Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Bukan Istri Idaman

Bukan Istri Idaman

Terus-menerus direndahkan oleh keluarga mertua membuat Karmila bertransformasi. Ia tak lagi pasrah menanti belas kasihan sang suami, melainkan bangkit demi masa depan anak-anaknya. Bertekad membuktikan kekuatannya, ia menyulap barang bekas menjadi kerajinan bernilai tinggi. Di tengah tekanan batin, Karmila memilih jalannya sendiri untuk meraih sukses dan kemandirian. Akankah kreativitas dan kerja kerasnya mampu membungkam semua hinaan yang selama ini ia terima?
Bab
Bagikan

Bab 2

"Siapa yang menikmati uangmu, Mas? Yang jelas bukan aku ya! Kamu aja hanya memberiku jatah satu juta! Gimana ceritanya menikmati uangmu?!"

Mas Haikal terbungkam. Mungkin dia sadar. Kalau tidak sadar juga berarti dia sudah tak waras.

Ada alasan kenapa aku lakukan hal ini padanya. Setiap hari aku selalu dimaki-maki, entah soal makanan yang terlalu sederhana atau soal anak-anak yang berisik dan ribut. Aku sudah capek. Muak sekali mendengarnya. Hampir menyerah dan ingin pulang saja ke rumah orang tua. Tapi jauh sekali di luar pulau. Harus punya dana yang banyak untuk pulang, sedangkan uang yang kukumpulkan pun lama-lama habis untuk menutupi kebutuhan. Kemarin-kemarin mungkin aku masih bisa ikhlas menjalani ini semua, menambal sulam kebutuhan keluarga dengan uang jualanku. Karena kupikir gaji Mas Haikal memang sedikit. Tapi tidak setelah aku mengetahui kenyataannya.

Beberapa hari yang lalu ...

"Mas, katanya kamu kan diangkat jadi manager, aku mau uang belanjanya ditambah mas, harga kebutuhan pokok semakin hari semakin mahal. Bisa kan, Mas?"

Tak ada sahutan apapun dari mulut Mas Haikal, dia bergeming, pandangannya hanya fokus pada benda berlayar pipih itu.

"Mas, kamu dengar aku?"

Dia menoleh ke arahku dengan tatapan tajam. "Tidak! Uang belanjaanmu seperti biasa. Satu juta per bulan," tukasnya dengan nada garang.

"Tapi--"

"Tidak ada kata tapi-tapi, urus rumah aja yang bener gak usah banyak nuntut. Jadi istri kok gak bersyukur banget. Adikku masih butuh biaya buat kuliah, apalagi sebentar lagi dia akan wisuda. Aku gak bisa menghambur-hamburkan uang untuk keperluan yang tidak penting."

Seketika aku terdiam. Aku hanya pasrah, mendengar ucapannya sudah tentu ia akan berbicara panjang lebar mengenai keluarganya.

Memang, Mas Haikal adalah tulang punggung keluarga. Dia menghidupi ibunya yang janda dan adiknya yang sekarang duduk di bangku kuliah, bahkan kakaknya pun turut jadi tanggungannya padahal dia sudah punya suami. Jujur, aku memang keberatan untuk hal itu. Apalagi dia tidak terbuka tentang apapun terhadapku. Pun mengenai gajinya. Aku hanya ingin ia terbuka dan bersikap adil pada kami.

Ia sempat keceplosan bicara kalau sekarang ia menjabat sebagai seorang manager. Aku tidak tahu seberapa besar gajinya. Mas Haikal hanya menjatahku satu juta per bulan, dan itu harus cukup. Aku harus putar otak bagaimana caranya mengatur keuangan ini, bayar air, listrik, kebersihan lingkungan sudah termasuk didalamnya. Bahkan uang jajan Daffa-Daffi, anak kembar kami yang berusia lima tahun termasuk dalam jatah uang belanjaanku. Beruntung si bungsu ku masih ASI eksklusif, jadi tak perlu memikirkan membeli susu formula.

*

Kuletakkan lipatan baju Mas Haikal di lemari. Tiba-tiba tanpa sengaja sebuah kertas jatuh ke lantai. Aku meraihnya, karena penasaran jadi aku membukanya. Isinya tentang struk gaji seorang manager, disana tertulis angka 10.000.000

Glek! Aku hanya mampu menelan saliva, gaji suamiku sebesar ini tapi dia hanya menjatahku satu juta? Kemana perginya sisa gajinya itu selain diberikan ke keluarganya?

Tanpa terasa air mataku meleleh. Kenapa aku harus mengetahui kenyataan ini kalau ternyata begitu menyakitkan. Kutaruh kembali kertas itu dibawah lipatan bajunya.

"Mil ... Milaaa ... Mana makanannya?!" teriak suara dari luar.

Rupanya Mas Haikal sudah pulang dari kantor. Aku beringsut menemuinya. Hari ini aku memang tidak masak. Aku malu kalau harus berhutang kembali ke warung. Uang konsinyasiku belum turun, baru kuambil seminggu yang lalu. Itupun menipis, padahal akan kugunakan untuk membeli bahan yang kubutuhkan.

Mas Haikal menatapku tajam.

"Maaf mas, aku gak masak. Hanya masak nasi saja. Jatah uang bulanan udah habis."

"Apaa?? Kamu kok boros banget jadi istri! Gajianku masih 3 hari lagi, dan kamu menghabiskannya secepat ini?" omelnya lagi. Dia meletakkan tudung saji itu dengan kasar.

"Uangnya buat bayar SPP Daffa-Daffi mas, udah nunggak dua bulan dan harus dilunasi. Sebelumnya aku udah minta sama mas, tapi--"

"Halaaah! Malu-maluin aja kamu jadi istri!"

Mas Haikal berlalu, menghentakkan kakinya dengan kasar.

Braakk!!

Pintu kamar ditutup kencang, membuat Daffa-Daffi yang sedang bermain di belakang berlari ke arahku. Dan bayi dalam gendonganku menangis karena kaget.

"Makanya, aku tuh gak percaya kalau kamu bisa ngatur uang! Dikasih segitu aja borosnya minta ampun! Beginilah begitulah dan banyak alasan lain!" hardiknya lagi muncul dari balik pintu.

"Mas, tolonglah jangan marah-marah didepan anak-anak."

Dia mendelik ke arahku lalu beralih menatap si kembar yang sedang memeluk kakiku ketakutan mendengar amarah sang ayah.

"Dasar istri tidak berguna!" gerutunya lagi, yang masih terdengar jelas di telinga.

Tanpa sepatah kata apapun lagi, Mas Haikal berlalu pergi meninggalkan rumah.

Rasa sesak kembali memenuhi rongga dada. Sakit. Ia kerap kali menghinaku seperti ini. Ya, aku disini seperti hidup menumpang di rumah suami. Rasanya sudah sangat lelah, gimana cara mengimbangi sikap suamiku dan tetap waras menjaga anak-anak. Dulu mungkin aku yang terlalu cinta padanya, tapi lama-lama rasa cintaku sudah mati, terkikis jauh di dasar hati. Tapi bisakah aku tetap bertahan selamanya seperti ini?

"Bunda, kenapa ayah marah-marah terus?" tanya Daffi dengan polosnya.

Aku mencoba tersenyum, memeluk keduanya dengan hangat. Merekalah yang membuatku masih bertahan.

"Ayah sedang banyak pekerjaan di kantor. Daffa sama Daffi, harus nurut ya. Jangan bikin ayah marah-marah."

"Baik, bunda."

"Oh iya, gimana nak, puasanya masih kuat?"

"Iya Bun, kata bunda harus tahan sampai bedug Maghrib."

"Benar sayang, kalian masih kuat kan?"

Keduanya mengangguk serempak.

"Nanti bunda bikinin nasi goreng ya?"

"Asyiiik, mau Bun. Tapi jangan pedas ya Bun."

"Siaaapp ...!"

Menjelang maghrib aku memasak nasi goreng untuk kami berbuka puasa. Terlebih aku sangat bersyukur, pada kedua anakku, mereka bisa menerima apa adanya, walaupun terkadang mereka juga rewel seperti anak-anak yang lain.

Sampai ba'da isya, Mas Haikal tak juga kembali. Kalau seperti ini dia pasti akan bermalam di tempat ibunya.

*

"San, Mas udah transfer ya uang bonus buat kamu sama ibu. Belikan apa aja yang kalian suka," ucap Mas Haikal berbicara di telepon.

Aku menyimaknya sekilas, berarti uang bonus Mas Haikal udah turun. Tapi kenapa dia tak bilang padaku?

Gegas aku menghampirinya sembari menggendong bayiku.

"Uang bonus udah turun, Mas?" tanyaku. Dengan penuh harap aku ingin agar dia memberiku sedikit.

"Hmmm ..." Ia menoleh sekilas, cuek. Lalu kembali sibuk dengan benda pipih di tangannya.

"Aku juga mau mas, pengin beli gamis. Gamis lamaku sudah pada belel kayak gini. Buat Alina juga Mas, baju bayinya dah pada kekecilan. Terus Daffa-Daffi ..."

"Gak usah neko-neko deh, kalian tuh di rumah aja! Sok-sokan mau baju baru! Pake baju yang ada. Jangan hambur-hamburin uang!"

"Tapi mas--"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Alice and The Blue Sea
8.6
Alice nyaris tewas terseret ombak sebelum diselamatkan oleh Archer, sosok pria misterius yang ternyata adalah seekor duyung jantan. Meskipun sempat tidak percaya, Alice akhirnya yakin setelah menyentuh langsung ekor Archer yang berotot. Pertemuan ajaib ini berujung pada sebuah permohonan bantuan dari Archer kepada Alice. Akankah kehidupan normal Alice berubah total setelah terlibat dalam takdir sang penghuni laut? Simak kisah fantasi romansa modern yang penuh keajaiban ini.
Sampul Novel Cinta Sang Ladyboy
8.4
Vanya adalah ladyboy menawan yang kecantikannya mengancam wanita tulen. Di sebuah klub, ia terpikat pada Ricardo Esteban, namun ragu akan statusnya. Pesonanya sebagai penari juga memicu obsesi Peter Hallmark, miliarder New York, serta Don Salvatore, bos mafia Italia yang ingin mengubahnya. Di balik karier MUA, Vanya terjebak dalam gelapnya perdagangan manusia. Mampukah ia bertahan hidup dan menemukan cinta sejati di tengah badai penderitaan tersebut?
Sampul Novel Dipaksa Menjadi Boneka Pribadi Sang Miliarder
8.0
Aluna bekerja keras di Hotel Aurelia demi biaya pengobatan adiknya. Namun, hidupnya hancur saat akun sistemnya dituduh membocorkan video rahasia Davin Elvard Renata dari Presidential Suite. Meski dijebak oleh rekan internal, miliarder itu tak peduli dan memaksa Aluna menjadi tawanan pribadinya sebagai bentuk tanggung jawab. Terjebak dalam konspirasi besar dan ancaman Davin, Aluna harus bertahan di tengah permainan kekuasaan yang penuh rahasia dan ketakutan.
Sampul Novel Dokter Forensikku, Kakakku
9.7
Sejak tragedi lima tahun lalu yang menewaskan Yani, sang tunangan, kakak Suzanne menaruh dendam mendalam dan berharap adiknya mati. Yani tewas demi melindungi Suzanne dari serangan pisau, meninggalkan luka batin yang tak termaafkan. Kini, takdir membawa jasad Suzanne yang hangus terbakar ke atas meja autopsi kakaknya sendiri yang bekerja sebagai dokter forensik. Keinginan sang kakak untuk melihat Suzanne tiada akhirnya terwujud, namun kenyataan pahit ini justru menghancurkan kewarasannya hingga ia menjadi gila.
Sampul Novel Langit Jam 4 Sore
8.2
Divia Putri Gayatri adalah gadis pemimpi yang mengagumi kedamaian langit pukul empat sore. Ia berharap takdir hidupnya akan seelok cakrawala itu. Tanpa diduga, Divia justru menemukan tambatan hati saat ia tidak sedang mencari cinta. Pertemuannya dengan Arman yang begitu sinematik meninggalkan kesan mendalam yang tak terlupakan. Namun, ketika bayang-bayang masa lalu mulai mengancam kebahagiaan mereka, mampukah cinta mereka bertahan melawan ujian takdir yang berat?
Sampul Novel My Annoying Boss
7.9
Demi lepas dari mantan pacar yang toksik, Sina nekat mengeklaim seorang pria asing sebagai kekasih barunya di sebuah restoran. Sialnya, pria itu ternyata Abraham Prama, atasan barunya di kantor. Di sisi lain, Abraham yang terdesak tuntutan menikah dari orang tuanya melihat ini sebagai peluang. Ia pun menuntut pertanggungjawaban Sina atas sandiwara tersebut. Terjebak dalam kesepakatan tak terduga, Sina harus menghadapi tuntutan sang bos miliarder yang menyebalkan.