Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Brondong Toxic

Brondong Toxic

Arum, janda tanpa anak, menjalin asmara rahasia dengan Viki, pria yang lebih muda. Ia menyembunyikan hubungan ini demi menghindari gosip kantor yang menuduh Viki sebagai perusak rumah tangganya dengan Pras. Namun, Arum justru terjebak dalam toxic relationship. Viki terbukti boros, temperamental, hingga tega melakukan kekerasan fisik dan berselingkuh dua kali. Akankah Arum tetap bertahan atau sanggup melepaskan diri dari jeratan pria tersebut?
Bab
Bagikan

Bab 3

Sebuah pesan masuk dari Pak Yos yang memintanya datang ke ruangan. Kebetulan Arum sedang keliling melihat kondisi kantor. Arum terburu-buru meninggalkan semmua pekerjaannya dan setelah 10 menit berjalan cukup jauh akhirnya tiba juga di depan ruangan sang bos. Dia mengetuk dan masuk ke dalam ruangan Pak Yos. Ya itu memang sudah kebiasaan di HR. Bisa masuk walau sang bos belum mempersilahkan dari dalam.

"Duduk dulu Arum," Pak Yos mempersilahkan.

Arum menurut saja segera duduk di sana. Masih berusaha mengatur nafas yang ngos-ngosan. Pasti ada pekerjaan lainnya yang harus dia kerjakan. Pak Yos masih bicara di telepon entah dengan siapa. Arum meneliti ruangan dominasi warna putih gading ini. Berkas yang selalu berserakan di atas mejanya penuh tumpukan dokumen yang perlu di tanda tangani. Di sudut ruangan berjejer beberapa piala juga plakat tentu beberapa ordner berisi dokumen. Lengkap dengan cahaya matahari yang masuk melalui sela-sela tirai.

"Arum, saya mau bicara penting sama kamu!" kata Pak Yos segera membuat Arum cukup bingung.

"Apa itu pak?" tanya Arum.

Pak Yos nampak berpikir dulu. Mungkin memilih kalimat yang tepat untuk disampaikan ke anak buahnya ini.

"Jadi gini, saya dengar gosip dari karyawan di sini, kalo kamu dekat sama anak CS, namanya Viki. Apa… itu benar?" tanya Pak Yos terlihat berhati-hati.

"Ada apa, Pak? Emang bapak dengar gosip apa antara saya sama Viki?" Arum malah balik tanya.

"Ya… hanya gitu aja sih. Kamu deket sama dia gitu," kata Pak Yos yang seolah menekankan kata ‘dekat’.

"Saya gak tau bapak dengar apa dari mereka ya, Pak! Saya sama Viki ya berteman biasa aja Pak sama aja kaya saya sama Rizki atau Tri," elak Arum segera.

"Ya, saya cuman mengingatkan saja disini. Sebagai atasan kamu, saya cuman bisa bilang kalau HR itu wajah perusahaan. Kalo satu saja dari kita berbuat, satu HR akan kena imbasnya. Apa kamu enggak kasian sama teman-teman kamu? Saya juga bicara sebagai orang tua kamu di sini. Kamu itu punya suami, enggak baik kalo kamu terlalu dekat sama karyawan pria lain. Bisa jadi fitnah ya kaya sekarang ini," Pak Yos coba menjelaskan dengan perlahan.

"Mohon maaf ya, Pak! Kalopun saya memang ada apa-apa sama Viki. Ini kan kehidupan pribadi saya pak. Hubungan saya dan bapak ya hanya hubungan profesional antara bawahan dan atasan. Bapak gak seharusnya ikut campur urusan pribadi saya dong!" Arum mulai emosi.

"Ya saya bicara karena saya dengar keluhan dari karyawan lain Arum! Kalau enggak juga saya enggak akan ikut campur masalah kamu. Ini kan juga demi kebaikan HR. Juga kamu," Pak Yos berpendapat.

"Ini secara gak langsung bapak nuduh saya selingkuh, sedangkan saya memang gak ada apa-apa sama Viki. Lagian ya Pak, kalo ngomongin masalah selingkuh. Di kantor ini juga banyak kok orang-orang yang suka selingkuh, suka main perempuan, kenapa hanya saya yang dipermasalahkan?" tanya Arum mulai kesal dan emosi.

"Ya sudah kalo kabar itu memang salah ya saya minta maaf. Berarti kecurigaan teman-teman itu salah dan saya juga enak ngejawabnya kan. Saya sekali lagi kan juga cuman mengingatkan. Jangan sampe gosip seperti ini makin berkembang, " kata Pak Yos lagi menekankan kepeduliannya.

"Iya sudah pak!" Arum sudah enggan bicara lagi.

Arum memilih pergi meninggalkan ruangan itu. Toh dilihat dari bahasanya, Pak Yos sebenarnya sudah terlanjur percaya dengan gosip itu. Beliau hanya berusaha sebaik mungkin untuk tidak terkesan menuduhnya walau memang itu yang sedang dia lakukan. Arum sudah bekerja lima tahun dengan Pak Yos. Sudah sangat hafal dengan watak beliau yang memang keras sama dengan dirinya. Itu kenapa sering sekali mereka adu mulut masalah pekerjaan walau akhirnya setelah itu keadaan membaik dan kembali seperti semula.

Astaga. Pada kenapa sih tuh orang-orang. Kepo banget sama hidup aku. Bikin kesel aja!

Bingung siapa yang harus dia curhati saat itu, akhirnya dia memilih mengirim pesan pada Viki. Pria yang dinilainya bertanggung jawab dengan adanya insiden ini. Jujur saja, Arum sangat kesal hari ini. Moodnya tentu saja berubah dengan sangat drastic karena pembicaraan yang menurutnya tidak masuk akal dari sang atasan.

Arum mengetik pesan di ponselnya untuk Viki, “Vik, gara2 kamu nih aku dimarahin Pak Yos!”

Karena masih jam kerja, Arum tahu Viki tak akan langsung membalas pesannya. Dia pasti masih sibuk melayani nasabah. Arum meletakkan kembali ponselnya dan menatap layar komputer dengan tatapan nanar. Matanya sesekali beralih pada pesan masuk di aplikasi Whatsapp nya. Ada nama suaminya di sana yang pasti juga masih sibuk bekerja. Mereka tetap berkirim pesan walau rasanya berbeda. Lebih seperti formalitas saja. Menunaikan kewajiban.

Dibacanya lagi pesan mereka pagi ini,

Pras : Hari ini aku ada liputan di luar.

Arum : Owh ya. Dimana?

Pras : Ada objek wisata baru aja sih kaya pantai gitu.

Arum : Owh, ya ati2 aja ya, Mas. Jangan lupa kabar-kabarin.

Pras : Siap!

Ya, begitu saja isi pesan singkat mereka. Benar-benar singkat. Hingga sekarang pun belum ada pesan masuk lagi dari sang suami.

Jam sudah menunjukkan pukul 11.45 siang. Tentu saja setelah kejadian dimarahin Pak Yos sebelumnya dia enggan mengerjakan pekerjaannya dan memilih untuk pergi ke luar ruangan menemui hal apapun yang bisa dijadikan sasaran kemarahannya. Dua orang cleaning service bahkan harus membersihkan toilet kamar mandi dua kali hanya karena Arum merasa pekerjaannya kurang sempurna

"Kenapa sih muka suntuk banget?" Asti yang kebetulan bertemu dengannya di depan klinik bertanya.

"Enggak apa-apa kok. Capek aja habis keliling," alasan Arum.

"Makan dulu aja. udah jam istirahat juga kan habis ini? Kali aja habis itu ilang capeknya," kata Asti lagi.

"Iya gampang," itu saja jawab Arum.

Asti memang bisa dikatakan adalah salah satu sahabat terbaiknya di kantor itu. Sebelum Asti menikah, dia bahkan sering menginap di rumahnya dan di situ dia akan banyak sekali bercerita tentang kisah cinta masing-masing. Asti bahkan tahu bagaimana lika-likunya hubungannya dengan Pras dan sebaliknya. Entah kenapa, untuk masalah ini dia memilih diam. Sedikit banyak dia memang takut untuk menceritakan yang satu ini, entah kenapa.

Arum memilih kembali ke dalam ruangan tepat saat rekannya yang lain memilih turun untuk makan siang di kantin. Selain alasan kenyamanan dan mager, Arum memang makin enggan makan di kantin sejak gosip itu tersebar semakin lebar. Rasanya setiap dia masuk pintu kantin, ada mata-mata yang penuh tanya dan penasaran, ada bibir-bibir yang membicarakannya. Arum jengah dengan semua itu. Dia memilih untuk duduk di bangkunya dan memperhatikan ruangan yang kini sepi. Ada beberapa meja di dalam ruangan itu. Satu meja yang sangat besar untuknya berbagi dengan Asti, Uli, dan Lili. Di ruang lain, ada meja Tri dan Rizki dan ruang Pak Yos yang tentu saja terpisah.

Arum menoleh ke arah ponselnya sebentar. Memilih mengirim pesan pada sang suami. Memberi kabar kalau dirinya sedang beristirahat yang tak lama hanya dibalas ‘OK’. Arum hanya mampu menghela nafas membaca pesan minimalis dari sang suami. Mungkin memang masih sibuk. Diletakkan kembali ponselnya. Tiba-tiba tak lama pesannya berbunyi lagi saat Arum baru saja membuka nasi kotak di hadapannya. Itu Viki membalas pesannya.

Viki : Gara2 aku? Kenapa?

Arum : Pak Yos tahu kalo kita deket. Kayanya ada yang kasih info. Jadi ya gitu deh aku dimarah2in. Diceramahin gak jelas sumpah.

Viki : Waduuuh. Tapi ya udah sih.

Arum : Lah kok cuman gitu?

Viki : Terus mau kamu gimana?Ya aku minta maaf deh kalo gitu.

Arum : Ya gak gimana2 sih kesel aja akunya.

Viki : Ya udah lah cuekin aja. Kita kan emang gak ada apa2. Eh, belum ada ding.

Arum : Kamu nih orang lagi sebel malah dibecandain! Aku lagi serius ini!!!

Viki : Hehehe. Iya iya maaf.

Arum : Kayanya mulai sekarang kita harus jaga jarak deh.

Viki : Apaan sih! Ya terserah kamu aja lah!

Arum : Hehehe. Becanda ding.

Viki : Dasar gak jelas!

Arum : Lah jadi dia yang ngambek?

Viki : Udah lah mending makan aja dulu biar gak stres.

Malam harinya, baru saja tiba di rumah. Meletakkan tas ransel dan membuka kaos kakinya. Ada sebuah notif pesan masuk dari sang suami di ponselnya. Arum segera merebahkan tubuhnya dan membuka isi pesan itu.

Pras : Sudah pulang?

Arum : Sudah, barusan aja.

Arum : Mas sendiri?

Pras : Sudah kok. Tadi bersih-bersih dulu terus edit video bentaran.

Arum : Owh iya syukur kalo gitu. Udah makan?

Pras : Udah dong. Kamu sendiri?

Arum : Udah juga tadi pulang kantor makan bakso dulu sama Tri. Aku telpon ya?

Pras : Ya aku aja deh nanti yang telpon ya. Mau lanjut ngedit bentar.

Arum : Owh gitu. Ya udah kalo gitu. Aku juga mau mandi dulu.

Pada akhirnya, sampai malam, sampai sinetron yang Arum tonton habis, Pras tidak menelponnya. Entah mungkin masih sibuk edit videonya atau justru sudah tidur. Arum merasa, komunikasi mereka akhir-akhir ini semakin buruk. Walaupun memang suaminya bukan tipe pria romantis dari dulu. Gaya komunikasi semacam ini dianggap biasa oleh mereka, tapi makin kesini rasanya komunikasi mereka makin kurang dan terkesan ala kadarnya. Arum tidak terlalu ambil pusing sebenarnya, dia punya banyak sekali teman baik pria atau wanita yang bisa diajaknya bicara, dia juga banyak sekali kegiatan yang bisa dilakukan. Jadi hari-harinya juga tidak terasa terlalu sepi walau hidup berjauhan dengan Pras.

Daripada sang suami, justru Viki yang dari tadi masih aktif mengiriminya pesan. Padahal dia sedang kembali ke rumah orang tuanya di Surabaya.

Arum : Gak ada kegiatan banget kamu dari tadi chat aku terus?

Viki : Ya emang gak ada Arum.

Arum : Cepet cari cewek gih, jadi kita gak digosipin lagi kan.

Viki : Gak mau lah. Aku tunggu jandamu aja.

Arum : Lah gila lu ya! Kok gitu banget sih doamu?

Viki : Ya becanda kali. Lah kamu sendiri, bukannya chat sama suami kamu, malah sama aku. Hayo?

Arum : Lagi sibuk dia.

Viki selalu begitu. Selalu bicara manis dan penuh modus. Siapa coba yang tidak kepikiran kalau terus diberi kata-kata seperti itu.

Beneran deh nih brondong alay maunya apa sih sebenernya? Maju terus pantang mundur! Apa dia beneran suka sama aku? Ah, mau dipikir gimana juga ya masa sih dia suka sama aku? Aku aja yang keGRan deh kayanya. Astaga Arum, tobaat tobaat!

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel AKU DAN TEMAN SUAMIKU
9.7
Kehidupan Tara berubah drastis saat ia terjebak dalam posisi yang tak pernah dibayangkan: menjadi istri kedua dari sahabat mendiang suaminya sendiri. Kini, ia terperangkap di tengah dinamika rumah tangga yang penuh komplikasi dan tekanan batin. Di tengah konflik emosional yang terus menguji kesabarannya, Tara harus menentukan pilihan sulit. Akankah ia bertahan demi komitmen tersebut, atau justru memilih untuk menyerah karena beban yang terlalu berat?
Sampul Novel Antagonist Girl
8.2
Arlan memenuhi setiap sudut apartemennya dengan foto seorang wanita demi menjaga ingatan agar tidak pudar barang sejenak pun. Tindakan ini bukan sekadar obsesi, melainkan bentuk ketakutan mendalam akan kehilangan memori tentang sosok tersebut. Sementara itu, Vellice hadir sebagai manusia dari dimensi berbeda yang justru sangat menikmati perannya sebagai antagonis. Kisah ini mengikuti ikatan unik mereka di tengah benturan dunia modern dan fantasi.
Sampul Novel Antara Aku, Kamu, dan Gundikmu
8.4
Anisa Amanda, seorang istri berparas jelita, harus menelan pil pahit saat dikhianati oleh suaminya, Hendra, dan adik sepupunya sendiri, Tia. Tak tinggal diam, Anisa bertekad membalas dendam atas sakit hatinya. Di tengah rencananya, ia tak sengaja bertemu Fras Ramadhan, seorang tukang parkir tampan. Siapa sangka, Fras sebenarnya adalah CEO sukses Bintang Group yang menyamar. Pertemuan itu memicu konflik baru sekaligus menumbuhkan benih cinta di antara mereka.
Sampul Novel Dinodai Calon Kakak Ipar
8.1
Hidupku hancur setelah calon kakak iparku sendiri menodai kesucianku tepat sebelum hari pernikahan. Alih-alih dibela, aku justru difitnah sebagai penggoda dan diusir dari keluarga. Demi bertahan hidup, aku terpaksa menjual diri kepada pria kaya raya. Bertahun-tahun berlalu, tak disangka pria brengsek itu muncul kembali sebagai pelangganku. Ia bahkan menyewaku secara eksklusif selama sebulan penuh. Apa sebenarnya rencana licik yang ia siapkan kali ini?
Sampul Novel Guruku tersayang
8.6
Hati Raina telah mati untuk Kevin. Ia tak sanggup melupakan pedihnya berjuang sendirian antara hidup dan mati saat melahirkan anak kembar mereka tanpa kehadiran suami. Di saat ia mempertaruhkan nyawa, Kevin justru asyik bersama Clara. Pengkhianatan itu menyisakan trauma mendalam hingga Raina enggan untuk rujuk. Rasa takut akan disakiti lagi membuatnya sadar bahwa mereka memang tidak berjodoh, meski Kevin kini memohon untuk kembali ke sisinya.
Sampul Novel KEPINCUT PAPA MUDA
8.2
Althea, dokter mandiri pewaris kekayaan kakeknya, tak sengaja bertemu anak kembar yang mengiranya ibu mereka. Sebagai sesama anak yang tumbuh dengan orang tua tunggal, ia merasa iba dan menjalin ikatan erat dengan mereka. Namun, warisan besar itu memicu konflik tajam dengan tantenya. Di tengah kemelut, Althea justru jatuh hati pada Evander, ayah duda si kembar yang awalnya menutup hati. Hubungan unik mereka pun berkembang penuh tantangan serta romansa yang manis.