
(bukan) Telepati Cinta
Bab 3
Malam sudah semakin larut, tidak ada lagi aktivitas manusia yang terlihat. Hanya dentingan suara jarum jam dan semilir angin dengan diselingi jeritan binatang-binatang malam yang masih jelas terdengar. Alunan kesunyian malam pun tidak pernah gagal membuai semua mata untuk terlelap.
Malam memang kian sunyi, tapi tidak bagi sebagian besar indigo. Aktivitas para roh malah semakin meningkat pada malam hari. Para indigo itu bahkan tak pernah mengetahui bagaimana suasana kesunyian pada malam hari. Suara canda tawa para roh tersesat yang bermalam di kepala para indigo itu selalu membuat kebisingan, yang membuat beberapa dari mereka ingin memecahkan kepalanya saja. Mereka bahkan hampir tidak pernah mendapatkan kedamaian dalam tidur.
Seperti halnya Hyura, suara rintihan haru menyebabkan kebisingan meraung-raung menyisir otaknya. Sudah biasa baginya, jadi dia memilih untuk mengabaikannya saja. Tapi semakin lama rintihan itu semakin menjadi, seolah-olah seseorang yang menjadi sumber suara itu tengah merasakan sakit yang amat pedih. Rintihan itu seperti suara lirih yang sedang membutuhkan pertolongan, dan semakin memaksa Hyura untuk membuka matanya.
Dengan sangat berat, Hyura bangkit dari tempat tidurnya dan pergi mencari sumber suara rintihan itu. Bertahun-tahun bergaul dengan banyak setan membuat jiwa pemberani Hyura tak pernah ciut menghadapi situasi apapun. Hyura membuka pintu kamarnya perlahan-lahan agar tidak membangunkan anggota keluarganya yang lain.
Hyura berjalan mencari arah sumber suara itu yang ternyata berasal dari sebuah gudang di lantai atas rumahnya. Hyura menaiki tangga dan semakin semangat melangkahkan kakinya mendekati ruangan itu. Tak pernah gentar, Hyura memberanikan diri menyentuh gagang pintu dan, "Cekrek!" Suara pintu itu terbuka.
Betapa terkejutnya Hyura melihat keadaan yang jauh berbeda di dalam gudang itu. Gudang yang selama ini berisi benda-benda kotor yang lama tak terpakai dan hanya dihiasi sarang laba-laba berbalut debu-debu yang berkeliaran kesana kemari, tiba-tiba telah berubah menjadi ruangan yang tertata rapi lengkap dengan tempat tidur dan lemari pakaian di dalamnya.
Sejak kapan gudang usang ini menjadi kamar tidur? Bahkan kamar ini lebih indah dari kamarku, batin Hyura.
Hyura masuk dan kaget melihat seorang wanita cantik tengah terikat kaki dan tangannya di atas tempat tidur. Wajahnya sangat pucat, badannya kurus tak terawat dengan rambut kusam yang sepertinya sudah lama tak pernah dikeramas. Siapa wanita itu? Hyura mencoba mendekatinya dan sekarang wanita itu memalingkan wajah melihat ke arahnya. Wanita itu menangis seolah berharap Hyura akan menolongnya.
"Kau siapa? Mengapa terikat begitu?" Hyura mendekatinya dengan sangat hati-hati. Tapi wanita itu hanya menangis, sebagai jawaban dari pertanyaan Hyura.
"Baiklah, nanti saja kau bercerita yaa. Sebelumnya aku akan membantumu dulu." Hyura meraih rantai di tangan wanita itu.
Wanita itu menggelengkan kepalanya mengisyaratkan Hyura untuk tidak melakukan apapun, hingga terdengar suara ketukan langkah sepatu seseorang dari arah luar yg sedang menuju ke kamar itu. Secepatnya Hyura masuk ke sebuah lemari pakaian kosong untuk bersembunyi. Ada lubang kecil di pintu lemari itu sehingga Hyura dapat melihat jelas apa yang terjadi di luar.
Ternyata dia adalah seorang wanita tua renta yang sangat menyeramkan. Menggunakan baju kebaya kuno dengan rambut memutih sempurna yang dia biarkan terurai dengan bebasnya.
Wanita tua itu mendekati gadis yang dirantai, dia membawa sebuah nampan besi di tangannya. Hyura tak dapat melihat jelas apa isinya, tapi gadis itu terlihat sangat takut dengan kehadiran wanita tua itu. Wanita tua itu meletakkan nampannya di atas meja lampu di sebelah tempat tidur dan mengambil sesuatu dari dalam nampan itu. Ternyata benda yang diambilnya adalah sebuah jarum suntik dan membuat gadis itu semakin meronta-ronta ingin lepas dari rantai yang mengikat tangan dan kakinya. Seolah tak menginginkan wanita tua itu mendekatinya.
Hyura ingin keluar dari lemari itu dan membantu sang gadis, tapi dia merasakan ada sesuatu yang menghalanginya dan membuatnya tidak bisa bergerak. Seperti ada yang menahan kakinya untuk melangkah dan hanya mengizinkannya melihat apa yang akan terjadi. Wanita tua itu tertawa dengan mulutnya yang melebar seperti akan sobek.
"Suntik obat dulu yaa!" ujar sang wanita tua pada gadis tak berdaya yang hanya bisa menangis itu.
Wanita tua itu menusukkan suntikannya ke lengan gadis malang itu, dia bahkan tidak memikirkan cara yang benar untuk menyuntik seseorang. Tapi suntikan itu bukannya untuk memberinya obat, malah wanita itu menyedot darah gadis itu. Gadis itu mengerang kesakitan hingga tubuhnya menjadi lemas dan tak sadarkan diri, sementara Hyura hanya bisa mengawasinya dan tidak dapat berbuat apa-apa.
Wanita tua itu menyemprotkan darah dari suntikan ke dalam sebuah botol kecil. Lalu tiba-tiba pintu lemari tempat persembunyian Hyura terbuka dan membuat wanita tua itu menatap ke arahnya.
Hyura terperanjat sampai punggungnya terdorong ke dinding lemari itu. Untuk pertama kalinya Hyura merasa ketakutan karena kakinya masih terbelit sesuatu di dalam lemari yang membuatnya tidak bisa kemana-mana.
Wanita tua itu berjalan melayang ke arahnya hingga wajahnya sangat dekat dengan wajah Hyura
"Siapa kau?" tanya wanita tua itu.
Tapi Hyura tidak bisa membuka mulutnya karena wanita tua itu mengerang dengan bau mulut yang sangat amis seperti ikan busuk dan membuat Hyura merasa ingin muntah. Hyura mengamati wajah wanita tua itu, rambutnya kusam dan penuh dengan binatang-binatang kecil, wajahnya sangat menyeramkan dan penuh dengan bekas-bekas gigitan belatung. Mata Hyura kemudian mengarah ke mulut wanita tua yang bau itu, giginya menghitam dengan lidah yang pucat dan semakin menjijikkan saat beberapa belatung keluar dari mulutnya.
Wanita tua itu sangat marah, "kau melihat segalanya?" wanita tua itu mendekatkan wajahnya yang semakin menyeramkan dan tertawa terbahak-bahak, "Ahhahahaa ... Kau sangat berani rupanya! Tunggu dulu! Sepertinya kau bisa menjadi senjataku, ada sesuatu di matamu, aku harus mengambilnya." Hyura tak mengerti apa yang wanita tua itu katakan, satu-satunya yang ia fikirkan bahwa hidupnya benar-benar dalam bahaya sekarang.
Wanita tua itu mengarahkan suntikan tajam yang tadi ia gunakan untuk menyedot darah gadis itu ke mata Hyura. "Jangan ... jangan ...." Hyura hanya bisa merintih di dalam hatinya, entah apa yang membuat mulutnya masih terbungkam rapat.
Wanita tua itu terlihat semakin menyeramkan saat jarum suntik itu semakin dekat ke mata Hyura. Entah kekuatan apa yang digunakan wanita tua itu hingga Hyura masih tak bisa berkutik walau hanya untuk menggerakkan jarinya.
Kini Hyura hanya bisa pasrah saat jarum suntik itu semakin mendekati bola matanya. Hyura menjerit histeris saat jarum suntik itu terasa menerobos bola matanya. Dengan sekuat jiwanya ia melawan sesuatu yang menahannya itu hingga tangannya mampu digerakkan dan memberontak dengan sangat keras sampai Hyura mampu bangkit dari tidurnya. Entah apa yang membuat wanita itu tiba-tiba lenyap dari hadapannya. Hyura mengamati sekelilingnya dan mendapatkan dirinya masih berada di dalam kamar tidurnya.
Anda Mungkin Juga Suka





