
Billionare and His Secret Wife
Bab 3
Tanpa pikir panjang, Michelle langsung menyendok muesli, padahal wanita itu jarang sekali makan makanan rendah lemak. Lumayanlah, hitung-hitung diet.
"Kamu tidak makan?" selanya. Bagaimana pun juga rasanya aneh mengajak pria asing itu mengobrol, tapi mau bagaimana lagi? Michelle merasa hutang budi.
Kai tak merespon sama sekali. Matanya masih sibuk dengan majalah di tangannya. Meskipun otaknya tak bisa fokus karena kehadiran Michelle yang penuh banyak tanya, Kai berusaha bersikap sok tenang dan biasa saja.
Kini tubuhnya berpindah posisi dan menghadap Michelle. "Habiskan dan nanti barulah kita bicara," tegasnya dingin.
Brr! Michelle seperti kedinginan karena pria itu sangat tak hangat sama sekali. Ah, tak masalah karena mereka akan saling melupakan untuk ke depannya.
Seperti yang dibilang Kai sebelumnya, pria itu tak akan mengeluarkan suara sampai Michelle menghabiskan semua makanan yang sudah dipesan. Wanita itu memang kelaparan dari semalaman, apalagi ditambah dengan perang panas dengan Kai.
"Apa kau masih ingat namaku, Nona?" tanya Kai akhirnya. Percuma saja membaca majalah kalau otaknya tak bisa menangkap apa yang tergambar pada kertas. Ini semua karena wanita itu telah menyita perhatiannya.
Michelle nampak berpikir, tangannya saling bertautan karena tak menemukan jawaban yang akan dilontarkan. Malam tadi, saat mereka bercinta wanita itu memang tak mencari tahu dulu tentang pria yang menidurinya.
"Maaf, tapi aku hanya ingat namamu huruf depannya saja. Namamu diawali dengan huruf 'K' bukan?"
Pria itu agak tersinggung. Bagaimana mungkin Michelle bisa lupa begitu saja? Padahal semalam wanita itu mendesah dengan lantang menyerukan namanya. Ah, rasanya harga diri Kai sedikit terinjak.
"Lain kali, sebelum mengajak orang bercinta hapalkanlah nama mereka. Supaya kau bisa mendesah lebih lantang. Faham?"
Michelle langsung pucat pasi. Ia mana tahu kalau keadaannya akan begini. Dalam otaknya sama sekali tak pernah terpikirkan kalau akan bercinta dengan pria asing seperti Kai.
Ia mengulurkan tangan sebagai perkenalan resmi. Meskipun Michelle tak berniat untuk mengenal Kai lebih jauh, sepertinya kalau hanya mengetahui nama saja tak masalah.
"Aku Michelle Tsabina, terserah kamu kau manggil aku apa. Kamu?"
Rasanya Kai cukup tertantang karena wanita itu tidak sekaku tadi. "Aku Kai, dan lebih suka dipanggil seperti itu. Kau masih kuliah bukan?"
Michelle mengangguk. Dua semester lagi dirinya akan lulus dan berusaha untuk masuk ke perusahaan yang bisa mengubah nasibnya. Ia tak mungkin menjadi santapan pria hidung belang selama sisa hidupnya.
"Aku harus pergi karena aku seorang pria pekerja. Kau gak apa-apa kutinggal sendirian?"
Tentu saja Michelle kegirangan. Ia seperti kejatuhan durian nomplok lantaran bisa menikmati kemewahan kelas atas. "Memangnya aku bisa tetap di sini meskipun gak ada kamu?"
"Tenang saja, gak ada satu orang pun yang berani menginjakkan kaki di sini tanpa izinku. Ah, aku lupa. Sebenarnya ada, kamu orangnya!" tunjuk Kai. Ia lalu tertawa seolah-olah itu sesuatu yang lucu baginya.
Begitu pria itu pergi, Michelle seperti merasakan menjadi tawanan di kamar berbintang. Ia berputar-putar sambil mendengarkan musik kesukaannya. Berjingkrak-jingkrak di ranjang layaknya orang gila. Kapan terakhir Michelle merasakan kebahagiaan selepas ini?
'Mumpung gak ada si tampan di kamar ini, mendingan aku mandi di bathup ah!'
Michelle segera menceburkan diri dan menikmati fasilitas secara gratis. Tubuh indahnya merasa basah oleh busa aroma mawar dan mint segar. Ternyata pria itu punya selera yang lumayan juga.
Meskipun wanita itu tinggal di apartemen yang harganya lumayan, tapi tak ada apa-apanya dibandingkan dengan ruangan ini. Ini seperti ukuran rumah di lantai atas. Memiliki satu kamar tidur dengan luas kesukaan sultan, ruang tamu dengan sofa ukuran size. Bahkan Michelle akan tetap tidur puas meskipun hanya di atas sofa. Belum lagi dapur mini, yeah.. meskipun tak ada makanan dan minuman apapun selain air putih.
Apakah pria itu sering datang ke sini? Kenapa penjaga sangat kaget saat Michelle menyebut nomor kamar Kai? Sebegitu kayakah pria itu?
***
Kai hampir saja melemparkan ponselnya karena Brandon tak mengangkat telepon darinya. Saat ini pria itu tidak sedang menuju ke kantor tapi malah berdiri di depan butik khusus wanita. Ia ingin membelikan beberapa pakaian untuk Michelle dan tentu saja beserta pakaian dalam.
Sumpah! Racun apa yang ditularkan wanita itu ke sel otaknya? Baru kali ini seorang Kainando Patiwara kebingungan memperkirakan ukuran dada Michelle. Kalau terlalu kebesaran bagaimana? Apalagi kekecilan, pasti tidak nyaman bukan?
Satu-satunya orang yang bisa ia tanyai tentang tubuh wanita hanyalah Brandon. Sepupunya itu memang sangat cerdik saat mengukur bentuh tubuh wanita meskipun hanya satu kali lihat saja. Brandon adalah playboy kelas kakap yang selalu berhasil memikat deretan wanita cantik-seksi-menggairahkan. Dasar otak selangkangan!
"Pagi Mbak, bisa ke sini sebentar nggak?" Kai melambaikan tangan ke salah satu pegawai butik yang sedang menganggur. Sepagi ini butik memang belum ramai, hal itulah yang membuatnya gugup tak karuan. Sialan! Perasaan macam apa ini?
"Kekasih Masnya lebih suka model yang sport, sheer bra, nursing atau malah suka yang transparan?"
Kai menelan ludahnya kembali. Ia mana tahu selera para wanita tentang dunia bra. Pria itu lebih suka melihat wanita tanpa busana. Ah ralat! Maksudnya Kai menyukai Michelle tanpa memakai sehelai kain ditubuhnya.
"Random aja deh Mbak," Kai ragu-ragu untuk menyebut ukuran dada Michelle. Ia mencari situs pencarian dan menulis aktris wanita yang bentuk tubuhnya mirip dengan Michelle.
"Wah, ini sih ukuran yang sangat banyak disukai orang , Mas!" pegawai tersebut membungkus lebih dari lima stel pakaian dalam wanita beda warna beserta setelan pakaian santai. Tak mungkin Kai membiarkan wanita itu seharian memakai hoodie tanpa celana. Meskipun keliarannya sudah lenyap, sebagai pria normal Kai harus tetap waspada. Apalagi setelah tau semalam pria itu tidak memakai pengaman.
Kai segera pergi dari butik dan kembali ke rumahnya. Rumah yang hanya ada dirinya saja. Sebenarnya ada pembantu dan tukang kebun sekaligus mata-mata kepercayaannya.
"Pagi, Tuan Kai," sapa Ruben. Meskipun dari penampilannya hanya seorang tukang kebun, Ruben sangat cekatan dan bermata jeli. Kemampuan bahasa, otak cerdiknya, kekuatan tangannya saat menjatuhkan lawan di ring dan kepolosan wajah adalah skill yang ia miliki. Itulah mengapa Kai menempatkan Ruben di rumahnya dan memberi pekerjaan yang tak akan dicurigai banyak orang.
"Saya bawakan belanjaan anda Tuan,"
Cepat-cepat Kai menyingkirkan paperbag besar dari Ruben. Jangan sampai pria itu tahu apa yang dibelinya dari butik. Meskipun Ruben faham Kai pernah bermain dengan banyak wanita, baru kali ini tuannya membelikan pakaian dalam wanita. Apa kata Ruben nanti?
"Aku bisa membawanya sendiri Ruben!" Kai langsung berjalan masuk dan memasuki lift, tapi ia menoleh kembali dan berkata, "Tolong sampaikan pada Vera untuk membuatkan makan siang untukku agak banyakan. Vera pasti punya kotak makan, kan? Aku ingin dia menaruh makanan di dalamnya,"
Ruben hanya bisa mengangguk dan tidak bertanya apa-apa. Apalagi ini? Sejak kapan tuannya memilih cara yang ribet untuk makan? Dan tumben-tumbenan Kai mau membawa belanjaannya sendiri? Bahkan kunci mobil saja pria itu sering lupa karena tak pernah menyimpannya dengan baik. Beruntung Ruben sering menyuruh Vera untuk mengawai tuannya saat kelupaan tentang kunci mobil.
Anda Mungkin Juga Suka





