
Berakhir Menjadi Tawanan
Bab 3
Liana merasa terperangkap dalam setiap kata yang keluar dari mulut Arsen. Semakin banyak dia mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, semakin dalam dia tenggelam dalam misteri yang tak bisa dia mengerti. Dia selalu berusaha untuk bertahan hidup, untuk menghidupi adik-adiknya, tetapi di hadapan Arsen, dia merasa seperti seseorang yang dipermainkan dalam permainan yang lebih besar dari apa yang dia bayangkan.
Hari-hari setelah pertemuan itu berjalan dengan cepat. Liana mulai menjalani hari-harinya dengan cara yang sangat berbeda. Arsen memintanya untuk bekerja bersamanya, meskipun pekerjaan yang dimaksud jauh dari yang dia harapkan. Dia dilibatkan dalam beberapa urusan bisnis yang sangat jarang terdengar-transaksi yang sangat besar, pengaturan kontrak yang melibatkan nama-nama besar, dan bahkan pertemuan dengan orang-orang yang sangat berpengaruh.
Namun, yang lebih mengejutkan adalah cara Arsen memperlakukannya. Dia tidak menunjukkan sedikit pun tanda ketertarikan pribadi, tetapi juga tidak menunjukkan sikap acuh tak acuh. Setiap perintah yang dia berikan disampaikan dengan ketegasan, dan setiap kata-kata yang keluar dari bibirnya selalu penuh dengan misteri.
Liana mulai menyadari sesuatu-ada kekuatan yang mengendalikan hidupnya lebih dari sekadar uang dan pekerjaan. Arsen bukan sekadar pria kaya yang memiliki kost. Ada sisi gelap yang lebih besar yang tidak dia ketahui, dan setiap langkah yang dia ambil dalam hidupnya seolah telah diputuskan jauh sebelum dia terlibat.
Suatu malam, setelah bekerja larut malam di kantor Arsen, Liana memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Kelelahan menguasai tubuhnya, dan pikirannya terus dihantui dengan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab. Tetapi saat dia melewati koridor, langkahnya terhenti begitu matanya bertemu dengan sosok Arsen yang tiba-tiba muncul di depannya.
Arsen memandangnya dengan tatapan yang tajam, tidak mengungkapkan perasaan apapun. "Kamu terlihat lelah," katanya datar, seolah tidak ada emosi dalam suaranya.
Liana berusaha untuk tetap tenang. "Saya baik-baik saja, Tuan Arsen," jawabnya dengan nada yang lebih rendah dari biasanya.
Arsen mengamati Liana dengan cermat, seolah mencoba menilai sejauh mana kekuatannya bisa mempengaruhi gadis itu. "Kamu sudah cukup lama berada di sini, Liana. Aku rasa kamu sudah mulai memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi," katanya, suara yang lebih dalam, lebih berat dari sebelumnya.
Liana menelan ludahnya. "Apa maksud Anda?"
Arsen tersenyum tipis. "Aku tahu kamu tidak bodoh. Kamu pasti sudah mulai menyadari bahwa ini lebih dari sekadar pekerjaan atau sewa kost." Dia berhenti sejenak, memberi Liana waktu untuk mencerna kata-katanya. "Ada banyak hal yang belum kamu ketahui. Banyak hal yang lebih besar dari apa yang kamu bayangkan. Dan aku rasa sudah waktunya kamu tahu kebenarannya."
Liana merasa jantungnya berdegup lebih cepat. Semua rasa takut dan kebingungannya mulai mengalir kembali ke permukaan. "Apa yang Anda sembunyikan, Tuan Arsen?"
Arsen tidak menjawab langsung. Sebaliknya, dia berjalan ke arah jendela besar di sisi ruangan dan memandang ke luar. Sepertinya dia sedang mempertimbangkan sesuatu yang sangat penting. "Kamu tahu, dunia ini penuh dengan permainan. Dan tidak semua orang bermain dengan aturan yang sama," katanya pelan.
Liana tetap berdiri di sana, matanya menatapnya dengan penuh kebingungan. "Tuan, saya hanya ingin tahu apa yang terjadi, apa yang Anda rencanakan dengan saya?"
Arsen berbalik, langkahnya mantap dan tegas. "Apa yang terjadi padamu, Liana, bukan hanya tentang kita berdua. Ada banyak orang yang terlibat dalam permainan ini. Aku bukan satu-satunya yang mengendalikan segalanya. Tapi, aku bisa memberi kamu kesempatan untuk memilih."
Liana mengerutkan kening, semakin bingung. "Peluang untuk memilih? Pilih apa?"
Arsen memandangnya dengan tatapan yang lebih dalam, lebih tajam. "Pilih untuk menjadi bagian dari dunia yang lebih besar ini, atau memilih untuk keluar dan menghadapi konsekuensinya."
Liana merasa dunia seakan berputar di sekelilingnya. Apakah Arsen sedang menawarkan jalan keluar, atau justru menjebaknya dalam sesuatu yang lebih gelap? Semua pilihan yang ada terasa menakutkan dan penuh dengan risiko. Dia tahu, apapun yang dipilihnya akan mengubah hidupnya selamanya.
"Tapi kenapa saya? Mengapa saya yang harus terlibat dalam semua ini?" suara Liana bergetar, namun penuh dengan tekad.
Arsen menatapnya lama, seolah menilai karakter dan keberaniannya. "Karena kamu memiliki apa yang tidak dimiliki orang lain, Liana. Kamu punya ketangguhan, kamu punya keberanian untuk bertahan. Tidak banyak orang yang seperti itu."
Liana merasa seolah-olah ada sesuatu yang lebih dari sekadar kata-kata itu. Ada semacam kekuatan tersembunyi di baliknya-sesuatu yang membuatnya merasa lebih tertarik, lebih terikat pada Arsen, meskipun rasa takut terus merayapi dirinya.
Tiba-tiba, tanpa peringatan, Arsen melangkah mendekat. Tatapannya semakin tajam dan dalam. "Liana, aku memberi kamu pilihan," katanya dengan suara serak, seolah-olah setiap kata yang diucapkannya penuh dengan ancaman tersembunyi.
Liana tak bisa menahan diri. Suasana yang tegang dan penuh ketidakpastian membuatnya hampir kehilangan akal. "Saya memilih untuk tahu, Tuan Arsen. Apa yang sebenarnya terjadi?"
Arsen hanya tersenyum, senyuman itu penuh dengan rahasia. "Maka kamu akan tahu lebih banyak dari yang kamu inginkan, Liana."
Anda Mungkin Juga Suka





