
Bos, Jangan! Nanti Ketahuan
Bab 5
. Selingkuh
“Terserah Bapak,” ujar Selena akhirnya.
Haris tertawa, dia kembali duduk di kursinya. Tidak berapa lama, dia sudah berbicara di ponselnya, ternyata menghubungi HRD untuk membuatkan surat pengangkatan untuk Selena sebagai sekretarisnya.
“Besok, kamu mulai bekerja,” ucap Haris lagi. Setelah itu, dia meminta Selena untuk menemui HRD dan menyerahkan semua persyaratan sebagai dokumen yang dibutuhkan perusahaan.
“Terima kasih, Pak.”
Selena berpamitan, namun sebelum kakinya melangkah menuju pintu, Haris kembali membuka suara.
“Malam ini temani saya makan malam.”
“Hah?” Selena menghentikan langkahnya, terkejut bukan main.
Katanya besok mulai bekerja, tapi malam ini diminta menemani makan malam.
“Bukankah, katanya saya besok…”
“Saya lupa, ada undangan makan malam dari teman. Hitung-hitung sebagai sambutan untukmu,” potong Haris dengan cepat.
Selena terdiam, tapi dia sudah terlanjur setuju untuk bekerja, mau tidak mau akhirnya dia mengangguk pelan.
Haris tersenyum lebar menatap kepergian Selena dari ruangannya.
Malam harinya, Selena mengenakan dress selutut berwarna pink. Dia terlihat begitu cantik.
“Semoga nanti Mas Anton gak berubah pikiran, dan melarang aku kerja lagi,” ujar Selena sambil mematut diri di depan cermin.
Dia sudah izin kepada sang suami untuk menemani Haris keluar malam ini. Kebetulan Anton juga belum pulang, katanya dia akan pulang terlambat karena harus lembur.
Tidak berapa lama, Haris menjemput. Dia bahkan tidak berkedip saat melihat Selena yang sedang berjalan menuju mobil.
“Dia sempurna,” desis Haris memuji.
Makan malam itu diadakan di sebuah restoran sebuah hotel berbintang lima. Disana seorang lelaki sudah menunggu.
“Selamat datang, Haris. Ternyata kau membawa kekasih,” kekeh lelaki yang bernama Dimas itu.
“Dia sekretarisku,” jawab Haris memperkenalkan Selena kepada Dimas.
“Kau selalu begini, katanya hanya kerjasama santai. Tapi, tetap saja bawa sekretaris. Tapi, dia cantik juga,” ujar Dimas sambil mengedipkan matanya ke arah Selena.
Selena menunduk, dia baru tahu ternyata disamping makan malam ini, Haris dan Dimas sekalian membuat perjanjian bisnis.
“Biar jelas,” jawab Haris.
Sepanjang makan malam itu, beberapa kali Dimas tampak mengedipkan matanya ke arah Selena. Dan puncaknya, ketika Selena sedang fokus makan, sebuah tangan mengelus pahanya. Dan itu tangan Dimas.
Selena terkejut, tapi dia tidak mau membuat keributan dan mengakibatkan batalnya kerjasama, padahal ini hari pertamanya bekerja.
“Maaf, Pak. Saya ke toilet sebentar,” ucap Selena dengan tiba-tiba berdiri.
“Oh oke,” jawab Haris.
Selena segera bernafas lega, setidaknya dia segera terbebas dari situasi itu.
Tapi, baru saja beberapa langkah matanya menangkap sosok yang sangat dikenalnya yang baru saja selesai menikmati makan malam bersama dengan seorang wanita.
Itu Anton, suaminya. Yang tadi mengatakan hari ini pulang terlambat karena lembur, kini dia melihat sosok itu tampak begitu akrab dengan Citra, selama ini dia kenal sebagai rekan kerja Anton.
Kebetulan keduanya sudah selesai dan bersiap pergi. Selena tidak ingin menyapa, dia ingin tahu seperti apa hubungan mereka.
“Sekali lagi, selamat atas jabatan barumu, Sayang,” ucap Citra dengan begitu manja bergelayut di lengan Anton.
“Kita rayakan malam ini, Sayang.”
“Aku siap.”
Keduanya tertawa riang, sedangkan Selena merasa hatinya seperti diremas-remas. Ternyata, inilah sebenarnya alasan Anton selalu beralasan lembur, tapi uangnya tidak ada.
Selena terus mengikuti mereka, yang mengejutkan adalah Anton dan Citra tidak menuju parkiran, mereka menuju ke hotel. Keduanya masuk ke dalam lift sambil berciuman.
“Mas…” panggil Selena.
Dia terdiam, dadanya bergemuruh. Dia baru tahu, ternyata selama ini dia sudah dikhianati. Beberapa bulan lalu, dia memang pernah menemukan tanda merah di baju Anton, dia tidak berpikir negatif.
Ternyata dia telah dibodohi..
Selena berbalik.
Bruuk!
Dia menabrak seseorang, tubuhnya limbung. Hampir saja dia terjatuh kalau saja tangan kekar itu tidak menahannya.
“Pak Haris…” gumam Selena terkejut.
“Kamu ke toilet terlalu lama, aku khawatir terjadi sesuatu dan menyusulmu,” jawab Haris.
Selena segera menarik tubuhnya yang masih dipegang Haris, jantungnya tidak karuan.
“Kita kembali ke meja makan,” ucap Selena.
Haris menggeleng. “Tidak perlu. Dimas sudah pulang.”
Selena merasa bersalah. “Maaf, Pak.”
“Tak masalah. Ayo kita pulang.”
Selena mengangguk mengekor di belakang Haris dengan pikiran kembali kepada Anton dan Citra. Entahlah, apakah Haris juga melihat mereka?
“Mau langsung pulang atau mau ke suatu tempat?” tanya Haris saat mereka tiba di dalam mobil.
“Pak, aku mau jalan-jalan saja sebentar,” jawab Selena.
“Baiklah. Mau kemana?”
“Kemana saja, Pak.”
Haris mengangguk, tanpa banyak tanya, seolah paham dengan pikiran Selena, dia langsung melajukan mobilnya menuju ke sebuah mall.
“Bagaimana kalau kita menonton?” ajaknya.
Selena mengangguk, saat ini baginya kemana saja tidak masalah. Yang penting bisa menghilangkan stresnya.
Ting!
Sebuah pesan masuk ke ponselnya, dari Anton. Segera Selena membacanya.
“[Aku tidak pulang malam ini. Pekerjaan masih menumpuk. Aku akan menginap di kontrakan teman.]”
Selena mengembuskan nafas kasar, Anton kembali berbohong padanya.
Dan selama ini beberapa kali Anton tidak pulang dengan alasan yang sama. Ternyata dia menginap di hotel bersama Citra.
Anda Mungkin Juga Suka





