Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Berbagi suami

Berbagi suami

Demi kemanusiaan, Sofia Marwah dengan tulus merelakan suaminya, Nizam, untuk menikahi Nurmala. Sahabatnya itu kini lumpuh dan sebatang kara setelah kecelakaan tragis merenggut segalanya. Nizam sendiri terikat janji pada almarhum sahabatnya untuk melindungi Nurmala. Di tengah pengorbanan besar ini, Sofia harus berjuang menghadapi realitas poligami. Akankah ketulusannya berbuah kebahagiaan sejati, atau justru pengkhianatan pahit yang menantinya di masa depan?
Bab
Bagikan

Bab 2

Sofia dan Nizam berjalan menyusuri lorong rumah sakit, mereka saling berpegangan tangan dalam kebimbangan, dan dada yang seakan terasa sesak, sesekali pandangan mereka saling bertemu dengan tatapan penuh dengan keraguan.

Nizam membuka pintu kamar Nurmala, di sana terlihat Nurmala yang sedang duduk termenung menatap luas ke arah jendela memandangi langit dengan iris yang sesekali tak kuasa meneteskan air mata. Mereka perlahan mendekati Nurmala, Sofia duduk disampingnya dan meraih kedua tangan Nurmala yang terasa dingin.

"Nurmala, ada yang ingin aku sampaikan padamu," ucapnya seraya menatap dalam iris matanya yang dipenuhi kepedihan.

"Hmmm, katakan saja," jawab Nurmala singkat bahkan tanpa ekspresi sedikitpun.

"Nurmala syadiqah, aku ingin melamar mu untuk menjadi adik maduku istri keduanya bang Nizam," pintanya pada Nurmala, yang seketika mengalihkan pandangannya pada Sofia yang terlihat gugup. Nurmala mengernyitkan dahinya tanda tak senang dan kebingungan.

Tapi Nurmala tak langsung menjawabnya senyuman miris menyeringai dari sudut bibirnya, dan berkata, "bahkan sekarang kalian mengasihani ku, gadis cacat yang sebatang kara ini! lalu bagaimana dengan mu? apa kamu mampu berbagi suami dengan sahabatmu sendiri? ini gila!" tukasnya ketus dengan nada yang tinggi.

"Tapi Nurmala, aku harus bagaimana untuk bisa merawat mu? bang Nizam tidak mungkin membawa pulang wanita yang bukan mahramnya! katakan padaku jika kamu menemukan solusi yang tepat," Sofia mendesak Nurmala karena memang tak ada lagi jalan lain yang terlintas dalam pikirannya.

Mendengarnya Nurmala merasa benar benar tak berguna, ia merasa hanya akan menjadi benalu di antara Nizam dan Sofia. Air mata yang sudah berdesakan tak mampu lagi di bendung nya, Nurmala terisak begitu pilu kedua tangannya menutupi wajah sembabnya sambil menangis tersedu-sedu. "Aku harus apa? Aku memang sudah tak berguna!" isak nya lirih.

"Tak apa Nurmala, semuanya akan baik baik saja, jangan menangis seperti ini aku dan bang Nizam akan menjagamu," Sofia memeluk Nurmala sambil menepuk nepuk bahunya agar Nurmala merasa tenang.

"Aku anggap kamu menerimanya, Nurmala kamu akan menjadi adikku, dan aku akan menjagamu," ucap Sofia sambil meraih kedua tangan Nurmala yang masih menutupi wajahnya. Dengan lembut Sofia menghapus air matanya dan mengusap pucuk kepalanya dengan penuh kasih sayang.

"Maafkan aku Sofia, karena telah menjadi beban dalam hidupmu," ucapnya lirih sambil menatap dalam kedua bola matanya.

"Tidak Nurmala, kamu adalah orang yang aku sayangi bahkan kamu tak pernah meninggalkanku saat aku terpuruk. Sekarang saatnya aku membalas kebaikanmu padaku dulu," ujarnya lembut sambil menggenggam kedua tangannya.

Nizam hanya berdiri di sana menatap Nurmala, yang akan segera ia nikahi. Ia memang pernah berjanji pada almarhum ustadz Rifa'i untuk menjaga adiknya. Namun, ia tak pernah menduga bahwa janji yang pernah ia ucapkan di depan jenazah sahabatnya akan berujung dalam ikatan pernikahan.

Siang itu Sofia mendandani Nurmala dengan polesan make up natural, untuk menutupi wajah pucat nya.

Nurmala dan Nizam melaksanakan ijab kabul di rumah sakit sebelum Nizam membawa pulang Nurmala sebagai seorang pengantin. Suasana haru bercampur sedih menyelimuti hatinya, antara rela dan tak rela suaminya meminang sahabatnya sendiri. Namun, apa boleh buat ini semua sudah menjadi keputusannya, keputusan yang tentunya akan merubah hidupnya.

Di rumah setelah pulang dari rumah sakit.

Nizam menggendong Nurmala menuju kamar tidurnya, perlahan Nizam membaringkan tubuh Nurmala di atas tempat tidurnya, "Kamu istirahat ya,"  ucapnya gugup. Begitu juga dengan Nurmala yang hanya menganggukkan kepalanya. Setelah membaringkan Nurmala di atas tempat tidurnya, Nizam segera berlalu pergi meninggalkannya sendiri.

Nizam memasuki kamarnya dan melihat Sofia tengah berbaring di atas kasur sambil menutupi matanya dengan lengan kanannya, ia nampak seperti sedang tertidur. Namun, Nizam tau Sofia sedang menangis dalam diamnya.

"Sayang, kamu tidur?" Nizam memanggil Sofia sambil perlahan mendekatinya.

Nizam berbaring di sampingnya kemudian memeluk Sofia.

Samar terdengar isak tangis Sofia, yang tak mampu lagi ia sembunyikan. Meskipun ia yang meminta suaminya untuk menikahi Nurmala, namun, tetap saja dia adalah seorang wanita, dan di dunia ini tidak akan ada wanita yang benar-benar rela melepaskan suaminya untuk menikahi wanita lain.

"Maafkan abang sayang," Nizam berbisik di telinganya sambil mengusap pipinya yang terasa basah karena dibanjiri air mata.

Tak kuat lagi menyembunyikan air matanya Sofia langsung membalas pelukan suaminya, dan menangis dalam dekapannya.

"Menangis lah sepuas mu sayang, jangan menyembunyikannya dari abang, jangan simpan sendiri kesedihanmu biarkan abang ikut merasakan apa yang kamu rasakan," ucapnya sambil terus mengusap pucuk kepalanya. Tutur katanya yang lembut penuh dengan kasih sayang berhasil membuat Sofia merasa tenang. Cukup lama Sofia menangis hingga tertidur dalam pelukan suaminya.

Wussss...

Hembusan angin sore yang cukup kencang, berhasil menyibakkan rambut Sofia yang panjang terurai, bunyi ribut hentakkan jendela akibat tertiup angin berhasil membangunkan Sofia dari tidur nyenyak nya.

Perlahan Sofia menggeliatkan tubuhnya dan membuka kedua matanya, Sofia mengucek lembut kedua matanya yang masih terasa sepat.

Kedua matanya berkeliling menelisik setiap sudut kamarnya mencari keberadaan suaminya yang sudah tak lagi berada di sampingnya.

"Abang, bang Nizam!" Sofia memanggil Nizam yang tiba tiba saja menghilang dari tempat tidurnya. Sofia segera beranjak dari tidurnya dan meraih ikat rambut berwarna hitam dengan hiasan manik bunga mawar di atasnya, kemudian segera mengikat rambut panjangnya yang terurai indah.

Sofia berjalan mendekati jendela yang terus menghentak tertiup angin.

"Sudah sore, kenapa bang Nizam membiarkan jendela terbuka seperti ini sih!" cetusnya sambil menutup dan mengunci kembali jendela kamarnya.

"MashaAllah, sudah jam segini tapi aku lupa untuk menyiapkan makan malam," ucap Sofia sambil melirik jam dinding yang terpasang di dinding kamarnya dan segera melangkahkan kakinya ke dapur.

Sofia berjalan melewati sebuah kamar dengan pintu terbuka lebar, kamar dimana Nurmala berada di dalamnya. Betapa terkejutnya dia saat menemukan suaminya sedang memeluk Nurmala. Langkahnya seketika terhenti, seketika bagaikan ada dentuman keras yang menghantam jantungnya. Untuk sesaat ia hanya diam terpaku seakan tak sanggup walau hanya untuk sekedar menggerakkan tubuhnya. Dentuman keras yang menghantam jantungnya, seakan memberikan sensasi sesak pada dadanya seolah tak ada oksigen di sekitarnya.

Sofia segera memalingkan pandangannya dan bersembunyi di balik dinding kamarnya, perlahan air mata keluar dari sudut matanya, "ya Allah, bagaimana aku bisa lupa kalau Nurmala sekarang sudah menjadi istrinya bang Nizam."

Sofia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, ia berdiri cukup lama di sana sambil merasakan hatinya yang terluka.

Di dapur sambil memasak makan malam, sesekali Sofia masih saja menyentuh kedua matanya agar air matanya tak kembali menetes, "Aku yang menyuruh bang Nizam untuk menikahi Nurmala, tapi aku tak pernah menyangka kalau rasanya akan sesakit ini," batinnya berdecak pilu. Bayangan Nizam yang sedang meluk Nurmala, terus menerus menari di pelupuk matanya. Sampai...

"Aaah," Sofia berteriak kesakitan. Tanpa sengaja ia telah mengiris jarinya.

"Astaghfirullah, sofia!" Nizam yang melihat jari istrinya terluka langsung meraih tangannya. Namun, Sofia reflek menarik tangannya kembali, "maaf bang!" cetusnya dan segera menundukkan pandangannya.

"Kamu kenapa sayang? Apa abang melakukan kesalahan?" Nizam bertanya-tanya setelah melihat ekspresi Sofia yang tak biasa.

"Tidak bang, bukan begitu! Aku... Jariku hanya merasa sakit saat tadi abang sentuh, maaf kalau abang tersinggung," ucapannya terbata bata, mengisyaratkan bahwa ia tak berkata jujur.

Nizam hanya tersenyum sambil mengelus pucuk kepala istrinya, dan seketika pandangan merekapun saling bertemu. Nizam tau benar apa yang dirasakan istrinya, melihat ekspresi istrinya yang sangat terlihat jika ia sedang terbakar api cemburu. Namun, Sofia bukanlah wanita yang pandai bersandiwara untuk menutupi perasaannya.

"Bang Nizam! tolong bantu Mala," Sayup terdengar suara Nurmala yang memanggil Nizam dari kamarnya, sehingga membuyarkan pandangan Sofia dan Nizam.

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat” (QS an-Nisaa’:3).

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bismillah, Aku Ikhlas
8.2
Kehidupan rumah tangga yang seharusnya indah berubah menjadi penderitaan akibat lisan tajam ibu mertua. Tuduhan mandul dan penyesalan atas pernikahan terus dilontarkan, menambah beban pekerjaan rumah yang tiada habisnya. Sang istri terus dipojokkan dan dituntut memberikan cucu dalam tekanan mental yang berat. Di tengah badai konflik dan sikap mertua yang semena-mena, ia kini berdiri di persimpangan jalan antara terus bertahan atau memilih menyerah.
Sampul Novel CEO itu Tunanganku
8.8
Dua dekade berlalu, Melisa masih menanti cinta masa kecilnya hingga hatinya mati rasa. Saat mencoba membuka hati, ia justru terjebak pria oportunis. Di sisi lain, Rommy kembali dari perantauan sebagai sosok perkasa namun membawa luka lama. Meski Rommy datang melamar, Melisa justru menolak tanpa tahu mereka telah dijodohkan sejak kecil. Di tengah cobaan yang bertubi-tubi, mampukah rahasia perjodohan itu menyatukan kembali takdir cinta mereka yang sempat terputus?
Sampul Novel Ceraikan Suami, Nikahi Adiknya
9.8
Setelah sepuluh tahun, Chloe Carlson memutuskan bercerai dari suaminya yang tidak setia, Vincent. Meski dituduh mengincar harta, Chloe pergi hanya demi membawa putri mereka, Mackenzie. Menjadi ibu tunggal tanpa kualifikasi membuatnya sulit mencari kerja. Terdesak, Chloe meminta bantuan adik iparnya, CEO muda Vernon Phoenix Gray. Namun, Vernon menawarkan posisi asisten pribadi dengan syarat pemuasan hasrat di ranjang. Kini Chloe terjebak antara rayuan Vernon atau kembali pada Vincent.
Sampul Novel GAIRAH PAPA MERTUAKU
8.5
Dua tahun menikah, Tessa Willson merasa hampa karena kesibukan Leonil, suaminya. Kekecewaan memuncak saat kebutuhan batinnya tak lagi terpenuhi. Di tengah keretakan itu, hadir Arnold Caldwell, ayah tiri Leo yang semula datang untuk bisnis. Pesona Tessa memicu skandal perselingkuhan yang membangkitkan gairah terpendamnya. Namun, saat Tessa berniat berhenti, ia justru terjerat tipu daya Arnold. Sanggupkah ia lepas dari jeratan itu demi rumah tangganya?
Sampul Novel Organ Putriku Untuk Putra Pelakor
8.0
Seorang dokter yang dikenal mulia tega mengabaikan korban kecelakaan kritis demi menemani anak dari cinta pertamanya. Demi mendapatkan donor jantung bagi anak tersebut, ia bahkan sengaja menukar obat agar sang pasien meninggal perlahan. Tanpa disadari, gadis kecil dengan wajah rusak yang ia korbankan adalah putri kandungnya sendiri. Kebenaran mengerikan ini mulai terungkap saat ia menghubungi keluarga korban untuk meminta donor organ, dan ponsel istrinya tiba-tiba berdering di ruangan yang sama.
Sampul Novel Sang Perempuan Duplikasi
9.2
Anne terjebak dalam kebingungan saat gejala aneh dan ingatan asing mulai menghantui kesehariannya. Di tengah krisis identitas ini, ia harus menghadapi Henry, suaminya yang merupakan CEO perhiasan arogan dengan perangai kasar serta obsesi gelap. Anne pun merasa terasing dalam rumah tangganya sendiri. Satu-satunya pelipur lara hanyalah Ben, asisten pribadi yang menawarkan kehangatan. Akankah Anne menemukan jati dirinya di antara kekejaman Henry dan kenyamanan dari Ben?