Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Benih Dari Kebencianmu

Benih Dari Kebencianmu

Lima tahun berlalu sejak tragedi maut merenggut nyawa Anya, namun dendam Rizky belum juga padam. Saat bertemu kembali dengan Lia, sepupu Anya sekaligus penyintas peristiwa tersebut, amarah Rizky meledak. Lia dianggap sebagai penyebab utama penderitaan mereka selama ini. Dalam sebuah malam yang kelam, Rizky melampiaskan kebenciannya hingga menghancurkan masa depan Lia. Kini, Lia harus menanggung beban luka di tengah kebencian orang-orang di sekitarnya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Beberapa bulan berlalu sejak pertemuan pahit Lia dengan Rizky di kafe, dan unggahan Rizky di media sosial menjadi paku terakhir yang menancapkan Lia pada dinding rasa bersalah. Lia mencoba bangkit, fokus pada sisa masa kuliahnya. Ia tahu, satu-satunya cara untuk bertahan adalah dengan terus melangkah maju, bahkan jika setiap langkah terasa berat. Ia lulus dengan predikat cum laude, prestasi yang seharusnya membanggakan, namun terasa hampa di tengah badai emosi yang tak berkesudahan.

Dunia kerja menanti. Lia memutuskan untuk tidak kembali ke kota asalnya. Jakarta, dengan segala hiruk pikuknya, adalah tempat pelarian yang sempurna. Ia mengirimkan lamaran ke berbagai perusahaan, berharap bisa menemukan tempat di mana ia bisa memulai lembaran baru, jauh dari bayang-bayang masa lalu. Beberapa kali ia mendapatkan panggilan wawancara, namun entah mengapa, setiap kali ia nyaris mendapatkan pekerjaan, ada saja kendala. Seolah takdir sedang mempermainkannya.

Hingga suatu hari, sebuah email masuk. Lamaran yang ia kirimkan ke Nusa Abadi Group, sebuah konglomerat besar yang bergerak di berbagai sektor-mulai dari properti, teknologi, hingga media-mendapatkan respons positif. Lia diundang untuk wawancara tahap akhir. Perasaan cemas bercampur dengan sedikit harapan menyelimuti hatinya. Nusa Abadi Group adalah salah satu perusahaan impian banyak lulusan baru, terkenal dengan lingkungan kerja yang dinamis dan peluang karir yang menjanjikan.

Wawancara berjalan lancar. Lia, dengan segala keterbatasan emosionalnya, mampu menunjukkan kemampuannya dalam bidang manajemen dan strategi. Ia menjawab setiap pertanyaan dengan lugas dan percaya diri, mengesankan para pewawancara. Seminggu kemudian, telepon berdering. Lia diterima. Ia akan bekerja sebagai asisten manajer proyek di divisi pengembangan bisnis, sebuah posisi yang cukup strategis untuk seorang fresh graduate.

Hati Lia berdesir. Ini adalah kesempatan baru, sebuah awal. Mungkin, di sinilah ia bisa melarikan diri dari masa lalu yang terus menghantuinya. Dengan tekad bulat, Lia menyiapkan diri untuk hari pertamanya.

Pagi itu, Lia tiba di gedung Nusa Abadi Group yang menjulang tinggi di pusat kota Jakarta. Kaca-kaca modern memantulkan cahaya matahari pagi, menciptakan siluet megah yang memesona. Lia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu. Ia melangkah masuk, melewati pintu putar otomatis, menuju lobi yang luas dan mewah. Aroma kopi dan parfum mahal menyelimuti indranya.

Ia melapor ke resepsionis, yang dengan ramah mengarahkannya ke lantai 25, divisi pengembangan bisnis. Lia naik lift, menekan angka 25. Di dalam lift, ia mematut diri di pantulan cermin. Gaun formal berwarna abu-abu, rambut yang diikat rapi, dan wajah yang berusaha menampilkan profesionalisme. Ia ingin meninggalkan semua masa lalu di luar gedung ini, menjadi Lia yang baru.

Pintu lift terbuka. Lia melangkah keluar, disambut suasana kantor yang sibuk namun teratur. Kubikel-kubikel modern, suara ketikan keyboard, dan obrolan samar-samar. Seorang wanita muda dengan rambut bob rapi menyambutnya di depan pintu kaca bertuliskan "Divisi Pengembangan Bisnis".

"Selamat pagi, Anda Lia Paramitha, kan?" tanya wanita itu dengan senyum ramah. "Saya Sarah, asisten manajer divisi. Selamat datang di Nusa Abadi Group."

"Selamat pagi, Sarah. Terima kasih." Lia tersenyum tipis.

"Mari saya antar ke ruangan Anda, dan saya akan perkenalkan Anda pada tim," kata Sarah, memimpin Lia menyusuri lorong. "Omong-omong, Anda sangat beruntung diterima di sini. Posisi ini sangat diincar."

Lia hanya mengangguk, berusaha menyembunyikan kegugupannya. Mereka melewati beberapa ruangan dan kubikel. Beberapa karyawan menoleh dan tersenyum padanya. Lia merasa sedikit lebih lega. Mungkin ini akan baik-baik saja.

"Baiklah, Lia," Sarah berhenti di depan sebuah kubikel kosong. "Ini tempat Anda. Anda akan bekerja di bawah Pak Adrian, kepala divisi."

"Terima kasih, Sarah," Lia mulai meletakkan tasnya.

"Sama-sama. Oh, ya," Sarah teringat sesuatu. "Nanti jam 10 pagi, ada rapat rutin divisi di ruang meeting utama. Anda akan diperkenalkan secara resmi di sana. Sekalian, Anda akan bertemu dengan CEO."

Jantung Lia berdesir lagi. CEO? Sejak kapan seorang CEO ikut serta dalam rapat rutin divisi? Biasanya, itu hanya dihadiri oleh kepala divisi atau manajer senior. Namun, Lia mengabaikan firasatnya. Mungkin CEO perusahaan ini memang sangat aktif dan terlibat dalam setiap kegiatan.

"Baik, Sarah. Terima kasih informasinya," kata Lia.

Sarah mengangguk. "Kalau ada apa-apa, jangan sungkan bertanya. Saya ada di kubikel ujung sana."

Lia mengangguk dan mulai menata mejanya. Ia mencoba menghirup aroma kantor yang baru, menenangkan pikirannya. Ini adalah babak baru. Ia harus fokus. Ia harus melupakan semua yang terjadi.

Jam menunjukkan pukul 09:55. Lia merasa gugup. Ia membenahi pakaiannya sekali lagi, merapikan rambutnya, lalu berjalan menuju ruang meeting utama yang ditunjukkan Sarah. Pintu ruang meeting terbuka lebar. Beberapa orang sudah duduk di dalam, sebagian besar adalah wajah-wajah baru yang belum ia kenal.

Ia melangkah masuk, mencari kursi kosong. Sebuah kursi di pojok, agak tersembunyi, tampak menarik. Lia berjalan ke arah sana. Saat ia hendak duduk, suara pintu meeting yang bergeser menarik perhatian semua orang.

Semua mata tertuju pada pintu. Dan Lia, saat ia menoleh, dunianya kembali berputar.

Seorang pria tinggi dengan setelan jas hitam yang rapi melangkah masuk. Aura dominan terpancar kuat darinya. Rambut hitamnya tertata rapi, rahangnya tegas, dan mata itu... mata yang Lia kenali dengan sangat baik. Mata yang dulu memancarkan kehangatan dan cinta, kini dipenuhi oleh bayangan kelam yang tak terlukiskan.

Rizky.

Ia berdiri di ambang pintu, menatap semua orang dengan sorot mata yang dingin. Kemudian, pandangannya menyapu ruangan, dan berhenti tepat pada Lia.

Waktu terasa berhenti. Udara di dalam ruangan tiba-tiba menjadi tipis. Lia merasakan darahnya berdesir, lalu mengalir deras ke seluruh tubuhnya, meninggalkan rasa dingin yang membekukan. Ia tidak bisa bergerak, tidak bisa bernapas. Ia hanya bisa menatap mata Rizky, yang kini membelalak sedikit, menunjukkan ekspresi terkejut yang samar, sebelum kembali mengeras, bahkan lebih dingin dari sebelumnya.

Rizky. CEO Nusa Abadi Group. Bagaimana mungkin? Ia tidak pernah tahu. Lia tidak pernah mencari tahu siapa pemilik perusahaan itu. Ia hanya melihat nama "Nusa Abadi Group" di iklan lowongan kerja, dan melamar begitu saja. Takdir. Ya, ini pasti takdir yang kejam.

"Selamat pagi semuanya," suara Rizky terdengar, dalam dan berwibawa, namun di telinga Lia, suara itu seperti gema dari neraka. "Maaf sedikit terlambat."

Tidak ada yang menjawab. Semua orang masih terpaku pada kehadiran Rizky. Ia melangkah menuju kursi di ujung meja, kursi kepala. Tatapannya sesekali melirik Lia, tatapan yang membuat Lia merinding.

Adrian, kepala divisi pengembangan bisnis, yang baru saja diperkenalkan Lia pagi itu, berdeham. "Baik, Pak Rizky sudah hadir. Mari kita mulai rapatnya."

Lia masih berdiri kaku, kakinya terasa seperti jeli. Ia ingin lari, ingin menghilang, ingin menembus lantai dan lenyap dari hadapan Rizky. Namun, ia tidak bisa. Ia harus tetap di sana, harus menghadapi ini.

Adrian memulai presentasinya tentang kinerja divisi. Lia mencoba mendengarkan, namun semua kata-kata Adrian terasa seperti dengungan jauh. Ia hanya bisa merasakan tatapan Rizky yang sesekali mencuri pandang ke arahnya. Tatapan itu adalah pisau yang mengiris-iris pertahanannya.

Setelah Adrian selesai, giliran beberapa manajer lain yang menyampaikan laporan. Suasana rapat formal dan serius. Sampai akhirnya, Adrian berdeham lagi.

"Baiklah, sebelum kita melanjutkan ke agenda berikutnya," Adrian tersenyum ramah ke arah Lia, "Saya ingin memperkenalkan anggota baru kita. Lia Paramitha."

Semua mata kini tertuju pada Lia. Lia memaksa dirinya untuk tersenyum, senyum kaku yang tidak sampai ke matanya. Ia merasakan tatapan Rizky yang tak berkedip, menelanjanginya.

"Lia akan mengisi posisi asisten manajer proyek di tim kami. Dia lulusan terbaik dari universitasnya, dan kami sangat antusias menyambutnya," Adrian menambahkan.

Tepuk tangan samar terdengar dari beberapa rekan kerja. Lia mengangguk, mencoba terlihat tenang. Namun, di dalam hatinya, badai telah pecah.

Rizky, yang tadinya hanya menyimak, kini mengangkat tangan. "Selamat datang, Lia Paramitha."

Suara Rizky itu, yang dulu dipenuhi kelembutan saat memanggil namanya, kini terdengar dingin, penuh penekanan, seolah setiap suku kata adalah sebuah tuduhan.

"Saya harap Anda bisa beradaptasi dengan cepat di sini," Rizky melanjutkan, suaranya tenang namun memiliki nada yang mengintimidasi. "Terutama karena kita sudah memiliki sejarah panjang, bukan begitu?"

Kalimat itu, yang diucapkan dengan senyum tipis yang bukan senyum, membuat Lia merasakan hawa dingin merambat di tulang punggungnya. Semua orang di ruangan itu saling berpandangan, bingung dengan komentar Rizky. Mereka tidak tahu apa-apa tentang "sejarah panjang" yang dimaksud. Hanya Lia yang mengerti. Itu adalah sebuah peringatan, sebuah ancaman terselubung.

Lia mencoba membalas tatapan Rizky, namun ia tidak sanggup. Ia hanya bisa menunduk, merasakan pipinya memanas.

"Baiklah," Rizky melanjutkan, suaranya kembali datar. "Saya rasa cukup perkenalannya. Mari kita lanjutkan rapat."

Rapat berlanjut, namun bagi Lia, waktu terasa berjalan sangat lambat. Ia tidak bisa fokus sama sekali. Setiap kali ia melirik ke arah Rizky, pria itu selalu menatapnya, sorot matanya yang tajam menembus jiwanya. Lia tahu, ini bukan kebetulan. Ini adalah perangkap. Takdir memang kejam.

Rapat berakhir. Para karyawan mulai beranjak dari tempat duduk mereka, sebagian saling berbincang. Lia buru-buru membereskan barang-barangnya, berharap bisa segera keluar dari ruangan itu sebelum Rizky mendekatinya. Namun, ia kalah cepat.

"Lia Paramitha," suara Rizky memanggil, menusuk telinganya.

Lia berhenti, memejamkan mata sesaat, lalu berbalik. Rizky berdiri di dekat meja, menatapnya dengan ekspresi yang tak terbaca. Hanya mereka berdua dan Adrian yang masih tersisa di ruangan itu.

"Ya, Pak Rizky?" Lia mencoba bersikap formal, meski suaranya bergetar.

Rizky berjalan mendekat, setiap langkahnya terasa mengancam. "Saya tidak menyangka akan melihatmu di sini."

"Saya juga, Pak," jawab Lia, berusaha terdengar tenang. "Saya melamar karena saya melihat lowongan dan mengira ini adalah kesempatan yang bagus."

Rizky mendengus. "Kesempatan bagus? Atau kesempatan untuk kembali menghantui hidupku?"

Adrian, yang berdiri di samping Rizky, tampaknya merasa tidak nyaman dengan suasana yang tegang. "Uhm, Pak Rizky, apa ada yang perlu saya siapkan lagi?"

Rizky melambaikan tangannya tanpa menoleh dari Lia. "Tidak, Adrian. Kau boleh pergi. Aku perlu bicara sebentar dengan Lia."

Adrian mengangguk canggung, lalu bergegas keluar, meninggalkan Lia sendirian di hadapan Rizky.

"Apa maksudmu dengan menghantui hidupmu?" Lia bertanya, mengumpulkan keberaniannya.

Rizky menyeringai pahit. "Kau tahu betul maksudku, Lia. Setelah semua yang terjadi, kau berani muncul di perusahaanku? Di tempat kerjaku? Apakah kau sengaja melakukan ini?"

"Tentu saja tidak!" Lia membantah, suaranya meninggi. "Aku tidak tahu ini perusahaanmu! Aku hanya melamar pekerjaan! Aku butuh pekerjaan!"

"Butuh pekerjaan?" Rizky mengangkat alisnya. "Atau kau ingin melihat seberapa jauh kau bisa masuk ke dalam hidupku lagi?"

"Aku tidak sejahat itu, Rizky!" Lia membalas, air mata mulai menggenang di matanya. "Aku tidak pernah berniat menyakitimu. Aku tidak pernah berniat... membuat Anya pergi."

Mendengar nama Anya, Rizky tersentak. Ekspresi wajahnya berubah dari amarah menjadi kesedihan yang mendalam. Namun, kesedihan itu cepat digantikan oleh kemarahan yang membara.

"Jangan pernah sebut namanya!" Rizky membentak, suaranya menggelegar di ruang meeting yang sepi. "Kau tidak punya hak untuk menyebut namanya setelah semua yang kau lakukan!"

"Aku tidak melakukan apa-apa!" Lia membalas, suaranya bergetar karena emosi. "Itu kecelakaan! Kecelakaan! Apakah kau tidak mengerti itu? Apakah kau pikir aku tidak menderita karena ini? Aku juga kehilangan Anya!"

"Kau kehilangan Anya?" Rizky tertawa hampa. "Kau masih hidup, Lia! Kau masih bisa menghirup udara ini, melihat matahari terbit dan terbenam! Anya tidak bisa! Dan itu karena kau!"

"Aku bukan penyebabnya!" Lia membantah lagi, kali ini dengan suara lebih keras. "Aku di sana, Rizky! Aku melihat semuanya! Truk itu! Sopirnya yang ugal-ugalan! Aku berteriak pada Anya, aku melihat dia membanting setir! Dia mencoba menghindar! Tapi tidak cukup cepat! Kenapa kau tidak mau percaya padaku?!"

Rizky menatapnya tajam, matanya memancarkan rasa sakit yang dalam. "Aku melihatmu di samping Anya malam itu, Lia. Aku melihatmu selamat. Aku melihat Anya... terbaring tak bernyawa. Dan aku melihatmu hidup. Itu cukup bagiku."

Keheningan kembali menyelimuti mereka. Udara terasa berat, penuh dengan tuduhan tak terucap dan rasa sakit yang tak terlukiskan. Lia menatap Rizky, pria yang dulu sangat ia hormati, pria yang dulu adalah separuh jiwa Anya. Kini, ia hanya melihat sosok yang hancur, yang dibakar oleh dendam, dan ia menjadi sasarannya.

"Kau tidak bisa bekerja di sini, Lia," kata Rizky akhirnya, suaranya rendah namun penuh penekanan. "Aku tidak bisa membiarkanmu bekerja di perusahaanku."

Lia merasa jantungnya mencelos. "Apa maksudmu?"

"Aku akan meminta HR untuk membatalkan tawaran kerjamu," kata Rizky, ekspresinya datar. "Kau tidak bisa menjadi bagian dari Nusa Abadi Group. Tidak saat aku yang memimpin."

"Kau tidak bisa melakukan itu!" Lia terkesiap. "Aku sudah diterima! Aku sudah menandatangani kontrak!"

"Tentu saja bisa," Rizky menyeringai tipis. "Aku pemiliknya, Lia. Aku bisa melakukan apa pun yang aku mau. Termasuk memastikan kau tidak akan pernah bekerja di bawah atap yang sama denganku."

Air mata Lia tumpah lagi. Mimpi yang baru saja ia bangun, harapan untuk memulai kembali, hancur berkeping-keping di hadapan Rizky. Ini bukan hanya tentang pekerjaan, ini tentang martabatnya, tentang usahanya untuk bangkit.

"Kau... kau sangat kejam, Rizky," Lia berbisik, suaranya nyaris tak terdengar.

Rizky menatapnya, matanya tanpa emosi. "Kejam? Kau ingin tahu apa itu kejam, Lia? Kejam itu adalah bangun setiap pagi dan tahu bahwa wanita yang kucintai tidak lagi bernapas, sementara orang yang terakhir bersamanya masih hidup dan menghirup udara yang sama." Ia menunjuk Lia dengan jari telunjuknya. "Itu kejam. Dan kau adalah alasan mengapa aku merasakan kekejaman itu setiap hari."

Lia tidak bisa berkata-kata. Ia hanya bisa menatap Rizky, merasakan hancurnya harapannya, diinjak-injak oleh kebencian pria itu. Ia tahu, di mata Rizky, ia akan selalu menjadi Lia, sang "penyebab", yang "mengambil" Anya dari dunia ini. Dan di kantor barunya ini, di mana ia berharap bisa memulai hidup baru, ia justru bertemu kembali dengan bayangan tergelap dari masa lalunya.

"Pergilah, Lia," kata Rizky, suaranya final. "Dan jangan pernah kembali."

Lia tidak menunggu lagi. Ia berbalik, melangkah keluar dari ruang meeting dengan langkah gontai, meninggalkan Rizky dan sisa-sisa mimpinya yang hancur di belakangnya. Ia tidak tahu harus pergi ke mana, harus berbuat apa. Jakarta yang luas tiba-tiba terasa begitu sempit, dan Lia tahu, ia tidak akan pernah bisa lari dari takdir yang terus-menerus mempermainkannya.

Bagaimana Lia akan menghadapi pemecatan yang tidak adil ini, dan apakah ada cara baginya untuk membuktikan bahwa ia tidak bersalah kepada Rizky?

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Anak Tersisih
8.4
Sarinah melarikan diri dari rumah karena ketidakadilan orang tuanya. Insiden kecelakaan mobil justru membawanya ke kehidupan baru sebagai Rully setelah ia diadopsi. Dari gadis buta huruf, ia bertransformasi menjadi dokter sukses. Namun, konflik besar muncul saat seorang pria melamarnya tanpa mengetahui asal-usul Rully yang sebenarnya dari keluarga miskin. Kini, ia harus memilih antara jujur atau terus bersembunyi demi menjaga cinta dan statusnya.
Sampul Novel Dia Bukan Suamiku
9.2
Dalam pernikahan hasil perjodohan, Shafa mendambakan kesetiaan dan kasih sayang tulus dari Alby. Meski awalnya Alby tampak sangat mencintai Shafa, pria itu ternyata menyimpan pengkhianatan di balik sikap manisnya. Kepercayaan yang diberikan Shafa pun hancur seketika. Walau Shafa telah mencoba memaafkan demi cinta, ia justru terus tenggelam dalam luka yang mendalam. Kini, di tengah kehancuran, mungkinkah Alby meraih kembali hati Shafa dan menemukan akhir bahagia?
Sampul Novel Gigolo Selingkuhanku Ternyata Kamu !
9.4
Kezia adalah wanita karier sukses yang hidupnya berubah total setelah bertemu Alex di sebuah klub mewah. Hubungan intens mereka awalnya tampak sempurna, hingga Kezia menemukan rahasia pahit bahwa kekasihnya itu adalah seorang gigolo. Terjebak antara cinta dan pengkhianatan, Kezia mulai mengungkap masa lalu kelam yang melukai Alex. Melalui konflik batin yang hebat, keduanya berusaha mencari arti kejujuran dan pengampunan demi memperbaiki masa depan mereka.
Sampul Novel Hakikat Cinta
9.5
Alan De Xavirio, pemuda blasteran Jawa-Italia, jatuh hati pada Latifah Nur Aisyah yang merupakan gadis muslimah asal desa. Meski awalnya bertepuk sebelah tangan, perjuangan gigih Alan akhirnya mampu meluluhkan hati sang gadis. Keduanya pun terjebak dalam romansa masa remaja yang membara hingga mengabaikan perbedaan agama yang membentang. Kini, mereka harus menghadapi tembok besar tersebut. Akankah mereka menyerah saat cinta telah membuat mereka buta dan tuli?
Sampul Novel MR. AKSA
9.1
Menikah muda demi bakti kepada orang tua terpaksa kujalani meski harus bersanding dengan pria asing. Namun, duniaku runtuh saat mendengar rahasia besar bahwa calon suamiku ternyata tidak menyukai wanita. Bagaimana mungkin orang tuaku tega menjodohkanku dengan pria seperti itu? Kini aku terjebak dalam dilema besar, meratapi nasib dan berharap bisa melarikan diri. Aku butuh pertolongan untuk lepas dari jeratan pernikahan dengan pria yang tak normal ini.
Sampul Novel Puncak Nafsu Ayah Mertua
7.9
Aku masih memandangi tubuhnya yang tegap, otot-otot dadanya bergerak naik turun seiring napasnya yang berat. Kulitnya terlihat mengilat, seolah memanggil jemariku untuk menyentuh. Rasanya tubuhku bergetar hanya dengan menatapnya. Ada sesuatu yang membuatku ingin memeluk, menciumi, bahkan menggigitnya pelan. Dia mendekat tanpa suara, aura panasnya menyapu seluruh tubuhku. Kedua tangannya menyentuh pahaku, lalu perlahan membuka kakiku. Aku menahan napas. Tubuhku sudah siap bahkan sebelum dia benar-benar menyentuhku. Saat wajahnya menunduk, bibirnya mendarat di perutku, lalu turun sedikit, menggodaku, lalu kembali naik dengan gerakan menyapu lembut. Dia sampai di dadaku. Salah satu tangannya mengusap lembut bagian kiriku, sementara bibirnya mengecup yang kanan. Ciumannya perlahan, hangat, dan basah. Dia tidak terburu-buru. Lidahnya menjilat putingku dengan lingkaran kecil, membuatku menggeliat. Aku memejamkan mata, bibirku terbuka, dan desahan pelan keluar begitu saja. Jemarinya mulai memijit lembut sisi payudaraku, lalu mencubit halus bagian paling sensitif itu. Aku mendesah lebih keras. "Aku suka ini," bisiknya, lalu menyedot putingku cukup keras sampai aku mengerang. Aku mencengkeram seprai, tubuhku menegang karena kenikmatan itu begitu dalam. Setiap tarikan dan jilatan dari mulutnya terasa seperti aliran listrik yang menyebar ke seluruh tubuhku. Dia berpindah ke sisi lain, memberikan perhatian yang sama. Putingku yang basah karena air liurnya terasa lebih sensitif, dan ketika ia meniup pelan sambil menatapku dari bawah, aku tak tahan lagi. Kakiku meremas sprei, tubuhku menegang, dan aku menggigit bibirku kuat-kuat. Aku ingin menarik kepalanya, menahannya di sana, memaksanya untuk terus melakukannya. "Jangan berhenti..." bisikku dengan napas yang nyaris tak teratur. Dia hanya tertawa pelan, lalu melanjutkan, makin dalam, makin kuat, dan makin membuatku lupa dunia.