
Bukan Ipar Penggoda
Bab 3
"Maura..!!Astaghfirullah..!Apa yang kamu lakukan??!" Dewa memekik ketika berhasil membuka pintu kamar di mana Maura berada. Dewa merasa panik melihat pemandangan yang ada di hadapannya.
Gadis itu sudah menggores pergelangan tangannya sendiri.Darah segar mengalir dari pergelangan tangan gadis itu.
Dewa segera berlari mendekati Maura yang terduduk di lantai sambil memegang cutter.
Dengan gerakan cepat Dewa merebut cutter itu dari tangan Maura dan melemparnya.
Lelaki itu menggenggam kuat pergelangan tangan Maura yang berdarah. Tanpa pikir panjang,lelaki itu merobek kaos yang di pakainya dan segera mengikatkan robekan kaosnya tersebut pada luka Maura.
"Dek..!!kamu apa -apaan sih??kenapa kamu nekat kaya gini??kita bisa bicarakan masalah kita baik -baik!!"ucap Dewa panik.
Sang ipar terlihat sangat kacau,gadis itu tak bersuara namun air mata tak henti mengaliri di kedua matanya. Maura terus menatap Dewa tanpa berkedip,ia menyaksikan bagaimana seorang Dewa perhatian kepadanya,panik melihat keadaannya,dan bagaimana Dewa benar -benar peduli kepadanya.
Pantaskah ia mendapatkan semua perhatian,kebaikan,kekhawatiran dari kakak iparnya tersebut??apakah saat ini ia sedang menjadi gundik di antara hubungan kakak dan kakak iparnya??Entahlah...
Dewa merengkuh tubuhnya dan membawanya untuk di baringkan ke kasur. Dengan hati -hati Dewa merebahkan tubuh Maura.
"Mas Dewa kenapa tega lakuin ini sama aku??apa salah ku mas??"
"Kamu enggak salah dek,mas yang salah. mas terlalu mabuk semalam dan tidak sengaja melakukan hal itu ke kamu. maafin mas yah?"sahut Dewa dengan cepat.
"Apa dengan maaf bisa balikin dunia aku yang terlanjur hancur mas??"tanya Maura dengan bibir bergetar.
"Aku tau Maura,,aku..aku memang bod*h,maafkan aku.."jawab Dewa lirih.
"Aku hancur mas!!aku udah nggak suci lagi sekarang!!aku udah jadi sampah sekarang!!hiks..hiks...lepasin..!!biar aku mati aja!!aku nggak berguna..!!"teriak Maura menarik tangannya dari Dewa.
Gadis itu berusaha beranjak turun dari ranjang namun Dewa segera menahannya. Lelaki itu tau bahwa Maura akan kembali mengambil cutter yang sudah ia lempar ke sudut kamar tadi.
"Enggak dek,mas nggak akan biarin kamu melakukan hal itu. Nyawa kamu berharga,jangan sia -siakan hal itu!!"Dewa berusaha mencegah Maura turun dari ranjang.
Tentu saja ia tak akan membiarkan gadis itu mengakhiri hidupnya tetap di hadapannya sendiri.
"Lepasin mas!!lepasin aku..!!aku hancur..!!hiks..Maura terus memberontak sambil terisak,sampai akhirnya Dewa terpaksa memeluknya.
Lelaki itu memeluk Maura dengan erat. Maura yang semula terus memberontak akhirnya mulai tenang. Gadis yang baru saja hilang kesucian itu menangis sesenggukan dalam pelukan kaka iparnya.
Nyaman,itulah yang di rasakan oleh Maura saat ini. Pelukan kakak iparnya begitu hangat dan nyaman,yang pasti juga sangat menenangkan.
Gadis itu membalas pelukan Dewa sambil sesekali masih terisak. Maura membenamkan wajahnya di dada bidang sang Ipar. Bolehkah Maura egois kali ini saja??ia tak ingin melepas pelukannya sedetikpun karena mulai menemukan kenyamanan.
"Dek,udah ya nangisnya..!mas obati dulu ya luka kamu,takutnya nanti infeksi kalau nggak segera di obati."
Seakan tak rela melepas pelukannya,Maura menggeleng masih dalam posisi yang sama. Dengan sabar Dewa terus membujuk Maura agar mau di obati lukanya. Hingga akhirnya gadis itupun mulai mengurai pelukannya.
Dewa yang memang pada dasarnya selalu lemah lembut dan penuh kasih itu menatap iba pada sang ipar. Ia belai kepala Maura dengan lembut. Lelaki itu juga menghapus jejak air mata di pipi Maura yang sembab dan terlihat matanya agak bengkak karena menangis semalaman.
"Udahan nangis nya,mata kamu jadi bengkak. Kan nggak cantik lagi jadinya."gurau Dewa mencoba mencairkan suasana.
Maura tak menyahut,sesekali gadis itu masih terisak.
"Aku ambil kotak obat dulu ya,tunggu sebentar!"kata Dewa lalu beranjak dan memungut cutter yang tergeletak di sudut kamar. Tentu saja ia harus mengamankan barang itu,jangan sampai Maura berbuat nekat lagi.
Lelaki itu keluar dari kamar dan beberapa saat kemudian kembali dengan kotak p3k di tangannya.
Dengan telaten dan hati hati Dewa membersihkan luka di tangan Maura. Gadis itu hanya terdiam melihat dan mengamati Dewa yang begitu fokus dan hati hati membersihkan luka di tangannya.
"Auwh...sshh...sakit mas..!"rintih Maura kala Dewa mulai mengoleskan obat pada luka di pergelangan tangannya.
"Maaf dek,apa mas terlalu kuat menekan kapasnya??"tanya Dewa kemudian meniup -niup luka Maura.
Maura tak menyahut,ia fokus pada rasa perih dan panas pada luka sayatan yang kini di sapukan obat merah oleh iparnya.
Beruntung tadi Maura sempat ragu -ragu ketika menggoreskan cutter di tangannya. Lukanya tak terlalu dalam,bahkan mungkin hanya luka luar saja belum sampai menyayat nadinya,namun darahnya lumayan membuat Dewa panik karena lelaki itu paling tidak bisa melihat wanita terluka sedikit saja.
"Tahan ya,mas pelan -pelan kok!"ucap Dewa kembali menyapukan kapas yang sudah ia olesi lagi dengan obat merah.
"Sshh..auw..." Maura kembali merintih.
Dewa menatap Maura tak tega,lelaki itu segera meniup lukanya lagi.
"Mas...kalau aku hamil gimana??"
Deg....
Pertanyaan Maura sukses membuat degup jantung Dewa berpacu dengan kuat.
Ia belum memikirkan hal itu karena terlalu panik dan khawatir pada keadaan Maura saat ini.
Apa yang akan ia lakukan jika hal itu benar terjadi??
...Bersambung......
Anda Mungkin Juga Suka





