Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Bukan Aku Tak Setia

Bukan Aku Tak Setia

Tiga tahun berlalu sejak Raja dan Cahaya memilih jalan masing-masing, namun luka lama akibat perpisahan tersebut nyatanya belum sepenuhnya pulih. Kini, takdir kembali mempertemukan mereka dalam sebuah situasi yang tak terduga. Di tengah kenangan masa lalu yang kembali menyeruak, keduanya harus menghadapi perasaan yang dulu sempat tertunda. Akankah pertemuan kali ini menjadi kesempatan kedua bagi mereka untuk meraih akhir yang bahagia bersama?
Bab
Bagikan

Bab 1

Tiga tahun lalu, Everland Korea.

Raja melangkah meninggalkan Cahaya yang kembali menolaknya, menolak uluran cinta yang ditawarkannya. Entah apa yang salah dengannya hingga Cahaya seakan enggan terikat padanya. Dia sangat mencintai gadis itu, mencintai dengan setulusnya. Namun dia harus berlapang dada menerima penolakan untuk kedua kalinya. 

Cahaya terdiam sendiri, tempat di mana dia berada sekarang adalah salah satu tempat hiburan terbaik di Korea, namun keramaian dan keindahan tempat itu tak dapat membuatnya merasakan bahagia. 

Lagi, dia bersikap angkuh menolak Raja. Merasa jumawa dengan rasa cinta lelaki itu, dengan mudah berkata tidak, padahal hatinya juga mendamba. 

Munafikkah dia? Tidak. Semua dilakukan untuk kebaikan lelaki itu, lelaki dengan sejuta pesona itu pantas mendapat yang terbaik, dan itu bukan dirinya. 

Sudah cukup dia melukai perasaan Raja beberapa bulan yang lalu, dan mungkin juga barusan atas penolakannya. Tapi ke depannya, lelaki itu akan tertawa bahagia dengan melupakan semua tentangnya. Bukankah waktu akan menyembuhkan luka? 

Lukanya ... juga luka hati Raja. Semua akan baik-baik saja walau sekarang terasa menyiksa. 

"Ya, naik kora-kora yuk? Tuh, Andri sama Adrian udah naik." Alya sang sahabat menghampiri, memilih kursi kosong di sebelahnya untuk dia duduki. 

Cahaya tersenyum mencoba menutupi luka hati, luka yang sengaja dia toreh sendiri, luka yang dibuat berdenyut nyeri saat menolak tawaran sang pangeran hati. 

"Males, Al. Kenapa nggak naik aja bareng mereka tadi?" kata Cahaya mencoba bersikap biasa. 

"Tadinya mau bareng, cuma nggak enak aja kalau hanya bareng mereka. A Raja mana? Tadi aku lihat dia bareng kamu?" Alya menoleh mencari keberadaan Raja, lelaki itu tadi terlihat bersama dengan Cahaya. 

"Pergi, nemuin Norri mungkin," kata Cahaya mencoba abai, padahal hatinya berteriak lantang.

Ya, alasan lain menolak Raja adalah melihat kedekatan Raja dengan manajer pemasaran dari Malaysia itu. Selain cantik dan tentunya pintar, Norri begitu terlihat menunjukkan ketertarikan pada Raja, Cahaya yang telah mengecewakan Raja, ingin memberi kesempatan pada Raja untuk membuka hati, bukan hanya terpaku padanya yang sudah terlalu sering menyakiti. 

Bodohkah dia?

Tidak. Dan biarlah. Cahaya hanya ingin Raja mendapatkan yang terbaik,  dan sepadan dengannya. Bukan seperti dirinya yang hanya  seorang anak petani. 

"Norri? Manager dari Malaysia itu?"

Cahaya mengangguk, "Kamu cemburu, Ya?" 

Cahaya menatap Alya tajam, menolak mengakui apa yang dikatakan. 

"Tidak!"

"Bohong!"

"Terserah!"

Alya menghembuskan napas kesal, merasa heran dengan pemikiran Cahaya, kenapa gadis itu tidak pernah mau mengakui perasaannya sendiri?

"Kamu akan menyesal, Ya."

"Kenapa? Aku hanya ingin yang terbaik untuk a Raja."

Mata Alya memicing, menatap penuh selidik pada Cahaya,  yang tanpa sengaja membuka kata tanpa perlu ditanya. 

"Jangan bilang kamu menolak a Raja lagi, Ya?" tanya Alya tepat sasaran. 

"Ya, dan itu yang terbaik untuk a Raja."

"Konyol! Bagaimana bisa kamu bilang itu yang terbaik, Ya? Kalau bahagianya dia itu kamu! Kamu Cahaya Kamila! Bodoh!" Alya tak dapat menutupi kekesalannya pada Cahaya, dan dia semakin kesal saat dengan enteng Cahaya mengendikkan bahunya menanggapi perkataan Alya. 

"Kamu akan menyesal, Ya!"

'Ya, dan aku menyesal sudah sejak lama, dan aku akan terus seperti ini, Al.'

Kata-kata Cahaya tidak akan didengar Alya, karena dia hanya berbicara pada dirinya sendiri. 

"Kamu memang sudah terobsesi pada oppa, Ya. Kamu menutup mata dan hati pada cinta yang a Raja tawarkan."

"Tidak, karena aku pun akan mengakhiri semuanya dengan oppa, aku akan fokus pada tujuan awalku datang ke negeri ini, aku hanya akan berpikir tentang masa depan."

"A Raja juga masa Depan kamu, Aya! Dia mencintai kamu!"

"Kamu tidak akan mengerti apa yang ada di kepalaku, Al."

"Tentu saja aku tak mengerti, dan tak ingin mengerti! Sudahlah, aku malas berbicara padamu."

Alya bangkit dan berjalan menjauhi Cahaya, menghampiri Adrian dan Andri yang baru turun dari wahana kora-kora. 

Cahaya menghembuskan napas kasar, biarlah semua orang menganggapnya keras kepala, dia akan tetap dalam pemikirannya sendiri. 

Cahaya mengangkat wajahnya saat seseorang datang, dari aroma minyak wangi yang menguar, dia sudah bisa menebak siapa yang ada di depannya. 

Kim tersenyum, lelaki keturunan Korea itu lalu duduk di samping Cahaya. Dia sangat rindu lada gadis yang beberapa hari lalu kembali mendapatkan kemarahan tak jelas darinya. 

Bodoh memang, cemburu membuatnya bersikap kekanakan. 

"Honey!" panggil Kim, dengan panggilan yang pernah membuat Cahaya merasa tersanjung, tidak seperti sekarang hatinya terasa hambar, "Masih marah? Aku minta maaf, aku menyesal!" 

Cahaya memalingkan muka, untuk kesekian kali lelaki itu meminta maaf atas sikap possesif-nya. Dan Kali ini, Cahaya tidak ingin memberikan maaf itu kembali. Dia menyerah untuk bertahan di sisi Kim. 

"Aku lelah, Oppa!" kata Cahaya ambigu, membuat Kim mengernyit tak mengerti. 

"Lelah? Kalau begitu istirahatlah."

"No, bukan itu. Aku lelah dengan semua, dengan hubungan kita--"

"Honey?" Kim merasakan sesuatu menusuk dalam hatinya, apa Cahaya akan memutuskannya? 

"Iya, aku lelah. Kita akhiri saja semua. All finish!"

Deg!

Ada yang menghentak keras dadanya, sakit. Terasa sesak. 

Cahaya memutuskannya, setelah beberapa saat lalu dia tersenyum penuh kemenangan atas pengakuan Raja, yang mengatakan kalau dia kembali ditolak oleh Cahaya. 

Namun apa sekarang? Nasibnya pun tak jauh beda, Cahaya memutuskannya! Mengakhiri jalinan rasa yang baru sebentar mereka bina. Dia juga kalah ternyata. 

Tidak! Belum, dia belum kalah. Dia akan melakukan apa saja untuk menahan Cahaya di sisinya. 

Apapun. 

"Kenapa ... kenapa kamu ingin mengakhiri hubungan kita, Honey? Aku sangat mencintaimu, apa kamu meragukan itu?" Kim menggenggam tangan Cahaya.

Yang membuat seseorang yang memperhatikan mereka berdua, salah sangka atas pemandangan yang dilihatnya. Menyangka kalau keduanya tengah saling mengungkapkan rasa cinta, hingga dia berharap bahagia selalu ada pada gadisnya. 

"Tapi cintamu membuatku tersiksa, Oppa! Aku tersiksa!" air mata Cahaya tak dapat ditahan, meluruh jatuh menuruni pipi. 

Kim tersentak, semenyakitkan itukah mencintainya?

Dia hanya ingin melindungi miliknya, Cahaya-nya. Semua sikap possesif yang ditunjukkan Kim hanya sebagai ungkapan cinta yang tak terbatas pada Cahaya. 

"Aku minta maaf kalau semua yang aku lakukan sudah menyakitimu, Honey. Tapi tolong, beri aku kesempatan. Aku tidak ingin kita putus, aku sangat mencintaimu!" Kim mengusap pipi Cahaya, hatinya sakit dengan semua kenyataan yang ada. 

"Maaf, Oppa. Berikan aku waktu untuk menguji kembali hatiku. Aku butuh waktu."

"Ok, baik. Kamu butuh waktu? Aku berikan, sebanyak yang kamu butuhkan. Tapi tolong, jangan putuskan aku. Kumohon?!" Kim menghiba penuh pengharapan. Bagaimana dia tidak sanggup kehilangan Cahaya. 

Lagi pula bagaimana tanggapan Raja, kalau tau dia juga diputuskan oleh Cahaya? Tentunya itu akan melukai harga dirinya. 

Cahaya menatap Kim sendu, karena lelaki ini dulu dia mengkhianati Raja, karena cinta ... atau mungkin obsesinya dia memilih Kim dadi pada Raja. Dan sekarang lelaki itu memohon padanya, pantaskah dia memberikan kesempatan lagi pada Kim? 

"Aku butuh sendiri, Oppa."

"Tentu, ambil waktu sebanyak yang kau mau, aku akan menunggu kamu kembali. Aku mencintaimu, Honey! Sangat mencintaimu," ujar Kim penuh keyakinan, berharap sang pujaan sudi menerima kesalahan yang terus dia lakukan berulang. 

"Aku pergi dulu."

Cahaya melepaskan genggam tangan Kim, beranjak pergi dari sana, sekedar melepas sesak di dada,  dengan menikmati tempat wisata yang kini dia datangi. 

Kim mengepalkan tangannya kuat, menyesali sikapnya yang tak berubah sama sekali. Kim sadar Cahaya sudah sering memberinya kesempatan, namun selalu saja dia melakukan kesalahan. 

Kali ini Kim bertekad, tidak akan membuat Cahaya menyesal telah memberinya kesempatan. 

"Akan aku buktikan kalau aku bisa menjadi seperti yang kamu mau, Honey. Aku tak bisa kehilanganmu. Tidak pernah bisa!" senandika Kim dengan terus memperhatikan Cahaya yang kini bergabung dengan ketiga temannya. 

Cinta, apa benar serumit itu?

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Benih Rahasia sang Fuckboy
8.7
Vania Clarista rela melepas hidup mewahnya demi cinta buta pada Edgar Emiliano, seorang playboy sekolah. Hubungan itu meninggalkan luka mendalam saat Vania hamil dan terpaksa berjuang sendirian. Demi menjaga kehormatan keluarga, ia memilih pergi dan membangun masa depan baru tanpa dukungan siapa pun. Enam tahun berlalu, mampukah takdir mempertemukan mereka kembali demi anak yang kian tumbuh, ataukah Vania tetap memilih bertahan dalam kemandiriannya?
Sampul Novel Cinta Untuk Farisa
8.1
Farisa, seorang gadis desa, memberanikan diri merantau ke kota demi menjalankan wasiat terakhir ibunya untuk mencari sang ayah. Di tengah perjalanan, ia bertemu sosok pria baik hati yang menolongnya. Meski berhasil menemukan ayahnya, Farisa terkejut karena posisinya telah direbut oleh orang lain yang mengaku sebagai anak kandung pria itu. Kini, Farisa harus memilih antara menyerah atau tetap berjuang demi mendapatkan kembali hak dan pengakuan yang seharusnya ia miliki.
Sampul Novel Dinikahi Suami Majikan
9.6
Kehidupan Laili berubah drastis saat ia terpaksa melepas masa mudanya demi sebuah ikatan pernikahan yang tak terduga. Sosok pria berambut putih yang selama ini ia hormati sebagai majikan dan dipanggil 'Tuan', kini telah sah menjadi suaminya melalui akad secara agama. Tanpa pernah membayangkan nasib ini sebelumnya, Laili kini harus menjalani realita baru sebagai istri dari pria yang dulu ia layani, membawa konflik batin di tengah status sosial mereka.
Sampul Novel Dive In You
9.2
Maryam dan Alaska terjebak dalam dilema cinta beda agama yang menguras emosi. Meski perasaan mereka begitu kuat, perbedaan iman menjadi penghalang besar yang menyesakkan dada. Saat dipaksa menuruti perjodohan pilihan orang tua masing-masing, mereka mencoba patuh pada takdir. Namun, simbol keyakinan mereka tak mampu menghapus rasa yang tetap hidup. Di tengah konflik batin dan kepatuhan, mungkinkah ada jalan bagi cinta mereka untuk bersatu kembali?
Sampul Novel Hasratku Padamu
9.7
Tinggal bersama sahabat berubah menjadi rumit sejak aku bertemu kakaknya, Octavio. Pria yang dua belas tahun lebih tua itu adalah mantan atlet sepak bola sekaligus pelatihku di kampus. Octavio sangat arogan dan suka meremehkanku, namun ketegangan di antara kami justru memicu gairah yang membara. Meski hubungan ini terlarang dan penuh risiko, aku tak bisa berpaling darinya. Dia adalah sosok yang seharusnya tidak kumiliki, namun dialah satu-satunya yang sangat kuinginkan.
Sampul Novel Istri Yang Tersiksa
8.7
Tiga tahun Rania Alvi menderita dalam pernikahan dingin bersama pengusaha sukses, Rizky Wira. Sebagai istri kedua, ia merasa terasing oleh kehadiran mantan istri Rizky, Inez. Saat divonis kanker stadium dua, Rania yang hancur fisik dan mental akhirnya meminta cerai. Namun, Rizky dengan tegas menolak dan bersumpah tidak akan pernah melepaskannya. Kini Rania terjebak dalam obsesi suaminya, berjuang di antara rasa sakit dan ikatan pernikahan yang menyesakkan tanpa jalan keluar.