Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Benih Dari Kebencianmu

Benih Dari Kebencianmu

Lima tahun berlalu sejak tragedi maut merenggut nyawa Anya, namun dendam Rizky belum juga padam. Saat bertemu kembali dengan Lia, sepupu Anya sekaligus penyintas peristiwa tersebut, amarah Rizky meledak. Lia dianggap sebagai penyebab utama penderitaan mereka selama ini. Dalam sebuah malam yang kelam, Rizky melampiaskan kebenciannya hingga menghancurkan masa depan Lia. Kini, Lia harus menanggung beban luka di tengah kebencian orang-orang di sekitarnya.
Bab
Bagikan

Bab 1

Udara Jakarta di suatu sore bulan Maret selalu terasa berat, sarat dengan kelembaban yang memeluk dan polusi yang menyesakkan paru-paru. Bagi Lia, lima tahun terakhir, udara itu terasa lebih berat lagi. Setiap napas yang diambil adalah pengingat akan hari kelabu itu, hari di mana hidupnya terbagi menjadi "sebelum" dan "sesudah". Hari di mana Anya, sepupu sekaligus sahabat terbaiknya, direnggut paksa oleh takdir yang kejam.

Lia duduk di sebuah kafe kecil di kawasan Kemang, menyesap latte dingin yang mulai kehilangan esnya. Jendela kafe yang besar menampilkan hiruk pikuk jalanan Jakarta, namun pandangannya kosong, menembus keramaian itu, kembali pada memori lima tahun silam. Seharusnya ia tidak berada di sini. Seharusnya ia ada di rumah, membenamkan diri dalam buku-buku kuliahnya, melarikan diri dari dunia yang terus-menerus menghakiminya. Namun, janji pertemuan dengan seorang teman lama, yang tanpa sepengetahuannya membawa serta bayangan masa lalu, telah menyeretnya kembali ke pusaran luka.

Pintu kafe terbuka, denting bel kecil di atasnya mengumumkan kedatangan seseorang. Lia tidak menoleh. Ia terlalu sibuk dengan hantu-hantu di benaknya. Namun, getaran di udara, perubahan kecil dalam atmosfer ruangan, membuat hatinya mencelos. Aroma maskulin yang familier, yang dulu selalu ia kaitkan dengan kebahagiaan Anya, kini menusuknya seperti belati berkarat.

"Lia?"

Suara itu. Dingin, berjarak, namun memiliki resonansi yang familiar, sebuah gema dari tawa riang yang pernah ia kenal. Lia mendongak. Di ambang pintu, berdiri seorang pria tinggi dengan rahang tegas dan mata setajam elang. Rambut hitamnya sedikit berantakan, menambah kesan karismatik yang dulu begitu memikat banyak orang. Namun, kini, mata itu tidak memancarkan kehangatan yang dulu ia kenal. Mata itu dipenuhi kegelapan, sebuah jurang kebencian yang dalam.

Rizky.

Jantung Lia berpacu. Napasnya tercekat. Nama itu, dulu sering terucap dengan nada ceria dari bibir Anya, kini hanya membangkitkan rasa bersalah yang menggerogoti jiwanya. Lima tahun. Lima tahun ia berhasil menghindari pertemuan ini. Lima tahun ia hidup dalam bayangan, berharap tidak pernah lagi berhadapan dengan pria di hadapannya.

Rizky tidak tersenyum. Bibirnya membentuk garis tipis, ekspresi yang Lia kenal sebagai pertanda kemarahan yang tertahan. Ia melangkah mendekat, setiap langkahnya terasa seperti palu godam yang menghantam dada Lia. Teman Lia, seorang gadis bernama Maya yang memperkenalkan mereka, tampak canggung di antara aura tegang yang tiba-tiba menyelimuti meja mereka.

"Apa kabar, Lia?" Suara Rizky rendah, nyaris berbisik, namun setiap kata mengandung beban ribuan ton.

Lia mencoba menelan ludah, tenggorokannya kering kerontang. "Baik, Rizky. Kamu?"

"Baik?" Rizky mendengus, tawa sinis keluar dari bibirnya. "Tentu saja. Mengapa tidak? Hidup berjalan terus, bukan? Untuk sebagian orang." Tatapannya menajam, menembus hingga ke dasar jiwa Lia. "Terutama untuk mereka yang selamat."

Maya, menyadari suasana yang tidak nyaman, mencoba mencairkan ketegangan. "Uhm, aku ke toilet sebentar, ya. Kalian ngobrol saja dulu." Ia beranjak pergi, meninggalkan Lia sendirian di hadapan badai yang siap menerjang.

Keheningan kembali melingkupi mereka, hanya diisi oleh suara bising kafe yang tiba-tiba terasa jauh. Lia memilin-milin tepi serbetnya. Ia ingin lari, namun kakinya terasa terpaku di lantai.

"Bagaimana kuliahmu?" tanya Rizky, suaranya kini lebih keras, nyaris mengejek. "Senang bisa melanjutkan hidup, membangun masa depan, ya?"

Lia mengangkat kepalanya, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. "Aku... aku tidak pernah melupakan apa yang terjadi, Rizky."

"Melupakan?" Rizky tertawa, tawa yang tidak sampai ke matanya. "Tentu saja tidak. Mana bisa melupakan sesuatu yang kau sebabkan, bukan?"

Kata-kata itu menghantam Lia seperti pukulan keras. Ia tahu akan datang. Ia sudah bersiap. Namun, tetap saja, rasa sakitnya tidak berkurang sedikit pun. "Aku tidak... aku tidak menyebabkannya."

"Oh, ya?" Rizky mendekat, membungkuk sedikit di atas meja, membuat Lia harus mendongak untuk menatapnya. Matanya yang gelap memancarkan amarah yang membara. "Kalau begitu, jelaskan padaku, Lia. Jelaskan bagaimana kau bisa selamat dari mobil yang ringsek itu, sementara Anya..." Suaranya tercekat. Ia mengambil napas dalam-dalam, berusaha menguasai emosinya. "Sementara Anya tidak."

Lia menutup matanya sejenak, kenangan pahit itu kembali menyeruak.

Malam Nahas Lima Tahun Lalu

Malam itu, lima tahun yang lalu, adalah malam Jumat yang cerah. Langit Jakarta dipenuhi bintang, dan udara terasa lebih sejuk dari biasanya. Anya dan Lia baru saja pulang dari pesta ulang tahun teman mereka. Anya, yang baru mendapatkan SIM dan mobil baru, mengemudi dengan semangat. Lia duduk di kursi penumpang, sesekali memutar musik dan ikut bernyanyi. Suasana di dalam mobil ceria, penuh tawa dan obrolan remaja.

"Aduh, seru banget pestanya!" seru Anya, memukul setir dengan gembira. "Aku suka vibe-nya."

"Iya, tapi capek juga, Ny," balas Lia, menguap. "Besok kuliah pagi."

"Santai aja kali, besok kan Sabtu," Anya terkikik. "Kita mampir dulu deh ke Indomaret, mau beli snack."

"Ide bagus!" Lia setuju.

Mereka berdua memang tidak terpisahkan. Sepupu yang dibesarkan seperti saudara kandung, Anya dan Lia memiliki ikatan yang luar biasa kuat. Anya yang selalu ceria dan penuh semangat, seringkali menjadi pendorong Lia yang lebih pendiam dan hati-hati. Mereka berbagi mimpi, rahasia, dan setiap momen penting dalam hidup mereka.

Mobil melaju di jalanan yang agak lengang. Anya mengemudi dengan hati-hati, mengikuti batas kecepatan. Lia mengamati jalanan di luar, sesekali membalas pesan di ponselnya. Tiba-tiba, sebuah cahaya terang menyorot dari arah berlawanan. Lia mendongak, merasakan firasat buruk. Sebuah truk besar, melaju kencang, menyalip kendaraan lain di depannya dengan sembrono. Lampunya menyilaukan mata, dan klaksonnya berbunyi memekakkan telinga.

"Anya, awas!" seru Lia panik.

Anya membanting setir ke kanan, mencoba menghindari tabrakan. Rem berdecit nyaring, memekakkan telinga. Tubuh mereka terlempar ke depan saat mobil oleng. Lia menjerit, mencengkeram dasbor erat-erat. Dalam sepersekian detik yang terasa seperti keabadian, Lia melihat wajah Anya. Wajah sepupunya itu memucat pasi, matanya membelalak ketakutan.

BRAAKKKK!

Suara benturan logam yang mengerikan membelah keheningan malam. Mobil Anya berputar beberapa kali, menghantam pembatas jalan, lalu terlempar ke sisi lain. Kaca-kaca pecah berhamburan, dan bau bensin memenuhi udara. Gelap. Hening. Hanya suara dengungan di telinga Lia, dan rasa sakit yang menusuk di sekujur tubuhnya.

Lia membuka matanya perlahan. Pandangannya buram. Kepalanya pusing, dan darah mengalir di pelipisnya. Ia mencoba bergerak, namun tubuhnya terasa remuk. Yang pertama kali ia rasakan adalah hawa dingin yang menusuk dari sisi sebelahnya. Lia menoleh, dan dunianya runtuh.

Anya.

Tubuh Anya tergeletak tak berdaya, terjepit di antara reruntuhan mobil. Kepalanya terkulai dengan posisi yang tidak wajar. Matanya terpejam, dan wajahnya pucat pasi, tanpa sedikit pun warna. Tidak ada gerakan. Tidak ada napas. Hanya keheningan yang mematikan.

"Anya... Anya!" Lia meronta, mencoba meraih sepupunya. Namun, sabuk pengaman dan puing-puing mobil menahannya. Air mata membanjiri wajahnya, bercampur dengan darah. "Anya, bangun! Anya!"

Suara klakson mobil dan teriakan orang-orang mulai terdengar dari kejauhan. Warga berdatangan, panik. Beberapa orang mencoba membantu, sementara yang lain menelepon polisi dan ambulans. Lia terus berteriak memanggil nama Anya, suaranya serak dan putus asa.

Petugas medis tiba tak lama kemudian. Mereka bergerak cepat, mengeluarkan Lia dari mobil yang ringsek. Lia menolak untuk pergi, meronta, terus-menerus menunjuk ke arah Anya.

"Sepupuku! Dia di dalam! Tolong dia!" Lia menjerit, namun suaranya tenggelam dalam kebisingan.

Seorang petugas medis memeriksa Anya. Raut wajahnya berubah. Ia menggelengkan kepala perlahan, sorot matanya menyampaikan kabar terburuk yang bisa Lia bayangkan.

"Maaf, Nak," katanya pelan. "Kami sudah berusaha, tapi... dia sudah tiada."

Dunia Lia runtuh total. Kabar itu menghancurkan setiap sel dalam tubuhnya. Anya sudah tiada. Sepupunya. Sahabatnya. Sumber kebahagiaannya. Meninggalkannya sendiri di dunia yang tiba-tiba terasa begitu dingin dan kejam.

Kembali ke kafe, Lia membuka matanya. Air mata telah membentuk jejak di pipinya. "Aku... aku tidak ingat banyak, Rizky," ucapnya lirih. "Yang aku ingat hanyalah... Anya mencoba menghindar. Dan truk itu... truk itu datang begitu cepat."

Rizky mendengus lagi. "Tentu saja. Mengapa kau tidak ingat? Mungkin karena kau terlalu sibuk dengan ponselmu, bukan? Atau kau mengganggu konsentrasinya?"

Kata-kata Rizky menusuk telak. Tuduhan itu, yang selama ini bergaung di kepalanya sendiri, kini keluar dari bibir Rizky, menghancurkan sisa-sisa pertahanan Lia. Ia tahu, sejak hari itu, banyak yang berpikir demikian. Bahwa ia, Lia, yang seharusnya mati, bukan Anya. Bahwa ia adalah penyebabnya.

"Aku tidak... aku tidak mengganggu Anya," Lia membela diri, suaranya bergetar. "Aku sedang membalas pesan. Anya yang mengemudi."

"Dan kau tidak melihat truk itu lebih dulu?" Rizky mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya menyala-nyala. "Kau di kursi penumpang, Lia! Kau seharusnya melihatnya! Kau seharusnya mengingatkannya lebih awal!"

"Aku sudah memperingatkan dia!" Lia meninggikan suaranya, emosinya memuncak. "Aku sudah bilang 'Anya, awas!' Tapi semuanya terjadi begitu cepat! Anya sudah mencoba menghindar!"

"Cukup cepat untuk menyelamatkanmu, tapi tidak cukup cepat untuk Anya?" Rizky menyeringai pahit. "Ironis sekali, bukan?"

Lia merasa mual. Kata-kata Rizky adalah cerminan dari suara hati banyak orang yang menyayangi Anya. Ibu Anya, ayah Anya, teman-teman Anya... mereka semua menatapnya dengan pandangan yang sama, pandangan penuh tuduhan, penyesalan, dan rasa kehilangan yang tak terukur. Ia menjadi pengingat yang menyakitkan akan apa yang telah mereka hilangkan.

"Aku juga terluka, Rizky!" Lia membalas, air mata membanjiri wajahnya lagi. "Aku juga kehilangan Anya! Kau pikir bagaimana perasaanku hidup dengan semua ini? Dengan tahu bahwa aku selamat dan dia tidak? Aku hidup setiap hari dengan rasa bersalah ini!"

"Rasa bersalah?" Rizky tertawa hampa. "Rasa bersalahmu tidak sebanding dengan rasa sakit kami. Kau masih bisa bernapas. Kau masih bisa tertawa. Kau masih bisa melanjutkan hidup." Matanya kembali dipenuhi kebencian yang mendalam. "Sementara Anya... Anya sudah tiada. Dan kau, Lia, kau adalah satu-satunya orang yang bersamanya saat itu. Kau adalah penyebabnya."

"Aku bukan penyebabnya!" Lia berteriak, menarik perhatian beberapa pelanggan kafe lainnya. "Itu kecelakaan! Kecelakaan yang disebabkan oleh pengemudi truk gila itu!"

"Pengemudi truk itu sudah dihukum, Lia," Rizky berkata, suaranya datar, tanpa emosi. "Tapi itu tidak mengembalikan Anya. Dan bagiku, kau adalah bagian dari tragedi itu. Kau ada di sana. Dan kau selamat."

Keheningan kembali menyelimuti mereka. Kali ini, Lia tidak berusaha memecahkannya. Ia merasa lelah, lelah dengan semua tuduhan, lelah dengan rasa bersalah yang tidak pernah hilang. Rizky menatapnya untuk beberapa saat, tatapannya membakar Lia hingga ke tulang sumsum.

Akhirnya, Rizky berdiri. "Aku datang kemari bukan untuk berdebat denganmu, Lia," katanya, suaranya kini dingin seperti es. "Aku hanya ingin kau tahu. Aku tidak akan pernah melupakan apa yang terjadi. Dan aku tidak akan pernah memaafkanmu."

Ia berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Lia sendirian di meja kafe itu, dengan bayangan masa lalu yang menghantuinya. Air mata Lia tumpah ruah, membasahi pipinya. Kata-kata Rizky menancap di hatinya, mengkonfirmasi ketakutan terbesarnya: ia akan selalu menjadi Lia, sang "penyebab," sang "yang selamat," sang "luka" bagi orang-orang yang menyayangi Anya. Dan ia tahu, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Jatuh Sakit, Dia Menemani Wanita Lain
9.1
Di Hari Valentine, Betsy divonis menderita kanker lambung dan hanya punya sebulan untuk hidup. Di tengah duka, Sebastian Nash justru mengaku jatuh cinta pada wanita lain meski berjanji tetap setia sebagai suami. Walau hancur, Betsy memilih melepaskan Sebastian tanpa keributan demi sisa usianya yang singkat. Meski Sebastian memohon agar ia tidak pergi, Betsy yang sekarat hanya bisa tersenyum pahit, menyadari bahwa tak ada gunanya lagi menangisi pengkhianatan itu.
Sampul Novel Anugerah Cinta
9.3
Dila, putri Gus Wirto, terjebak dalam perjodohan dengan Fabian, mantan pecandu yang sedang memperbaiki diri di pesantren. Hati Dila sebenarnya terpikat pada Prima, seorang hafiz yang saleh. Meski berupaya membatalkan taaruf, Dila tak kuasa melawan harapan orang tuanya. Namun, saat kesepakatan tercapai, rahasia kelam Fabian mulai terkuak satu per satu. Akankah Dila bertahan dengan pilihannya? Mampukah Fabian benar-benar lepas dari masa lalunya yang kelam?
Sampul Novel Baby Han - (Gx G)
9.5
Mikaela, janda muda asal Thailand yang tengah hamil lewat program bayi tabung, memulai karier di perusahaan J.H Fashion, Seoul. Meski bercerai dari David karena dikhianati, bakatnya menarik perhatian Minwo Han. Namun, Judith Han, sang pemilik perusahaan yang merupakan seorang lesbian, justru mulai terpikat secara alami setelah mengambil alih urusan Mikaela. Ketertarikan Judith berkembang menjadi obsesi mendalam saat ia terus memikirkan sosok Mikaela dalam benaknya.
Sampul Novel Balas Dendam Lima Anak Kembar
9.4
Isabella Ardhani mengalami nasib tragis setelah terjebak di kamar Rafael Damar, bos mafia penguasa bisnis. Insiden tersebut membuatnya hamil lima anak kembar jenius. Diusir dari rumah, ia kabur ke luar negeri demi membesarkan mereka. Bertahun-tahun berlalu, Isabella kembali sebagai wanita berkuasa. Takdir membawanya bertemu Rafael lagi, namun kali ini kelima anaknya telah menyiapkan rencana balas dendam besar terhadap ayah kandung mereka.
Sampul Novel Be Your Pet
9.2
Demi membiayai pengobatan sang ibu di rumah sakit, Erick yang berusia dua puluh tahun terpaksa mengambil keputusan drastis. Ia setuju menjadi 'peliharaan' bagi Jason, seorang pria penyuka sesama jenis dengan kecenderungan BDSM yang sangat dominan. Kehidupan Erick pun berubah drastis saat ia terjebak dalam dinamika penuh kekerasan, kata-kata kasar, dan penghinaan. Mampukah Erick bertahan dalam hubungan ekstrem yang penuh dengan konten dewasa ini demi sosok ibunya?
Sampul Novel Dominasi Yang Disengaja
8.1
Tiga tahun membina rumah tangga, Dahlia Nicholson memilih untuk menceraikan suaminya, Dustin Rhys. Bagi Dahlia yang kini berada di puncak kesuksesan, Dustin hanyalah beban yang tidak berguna dalam hidupnya. Namun, di balik sikap angkuhnya, ia tidak menyadari sebuah kenyataan pahit. Segala pencapaian luar biasa dan kekayaan yang ia miliki saat ini sebenarnya hanyalah hasil dari campur tangan serta dukungan rahasia sang suami yang selama ini ia remehkan.