Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel BILANG SAJA KAMU JANDA

BILANG SAJA KAMU JANDA

Rania hancur saat suaminya sendiri memintanya berpura-pura menjadi janda demi uang. Di balik kerudung pastelnya, ia memendam luka mendalam sekaligus berjuang melawan kanker ganas yang menggerogoti raga. Meski tubuhnya kian melemah, Rania bertahan demi kedua buah hatinya. Ini adalah kisah perjuangan seorang ibu yang bangkit dari pengkhianatan dan rasa sakit, mengumpulkan sisa kekuatan demi tetap hidup untuk anak-anak yang mencintainya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Rania menunduk, tangannya menggenggam erat tangan kecil Rafif dan Hana.

Angin pagi di taman rumah sakit membawa aroma rumput basah, tapi tak mampu menghapus rasa sesak di dadanya.

Wajah pria berseragam tadi masih terbayang. Ada sesuatu di matanya, sorot yang familiar, namun asing. Seperti kenangan yang terkubur terlalu dalam, hingga ia ragu apakah itu nyata atau hanya ilusi dari tubuhnya yang lelah.

"Bu, kita pulang sekarang?" tanya Hana, suaranya lembut, hampir tak terdengar di antara deru angin.

Rania tersenyum tipis, mengangguk.

"Iya, Nak. Sebentar lagi."

Rafif memandang ibunya, matanya penuh pertanyaan yang tak pernah ia ucapkan.

Anak itu terlalu kecil untuk memahami sepenuhnya, tapi cukup besar untuk merasakan beban yang Rania pikul. Ia hanya diam, memeluk lengan ibunya lebih erat.

Di perjalanan pulang, bus yang mereka tumpangi sesak dan pengap.

Rania memeluk kedua anaknya, menahan batuk yang kembali mengintai di tenggorokannya.

Setiap guncangan bus terasa seperti pukulan pelan di tulang-tulangnya yang rapuh. Ia menutup mata, mencoba mengingat wajah pria tadi.

Apakah itu dia? Apakah mungkin? Tapi kenangan itu terlalu sakit untuk diungkit.

Ia memilih mengalihkan pikiran, menatap Rafif yang sedang menggambar sesuatu di buku lusuhnya, gambar rumah dengan tiga orang di depannya. Rania, Rafif, Hana. Tak ada Emir.

Sampai di rumah, langit sudah kelabu. Awan tebal menumpuk, seolah siap mencurahkan duka yang sama seperti yang Rania rasakan.

Ia menyiapkan makan malam dari sisa kangkung dan tempe pemberian Bu Murni.

Hana membantu mengatur piring, sementara Rafif menyapu lantai yang berderit.

Mereka makan dalam diam, hanya suara sendok yang berdenting pelan.

Rania memperhatikan anak-anaknya, wajah mereka yang polos, dan hatinya kembali terasa seperti ditusuk.

Berapa lama lagi aku bisa begini? pikirnya.

Malam itu, setelah anak-anak tertidur, Rania kembali membuka ponselnya. Ia cek Saweria, masih sepi. Transfer Rp275.000 tadi seperti keajaiban yang tak akan terulang.

Ia membaca lagi pesan dari pengirim anonim itu: Jangan berhenti. Tolong tetap hidup.

Kalimat itu terasa seperti pegangan terakhirnya, tapi juga seperti beban.

Bagaimana ia bisa berjanji untuk tetap hidup, ketika tubuhnya sendiri seolah menyerah?

Ia membuka aplikasi KBM, menatap tulisannya yang tak kunjung dibaca. Ia menulis lagi, jari-jarinya gemetar di atas layar ponsel yang retak:

[Aku tak tahu apakah besok aku masih di sini. Tapi malam ini, aku ingin kalian tahu: anak-anakku adalah dunia. Kalau aku pergi, tolong ingatkan mereka bahwa Ibu pernah mencintai mereka dengan seluruh jiwa yang tersisa.]

Ia tekan publish, lalu menutup ponsel. Air matanya jatuh pelan, membasahi bantal tipis yang sudah usang.

Di luar, hujan mulai turun lagi, mengetuk atap seng dengan ritme yang sendu.

Pagi harinya, Rania terbangun dengan tubuh yang lebih berat dari biasanya.

Demamnya kembali, lebih tinggi dari sebelumnya. Ia mencoba bangun, tapi kepalanya pusing, dan pandangannya berkunang-kunang.

Rafif, yang sudah terbiasa bangun lebih awal, memandang ibunya dengan cemas.

"Bu, Ibu kenapa?" tanyanya, suaranya kecil tapi penuh ketakutan.

Rania memaksakan senyum.

"Ibu cuma capek, sayang. Bantu Ibu ambilkan air, ya?"

Rafif berlari ke dapur, tapi saat kembali, ia menemukan Rania terduduk di lantai, memegang dadanya.

Napasnya tersengal. Hana terbangun karena suara, dan matanya langsung membelalak melihat ibunya.

"Ibu! Ibu kenapa?!" Hana berlari mendekat, tangannya kecil memegang wajah Rania.

Rania ingin menjawab, tapi kata-kata terjebak di tenggorokannya. Ia hanya bisa meraih tangan anak-anaknya, menarik mereka ke dalam pelukannya.

"Ibu... Ibu baik-baik saja," bisiknya, meski suaranya serak dan penuh kebohongan.

Ia tahu ini bukan sekadar demam. Ini adalah tubuhnya yang mulai menyerah.

Kemo kemarin mungkin terlambat, atau mungkin kankernya sudah terlalu kuat. Ia tak tahu.

Yang ia tahu, ia tak ingin anak-anaknya melihatnya seperti ini.

Dengan sisa tenaga, ia merangkak ke ponselnya, mencoba menghubungi Bu Murni.

Tapi sebelum ia bisa menekan tombol panggil, ponsel itu jatuh dari tangannya. Dunia mulai gelap.

"Ibu! Ibu jangan tidur!" teriak Rafif, mengguncang pundaknya.

Hana menangis, memeluk kaki ibunya. "Ibu, bangun! Jangan pergi!"

Di tengah kabut kesadarannya, Rania mendengar suara langkah mendekat.

Seseorang membuka pintu. Suara itu berat, seperti sepatu kulit di lantai kayu. Ia mencoba membuka mata, tapi kelopaknya terasa seperti ditarik ke bawah.

"Rania?" Suara itu dalam, penuh kejutan dan sesuatu yang sulit didefinisikan, penyesalan, mungkin.

"Paman ... Paman tolong bantuin ibu.. Paman.

"Mas Erlang... Tolong" bisik Rania, hampir tak terdengar.

Erlang, kakak Emir. Baru pulang berlayar. Ia tak tahu kabar terkini adik iparnya. Ia terkejut melihat pintu rumah terbuka dan mendapati Rania dalam keadaan yang kritis .

Pria yang kini berdiri di ambang pintu, wajahnya pucat melihat Rania yang terkulai di lantai, dikelilingi anak-anaknya yang menangis.

"Ya Tuhan, Rania..."

Erlang berlutut, mengangkat tubuh Rania dengan hati-hati.

"Kamu harus ke rumah sakit. Sekarang."

Tapi Rania hanya menggeleng lemah.

"Terlambat..." katanya, suaranya seperti daun kering yang jatuh. "Jaga... anak-anakku..."

"Kau harus kuat Rania ... Harus. Aku akan membawamu ke rumah sakit.

Erlang memandang Rafif dan Hana, matanya berkaca-kaca. Ia tak tahu cerita penuhnya, tak tahu tentang Emir yang pergi, tentang kanker yang menggerogoti, tentang perjuangan Rania di pasar dini hari. Tapi ia tahu, saat itu, ia tak boleh gagal lagi.

"Aku bawa kamu ke dokter. Kamu harus bertahan," katanya, suaranya gemetar.

Tapi Rania hanya tersenyum, senyum yang penuh kepasrahan.

"Aku cuma minta satu... Jangan biarkan mereka sendirian..."

Hujan di luar semakin deras, seolah langit ikut menangis. Erlang menggendong Rania, berlari ke mobilnya, sementara Rafif dan Hana mengikuti dengan wajah penuh air mata.

Di dalam mobil, Rania memegang tangan anak-anaknya, menatap mereka dengan cinta yang tak akan pernah pudar, meski nyawanya perlahan meredup.

Di rumah sakit, dokter bergerak cepat, tapi wajah mereka penuh keraguan. Infeksi telah menyebar terlalu jauh.

Rania terbaring di ranjang, napasnya semakin pelan. Erlang berdiri di samping, memegang tangannya, berbisik tentang masa lalu yang tak pernah selesai, tentang maaf yang terlambat.

"Rania, aku menyesal... Maafkan Emir yang tidak mengurusmu dengan baik.

Rania hanya mengangguk lemah, tak punya tenaga untuk menjawab.

Matanya beralih ke Rafif dan Hana, yang berdiri di sudut ruangan, memandang ibunya dengan wajah penuh ketakutan.

"Jangan... takut..." bisik Rania, suaranya hampir hilang, namun penuh tekad. "Ibu... selalu ada..."

Erlang memegang tangan Rania lebih erat, matanya basah, namun ia berusaha tegar.

"Kamu kuat, Rania. Kamu harus bertahan untuk mereka," katanya, suaranya penuh harap meski getar ketakutan tak bisa disembunyikan.

Rafif dan Hana berdiri di sudut ruangan, memeluk satu sama lain, wajah mereka pucat, namun mata mereka tak lepas dari ibunya.

Dokter masuk dengan wajah serius, membawa hasil pemeriksaan terbaru.

"Infeksinya parah, tapi kami akan coba antibiotik kuat dan terapi suportif. Kondisinya kritis, tapi masih ada peluang," katanya, suaranya tegas namun hati-hati.

Erlang mengangguk, mencoba mencerna setiap kata, sementara Rania hanya menatap langit-langit, napasnya pelan, seolah ia sedang bernegosiasi dengan malaikat maut untuk satu hari lagi.

Hujan di luar masih deras, tapi kilat sesekali menyelinap, menyinari ruangan rumah sakit yang steril.

Rania merasakan dingin menusuk tulang, tapi kehadiran Rafif dan Hana di sisinya seperti bara kecil yang menolak padam.

Ia memejamkan mata, membayangkan mereka tertawa di taman, berlari di bawah sinar matahari, bebas dari bayang-bayang penyakit dan kemiskinan.

"Paman... janji, ya," bisik Rania, matanya setengah terbuka, menatap Erlang.

"Kalau aku... nggak bisa, jaga mereka. Jangan biarkan mereka sendiri."

Erlang menggeleng, air matanya akhirnya jatuh.

"Kamu nggak akan ke mana-mana, Rania. Aku janji akan bantu, tapi kamu harus janji juga... bertahan."

Rania tersenyum tipis, senyum yang rapuh namun penuh cinta.

"Aku coba... demi mereka."

Di luar ruangan, Bu Murni tiba, membawa plastik berisi makanan hangat dan beberapa lembar uang yang dikumpulkannya dari tetangga.

Ia mendengar kabar dari pedagang pasar dan bergegas datang.

"Rania, kamu harus sembuh. Anak-anakmu butuh kamu," katanya, suaranya bergetar saat ia menyerahkan plastik itu ke tangan Erlang.

Malam itu, Rania terlelap dalam pengawasan ketat dokter.

Infus menetes perlahan, membawa obat yang menjadi harapan terakhirnya.

Rafif dan Hana meringkuk di sofa kecil di sudut ruang rawat, tertidur dengan wajah lelah namun penuh doa.

Erlang duduk di samping ranjang, menatap wajah Rania yang pucat, berjanji dalam hati untuk menebus waktu yang hilang, untuk menjadi paman yang lebih baik bagi Rafif dan Hana, dan untuk membantu Rania melawan bayang-bayang maut.

Pagi menyingsing, sinar matahari tipis menembus jendela.

Rania membuka mata perlahan, napasnya masih lemah, tapi matanya menangkap bayang Rafif dan Hana yang masih tertidur.

Ia merasakan sedikit kehangatan di dadanya, seolah tubuhnya mendengar doa-doa yang tak pernah ia ucapkan keras-keras.

"Satu hari lagi..." bisiknya pada dirinya sendiri. "Aku harus kuat... untuk mereka."

Erlang tersenyum kecil melihat Rania sadar.

"Kamu keras kepala, ya," katanya lembut. "Tapi itu yang bikin kamu Rania."

Rania tak menjawab, hanya memandang anak-anaknya dengan cinta yang tak pernah pudar.

Di luar, hujan reda, meninggalkan genangan yang memantulkan langit biru.

Hari itu, Rania masih bernapas, masih berjuang, masih menjadi ibu bagi dua dunia kecilnya.

Dan di hatinya, ia tahu, setiap detik yang ia perjuangkan adalah kemenangan kecil melawan waktu.

--

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95HYL" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95HYL
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 12 Wasiat Dari Ayah
8.6
Dira terjebak dalam hubungan toksik dengan ibunya, seorang wanita penghibur yang mengalami gangguan mental. Di tengah kebencian yang mendalam, Dira mendambakan sosok ayah yang telah lama menghilang. Namun, berita kematian sang ayah membawa kebenaran pahit: Dira bukanlah anak kandungnya. Melalui buku merah berisi dua belas wasiat peninggalan almarhum, Dira harus menuntaskan misi terakhir. Akankah wasiat ini memperbaiki ikatan dengan ibunya atau justru mengungkap rahasia lain?
Sampul Novel Abang Boss
9.5
Arinda Putri Samos, gadis Batak yang gigih, berjuang menghadapi kerasnya hidup di Jakarta meski sering meratapi status penganggurannya. Nasibnya berubah drastis berkat keahlian memasak yang memikat hati Eadric. Pria unik tersebut tiba-tiba mengklaim Arinda sebagai miliknya dan langsung melamar dengan penuh keseriusan. Di tengah kebingungan Arinda menghadapi sikap bosnya itu, para sahabat justru mendesaknya untuk bertindak. Ikuti kisah cinta mereka yang penuh kejutan.
Sampul Novel AIR MATA PERNIKAHAN
8.8
Bella terperangkap dalam duka saat Bara, suaminya, berselingkuh dengan Arum. Meski ingin bercerai, kondisi mertuanya yang sakit keras memaksa Bella bertahan demi pengabdian tulus. Di tengah penderitaan batin, ia didiagnosis mengidap kanker mematikan saat sedang mengandung buah hatinya. Kini, Bella harus berjuang melawan penyakit dan pengkhianatan suaminya yang kian terang-terangan. Akankah ia terus bertahan dalam pernikahan penuh air mata demi anak dan mertuanya?
Sampul Novel Hati yang Remuk dan Mati
8.8
Pernikahan lima tahun Sheila dan Dave hancur saat mantan kekasih Dave kembali dan mengirimkan bukti kemesraan mereka. Alih-alih meratap saat suaminya absen di hari ulang tahun pernikahan mereka demi wanita lain, Sheila mengambil langkah drastis. Dia tidak hanya menandatangani surat perceraian, tetapi juga memerintahkan sekretarisnya untuk mengatur pernikahan Dave dengan selingkuhannya, Steph. Tujuh hari kemudian, Sheila terbang ke Veridia demi memberikan restu langsung untuk mereka.
Sampul Novel I’m Always Be Yours
8.8
Freya Angelicia, supermodel menawan berusia 23 tahun, terjebak cinta tak terbalas pada kakak angkatnya, Max Xavierano Miller. Meski dikagumi dunia, Freya justru menghadapi kebencian dari pria yang ia puja. Max, miliarder sukses yang trauma akibat dikhianati tunangannya, mendapati hidupnya penuh kejutan saat bertemu kembali dengan Freya. Namun, tepat ketika Max mulai menyadari perasaannya, muncul saingan berat yang siap merebut hati Freya darinya.
Sampul Novel Jatuh Padamu
8.2
Andreas Pramoedya menjadi sosok yang makin dingin dan tertutup sejak kematian tragis istrinya, Namira. Peristiwa memilukan itu memperkuat keyakinannya bahwa ia memang ditakdirkan untuk ditinggalkan. Namun, pertahanannya goyah saat Serena Amerta hadir dan menyusup ke hatinya. Meski gairah panas membara setiap kali mereka bersentuhan, Andreas bersikeras menutup diri. Ia takut kembali terkecoh oleh perasaan yang berujung pada luka abadi yang perlahan akan membunuhnya.