Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel (bukan) Telepati Cinta

(bukan) Telepati Cinta

Hyura Anastasya terobsesi mencari reinkarnasi Fino dari buku kuno kakeknya, namun pencarian itu justru mengancam hubungan dengan sahabat dan cinta sejatinya. Di tengah kemelut, muncul sosok hantu laki-laki yang ternyata memegang kunci atas segala teka-teki hidupnya. Mengandalkan kemampuan telepati unik yang ia miliki, Hyura harus berjuang menuntaskan misteri besar ini. Mampukah ia menyelesaikan masalahnya saat telepati itu terasa tak berguna untuk urusan cinta?
Bab
Bagikan

Bab 1

"Kenapa kau selalu muncul tiba-tiba? Bikin kaget saja," rengek Yura pada Fino yang tiba-tiba muncul di hadapannya itu.

"Kau melamun, makanya jadi kaget! Sebenarnya aku sejak tadi sudah ada di sini." Fino mengingatkan Yura yang tidak menyadari keberadaannya sejak tadi.

"Ada yang mencinta tapi orang lain tak mampu membalasnya, ada yang hidup bersama tapi tak saling cinta, sedangkan kita? Kita saling cinta, tapi tak bisa bersama," keluh Yura diikuti setetes air yang keluar dari ujung matanya.

Fino tersenyum. "Bukan tidak bisa bersama, tapi kita hanya takut! Takut pada Tuhan kita!" seru Fino yang berusaha tegar supaya Yura tidak sedih.

"Sudahlah! ini buatmu," sambung Fino seraya menyerahkan sebungkus pelastik kecil kepada Yura.

Yura mengerutkan keningnya. "Apa ini? Kau memberiku hadiah?" tanya Yura yang tersenyum pada Fino.

"Tadi di jalan aku tidak sengaja melihatnya, sepertinya cocok untukmu," jawab Fino.

"Hijab? Tapi aku 'kan tidak memakai hijab," sahut Yura yang langsung membentangkan hijab itu dan mengalungkannya di leher.

"Tapi ini cantik sekali, motifnya bagus, aku suka! Terimakasih yaaa, Fin," ujar Yura lagi seraya tersenyum menghargai pemberian Fino.

"Kau seorang muslim, kenapa tak mau pakai hijab?" Fino menatap Yura yang sedang mengamati hijab itu.

"Bukan tidak mau, tapi aku belum yakin." Yura memberi alasan.

"Aku non muslim, tapi aku suka wanita berhijab. Entah mengapa, kain hijab yang menutupi rambutnya justru membuat wajahnya menjadi semakin menawan." Fino menatap tajam ke arah Yura.

"Kalau aku jadi mu'alaf, apa kau mau memakai hijab?" Fino kembali bertanya pada Yura.

Yura berhenti berfikir dan menatap tajam mata Fino, ia tidak menyangka kekasihnya ini akan berbicara seperti itu.

"Yura, kau dengar ini baik-baik yaaa!"—Fino meraih tangan Yura dan melanjutkan kata-katanya— "Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah, Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah."

Hati Yura meleleh mendengar lafadz dua kalimat syahadat yang keluar dari mulut Fino, bak ribuan jarum es menusuk ke dalamnya. Syarafnya seketika membeku semuanya.

Perlahan dengan bibirnya yang bergetar, Yura berkata, "Finnnooo, apa kau sadar terhadap apa yang kau lakukan? lafadz dua kalimat syahadat bukan untuk main-main!" seru Yura.

"Aku memang sedang tidak main-main Yura! mulai sekarang, aku muslim!" seru Fino untuk meyakinkan Yura.

Yura tersenyum menatap wajah Fino, dalam hatinya masih merasa kejadian ini hanyalah mimpi. Tapi kenapa perasaannya begitu tidak enak seperti mencemaskan sesuatu.

"Yura, coba kau lihat disebelah sana!" Fino menunjuk ke arah belakang Yura.

Yura langsung menoleh ke belakang dan melihat Adi yang sedang berlari tertatih-tatih dan menuju ke arahnya.

"Yuraaa ...!" sahut Adi dengan terengah-engah.

"Adi, ada apa?" Yura langsung bangkit dan mendekat ke Adi, sahabat Fino ini.

"Yuraa ..., Fiiinnn - Fiiinn, Finoo kecelakaan Yura!" Adi terbata-bata karena nafasnya masih memburu.

"Apa kau bilang? Adi, carilah candaan yang lain, ini tidak lucu!" Yura sedikit tersinggung dengan Adi yang kelewatan itu.

"Yura? Aku tidak bercanda, Fino kecelaan! Sekarang dia ada di rumah sakit! Ayo ikut aku!" ajak Adi semakin tidak karuan.

"Cukup Adi! Bercandamu keterlaluan! Jelas-jelas Fino ada di-" tiba-tiba Yura menghentikan pembicaraannya saat melihat Fino telah sirna dari tempat duduknya.

"Fiiinnnn ... Finoo ... Finoooo ...! Kau dimana? Finoo? Kau kemana?" Yura berjalan kesana kemari mencari-cari Fino.

"Astafirullohal'azim ... Finooo ... kau dimana?" Yura tersungkur, menangis ketika sadar Fino tidak ada lagi di hadapannya.

"Yura, sudah Yuraa ...! Kau ini kenapa? Ayo kita ke rumah sakit, Fino kritis sekarang." Adi merebut tangan Yura dan menariknya.

"Tidak mungkin Fino kecelakaan, tidak mungkin Di ... barusan dia ada disini bersamaku, lalu dia memberiku-" Tanpa menyelesaikan dialognya, Yura langsung menangis sejadinya.

"Yura cukup! Fino butuh dukungan kita sekarang, ayoo!" Adi berusaha menenangkan Yura dengan menggenggam erat kedua lengan Yura.

"Sumpah Diiii! Fino tadi di sini bersamaku, lalu dia memberiku hijab berwarna cream dan sekarang aku tidak tau Fino di mana dan hijab itu juga di mana?" Yura menangis terisak.

"Yura, kau harus tenang dulu! Kita pergi ke rumah sakit sekarang! Fino sedang berjuang melawan rasa sakitnya! Kau harus sabar! Ayo kita temui dia dulu!" Adi dengan sabar membantu Yura berdiri dan menuntunnya.

***

Setibanya di rumah sakit, ternyata semua orang sudah berkumpul disana. Yura berlari menemui seseorang yang tengah berdiri menundukkan kepalanya.

"Nini, bagaimana keadaan Fino?" tanya Yura pada Nini, neneknya Fino. Tapi Nini tak memberikan jawaban apapun.

"Kenapa kalian semua diam? Apa yang terjadi? Bagaimana keadaan Fino? Nini, Fino kenapa?" Yura melutut dan menangis di depan keluarga Fino.

Tiba-tiba adik kecil Fino mengusap air mata Yura dan berkata dengan polosnya, "Teteh jangan nangis yaaa! kata Nini, Bang Fino baik-baik saja, dia sudah pergi kelangit untuk bertemu bidadari."

Yura merasakan seluruh tubuhnya lemas tidak berdaya, ia jatuh dan semakin bertekuk lutut di hadapan semuanya. Yura tidak pernah membayangkan, bahwa orang yang berbicara dengannya beberapa saat tadi hanyalah arwah Fino. Tak menyangka Fino akan secepat itu tiada, dia berlari menerobos masuk ke ruang IGD itu dan menggila di hadapan jenazah Fino. Semua orang masih terpaku dalam diam, airmata yang sejak tadi membanjiri pipi-pipi itu kini berangsur kering dengan sendirinya.

***

Beberapa hari setelah pemakaman Fino, Nini menemui Yura yang masih duduk dengan pandangan kosong di ruang tamu rumahnya.

"Cucuku Yura, Abangmu Fino sangat mencintaimu. Dia meninggal dalam keadaan muslim. Pagi itu sebelum kecelakaan terjadi, Fino telah memutuskan untuk memeluk Islam demi dirimu. Kami semua tidak lagi menentangnya, kami ikhlas jika Fino harus meninggalkan keyakinannya. Tapi takdir sekali lagi menjalankan sekenario menyedihkan ini. Terima ini nak, ini adalah barang terakhir yang dibawa Fino untukmu."

Setelah Nini pergi, Yura membuka bungkusan pelastik itu. Ternyata isinya adalah hijab yang sama dengan hijab yang dibawa arwah Fino saat menemuinya beberapa hari yang lalu. Ada surat kecil keluar dari dalamnya, pesan singkat dari sang pujaan hati,

'Aku takut membuatmu jatuh cinta terlalu dalam kepadaku! Aku takut tak bisa membimbingmu karena aku orang baru dalam agamamu.

Tapi, hadirmu telah memberiku banyak pelajaran. Kau mengenalkanku tentang agamamu hingga membuatku yakin untuk itu.

Setidaknya kebersamaan denganmu tidak membuat lafadz Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah menjadi sia-sia, karena Allah telah menuntunku untuk mengucapkannya dengan sangat lancar.

Terimakasih Yura, berkatmu saat ini aku bisa tidur dengan damai dalam pangkuan illahi.

Yura, jika suatu saat nanti akan ada kesempatan kedua untukku, jika nanti akan ada kehidupan setelah kematian, maka aku memilih untuk terlahir kembali sebagai seorang muslim. Aku akan memperdalam pengetahuan agamaku untuk menjadi imammu.

Tangis Yura langsung pecah setelah membaca tulisan Fino dalam surat itu, dia memeluk erat hijab itu. Dan kemudian memakai hijab itu di kepalanya

Yura terus hidup dalam kesenjangan perasaan. Cinta Fino terus mengikatnya, membuatnya enggan mencari yang lain. Yura menutup dirinya dari siapapun, menyendiri, dan terus menyendiri.

Yura mengalami depresi yang sangat berat, sehingga membuatnya kehilangan sebagian besar kesadarannya. Orang-orang menganggapnya telah sakit jiwa, hingga ia harus dipasung agar tidak mengacau.

Tapi Yura terus menunggu Fino bereinkarnasi sampai waktunya akan tiba. Sekarang, esok, bahkan dalam keadaan tua renta tak berdaya Yura akhirnya menyusul Fino.

"Tamaaaaat!" Hyura melompat turun dari kursi taman itu setelah menyelesaikan ceritanya dan meminum jus orange yang diberikan Fino.

Ternyata kisah yang tadi itu hanya cerita yang sedang disampaikan Hyura pada Fino.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel A Thousand Tears of Sword
8.8
Benua terkutuk kini menjadi neraka akibat perdagangan manusia dan penindasan kejam bagi yang lemah. Demi mengakhiri penderitaan ini, para dewa mengutus Dewi Kematian untuk membasmi kejahatan di sana. Namun, sebuah insiden fatal saat turun ke bumi melenyapkan seluruh kekuatannya. Sang dewi justru terlahir kembali sebagai gadis kecil bernama Hua Hua. Mampukah ia menjalankan misi sucinya dan menyelamatkan mereka yang tertindas tanpa kekuatan dewa?
Sampul Novel Bangkitnya Ahli Waris Tersembunyi
7.9
Adit, mahasiswa yang kerap dirundung, memilih mengakhiri hidupnya. Namun, jiwa Hito Aswatama justru merasuk ke raga Adit setelah sebuah kecelakaan maut menimpanya. Menggunakan identitas baru, Hito menyelidiki dalang pembunuhannya sambil memperebutkan takhta ahli waris Aswatama melawan paman dan sepupunya. Konflik ini perlahan mengungkap rahasia gelap keluarga besar terkait kematian orang tua Hito. Mampukah ia bertahan di tengah intrik perebutan kekuasaan tersebut?
Sampul Novel CODE: FAUST
7.9
Bumi menjadi neraka sejak 2028 akibat virus misterius yang mengubah makhluk hidup menjadi mutan mengerikan. Di tengah reruntuhan peradaban tahun 2036, faksi-faksi seperti The Government dan Black Beast saling berebut kuasa. Di dunia yang kejam ini, Dr. Plague, seorang profesor dengan masa lalu kelam, berjuang mengembalikan kedamaian demi menebus dosanya. Namun, ia harus menghadapi perang saudara dan radiasi sambil mengungkap misteri besar di balik wabah yang menghancurkan dunia.
Sampul Novel Cinta, Pengkhianatan dan Dendam: Godaan Mantan Istri yang Tak Tertahankan
8.0
Dikhianati hingga menjadi pembunuh, Maria menceraikan James dan pergi membawa dendam. Enam tahun berselang, ia kembali bersama rival mantan suaminya dengan identitas baru yang tangguh. Meski bekerja sama dengan James hanya demi membalas sakit hatinya, Maria tidak menyadari bahwa ia justru masuk ke dalam jebakan pria itu. Di tengah pergolakan antara gairah dan niat balas dendam, mereka terjebak dalam permainan perasaan yang sangat berbahaya.
Sampul Novel Hot Love - Birahi Anak Yakuza
8.2
Kenzo, putra tunggal bos Yakuza, menolak perjodohan ayahnya demi gadis Rusia misterius di sebuah kafe. Konflik memanas hingga Kenzo tertembak dan diselamatkan Alena, sang pujaan hati. Saat Alena menghilang, Kenzo yang frustrasi membuat kekacauan di Hong Kong hingga memicu perang antar gangster. Di tengah pelarian bersama kakak angkatnya, Sakura, Kenzo tak menyadari bahwa Alena adalah putri calon mertuanya. Akankah cinta mereka bersatu di tengah pertumpahan darah?
Sampul Novel Legenda Sage Pengendara Phoenix
9.3
Kiran, pemuda dari Qingchang, tak sengaja bertemu The Flame, Phoenix legendaris milik Sage Putih Alaric yang gugur melawan Kaisar Warlock. Demi bertahan hidup, Phoenix yang sekarat itu melakukan ritual penyatuan jiwa berbahaya dengan Kiran. Ingatan tersebut dikunci hingga Kiran dewasa dan dikenal sebagai jenius ilusi di Institut Magentum. Namun, rahasia besar terungkap saat ia dituduh sebagai pengkhianat dan penerus Klan Phoenix Merah, memicu pengejaran maut oleh Kekaisaran Hersen.