
Bergairah Setelah Disakiti
Bab 3
“Nanti pulang jam berapa, Rick?” tanya Aida dengan tetap tidak menolehkan pandangnya.
“Sekitar jam satu atau jam dua, Bu.” Ricko menjawab dan dia tahu kemana arah pertanyaan ibu kost cantiknya.
“Berarti nanti sore kita berangkat sekitar jam itu aja ya, Rick?” Aida menatap Ricko di kaca spion depannya.
“Siap!” jawab Ricko singkat sambil tersenyum manis membalas senyuman Aida.
Akhirnya, setelah sepuluh menit lebih sedikit, mobil menepi di depan kampus. Cepat-cepat Ricko mengucapkan terima kasih pada ibu kostnya, berkali-kali sampai dia merasa malu sendiri. Ricko turun dan berdiri di tepi jalan menunggu mobil itu pergi. Feby menyembulkan kepalanya sambil berteriak dadah pada Ricko.
Ricko melambaikan tangan ke arah Feby. Aida pun mengeluarkan tangannya ke atas dan melambai. Lalu, mobil itu menghilang di tengah keramaian.
Di gerbang kampus Ricko bertemu Frisca yang rupanya juga baru tiba dan melihat Ricko turun dari mobil yang dikendarai seorang wanita. Gadis itu seperti biasanya, tersenyum manis menyambut Ricko yang menambah cerah hari-hari kuliahnya. Sering kali Ricko heran sendiri, kenapa dia tidak bisa mencintai Frisca padahal dia sangat suka kepadanya.
“Gue gak tahu lu punya mobil, Rick” ucap Frisca sambil menggamit lengan Ricko.
“Aku memang tidak punya mobil. Itu tadi ibu kostku, kebetulan lewat sini mau ke pasar katanya,” jawab Ricko sedikit berbohong padahal dia sendiri tidak tahu mau kemana dulu ibu kostnya. Dia bahkan lupa bertanya basa-basi saat semobil tadi.
“Cantik ya ibu kost lu!” puji Frisca dan Ricko mendeteksi ada nada lain dalam ucapan gadis di sebelahnya.
“Hmm,” jawab Ricko pendek sambil mengangguk.
Mereka berjalan beriringan sepanjang koridor yang diteduhi tanaman merambat.
“Beruntung sekali kamu punya ibu kost cantik dan baik hati sampai mau nganterin lu ke kampus,” ucap Frisca lagi, kali ini dengan nada agak menggoda. Frisca memang selalu mnggodanya, tetapi Ricko sudah tahu dengan itu dan pun sudah kebal.
“Hmm,” gumam Ricko lagi sambil mengangguk lagi.
“Daripada naik angkot, lebih enak naik Honda Civic, ya?”
“Hmm..”
“Pasti ruangan dalam mobil itu harum semerbak. Tidak seperti angkot yang bau keringat penumpang,”
“Hmmm..”
“Pasti lu belum sarapan kan?” tanya Frisca tiba-tiba mengubah topik.
“Hmmm..”
Frisca mencubit pinggang Ricko gemas. Dari tadi pria ini cuma “hmmm” saja, mengindari ajakannya untuk mendiskusikan ibu kostnya.
Ricko tertawa dan berlari menghindari cubitan Frisca berikutnya. Lalu Frisca mengambil sebutir kerikil sebesar kuku jarinya, melempar ke arah Ricko namun tidak kena, justru mengenai punggung seorang mahasiswa lain, yang segera menoleh ke arah sang pelempar.
“Maaf, Mas, tidak sengaja!” ucap Frisca buru-buru sambil mendekat ke mahasiswa yang tampaknya lebih senior darinya itu. Ricko tertawa geli di kejauhan.
“Lain kali tanya dulu sebelum melempar,” ucap mahasiswa senior itu agak pura-pura ketus.
“Oh, ya? apa yang mesti aku tanyakan, Mas?” tanya Frisca merasa aneh mendengar perkataan sniornya itu.
“Tanya dulu, apakah saya mau dilempar atau tidak!” sergah si korban sambil berlalu dengan muka penuh kemenangan dan tertawa ngikik.
Frisca membanting kakinya dengan gemas, lalu berlari mengejar Ricko yang sudah jauh sekali dan tampknya dia pun masih belum selesai tertawa kecilnya.
“Besok aku gak masuk,” ucap Ricko saat mereka sudah duduk di bangku kantin.
“Oh ya, ada acara kemana?” Frisca menolehkan wajah pada Ricko yang tampak masih menahan sisa tawanya.
“Mau main dengan Zaenal ke rumah saudaranya di kampung.” Ricko kembali berbohong, karena kalau menjawab dengan ibu kost, pertanyaan Frisca akan bertambah panjang.
“Berapa hari?” Frisca kembali bertanya seraya mengernyitkan dahinya. Zaenal memang berkawan dekat dengan Ricko, namun dia juga berteman dengannya. Sejak kemarin dia tidak mendengar Zaenal punya rencana libur.
“Dua hari,” jawab Ricko seraya menoleh ke arah lain, tidak ingin dustanya terbaca. Ricko memang tidak biasa berbohong.
Obrolan Ricko dan Frisca terus berlanjut, bahkan saat mereka mengikuti perkuliahan sampai bubaran. Selama ngobrol dan diskusi Ricko selalu menghindar rencananya pergi ke kampung. Namun dia tahu Zaenal tidak akan masuk tiga hari karena ada keperluan lain ke rumah kakaknya di Jakarta.
“Berangkatnya kapan?” Frisca masih bertanya memastikan.
“Sore ini, setelah ngampus, langsung berangkat. Zaenal sudah duluan kayaknya.”
“Lu pake motor sendirian?” selidik Frisca dan Ricko terpaksa kembali mengangguk bohong.
Mereka pun berpisah. Frisca melaju dengan mobil jemputannya ke arah utara, sementara Ricko kembali naik angkot ke arah selatan menuju kostannya.
Saat tiba di kostan, seorang gadis kecil berambut ikal dengan pita merah dan gelang gemerincing berlari-lari menjemputnya. Mulut kecilnya ramai berteriak-teriak memanggil Ricko dengan cadelnya. Feby sangat senang dengan Ricko yang akan mengantarnya bertemu dengan kakek dan neneknya di kampung.
Ricko tersenyum memandang semua kejadian itu. Dia pun segera meraih tubuh mungil itu dan membawanya ke kamar kost. Setelah mengambil semua perlengkapan yang dimasukan ke dalam tas kecil, Ricko kembali menggendong Feby keluar dari kamarnya lalu membawanya masuk ke mobil yang sudah terparkir di halaman samping.
Ricko memeriksa mobil yang akan dibawanya ditemani Feby yang sudah tidak sabar dengan celotehannya yang tak pernah capek. Hingga Ricko tak menyadari kehadiran Aida di belakangnya.
“Sudah pulang, Rick,” sapa Aida yang sontak membuat Ricko menolehkan wajah.
Ricko tertegun memandangi seorang wanita yang memakai rok terusan panjang berwarna putih bersih tanpa pola. Dengan rambut sebahu tergerai lepas, dan sepasang anting mutiara yang juga menegaskan dominasi warna putih.
Di lehernya yang jenjang ada seuntai kalung perak dengan bandulan burung dara kecil berwarna putih. Bahkan sepatu sandalnya juga berwarna putih, terbuat dari kain jeans. Tas kecil yang tersampir di bahunya juga putih, terayun-ayun perlahan.
Ricko masih terpana menatap penampilan ibu kostnya yang sangat luar biasa. Cantik laksana bidadari yang sedang tersenyum ke arahnya. Gigi-giginya yang putih berderet rapi dengan indahnya.
“Udah siap, Rick?” Aida bertanya untuk membuat anak kostnya itu sedikit tersadar dari terpananya.
“Eh, su…su… sudah, Bu.” Ricko menjawab gelagapan.
Ricko mendadak nervous, sungguh-sungguh tak menyangka berhadapan dengan Aida yang tampak sangat berbeda dari biasanya bahkan dengan tadi pagi saat dia membawanya ke kampus. Bukan saja pakaiannya yang serba putih, tetapi juga serba menarik dan cemerlang. Matanya yang dihiasi bulu panjang lentik seringkali tampak berkerejap bercahaya. Bibirnya yang tersenyum seringkali seperti menyemburatkan sinar terang.
“Mama, mama Om Ilo udah ciaaaap…!” teriak Feby tak sabar yang sontak kembali menyadarkan Ricko.
Sekian detik berikutnya mereka pun sudah berada dalam mobil. Aida duduk di samping kiri menggendong Feby, sementara Ricko duduk tegang di belakang kemudi. Nervous dan sedikit gerah akibat jantungnya yang lebih berdebar dari saat tadi pagi bersama. Mungkin karena tadi Ricko duduk di belakang.
“Gak apa-apa kan ibu duduk di sini, Rick?” tanya Aida seraya menatap Ricko.
“Eh, gak papa Bu, iya kita berangkat sekrang ya, Bu.” Ricko masih sedikit gelagapan.
“Oh iya, Ricko baru pulang kuliah, ya. Udah makan belum? Jauh loh kita jalan, Rick.” Aida kembali menatap Ricko.
“Su..sudah Bu, sebelum pulang tadi makan dulu di kantin.” Ricko menjawab dengan cepat.
“Hmmm, nanti kalau lapar atau harus, kita bisa makan dulu di jalan ya. Ibu juga bawa sedikit cemilan, sih.”
“I.. iya, Bu,” jawab Ricko sambil menghidupkan mesin mobilnya.
Tak salah ucapan Aida, memang cukup jauh mereka jalan. Walau masih dalam lingkup satu kabupaten, namun untuk sampai ke kampung itu, butuh waktu kurang lebih tiga jam perjalanan. Terutama saat melewati kawasan hutan yang jalannya masih bebatuan. Salah satu kondisi alam yang dijadikan alasan oleh Fathan untuk tidak mengantar istrinya ke kampung.
“Rick pelan-pelan aja ya bawa mobilnya.” Aida berpesan dengan sangat lembut.
“Iya Bu,” jawab Ricko pelan.
“Eh, masih inget kan jalannya?” Aida baru ingat.
“Masih kok, Bu. Dari pertigaan dekat kantor kecamatan itu, tinggal lurus aja kan sampai ketemu sama Perkebunan Sawit, bener kan??” Ricko meminta konfirmasi untuk mematikan.
“Betul. Ternyata masih panjang juga ingatanmu, padahal udah lama and waktu itu kita ke sananya malam-malam banget ya?” Aida bertanya kagum.
“Iya, kan saya masih muda, Bu. Lagian belum terlalu lama juga, mungkin dua atau tiga bulan yang lalu, hehehe.” Ricko sedikit terkekeh.
“Iya betul, hehehe.” Aida pun tersipu-sipu.
Dua bulan yang lalu Ricko pernah diminta tolong oleh Fathan untuk mengantar mereka ke kampung orang tua Aida. Waktu itu sudah cukup malam. Aida dan Fathan terpaksa pulang kampung karena salah seorang paman Aida meninggal dunia secara mendadak.
Ketika itu Ricko yang membawa mobilnya hanya waktu itu Fathan yang duduk di sampingnya, sementara Aida dan Feby dudu di kursi belakang.
“Oh iya kalau besok pulang ke sini agak sore gak papa kan, Rick?” Aida sedikit merasa cemas. Takut mengganggu jadwal kegiatan Ricko besok.
Aida menyadari kalau sudah berada di kampung, biasanya tidak bisa cepat-cepat pulang kembali. Walau tujuan utamanya hanya sekedar undangan yang paling hanya satu atau dua jam, tetapi jika sudah bertemu dan kumpul dengan teman atau sanak saudara yang jarang ketemu, biasanya suka lupa waktu.
“Gak papa Bu, tenang aja. Kebetulan besok saya tidak punya jadwal apa-apa sampai senin. Paling di kostan juga tidur, hehehe,” jawab Ricko masih dengan nada santai walau mulai terkekeh.
“Oh syukur deh kalau gitu,” jawab Aida semringah. Ricko pun membalasnya dengan anggukan kepala sambil menghidupkan mesin mobil.
‘Heran sama Ricko. Kenapa betah banget di kamar, gak kaya yang lain, apalagi modelnya Donita. Kayaknya dia sih cuma jadiin kamarnya itu buat persinggahan doang.. Masa iya sih Ricko belum pacar? Lelaki seganteng dia gak mungkin belum punya pacar, tapi emang dia gak pernah bawa cewek ke kamarnya. Ricko emang beda banget sama yang lain,” lanjut Aida dalam hati.
Setelah membaca bismillah beberapa kali dalam hatinya, Ricko pun mulai mengendarai Honda Civic itu dengan tenang. Beruntung sekali saat di kampung halamannya dulu dia terbiasa mengendarai mobil dalam berbagai suasana hati dan medan perjalanan yang menegangkan. Medan jalan yang ditempuh kali ini memang reralitif baik, namun justru suasana hatinya yang sedang tidak baik-baik saja.
Entah mengapa, sejak tadi pagi ikut dengan mobil Aida, Ricko merasakan adanya getaran-gataran aneh dalam dirinya. Padahal selama ini sama sekali dia tidak pernah merasakan apapun terhadap ibu kostnya. Dia justru sangat menghormatinya karena Aida memang sangat baik dan ramah, selain cantik tentu saja.
Semua pemikiran Ricko yang berkecamuk itu bersumber dari prasangka hatinya yang masih sangat ketakutan akan jatuh cinta lagi pada orang yang salah. Ialah orang yang memiliki hubungan sangat dekat dengannya. Dalam artian dekat karena adanya ikatan lain, seperti karena pertemanan atau sejenisanya.
Sudah lebih dari tiga kali Ricko mengalami hal yang sama dan selalu berakhir dengan sangat menyakitkan. Dia harus memilih antara teman dan kasih yang pada akhirnya semua hancur.
Ricko tidak ingin ada hubungan apapun dengan Aida, selain hubungan antara anak dan ibu kost, terlebih lagi Aida sudah bersuami bahkan punya anak. Walau Ricko tahu bagaimana kelakuan Fathan di belakang istrinya. Namun dia pun tidak mau pengalaman pahit bersama Mitha, Ferlita dan Fauziah terulang kembali.
Hati Ricko tetap berharap tidak ada getar-getar apapun antara dirinya dengan Aida, walau benih-benih yang berakar dari kekagumanannya atas kecantikan dan kenaggunan seorang Aida, kini mulai dirasakannya.
^*^
Anda Mungkin Juga Suka





