
Bunga Kejahatan Dalam Pernikahan
Bab 3
Bab 3 Kesaksian Seorang Teman
Akan tetapi, terlepas dari apapun alasan Mas Alvin melamar ku, aku tak begitu memedulikannya. Malah aku berpikir kali ini keadaan sedang berpihak padaku. Toh pula dengan begini aku juga tidak perlu membuang-buang tenaga ataupun waktu lebih banyak hanya untuk membuat Mas Alvin jatuh dalam pelukanku. Yah, meskipun sejak awal hubungan kami mendapatkan pertentangan dari Bu Mirna, namun, seakan tak memedulikan ibunya, Mas Alvin tetap melangkah maju untuk menikahiku.
Sungguh beruntung bukan diriku?
***
Tak lama setelah kepergian Mas Alvin, aku bergegas kembali masuk ke dalam rumah. Mengambil ponsel dan kunci mobilku lalu bersegera menemui Mas Bima ke tempat yang memang sudah kami tentukan sebelumnya. Ya, meskipun aku baru hitungan hari menikah tak lantas membuat penyelidikan yang dilakukan Mas Bima berhenti. Kakak sepupuku itu terus melanjutkan investigasinya demi menuntaskan masalah yang sedang kami hadapi saat ini.
Sesampainya di sebuah cafe yang terletak tak jauh dari kantor suamiku, aku melihat Mas Bima tengah mengobrol bersama seorang pria paruh baya. Entah siapa pria tersebut, namun aku merasa seperti pernah melihatnya di hari dimana bapak akan dikebumikan.
Aku berjalan mendekati Mas Bima sembari terus memikirkan siapa pria di hadapannya itu.
"Mas Bima!" panggilku sesaat setelah berada di dekat meja tempat Mas Bima berada.
Mas Bima menoleh ke arahku dan mempersilakanku duduk. Ketika hendak duduk aku sempatkan melempar senyuman pada pria yang duduk di seberang mejaku itu. Dengan ramah pria tersebut membalas senyuman yang aku berikan.
Kemudian tanpa diminta Mas Bima lantas memperkenalkan siapa pria di hadapanku sekarang ini. Dimana pria tersebut bernama Surya atau yang biasa dipanggil dengan Pak Surya. Beliau adalah teman bapakku sejak kuliah dan bekerja di kantor yang sama. Beliau juga termasuk orang yang mendapat pesangon seperti bapakku dan beliau juga mengambil hak nya tersebut di hari yang sama.
"Masih ingat gak kamu sama saya?" tanya Pak Surya yang membuatku agak terkejut. Rupanya dugaanku benar.
Aku tersenyum tipis lalu menjawab ,"masih. Bapak yang pernah datang ke rumah waktu pemakaman bapak saya, kan?"
"Benar," balas Pak Surya seraya mengangguk kecil.
Setelah sedikit berbasa-basi, Mas Bima lantas melanjutkan pembicaraannya. Dimana tujuannya membawa Pak Surya di hadapanku tentu berkaitan dengan masalah yang sekarang ini aku hadapi. Benar, Pak Surya adalah salah satu saksi dengan apa yang terjadi di hari pengambilan pesangon tersebut.
"Silakan, Pak." Mas Bima mempersilakan Pak Surya untuk mengambil alih pembicaraan kami.
Namun, sebelum memulai semuanya, terlebih dahulu aku meminta izin pada Pak Surya untuk merekam video pertemuan antara aku dan beliau hari ini tanpa memperlihatkan Mas Bima. Hal ini ku lakukan untuk sebagai bukti karena aku yakin suatu saat aku pasti membutuhkannya. Syukurlah, Pak Surya dengan senang hati memberikan izin tersebut.
Barulah setelah aku meletakkan ponselku di ujung meja, dengan wajah tenang Pak Surya mulai membuka suaranya. Beliau berkata bahwa saat itu beliau dan beberapa temannya termasuk bapakku memang dijadwalkan mengambil pesangon di hari yang sama. Semuanya berjalan lancar namun ada yang terasa aneh ketika bapak dipanggil ke ruangan Bu Mirna setelah menerima hak nya. Dan panggilan tersebut diminta langsung oleh Dewi -seketaris Bu Mirna- yang mana orang-orang kantor tahu, jika Dewi yang ditugaskan oleh Bu Mirna itu artinya hal tersebut sangatlah penting.
Dari sini baik Pak Surya maupun teman-teman yang lain pun merasa ada sesuatu yang tidak beres. Namun, karena status mereka tidak lagi sebagai karyawan di kantor tersebut, mereka pun tidak berhak tahu apa masalah yang terjadi. Pak Surya dan lainnya pun mencoba berpikir positif kalau mungkin saja apa yang disampaikan Bu Mirna kepada bapak adalah hal yang bersifat pribadi.
"Tapi selama bekerja hubungan bapak sama Bu Mirna baik-baik aja, kan, Pak?" tanyaku memastikan.
Saat mendengar pertanyaanku barusan membuat Pak Surya tak langsung menjawabnya. Beliau terdiam sejenak seolah ada sesuatu yang berat untuk disampaikan.
"Pak Surya?" panggil Mas Bima yang juga merasa penasaran dengan jawaban orang yang mengaku sebagai teman bapakku itu.
Pak Surya tersentak lalu beberapa detik kemudian beliau menghela napas beratnya. "Saya akan ceritakan, tapi tolong kalian jangan marah dan jangan menelannya mentah-mentah," kata Pak Surya.
Meski kebingungan dan tak begitu paham dengan apa yang dimaksudkan Pak Surya, aku dan Mas Bima pun mengiyakan perkataanya tersebut.
Pak Surya pun kembali memulai ceritanya. Aku dan Mas Bima pun juga menyimaknya baik-baik supaya tidak gagal paham.
"Entah apa yang disampaikan Bu Mirna kepada bapakmu, namun sepenglihatan saya, setelah keluar dari ruangan Bu Mirna, bapakmu terlihat gelisah. Dan setiap ditanya sama teman-teman apa yang sebenarnya terjadi dia hanya menjawab tidak apa-apa. Tidak ada masalah."
Setelah berkata demikian, Pak Surya terdiam sebentar lalu melanjutkan ceritanya. Dimana beliau mengaku tidak begitu percaya dengan jawaban yang diberikan bapak kepadanya. Dan hal tersebut sama dengan apa yang aku rasakan sekarang ini. Sesuatu hal yang tidak mungkin tidak apa-apa jika hanya bapaklah yang dipanggil Bu Mirna sedangkan yang lainnya tidak. Padahal sama-sama karyawan dan sama-sama pula mengambil pesangon.
Dan karena tak ingin terlalu ambil pusing, Pak Surya pun memilih untuk tidak bertanya lebih lanjut kepada bapakku. Sampai akhirnya beberapa jam setelah pertemuannya dengan bapak di kantor, beliau mendapatkan kabar dari salah satu temannya kalau bapak mengalami kecelakan dalam perjalanan pulang. Dan sejujurnya, ketika mendapatkan kabar tersebut Pak Surya seketika itu teringat dengan apa yang terjadi di kantor. Pak Surya menduga kalau kecelakan yang terjadi kemungkingan adalah hal yang di sengaja.
"Terus kenapa Pak Surya bisa menyimpulkan seperti itu? Padahal Anda tidak tahu pasti apa yang terjadi di kantor," selidikku.
Pak Surya tersenyum dan terlihat begitu santai seakan beliau tahu jika aku akan mengajukan pertanyaan yang demikian.
"Saya yakin kamu pasti sudah tau tentang masa lalu bapakmu dan Bu Mirna," kata Pak Surya yang membuatku semakin penasaran dengan hal apa yang sebenarnya akan disampaikannya.
"Soal asmara mereka, kan?" tebakku. Aku yakin itu yang dimaksud Pak Surya barusan.
Pak Surya mengangguk dan membenarkan tebakanku. Hanya saja ada tambahan yang mana hal tersebut membuatku tak percaya sekaligus semakin penasaran dengan perkara ini.
"Ada rumor yang beredar kalau bapakmu dan Bu Mirna sudah pernah menikah siri dan mempunyai anak. Tapi untuk kebenarannya saya tidak tau. Mas Bima mungkin sudah tau?"
Mas Bima menggeleng pelan menandakan ia belum tahu perkara barusan.
"Status saya dan teman-teman saat itu hanya karyawan biasa. Rumor yang terjadi itu bukanlah urusan kami. Toh, setau kami bapakmu memang sudah menikah dengan ibumu. Ditambah selama bekerja bersama Bu Mirna, kami hampir tidak pernah melihat sikap bapakmu yang mencurigakan ketika bersama atasan kami itu. Beliau selalu bersikap biasa saja walaupun rumor tersebut sudah melekat ada pada dirinya," sambung Pak Surya.
Aku terpaku mendengar apa yang disampaikan Pak Surya barusan. Aku takut jika rumor itu betul-betul terjadi dan Bu Mirna benar-benar terlibat dalam kecelakan bapak. Jika benar demilikan ku pastikan bukan hanya motif asmara yang menjadi alasan dibalik Bu Mirna bertindak demikian. Tapi ada hal lain yang membuatnya berani melakukan hal tersebut.
Anda Mungkin Juga Suka





