
Bucinnya Cowok Temprament
Bab 3
Siang harinya Lili keluar dari ruang kelas kedokterannya di sebuah kampus. Disana terlihat seorang pria tinggi nan tampan sedang menunggu Lili di depan.
"Sayang" ucap pria yang memakai jas almamater itu melambaikan tangannya memanggil Lili.
"Kak Theo". Jawab Lili dengan senyum bahagianya menghampiri pria tersebut. Dialah Theo, pacar Lili saat itu.
"Kak, maaf yaa Lili gak bisa nemenin kak Theo sidang tadi" sesal Lili dengan manja.
"Gak apa-apa kok. Tapi sebagai gantinya aku minta hadiah, boleh?"
"Emm...boleh. Nanti Lili kasih, janji!"
"Tapi aku pengennya sekarang" Theo tanpa basa-basi mencium bibir Lili dan melumatnya dengan lembut. Ciuman itu pun begitu intens. Keduanya pun saling menikmati.
Kriiiingggg!!!!
Alarm berbunyi.
Lili membuka matanya segera. Dengan nafas yang tidak beraturan dia mencoba meraih ponselnya di atas nakas untuk mematikan alarm tersebut.
Lili tersadar dari mimpinya. Sejenak dia mencoba mengingat mimpi tersebut.
"Ehmmm!" Theo tiba-tiba ber-ehmm ria disampingnya.
Lili merasa aneh, kenapa ada Theo yang berdiri dengan tongkatnya disana, pikirnya.
"Kamu ngapain disini?" Tanya Lili melotot.
"Kamu pikir aku disini untuk apa? Suara alarm mu yang tadi bunyi sudah mengganggu tidurku!" Ucapnya reflek. Nadanya tak bersahabat.
"Apa iya sudah berbunyi dari tadi? Sampai terdengar ke kamar sebelah?" Gumamnya dalam hati.
Lili pun bangkit dari kasurnya menuju lemari. Disana dia langsung mengganti bajunya tanpa menghiraukan adanya Theo.
Mata Theo langsung membelalak kala melihat bodi naked Lili. Walau hanya menggunakan pakaian dalamnya saja, tapi tetap itu membuat libido Theo naik, secara dia adalah pria normal.
"Heyyy...apa-apaan kamu bertingkah seperti itu di depanku?"
"Aku ada jadwal operasi satu jam lagi. Aku buru-buru"
"Dasar dokter jorok. Bukannya merawatku, merawat dirimu sendiri saja tidak becus. Mandi sana!"
"Aku akan mandi di rumah sakit aja" jawab Lili berlalu meninggalkan Theo di kamar.
Theo menggelengkan kepalanya melihat tingkah konyol seorang dokter yang kini menjadi istrinya itu.
Tak lama dia segera sadar dengan apa yang dilakukannya sebelum alarm berbunyi tadi. Dia mengusap sisa saliva di bibirnya karena perbuatannya dengan Lili.
Meskipun kesal dengan tingkah Lili, dia tetap mencuri sedikit apa yang menjadi hak nya sebagai suami. Kemudian tertawa kecil sambil meninggalkan kamar Lili menuju kamarnya.
"Halo, Oliv..?" Theo menghubungi seseorang yang dipanggilnya Oliv. Dialah adik bungsu Theo yang masih tinggal dengan papanya, Raymond.
"Iya kak. Ada apa?" Jawabnya di sebrang sana.
"Sebelum ke kampus, kamu kesini dulu ya. Bawain aku jus sama bubur" titah Theo.
"Ya ampun udah nikah aja masih nyuruh-nyuruh aku sih. Terus bi Mirna kemana emangnya?"
Oliv memakai sepatu dan bersiap pergi ke kampus.
"Dia minta libur hari ini. Udah ah jangan bawel, kamu kesini aja. Ada yang mau aku ceritain sama kamu" Tanpa basa-basi Theo memutuskan sambungan teleponnya.
Sedangkan Oliv yang berada di sebrang sana membuang nafas kasar, lalu berjalan malas.
Setelah 25 menit di perjalanan, tiba lah Oliv di kediaman Theo. Namun tidak seperti biasanya, kali ini dia tidak bisa masuk karena sandi yang ditekannya gagal terus.
Ting-tong!
Akhirnya Oliv memutuskan untuk menekan bel saja. Tidak lama kemudian pintu pun dibuka oleh Theo.
"Sandinya dirubah kak?" Oliv penasaran.
"Hmmm...tanggal pernikahanku." Jawabnya singkat.
Mereka pun menuju meja makan.
"Istri kakak kemana? Kok sepi?" Oliv melihat ke sekeliling rumah. Oliv berniat untuk menyapa kakak iparnya tersebut.
"Dia udah pergi. Katanya ada operasi"
"Emm.. Tadi aku gak beli jus. Tapi beli buahnya aja. Gak apa-apa kan?" Tanya Oliv sambil mengeluarkan buah tersebut dari kantong kresek lalu menatanya di meja makan setelah mencucinya terlebih dulu.
"Gak apa-apa. Sama aja."
"Oh iya, tadi kakak mau cerita apa?"
Mendapat pertanyaan Oliv, Theo pun langsung menatapnya sedih.
"Menurut kamu apa aku salah jika menyesal telah menikahi dia? Aku seperti menginjak ranjau" Theo dengan mimik menyedihkan.
"Kok bisa sih kak? Dia menjebak kakak?"
Sedangkan Theo hanya menggelengkan kepalanya.
"Ya udah ceraiin aja. Lagian kan belum di publikasikan juga pernikahannya" ucap Oliv simple.
"Gak bisa gitu, Oliv. Aku sudah kehilangan 10 milyarku. Hiiikk..." tuturnya menyedihkan.
"Maksudnya gimana? Aku gak ngerti." Oliv penasaran.
Flashback on
dr. Mahendra masuk ke ruang perawatan Theo. Disana Theo sedang duduk bersandar di brankar pasiennya sambil memainkan ponselnya.
"Selamat sore. Perkenalkan saya dr. Mahendra pemilik rumah sakit ini. Apakah anda bapak Bastian Theo Raymond?" tanyanya sambil mengulurkan tangan kanannya. Theo pun langsung menerima uluran tangan tersebut dan mereka pun saling berjabat tangan untuk yang pertama kalinya.
"Iya, saya sendiri" jawabnya singkat.
Dalam benak Theo dia bertanya-tanya kenapa pemilik rumah sakit ini bisa datang mengunjunginya tiba-tiba.
dr. Mahendra menceritakan tentang kasus yang menimpanya saat ini dan butuh bantuan Theo sebagai pengacara untuknya.
"Jika kasus ini dimenangkan, saya akan membayar anda 10 milyar" dr. Mahendra tanpa basa-basi.
"Wow...fantastis" gumam Theo dalam hati bersorak. Namun tetap dengan wajah santai.
"Apa ada penawaran yang lebih baik? Saya tidak butuh uang sebanyak itu." Ucap Theo yang sedikit menantang.
Mau tidak mau dr. Mahendra harus bernegosiasi lagi dengan Theo.
"Apa yang anda inginkan? Saya akan turuti."
Mendengar tuturan sang dokter, Theo tersenyum picik.
"Dokter lihat sendiri keadaan saya seperti ini. Saya butuh perawatan khusus di rumah pribadi saya. Bukan hanya seorang dokter, tapi merangkap jadi istri" tutur Theo santai.
"Maaf, maksud anda?"
"Saya ingin menikah dengan dr. Liliana. Bolehkah?"
Deg!!
Jantung dr. Mahendra berdetak kaget kala nama anaknya disebut. Terdiam sesaat dan berpikir keras. Keputusan apa yang akan diambilnya.
Satu sisi, jika dia menolak dengan keinginan Theo, maka Theo tidak akan sudi membantunya dan tidak ada lagi harapan untuk mendapatkan pengacara yang handal. Jika bukan karena Theo, sudah dipastikan sisa hidupnya akan dia habiskan dibalik jeruji.
Di sisi lain, jika dia menerima permintaan Theo dan akhirnya lolos akan kasus ini, hidupnya akan tenang, rumah sakit pun akan aman di tangannya. Tentunya rumah sakit bisa diwariskan ke Lili, putri tunggalnya itu. Meskipun harus mengorbankan sebagian kehidupan Lili. dr. Mahendra pun masih punya harapan lain, jika Lili tidak mencintai suaminya nanti, dia bisa saja menggugat cerai. Setidaknya dia akan mendapatkan kuasa akan rumah sakit secara utuh, begitu pikir dr. Mahendra.
Akhirnya dr. Mahendra pun setuju dengan apa yang diminta oleh Theo. Kini keduanya pun sepakat dan saling berjabat tangan.
Seminggu setelah kesepakan akhirnya Theo bisa dipulangkan dari rumah sakit. Dia meluncur ke Pengadilan Negara di dampingi oleh papanya sendiri, Raymond Nusantara.
Entah benar diadakannya sidang atau hanya mediasi saja yang jelas dr. Mahendra tidak mendapat kerugian sedikitpun atas kasusnya itu. Sudah dipastikan, janji dr. Mahendra harus ditepati hari itu juga.
Selepas keluar dari Pengadilan Negara, Theo dan papanya langsung menuju kediaman dr. Mahendra untuk melangsungkan akad nikah Theo dan Lili disana.
Flashback off
Anda Mungkin Juga Suka





