Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel BERBEDA KEYAKINAN

BERBEDA KEYAKINAN

Alif menemukan sosok berharga dalam diri Nurul, dan perasaan kagum itu pun terbalas. Namun, saat hubungan mereka mulai serius, Khairunnisa yang merupakan masa lalu Alif muncul kembali menyatakan cinta. Tak hanya itu, Alif harus berjuang meluluhkan hati Pak Handoko yang sulit melepas putri kecilnya. Meski Alif terus meyakinkan Nurul, sikap gadis itu berubah drastis setelah dari Surabaya. Ternyata, ada rahasia mengejutkan dari Nurul yang lebih rumit dari sekadar restu.
Bab
Bagikan

Bab 3

Alif terbangun saat mendengar suara percakapan di kamarnya, ia mendapati dua orang yang baru pertama ia lihat. Ia membetulkan posisi duduknya di atas tempat tidur, mencoba memfokuskan diri dari kantuk yang tersisa.

“Weeeh dia kebangun,” ucap seorang lelaki bertubuh berisi dan berkacamata.

“Ehh maaf nih kita berisik ya?” seorang lagi menimpali, lelaki kurus dengan stelan yang rapi.

“Eh nggak kok, ini tadi emang ketiduran aja, enak adem banget,” jawab Alif.

“Oia gue Sandi.” Lelaki berkacamata itu mengulurkan tangan ke Alif dan berkenalan.

“Alif, Alif Pramata.” Balas Alif santai.

“Saya Bagus bang, bang Alif udah lama datengnya?” giliran lelaki dengan perawakan kurus mengenalkan diri.

“Sekitar jam dua belas kurang kayaknya, lagi panas-panasnya tadi cuaca, makanya langsung rebahan deh hehehe,” jawab Alif.

“Iye bang panas beud, kaga nahan gue juga. Eh pembukaan jam berapa dah?”

Sandi mengenakan kaos oblong dan menghempaskan tubuhnya ke kasur di sisi Alif. Ia juga nampak lelah.

“Kayaknya setengah empat gitu deh bang, abis asar pokoknya,” jawab Bagus.

“Eh emang sekarang jam berapa bang Bagus?” Alif gantian bertanya.

“Emmm, jam dua kurang bang Alif, kenapa?” Bagus gantian yang menyandarkan tubuhnya di kasur untuk istirahat.

“Belum zuhur gue bang, berarti pulas banget gue tidur hahaha,” jawab Alif.

“Oalah, yaudah bang buru. Saya mau ikut rebahan juga deh selagi ada waktu.” Bagus memejamkan matanya.

Kamar yang ditempati oleh Alif, Sandi, dan Bagus cukup luas untuk 2 kasur utama dan 1 kasur tambahan yang lebih kecil. Satu kamar mandi, satu lemari besar dengan dua pintu, satu televisi LED, dan satu set meja kerja dengan cermin besar.

Sedari awal Alif menempatkan dirinya di kasur ekstra yang berukuran lebih kecil, setelah salat zuhur ia merapikan pakaiannya. Mengambil perlahan pakaiannya dari ransel yang ia bawa dan memindahkan ke lemari. Lemari dengan dua pintu yang ia buka rupanya sudah terisi pakaian Sandi dan Bagus, disisakan slot tengah untuknya. Sisi kanan lemari berisi tiga susun untuk pakaian lipat, sisi kiri untuk pakaian gantung.

Tepat pukul 15.00WIB Sandi terbangun, lalu ia membangunkan Bagus. Alif masih menonton TV.

“Bang bro udah mandi belum?” tanya Sandi ke Alif.

“Udah bang tadi jam dua sekalian mau salat zuhur.”

“Bang, gue mandi duluan yak,” pinta Sandi ke Bagus.

“Iya duluan aja bang, masih ngumpulin nyawa nih.”

Bagus bangkit dari kasurnya dan menuju lemari, ia menyiapkan perlengkapan mandi dan pakaian untuk acara pembukaan.

Sandi dan Bagus pun ternyata dalam satu acara yang sama yaitu diklat untuk pegawai baru pemerintah dan sebentar lagi mereka akan mengikuti serangkaian kegiatan pendidikan dan latihan tersebut.

“Bang Bagus dari mana bang?” tanya Alif, yang dari tadi memperhatikan Bagus mencari pakaian, pandangannya kembali ke TV.

“Saya dari Pandeglang bang, bang Alif dari mana?” Bagus giliran bertanya.

“Waaah sama dong, saya juga dari Pandeglang cuma agak ke ujung lagi.”

“Oalah kalau nggak ketemu disini mana tau ya kita sama-sama dari Pandeglang,” Bagus menimpali.

“Bang Alif berangkat jam berapa tadi?” Bagus bergabung menonton tv dengan membawa peralatan mandinya.

“Tadi sekitar jam 6-an pagi bang naik KRL.”

“Waah pagi banget, karena jauh juga ya jarakanya,” terka Bagus.

“Nggak sih bang, tadi berangkat dari rumah di Cikokol Kota Tangerang, cuma ada teman mau bareng jadi janjian KRL-an.” Alif menjelaskan.

“Oalah gitu, kirain langsung dari Pandeglang berangkatnya.”

Pintu kamar mandi terbuka, Sandi keluar dengan handuk di lehernya sambil mengeringkan rambutnya.

“Bang gantian nih!” suaranya memenuhi kamar.

“Mantap dah ah segeeeeeer,” celetuk Alif.

“Iye nih mantap beud dah ah, udah mah tadi siang di luar panas beud bang gerah, jadi nyes dah ah,” jawab Sandi.

“Emang nanti pembukaan seremonial gitu ya bang?”

“Kurang tau gue juga bro, biasanya sih gitu.”

Setelah azan asar mereka salat berjamaah, lalu merapikan diri masing-masing. Mereka menggunkan stelan yang sama, kemeja putih dan celana hitam, lengkap dengan dasi hitam juga.

“Ada yang bawa semir nggak?” tanya Sandi.

“Gue bawa ni bang, tapi yang roll gitu bukan pakai sikat,” jawab Alif.

“Boleh dong, lupa nyemir gue tadi.”

Terdengar suara panitia bahwa lima menit lagi pembukaan diklat akan dimulai di aula utama atau gedung D. Ketiganya keluar bersama, Sandi mengunci kamar dan menitipkannya ke Alif, mereka menuju lift dengan terburu-buru. Sandi menekan tombol lift, indikator lift menyala berpindah tanda ke arah atas. Setelah menuggu sekian menit, lift terbuka dan ketiganyanya masuk. Baru turun satu lantai, lift berhenti lumayan lama. Alif, Sandi, dan Bagus saling beradu pandang.

“Coba lagi bang, ditekan!” pinta Alif ke Sandi yang berada di depan deretan nomor lift.

“Udah bang, nih udah berkali-kali,” jawab Sandi.

Lift terbuka, harum parfum yang familiar di hidung Alif menyeruak masuk memenuhi lift, si empunya padahal belum melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift.

“Kayaknya nggak boleh banget mas saya ikut liftnya,” suara yang Alif kenal terdengar.

Alif tertegun, gadis dengan kerudung hitam itu masuk.

“Iya mba emang gitu dia orangnya, tadi udah saya bilang sabar ae mungkin ada orang yang mau masuk eh dia bilang, gas aja udah mau telat, gitu mba,” Sandri nyerocos. Bagus menyembunyikan tawanya, menyisakan simpul senyum.

Alif berdiri di tengah, Sandi di kanan Alif dan Bagus di kiri Alif, gadis berwajah tirus itu berdiri aga depan beberapa cm dari Alif. Wajah Alif bak udang rebus, memerah.

“Ouh jadi mau balas dendam mas, kalo tadi siang belum selesai mending kita selesaikan aja sekarang mas!”

“Ya ampun brooo, loe nggak boleh gitu. Udah mba nanti saya nasehatin. Kebetulan satu kamar sama saya. Udah mba kalem ae mba, selooow,” jawab Sandi tanpa diminta.

Lift terbuka, gadis berwajah tirus itu keluar duluan. Sandi dan Bagus melepas tawanya, mereka berdua keluar lift hanya untuk menumpahkan tawanya.

“Bhahahaha nggak kuat gue bro,” seloroh Sandi, guyonan Sandi membuat Alif tak berkutik selama di lift.

“Hahahaha kacau loe bang Sandi, nggak tega liat Alif kikuk gitu,” tambah Bagus.

“Ah pada tega loe bang, kan gue dikiranya nggak asyik nanti,” jawab Alif sejadinya.

“Jiaaahhh bro belum juga dimulai ni acara udah ada yang pake perasaan aja nih.” Ledek Sandi, ia merangkul pundak Alif.

“Bhahaha bukan gitu konsepnya bang, itu orang tadi emang udah ketemu, di lift juga. Gue mau masuk eh dikira dia jadi penyebab liftnya lama karena gue baru masuk. Persis dia tadi posisinya.” Alif menjelaskan.

“Ouh bisa sama gitu ya skenarionya,” Bagus menimpali.

“Tau dah ah, yudah yuk udah mepet nih waktunya.” Alif menutup pembicaraan.

Ketiganya menuju aula utama, nampak beberapa orang dengan stelan yang sama dengan mereka berlari kecil, ada lagi yang berjalan cepat memasuki gedung D.

Saat Alif, Sandi, dan Bagus masuk aula sudah dipadati orang. Mereka juga mengenakan stelan yang sama, serba putih hitam. Peserta sudah menempati kursi yang disediakan panitia. Kursi dibagi menjadi tiga kelompok besar. Bagian kanan sudah terisi penuh, bagian tengah menyisakan satu baris kosong di belakang dan bagian paling kiri sebaris dengan posisi berdiri Alif yang baru masuk, menyisakan kursi kosong di barisan belakang.

“Nih kosong nih yang paling belakang, rejeki banget, disitu yuk!” Ajak Sandi.

Ketiganya menempati kursi di barisan belakang yang kosong, ada enam kurusi satu barisnya.

Panitia nampak memberikan beberapa arahan, menginfokan sesaat lagi acara pembukaan diklat akan dimulai.

“Baik bapak/ibu peserta diklat, sekali lagi kami minta kerjasamanya untuk terlebih dahulu mengisi kursi barisan depan yang masih kosong. Coba itu yang baru datang, tiga orang yang paling belakang untuk pindah ke depan”, suara MC mengundang ratusan pasang mata untuk melihat Alif, Sandi, dan Bagus.

“Wahhh kacau loe bang, kacau sarannya,” celetuk Alif.

Ketiganya bangkit dari kursi, Bagus kembali menahan tawa. Sandi hanya senyum-senyum saja. Sandi berjalan paling depan, Alif mengikuti di belakang dan terakhir Bagus.

“Udah mah tadi gue jadi bahan lawakan di lift, nah sekarang gara-gara loe ni bang bukannya santai di belakang malah jadi paling depan,” Komentar Alif dengan suara kecil.

Dua baris sebelum Alif duduk, ia kembali mencium parfum yang sama wanginya seperti di lift dari sebelah kanan. Setelah duduk, Alif memastikan sumbernya, ia sedikit menoleh ke kanan, si gadis berwajah tirus sedang asyik mengobrol dengan teman di samping kirinya. Ia pun menyadari saat Alif melihat ke arahnya.

Alif kembali duduk ke arah depan, ia mencoba duduk setenang mungkin. Ia tak memberitahukan keberadaan gadis yang ia temui bertiga di lift ke Sandi dan Bagus. Sandi di samping kiri nampak menangkap gerak-gerik Alif.

“Iye bang kalem, gue juga tau kok dia ada di deket sini,” tiba-tiba suara Sandi mengagetkannya.

“Asli kacau loe bang,” jawab Alif dengan santai. Ketiganya kembali menahan tawa.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel ID-PD76
9.0
Selama tiga tahun, Evelyn merawat Aidan yang amnesia dan menjadi kekasih rahasianya. Namun, kenyataan pahit terungkap bahwa Aidan hanya berpura-pura lupa ingatan. Lebih tragis lagi, Aidan dan cinta masa lalunya ternyata terlibat dalam kematian ayah Evelyn. Tak tinggal diam, Evelyn mengumpulkan bukti dan menjebloskan mereka ke penjara tepat di hari pernikahan. Saat Aidan menyadari cinta sejatinya, Evelyn sudah menutup hati dan memilih pergi selamanya.
Sampul Novel Istri Dadakan Tuan Kejam
8.9
Kehilangan calon istri dalam kecelakaan tragis mengubah pria ini menjadi sosok kejam yang penuh dendam. Ia bertekad menghancurkan orang yang dianggap bertanggung jawab atas kematian kekasihnya. Demi membalas sakit hatinya, ia menikahi seorang wanita sebagai bagian dari rencana penghancuran. Namun, di tengah misi balas dendam tersebut, hatinya justru goyah. Kedekatan dengan istri barunya mulai menyentuh sisi kemanusiaan yang selama ini ia kunci rapat.
Sampul Novel JANJI YANG DIKHIANATI
9.5
Kehidupan rumah tangga seorang istri hancur seketika saat ia menemukan fakta pahit bahwa suaminya telah mengkhianati komitmen mereka selama bertahun-tahun. Luka mendalam akibat perselingkuhan yang lama tersimpan ini memicu tekadnya untuk menuntut keadilan. Ia pun mulai menyusun rencana pembalasan yang sangat terukur, sebuah langkah yang tidak hanya menguras emosi namun juga menguji kesetiaan serta batas kesabaran orang-orang di lingkaran terdekatnya.
Sampul Novel Jika Nanti Jatuh Cinta Lagi
8.6
Bagi Ervano Bhalendra, pernikahan adalah masa lalu yang ingin ia lupakan. Setelah kegagalan rumah tangga dengan Irina dan luka mendalam akibat kehilangan Elvin Eleanor, chef tampan ini memilih menutup hati rapat-rapat. Namun, tembok pertahanan Ervan runtuh seketika saat Magisa Prastiwi hadir dalam hidupnya. Sosok Magisa mampu mencairkan sikap kaku Ervan, membangkitkan kembali semangatnya untuk mengejar cinta sejati yang sempat hilang dari radarnya.
Sampul Novel Keluarga Benalu Ingin Kaya Mendadak
8.0
Izzah menyadari sepenuhnya bahwa keluarga sang suami hanyalah sekumpulan benalu yang berambisi menguasai seluruh kekayaan pribadinya. Namun, mereka salah besar jika menganggap Izzah adalah sosok wanita lemah yang mudah ditipu. Izzah tidak akan membiarkan asetnya dirampas begitu saja. Dengan kecerdasan dan ketegasan yang ia miliki, ia siap mempertahankan haknya serta menghadapi setiap intrik licik yang dirancang oleh keluarga mertuanya tersebut.
Sampul Novel Ketika Istri Sudah Mati Rasa
7.9
Dunia Alexa hancur saat mengetahui pengkhianatan suami dan sahabatnya sendiri. Meski sempat terpuruk, ia bangkit untuk membalas rasa sakit hati tersebut dengan cara yang elegan. Namun, Sintya yang tak puas setelah merebut Ryan justru terus berusaha menghancurkan hidup Alexa, bahkan menyasar Anggia. Di tengah konflik ini, muncul Razka yang setia melindungi Alexa dari segala ancaman. Mampukah Alexa membuka hati kembali setelah dikhianati begitu dalam?