Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel BUKAN KISAH SEMPURNA

BUKAN KISAH SEMPURNA

Demi membiayai pengobatan Alvaro yang koma, Adinda terpaksa menikahi Alvin. Konflik memuncak saat ia tahu Alvin belum melajang dan tugasnya adalah membuat pria itu melupakan sang istri. Saat misi menaklukkan hati Alvin berhasil, Alvaro justru tersadar. Adinda terjebak dilema besar: tetap bersama Alvin sebagai yang kedua, atau kembali ke pelukan Alvaro namun harus menghadapi penolakan keras dari keluarganya. Sebuah pilihan sulit di tengah takdir yang rumit.
Bab
Bagikan

Bab 1

Adinda menatap kosong taman rumah sakit yang terlihat sepi, karena memang jam besuk sudah berakhir sejak 2 jam yang lalu. Di antara kekosongan yang menghias, tampak juga kebingungan di netra dengan warna cokelat itu. Di saat seperti ini, ia benar-benar merasa sendiri, dan sama sekali tidak memiliki teman. Keluarga yang seharusnya menjadi tempat ia berlari pun sudah tidak lagi ada. Ia anak tunggal, dan kedua orangtuanya sudah meninggal sejak lima tahun yang lalu.

Adinda hidup seorang diri di kota yang banyak orang bilang lebih kejam dari ibu tiri ini. Gajinya menjadi seorang pelayan kafe, tentu saja tidak akan cukup untuk membayar tagihan rumah sakit yang sudah amat membengkak.

“Maaf Mbak, tapi jika Mbak Dinda tidak bisa melunasinya besok, terpaksa kami akan mencabut segala fasilitas yang kami berikan pada pasien.”

Wanita dengan surai lembut sepanjang punggung itu memejamkan mata. Menarik napasnya yang begitu sesak. Apa yang harus ia lakukan dengan ini semua? Siapa yang bisa ia mintai tolong?

“Kamu yang menyebabkan anak kami terbaring koma di rumah sakit! Jadi kami harap kamu akan bertanggung jawab dan tidak lepas tangan begitu saja!”

Napas yang terasa sesak itu kian bertambah sesak. Nyatanya kalimat yang ibu Alvaro katakan itu benar. Alvaro, laki-laki yang menjadi kekasihnya selama satu tahun belakangan ini mengalami kecelakaan karena dirinya. Andai hari itu Alvaro tidak bertengkar dengan kedua orang tuanya, dan tidak kabur demi memilihnya, tentu saja hal semacam ini tidak akan pernah terjadi. Andai saja saat ibu Alvaro datang, dan memintanya mundur hari itu, dia memilih mundur, mungkin saja Alvaro tidak akan terbaring di ranjang rumah sakit seperti sekarang ini. Andai saja— Adinda kembali mengembus napas lirih, mencoba untuk kuat karena semua kata andai itu telah menjadi percuma.

Sekarang, yang perlu ia lakukan adalah membayar tagihan rumah sakit, agar Alvaro bisa sembuh. Namun, lagi-lagi ia bingung dari mana mendapatkan uang dengan nominal yang tidak bisa dikatakan sedikit itu?

Adinda memejamkan mata, mencoba berpikir, dan— surat rumah. Apa dia harus menjual rumah peninggalan orang tuanya?

“Boleh saya numpang duduk?” Pertanyaan itu membuyarkan semua pemikiran yang kini memenuhi kepala Adinda. Ia menoleh dan segera melempar senyuman ramah pada seorang wanita yang kini berdiri di sampingnya.

“Silahkan Tante,” ujar Adinda sembari menggeser duduk agar wanita yang berusia sekitar enam puluh tahun itu bisa duduk.

“Siapa yang sakit?” tanya wanita itu, membuat Adinda urung untuk kembali memikirkan rencana menjual rumahnya.

“Teman, Tante,” jawab Adinda kikuk. Merasa tidak nyaman jika menyebut pacar.

“Pacar, ya?” tebak wanita itu dengan senyuman lembut, tidak ada nada nyinyir ataupun sok tahu, yang membuat Adinda akhirnya mengangguk.

“Sakitnya parah, kamu keliatan sedih gitu?”

Jika dalam kondisi hati yang baik, mungkin Adinda akan memilih pamit, daripada meladeni wanita yang mulai kepo dengan apa yang ia alami ini. Namun, keadaannya sedang sangat membingungkan, dan sepertinya Adinda perlu teman untuk sekadar berbagi cerita. Toh, wanita di sampingnya ini tidak ia kenal. Mungkin tidak masalah untuk sekadar berbagi resah.

“Sudah dua minggu koma, dan sampai sekarang belum sadar.” Adinda memberikan sebuah senyuman, yang malah terlihat menyedihkan.

“Dan jika besok saya belum membayar tagihan, semua pengobatan akan dihentikan,” bisik Adinda lagi dengan wajah sendu.

“Kenapa kamu yang menanggung? Memang keluarga tidak ada?”

Adinda menunjukkan senyum kecut, dan seharusnya ia berhenti saat itu juga. Bukan malah membeberkan apa yang terjadi. Entahlah, mungkin Adinda sudah terlalu lelah dan putus asa. Atau mungkin, karena sorot mata wanita ini tidak terlihat menghakimi.

“Kok ada ya keluarga kayak gitu? Ini kan menyangkut nyawa anak mereka? Apa mereka nggak mikir andai kamu nggak bisa bayar?” Adinda hanya tersenyum mendengar semua kalimat bernada marah itu. Ia merasa, seolah ibunya kini ada di sini untuk memberinya kekuatan.

“Makasih Tante, sudah mau mendengar curhatan saya,” ujar Adinda dengan senyuman tulus. Jujur, hatinya mulai membaik, dan sepertinya ia memang harus menjual rumahnya untuk membayar tagihan rumah sakit.

“Kamu mau ke mana?” tanya wanita itu saat Adinda bangkit dari duduknya.

“Saya sepertinya sudah menemukan solusi masalah saya, Tante,” jawab Adinda dengan senyum mengembang. Ia ingat salah satu tetangganya pernah menawar rumah peninggalan orangtuanya itu. Mungkin sekarang belum terlambat untuk menawarkannya.

“Boleh Tante tahu, apa itu?” Entah mengapa wanita itu merasa khawatir. Ia takut wanita muda di sampingnya ini melakukan hal nekad.

“Saya punya rumah peninggalan orang tua saya. Rasanya itu akan cukup untuk membayar tagihan rumah sakit. Lebihnya bisa saya pakai untuk menyewa kontrakan,” jelas Adinda tanpa beban. Seolah memang itu jalan yang terbaik.

“Orangtua kamu sudah meninggal?” Dan saat anggukan kepala yang ia dapat sebagai jawaban, wanita itu merasakan kepedihan yang luar biasa.

“Saya permisi dulu ya, Tante. Mau nawarin ke tetangga saya. Waktu itu dia mau, siapa tahu masih berminat.”

“Tunggu!” Namun, langkahnya terpaksa terhenti saat wanita dengan penampilan elegan itu menahan lengannya. “Siapa nama kamu?”

“Saya Adinda, Tante,” jawab Adinda dengan wajah bingung.

“Kamu anak baik.”

Adinda tersenyum manis saat mendengar pujian itu. “Terima kasih,” bisiknya masih dengan raut bingung.

“Boleh Tante bantu kamu, Sayang?”

Kening Adinda mengerut bingung. “Maksud Tante?”

“Berapa tagihan rumah sakit?” tanya wanita itu sungguh-sungguh. Dan dengan wajah yang semakin bingung, Adinda pun menyebutkan nominal yang jumlahnya sangat besar. Namun, anehnya wanita itu tidak terlihat terkejut.

“Ayo kita ke resepsionis.” Wanita itu menarik lengan Adinda, tapi Adinda menahan langkahnya.

“Tante ini maksudnya gimana? Saya nggak mau nyusahin Tante. Bahkan kita juga baru kenal.”

Wanita itu tersenyum hangat. “Nama saya Marlina. Saya juga seorang ibu yang mempunyai anak. Mana saya tega setelah mendengar cerita kamu tadi?”

“Tapi Tante, itu jumlahnya nggak sedikit.” Adinda merasa menyesal karena sudah menceritakan masalahnya pada orang asing. Sungguh, ia tidak berniat sampai ke arah sini.

“Tante tahu, dan Tante bisa bantu kamu,” ujar Marlina dengan senyum lembut keibuan. Membuat Adinda semakin merasa bersalah. Wanita ini begitu baik, dan dia tidak boleh memanfaatkannya.

“Tapi Tan—“

“Kamu bisa anggap ini hutang, dan mencicilnya pelan-pelan,” potong Marlina cepat.

Namun, Adinda menggeleng. “Saya hanya pelayan kafe, nggak akan bisa membayar hutang sebesar itu.” Adinda mencoba untuk berpikir realistis.

“Kalau begitu, kamu bisa membayar dengan cara lain,” ujar Marlina, kali ini ada sorot penuh harap yang terpancar dari mata itu. Hal yang sejak tadi tidak bisa mata Adinda tangkap, wanita ini kini seolah menunjukkan ruang rapuh yang terus disembunyikan.

“Apa itu Tante?” tanya Adinda, yang merasa trenyuh saat melihat mata wanita itu mulai berkaca-kaca.

“Menikahlah dengan anak saya.” Mata Adinda pun melebar saat itu juga.

“Uang itu akan saya jadikan mahar, jadi kamu tidak perlu mengembalikannya.”

Jantung Adinda pun perlahan berdetak cepat. Ada rasa takut, bingung, putus asa, yang kembali menyerangnya. Awalnya Adinda meminta waktu untuk berpikir, tapi nyatanya waktu tidak memihak padanya. Dan saat tetangga yang ia harap bisa menolong dengan membeli rumahnya ternyata baru saja membeli rumah di lokasi lain, maka Adinda tidak punya jalan keluar, selain menghubungi wanita itu.

“Oke, besok kita bertemu di rumah sakit dan saya akan melunasi semuanya.”

“Tante, tolong buat surat perjanjian. Saya takut nantinya hati saya goyah,” ujar Adinda yang merasa takut akan berbuat curang jika ada yang membuatnya tidak nyaman nanti.

“Baiklah, saya rasa saya memang tidak salah memilih. Kamu adalah orang yang tepat untuk menjadi pendamping anak saya.”

Adinda hanya tersenyum tipis, menyerahkan kehidupannya di depan sana pada Tuhan. Semoga, semuanya berjalan lebih mudah dari yang ia duga.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Akibat Percaya Pekerja Magang
9.4
Niat hemat seorang pekerja magang baru justru membawa petaka. Ia nekat menukar kue lapis legit premium untuk klien seharga 20 juta dengan produk murah dari Shopee, mematikan listrik saat lembur, hingga mengusulkan kerja tanpa dibayar pada hari kemerdekaan. Saat sang protagonis menentang ide ekstrem tersebut demi membela rekan kerja, anak magang itu malah menuduhnya mencari keuntungan pribadi. Anehnya, sang bos justru memihak si magang dan memecat sang protagonis.
Sampul Novel Antara Cinta Dan Trauma
8.3
Masa lalu Adel kelam akibat kekerasan ayahnya, menyisakan trauma mendalam meski sang ibu selalu mendukung. Di sekolah, ia merasa terasing saat sahabatnya, Dara, mulai menjauh demi Farhan. Hubungan asmara Adel dengan Vero pun penuh kekecewaan, memaksanya mempertanyakan kesempatan kedua. Demi pulih, Adel memilih mengikuti pelatihan di Surabaya untuk menata masa depan. Di tengah luka dan bayang-bayang masa lalu, mampukah ia menemukan kebahagiaan sejati?
Sampul Novel Different Body
8.0
Apa jadinya jika saat terjaga kamu mendapati dirimu terjebak dalam raga dengan gender yang sama sekali berbeda? Nasib malang inilah yang menimpa Aurora Nadine Rachellina secara tiba-tiba. Dia terbangun dan menyadari bahwa jiwanya kini menghuni tubuh seorang laki-laki. Perubahan drastis tersebut bukan sekadar anomali fisik, melainkan awal dari serangkaian masalah yang jauh lebih besar dan rumit yang harus segera ia hadapi dalam hidup barunya.
Sampul Novel Gairah Nikmat Kopi Susu
9.3
Suasana hangat menyelimuti Fany dan Alvin saat mereka memulai momen intim di kamar. Setelah memastikan pintu terkunci dan AC menyala, Alvin tak kuasa menahan gairah melihat keindahan tubuh istrinya. Dengan penuh nafsu, ia mulai menjelajahi setiap lekuk tubuh Fany yang menggoda. Meski awalnya belum siap sepenuhnya, sentuhan lembut dan rangsangan Alvin perlahan membangkitkan hasrat Fany hingga mereka hanyut dalam pergulatan cinta yang semakin memanas.
Sampul Novel Godaan Ranjang Sang CEO-tamat
8.0
Demi menyelamatkan ayahnya dari kanker paru-paru, Gwen Florine terpaksa menerima tawaran Nicholas Kennedy, mantan kekasih yang meninggalkannya sepuluh tahun silam. Nich bersedia menanggung biaya operasi sebesar lima puluh ribu dolar asalkan Gwen bersedia menikahinya. Gwen setuju, namun dengan syarat pernikahan mereka hanyalah kontrak belaka. Di tengah luka lama yang belum sembuh, mampukah Gwen menjaga hatinya agar tidak kembali terjerat pesona sang CEO?
Sampul Novel Hancur Karena Cinta yang Berkhianat
9.5
Tiga tahun menikah, Aluna siap membangun keluarga saat kariernya di puncak. Namun, kejutan kehamilan yang ia bawa justru berujung pilu. Di kantor, ia mendapati Raka bersama wanita lain dan seorang anak kecil. Tanpa rasa bersalah, Raka justru meminta cerai dengan dingin. Aluna hancur melihat suaminya lebih memilih anak orang lain. Akankah Raka menyesal saat menyadari bahwa ia telah membuang darah dagingnya sendiri demi mereka yang tak sedarah?