
BRIDE OF THE MAFIA
Bab 3
Sejak kebutaan menimpa Jill, hidupnya berubah menjadi serangkaian tantangan yang tak henti-hentinya. Setiap hari membawa kesulitan baru, setiap tugas sederhana kini menjadi rintangan yang harus diatasi. Dalam kegelapan yang menyelimuti pandangannya, Jill menemukan dirinya bergantung pada indra lainnya untuk menavigasi dunia yang kini terasa asing.
Laras dan Dila, yang seharusnya menjadi pilar dukungan, malah menemukan celah dalam kelemahan Jill untuk mengeluarkan kata-kata yang tajam dan menyakitkan. Mereka menggunakan kondisi Jill sebagai alat untuk memanipulasi Reno, mendorongnya untuk segera menikahi Kirana, gadis dari keluarga yang kaya raya, dengan harapan bahwa hubungan itu akan membawa solusi finansial untuk pengobatan Jill.
Reno, yang hatinya hancur melihat penderitaan Jill, merasa terjebak dalam dilema yang menyiksa. Di satu sisi, cintanya kepada Jill membuatnya ingin melakukan apa saja untuk membantunya mendapatkan pengobatan yang dibutuhkan. Namun, di sisi lain, gagasan untuk menikahi Kirana hanya demi uang adalah sesuatu yang bertentangan dengan setiap serat keberadaannya. Setiap malam, Reno terjaga, merenungkan masa depan yang suram, mencari jalan keluar dari labirin emosi yang kian membingungkan ini.
Pagi itu, Jill berusaha melakukan yang terbaik untuk membantu Reno, meski dalam keadaan yang tidak memungkinkan. Dengan hati-hati, ia menuangkan kopi hangat ke dalam cangkir, meraba meja dengan tangan yang gemetar untuk memastikan tidak ada yang tumpah. Namun, nasib berkata lain; secangkir kopi tergelincir dari genggamannya dan tumpah ke atas meja, merembes ke dokumen penting perusahaan yang tergeletak di sana.
Reno, yang sudah dilanda kecemasan karena situasi dengan Jill dan Kirana, melihat kejadian itu dan, dalam momen kelemahan, kata-kata yang tidak seharusnya terucap keluar dari mulutnya. “Jill, lihat apa yang telah kamu lakukan! Ini sangat penting bagi perusahaan!”
Jill, yang merasakan setiap kata itu seperti pisau yang menusuk, hanya bisa berdiri diam, merasakan air mata yang tidak bisa dilihatnya mulai mengalir. Laras dan Dila, yang menyaksikan semuanya, tidak melewatkan kesempatan untuk menambah kerumitan situasi.
Laras, dengan nada sinis, berkomentar, “Nah, lihatlah apa yang terjadi ketika kita terlalu bergantung pada orang yang tidak mampu.”
Dila, menambahkan dengan suara yang penuh dengan kepalsuan, “Mungkin ini adalah tanda bahwa kita harus membuat keputusan yang lebih… praktis.”
Reno, yang menyadari kesalahannya, merasa penyesalan yang mendalam. Ia mendekati Jill, mencoba memperbaiki situasi, “Jill, maafkan aku. Aku tidak bermaksud…”
Namun, kata-katanya terasa hampa di tengah kekacauan emosi yang telah tercipta, dan Jill, dengan hati yang hancur, hanya bisa berjalan pergi, meninggalkan Reno dalam keheningan yang pahit.
Dalam kekalutan yang mendalam, Reno berbalik menghadapi Laras dan Dila. Emosi yang telah terpendam meledak, dan dengan suara yang gemetar namun tegas, ia menyatakan, “Saya tidak akan menikah dengan Kirana. Tidak sekarang, tidak pernah.”
Laras, dengan mata yang berkilat licik, tiba-tiba terjatuh ke lantai, tangannya meremas dada, wajahnya memucat. “Aku… aku tidak bisa bernapas,” katanya dengan suara serak.
Dila, yang terkejut, berteriak, “Mama!”
Reno, yang panik, segera meraih teleponnya. “Saya akan memanggil dokter,” katanya, sambil menekan nomor darurat. Dalam hatinya, ia bertanya-tanya apakah ini hanya tipu muslihat lain dari Laras atau kenyataan yang mengerikan yang harus dihadapi.
Ketegangan menggantung di udara saat dokter memeriksa Laras yang terbaring lemah. Setelah beberapa menit yang terasa seperti jam, dokter akhirnya berbicara, “Laras mengalami serangan jantung ringan. Dia harus menghindari stres sebisa mungkin.”
Reno, yang telah menahan napasnya, menghela napas lega. Namun, ketika dokter meninggalkan ruangan, Laras mulai menangis, air matanya mengalir deras. “Reno,” katanya dengan suara yang bergetar, “Aku mungkin tidak punya banyak waktu lagi. Aku hanya ingin melihat cucuku sebelum aku pergi. Tolong, nikahi Kirana demi Jill.”
Reno merasa hatinya terbelah. Di satu sisi, ia ingin memenuhi keinginan terakhir ibunya, tetapi di sisi lain, ia tahu bahwa menikahi Kirana bukanlah jawaban untuk masalah mereka. Dengan suara yang penuh dengan konflik, ia berkata, “Ibu, aku tidak bisa membuat keputusan itu sekarang. Cinta tidak bisa dipaksakan, dan Jill masih menjadi prioritas utama saya.”
****
Dalam keheningan malam yang hanya ditemani oleh suara detik jam yang berirama, Reno duduk termenung, pikirannya terbelenggu oleh dilema yang semakin memburuk. Setiap hari, ia menyaksikan Jill berjuang dengan kebutaan yang baru, sering kali terjatuh atau tersandung, hatinya hancur melihat cinta hidupnya dalam kondisi seperti itu. Tekanan dari Laras dan Dila, yang tidak pernah berhenti, semakin menambah beban pikirannya.
Minggu telah berlalu, dan dengan setiap hari yang berlalu, Reno merasa semakin terpojok. Akhirnya, dengan berat hati, ia mengambil keputusan yang akan mengubah hidup mereka semua. Reno setuju untuk menerima tawaran Laras, tetapi ia menetapkan syaratnya sendiri: pernikahan dengan Kirana akan menjadi kontrak semata, tanpa ikatan emosional atau komitmen jangka panjang. Itu adalah langkah yang didorong oleh keputusasaan, sebuah upaya untuk mengamankan masa depan Jill, meskipun itu berarti mengorbankan kebahagiaannya sendiri.
Dengan langkah yang berat, Reno bersama Laras dan Sanjaya mendatangi rumah mewah Keluarga Kirana. Udara di dalam ruangan itu terasa kaku saat mereka duduk menghadapi Prambudi dan Retno, orang tua Kirana. Reno, dengan suara yang bergetar namun penuh tekad, menyampaikan persetujuannya.
“Saya mengerti keinginan Anda dan saya bersedia memenuhinya. Saya akan memberikan keturunan untuk Keluarga Kirana.”
Prambudi, dengan tatapan yang menilai, mengangguk perlahan. “Dan setelah anak itu lahir, kami mengharapkan Anda akan memenuhi janji Anda untuk menceraikan Kirana,” ujarnya dengan nada yang tegas.
“Itu adalah kesepakatan kita. Saya akan menceraikan Kirana setelah semua ini selesai.” Kata Reno, dengab tegas.
Retno, yang selama ini hanya mendengarkan, akhirnya berbicara, “Kami menghargai keputusan Anda dan kami akan memastikan Jill mendapatkan pengobatan yang dia butuhkan.”
Dengan perasaan yang campur aduk, Reno menandatangani dokumen kontrak pernikahan di atas materai, sebuah tanda persetujuan yang tidak bisa diubah lagi. Setiap goresan pena adalah pengingat akan jalan yang telah dipilih, sebuah kontrak yang akan mengikat masa depan mereka semua.
Setelah tinta di atas materai mengering, menandakan kesepakatan yang telah tercapai, suasana di ruangan itu terasa lebih berat. Reno, dengan pandangan yang tegang, berpaling kepada Laras.
Reno melirik Laras dan berbisik di telinga mamanya. “Ma, saya mohon, pernikahan ini harus tetap rahasia. Jill tidak perlu tahu.”
Laras, dengan senyum yang dipaksakan, mengangguk perlahan. “Tentu saja, Reno. Akan saya jaga rahasia ini.”
Namun, di balik senyumnya, ada kilatan yang tidak bisa diabaikan, sebuah niat yang lebih gelap tersembunyi dalam bayang-bayang pikirannya. Laras telah menyetujui permintaan Reno, tetapi dalam hati kecilnya, ia sudah merencanakan bagaimana menggunakan rahasia ini untuk keuntungan sendiri, mungkin sebagai senjata terakhir melawan Jill, yang tidak menyadari badai yang sedang berkumpul di cakrawala hidupnya.
Anda Mungkin Juga Suka





