
Bukan Takdirku Mati Dalam Api
Bab 3
Gita Hasan POV:
"Malam ini, Dzaki," bisikku pada diri sendiri, "Kau akan tahu rasanya kehilangan segalanya."
Malam harinya, Dzaki datang menjemputku. Wajahnya terlihat puas, seolah ia telah memenangkan lotre-atau lebih tepatnya, memenangkan manipulasi terbesarnya. Ia membukakan pintu mobil untukku, dengan senyum menawan yang kini terasa hambar dan menjijikkan. Aku masuk tanpa banyak bicara, membiarkan tubuhku tenggelam dalam jok kulit yang dingin.
Perjalanan singkat namun terasa abadi itu berakhir di sebuah klub malam mewah di tengah kota Jakarta. Lampu berkedip-kedip, musik menghentak, dan aroma alkohol serta parfum mahal bercampur aduk. Aku menatap pemandangan itu dengan hati kosong. Ini adalah dunia Dzaki, dunia yang penuh kepalsuan dan topeng.
Dzaki memegang tanganku erat, menarikku menembus keramaian seolah aku adalah piala yang baru saja ia menangkan. Tangannya hangat, tapi aku merasakan dingin yang menusuk dari dalam. Aku membiarkannya, tidak melawan. Setiap sentuhan yang ia berikan adalah pengingat akan kebohongannya.
Lalu, mataku menangkap sosok itu. Rosa Cokrohadisuryo. Ia berdiri di tengah kerumunan, dikelilingi teman-teman sosialitanya, tertawa manja. Gaunnya berkilauan, wajahnya dipoles sempurna. Ia terlihat seperti ratu malam ini. Aku tahu, ia pasti merasa menang.
Melihatnya, aku teringat lagi. Rosa, mantan teman kuliahku di jurusan desain mode. Ia selalu iri dengan bakatku, dengan desain-desain orisinal yang selalu kupunya. Aku ingat bagaimana ia memfitnahku mencuri portofolionya, bagaimana ia menangis di depan Dzaki, seolah aku adalah penjahatnya. Dan Dzaki, yang buta karena kedekatan masa kecil, bersumpah akan membalas dendam untuknya. Kini, aku tahu betapa dalam obsesi Rosa pada Dzaki, dan betapa liciknya ia memanipulasi kami berdua.
Mata Rosa bertemu denganku. Senyum kemenangan itu mengembang lebih lebar di bibirnya. Ada kilatan mengejek di sana, seolah berkata, "Lihat? Kau tidak pernah bisa menang melawanku." Napas ku tercekat. Ruangan itu terasa sempit, musik yang menghentak kini bagai palu yang memukul-mukul kepalaku.
Dzaki menyadari tatapanku. Ia melirik Rosa, lalu seketika melepaskan tanganku. Ia berjalan menghampiri Rosa, yang langsung memeluknya manja. Mereka berbisik-bisik, tawa Rosa kembali terdengar, memenuhi udara. Aku hanya bisa memandang, hatiku perih.
Dzaki dan Rosa. Mereka adalah pasangan sempurna di mata semua orang. Teman masa kecil, pewaris konglomerat dan model papan atas. Aku hanyalah bayangan, yang kini telah ia lepaskan.
Tidak lama kemudian, teman-teman Dzaki menghampiriku. Wajah-wajah yang tadi kudengar menertawaiku. Arbi, si playboy, dengan seringai di wajahnya. Dan teman-teman lainnya, yang dulu selalu memujiku sebagai desainer berbakat.
"Gita! Kenapa diam saja?" Arbi menyodorkan segelas alkohol padaku. "Ini pesta! Ayo minum!"
Aku menggeleng. "Aku tidak minum."
"Ayolah, jangan jual mahal!" Teman yang lain, Rita, menyenggolku. "Malam ini kan spesial, kan? Ulang tahun ketiga kau dan Dzaki!"
Kata-kata itu bagai pisau yang menusuk. Mereka tahu. Mereka tahu ini semua lelucon.
"Aku bilang tidak," suaraku meninggi sedikit.
Arbi tertawa. "Dia mulai berani sekarang. Mungkin efek putus cinta?"
Tiba-tiba, sebuah tangan mendorongku dari belakang. Aku kehilangan keseimbangan. Aku mencoba menahan diri, tapi tubuhku limbung. Dan dalam sekejap, aku merasa jatuh. Bukan di lantai klub, tapi ke dalam sesuatu yang dingin, gelap, dan mematikan. Kolam renang di tengah klub.
Air dingin menyelimutiku. Aku tidak bisa berenang. Panik menyerang. Aku meronta, berusaha meraih permukaan, tapi tubuhku terasa berat. Suara musik yang menghentak kini berubah menjadi dengungan di telingaku. Orang-orang di atas sana hanya menatap, beberapa tertawa. Mereka pikir ini bagian dari hiburan.
Paru-paruku mulai terbakar. Aku berusaha bernapas, tapi hanya air yang masuk. Penglihatanku mulai kabur. Wajah-wajah di atas sana tampak seperti siluet yang menari-nari. Aku melihat Dzaki, ia berdiri di samping Rosa, menatapku dengan ekspresi datar. Tidak ada kekhawatiran. Hanya kebosanan.
Kegelapan mulai menyelimuti. Aku merasa tubuhku melayang, kesadaranku memudar. Ini akhirnya. Akhir dari Gita yang bodoh.
Aku membuka mata. Atap putih. Bau desinfektan. Aku terbatuk, merasakan perih di tenggorokanku. Aku berada di ranjang rumah sakit. Aku ingat jatuh ke kolam. Siapa yang menyelamatkanku?
Pintu terbuka. Masuklah Dzaki, dengan wajah cemas yang dibuat-buat. Ia duduk di samping ranjang, memegang tanganku. "Kau baik-baik saja? Aku khawatir sekali."
Aku menarik tanganku. "Bagaimana aku sampai di sini?"
"Kau... kau pingsan di kolam. Aku menyelamatkanmu." Ada keraguan dalam suaranya.
Aku menatapnya. Ia berbohong. Aku tahu. Aku melihatnya berdiri di sana, tanpa bergerak.
"Aku haus," kataku, mengubah topik.
Dzaki segera mengambil segelas air dan memberikannya padaku. Aku meminumnya. Setelah itu, ia memberiku sebuah pil. "Ini penenang. Agar kau bisa istirahat."
Aku meminumnya tanpa curiga. Kepalaku terasa berat, dan tidak lama kemudian, aku kembali terlelap.
Ketika aku terbangun lagi, Dzaki tidak ada. Kamar itu kosong. Aku merasa tubuhku panas, kepalaku pusing. Ada yang tidak beres. Aku mencoba bangun, tapi kakiku lemas. Aku harus pergi ke rumah sakit.
Dengan sisa tenaga, aku memanggil perawat. Dokter memeriksa. Wajahnya terlihat serius. "Nona, Anda mengalami demam tinggi dan keracunan obat."
Jantungku berdebar. Keracunan obat? "Obat apa?"
Dokter mengambil sisa pil yang Dzaki berikan. Ia memeriksanya, lalu menatapku dengan ekspresi syok. "Ini... ini bukan penenang biasa. Ini adalah dosis tinggi obat yang bisa menyebabkan gagal hati jika dikonsumsi terus-menerus."
Tanganku mulai gemetar. Ini pasti perbuatan Dzaki. Ia ingin aku mati.
Tiba-tiba, ponselku berbunyi. Sebuah notifikasi grup chat. Aku membukanya. Itu grup chat teman-teman Dzaki.
"Akhirnya Gita mati! Kerja bagus, Dzaki!"
"Drama yang sempurna!"
"Dia pasti mengira itu penenang, hahaha!"
"Ayo rayakan kematian si bodoh itu!"
"Rencana ganti obatnya berhasil!"
Aku melihat nama-nama di grup itu. Arbi. Rosa. Mereka semua ada di sana. Dan aku. Aku juga ada di dalam grup itu. Aku adalah orang yang akan mereka rayakan kematiannya.
Aku adalah target mereka. Target yang sedang membaca rencana kematiannya sendiri.
Ini bukan lagi permainan. Ini adalah pembunuhan. Dan aku ada di dalam daftar mereka.
Anda Mungkin Juga Suka





