh intimidasi ini. Sanggupkah ia bertahan hidup bersamanya?
Sampul Novel Lovers
8.9
Pertemuan tak terduga di kelab malam saat tahun baru menjadi awal kisah Ryan Bagaskara dan Kanaya Putri Soemardi. Meski Kanaya tak sengaja mengotori bajunya, Ryan justru jatuh hati pada pandangan pertama. Namun, hubungan mereka terhalang tembok besar karena ayah Kanaya berniat menjodohkan putrinya dengan Gilang Witjaksono. Situasi kian rumit sebab Gilang, anak pejabat negara itu, ternyata masih kerabat Ryan. Ryan kini harus berjuang demi cinta di tengah restu yang sulit didapat.
Sampul Novel Mengungkap Hati: Istriku Seorang Miliarder?!
9.7
Melanie menikahi Ashton demi balas budi, namun ia justru terjebak dalam penderitaan. Puncaknya, Ashton dengan tega mencoba mengambil darah Melanie tanpa peduli rasa sakitnya. Sadar akan perlakuan dingin sang suami, Melanie memilih bercerai demi harga dirinya. Saat proses perpisahan, identitas asli Melanie sebagai miliarder terungkap dan memicu kegemparan. Di tengah badai tersebut, ia menyadari bahwa Derek, paman suaminya, selama ini diam-diam melindunginya.