
Bidadari Untuk Tuan Mafia
Bab 3
Suara deru sepatu menggema beradu dengan lantai yang licin di mansion Tuan Corleane. Pria itu sangat bahagia. Senyum terbit dari wajahnya yang mulai menua. Di lorong lantai satu ia berpapasan dengan Hera. Hera bergidik ngeri melihat Tuan Corleane yang nampak aneh.
'Senyumnya bahkan terlihat mengerikan' batin Hera.
"Kau mengutukku Hera"
"Saya tidak berani Tuan Besar"
"Dimana bocah itu, apa dia belum kembali"
"Sepertinya belum Tuan"
"Anak yang menyusahkan!"
Mobil Vincent telah terparkir rapi dihalaman mansion. Dengan langkah lebarnya, Vincent masuk kedalam. Betapa terkejutnya Vincent mendapati Ayahnya telah berdiri dibalik pintu utama mansionnya. Jantungnya hampir saja melompat dari tempatnya. Namun berbeda dengan Tuan Corleane, pria paruh baya tersebut tampak sedang bahagia.
Vincent melangkah menuju ruang utama dan menjatuhkan dirinya disofa empuk ditengah ruangan. Tuan Corleane mengikuti langkah Vincent dari belakang bersama Ken dan Paulo.
“Kau akan menikah tiga hari lagi” ucap Ayahnya tanpa basa-basi.
“APA!” Vincent tersentak.
“Mengapa Ayah memutuskan semuanya tanpa ada persetujuan dariku” imbuhnya.
“Persetujuan apa yang kau maksud?”
“Aku tidak bisa menikahi gadis pilihan Ayah"
“Lantas?”
“Apapun alasannya aku tidak bisa menikahi wanita yang tidak ku kenal, terlepas dari itu aku tidak mencintainya”
"Alice hanyalah masa lalumu Vin. Lagipula Ayah tidak pernah melarangmu melakukan apapun! Bisakah kau menuruti keinginan orangtua ini sekali saja? Kau akan mencintainya setelah bertemu dengannya!” ucapnya dingin.
Vincent tersenyum hambar. Permintaan Ayahnya tak ubahnya seperti perintah. Tidak ada yang mampu menolaknya, termasuk dirinya. Dengan sangat terpaksa pria 35 tahun tersebut akhirnya menyetujuinya.
“Kau harus melakukan dua hal untuk bisa menikahinya Vin”
Vincent terdiam. Dirinya sudah tidak berselera mendengarkan permintaan Ayahnya.
“Pertama kau harus bersyahadat, kemudian kau harus sunat”
“Sunat?"
"Kau bisa tanyakan tentang itu pada Jorge"
Keesokan harinya, Dante diberi tugas oleh Tuan Corleane untuk mencari seorang guru Muslim yang diminta untuk mengislamkan putra pertamanya. Dante mendatangi sebuah masjid yang berada dipusat kota. Setelah bertemu dengan Syekh Muhammad, Dante lantas kembali menuju mansion.
Antara ragu dan yakin, gamang. Begitulah yang dirasakan oleh seorang Vincent. Dengan menjabat tangan Syekh Muhammad, Vincent mengucapkan dua kalimat syahadat dengan sempurna. Hati yang sebelumnya gersang terasa sejuk seketika seperti sebuah oasis ditengah gurun.
Vincent lantas menuju tempat praktek dokter Jorge untuk melaksanakan sunat. Sebelumnya Vincent mengira bahwa sunat ialah memotong habis ‘miliknya’ seperti yang dikatakan oleh Dante. Yang membuat dirinya sedikit ragu melakukannya.
Namun setelah mencari tahu pasal sunat di internet ditambah informasi dari Syekh Muhammad, keraguannya sedikit memudar.
“Jorge, aku siap membantumu memangkas habis miliknya yang tidak manusiawi itu” tukas Dante dengan senyum psikopatnya.
“Sial! Keluar sana!” hardik Vincent.
“Hahaha, apa singa jantan akan berubah menjadi anjing yang manis disini” ujar Dante diiringi gelak tawa yang terdengar nyaring.
“Usir bajingan ini Jorge!"
“Diam! Kalian hanya membuatku pusing. Sebaiknya kau keluar saja Dan, atau aku juga akan memangkas habis milikmu itu” ujar dokter Jorge sambil menyiapkan alat steril.
“No!” ucapnya sambil menutupi ‘miliknya’ yang tersembunyi dibalik celana.
Selepas disunat, Vincent akhirnya keluar dari ruang mematikan tersebut. Dirinya duduk dikursi roda yang didorong oleh Ken.
“Kapan ini akan sembuh? Aku merasa tersiksa!”
“Mungkin tiga sampai empat hari. Aku sudah menggunakan metode sunat dengan penyembuhan paling cepat. Kau hanya harus istirahat total dan jangan lupa meminum obatmu”
“Sial! Dua hari lagi aku akan menikah!” Vincent mengacak rambutnya karena frustasi.
“Hahaha, sejak kapan kau berubah jadi pria mesum!” seloroh Dante sembari tertawa lebar.
Sebuah mobil sport keluar dari klinik pribadi milik dokter Jorge diikuti satu mobil jeep dibelakangnya. Suasana sangat hening didalam mobil hingga akhirnya suara tembakan dari belakang mengejutkan mereka.
Sebuah mobil van hitam melaju kencang hendak mendahului mereka. Kaca mobil van tersebut sedikit terbuka. Sebuah tembakan dari dalam mobil melesat mengenai kaca mobil Vincent.
Vincent mengumpat kesal. Bisa-bisanya ia diserang disaat dirinya tidak berdaya. Dante yang berada disampingnya mengeluarkan sebuah glock yang tersembunyi di balik jaketnya. Menembakkan senjatanya kearah mobil van hitam tersebut.
Para pengawal Vincent di jeep belakang juga memberondong tembakan pada mobil van yang sejajar dengan mobil milik Tuannya. Tembakan dari senjata milik Dante tepat mengenai ban belakang mobil hingga mobil van tersebut oleng dan menabrak pembatas jalan.
Dante keluar dari mobil. Dirinya memerintahkan Ken untuk langsung kembali ke mansion guna melindungi Vincent. Sementara dirinya dan para pengawal menghampiri mobil van yang tak berkutik di tepi jalan.
Sekitar delapan orang pria berpakaian hitam keluar dari mobil van tersebut. Pertempuran pun tak terelakkan. Suara peluru bersahut-sahutan. Lima orang dari musuh berhasil dilumpuhkan sementara tiga yang lainnya kabur.
Dante menyeret lima orang yang tertangkap, membawanya ke penjara milik Vincent. Sebelum pergi, Dante menatap tajam kearah sebuah mobil hitam yang terparkir agak jauh dibelakang mereka.
Senyumnya bak psikopat. Dante menjilat jari tangannya yang terciprat darah dari musuh. Membuat seseorang yang berada didalam mobil hitam tersebut menjadi ketakutan.
Mobil tersebut bergegas pergi dari tempat kejadian sebelum mendapat amukan dari seorang psikopat seperti Dante. Seorang pria yang berada dikursi kemudi tampak memukul setir sembari mengumpat. Douglas lagi-lagi gagal membunuh sang ketua mafia.
“Sial! Padahal dia dalam keadaan tak berdaya tapi aku gagal membunuhnya! Semuanya akibat psikopat seperti Dante!” ujarnya dengan marah.
Alfonso Dante, anak angkat Tuan Corleane tersebut sangat pandai membuat musuh ketakutan. Dante tak ubahnya seperti bunglon, ia sangat manipulatif dan pandai berkamuflase.
“Ck! Douglas, Douglas! Ternyata kau masih bodoh seperti dulu” gumam Dante seraya menatap mobil yang sudah tak terlihat.
Vincent turun dari mobil dibantu oleh Ken. Wajah dari ketua mafia tersebut sangat masam. Dalam lubuk hatinya, ia merutuki ketidak berdayaannya karena tak bisa menghadapi musuh. Ken mendorong kursi roda menuju ruang kerja Vincent diujung lantai tiga. Tak satupun kalimat terlontar darinya. Bibirnya terkunci rapat. Ruangan yang luas mendadak terasa sesak tatkala melihat raut wajah Tuannya yang tidak bersahabat.
“Apa kau sudah mengatur transaksi malam ini Ken?”
“Sudah Tuan, saya pastikan semua akan berjalan dengan lancar”
Vincent mengangguk. Pekerjaan Ken selalu berhasil. Setiap transaksi yang ia lakukan tidak pernah gagal. Ken juga merupakan pengawal kepercayaan Vincent.
Pria berdarah Jepang tersebut menarik diri dari sana. Dilorong lantai dua, secara tak sengaja ia berpapasan dengan Dante. Penampilan sang Tuan Muda Kedua sungguh buruk. Terdapat bercak darah dipakaiannya juga jari dan ujung bibirnya.
Merasa dirinya mendapat tatapan maut dari Ken. Dante memukul kepala Ken menggunakan gagang glock miliknya. Ken memekik tatkala mendapat sebuah hadiah dari Dante secara mendadak. Ken dengan cepat melesat meninggalkan Dante yang terlihat tengah naik darah.
Dante lalu mengecek CCTV dari ponselnya guna mencari keberadaan Vincent. Terlihat Vincent tengah sibuk didalam ruang kerjanya di lantai tiga. Dante menghampiri Vincent tanpa membersihkan dirinya terlebih dahulu.
Brakk!!
Pintu dibuka secara kasar. Vincent bergeming. Raut wajahnya datar, tak peduli pada seseorang yang datang dengan membawa kekesalan yang sudah dipuncak ubun-ubun. Dante yang meradang, menjatuhkan dirinya diatas kursi empuk diruangan besar tersebut. Melihat Vincent tak peduli padanya, ia mendengus kesal.
“Bisakah kau mengganti pakaianmu sebelum datang kemari?”
“Aku bahkan tak punya pakaian!”
“Hah!”
“Si bodoh itu telah mengotori pakaianku yang mahal ini, aku anggap dia telah berhutang padaku! Aku akan menagihnya suatu saat nanti!” gerutu Dante dengan suara yang mendayu-dayu.
“Tagih saja padanya”
Dante bungkam. Matanya fokus pada ponsel yang berada ditangannya. Sementara Vincent, pria itu tampak tengah memikirkan sesuatu. Suatu hal yang terasa mengganjal dihatinya.
Ekor matanya tampak melirik ke arah Dante yang sedang sibuk. Ia ingin menanyakan suatu hal pada sahabat sekaligus saudara angkatnya tersebut. Namun ia urungkan. Seperti cenayang, Dante mengetahui akan kegelisahan saudaranya.
“Tanyakan saja, kenapa harus malu-malu” ucapnya dengan ekspresi menggoda.
“Sial! Apa kau tau tentang pernikahanku”
“Tidak terlalu, tapi aku mendengar Ayah telah merencanakannya dari lama"
“Apa kau juga tau tentang gadis itu”
Mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Vincent, Dante lantas membenarkan posisinya. Pria itu menyipitkan matanya, mencoba mencari sebuah jawaban dari Vincent.
“Aku dengar kau tidak menyukainya, tapi mengapa kau ingin tau tentangnya? Aneh sekali”
“Apa aku tidak boleh mengetahui tentang calon mempelaiku?”
“Ya ya tentu saja. Aku dengar dia sangat cantik”
“Apa kau pernah bertemu dengannya?”
“Tidak. Aku hanya menebaknya. Dia wanita, tentu saja cantik, mustahil kan kalau dia tampan”
“Dasar gila!”
Anda Mungkin Juga Suka





