
Belenggu Mantan
Bab 3
Dave memandang perempuan yang terbaring lemah di atas ranjangnya. Dia mengusap dagu, terus berpikir.
"Siapa dia?"
"Kenapa mau masuk ke kehidupanku?"
Berbagai pertanyaan berputar di benak Dave.
Bahkan, rintihan dan juga tangisan gadis itu masih terngiang di telinga Dave.
"Siapa pun dia, tetaplah gadis naif yang mengincar harta keluarga Airlangga."
Dave terkekeh. Bangkit dari duduknya, dia masuk ke kamar mandi. Pekerjaan barunya menumpuk, dia harus berangkat lebih awal ke rutinitas yang memuakkan baginya.
**
Diandra mengerjabkan matanya. Sorot sinar matahari menembus gorden hingga membuatnya silau.
Merasakan tubuhnya yang remuk, Diandra berusaha bangkit. Dilihatnya badan yang hanya terbalut selimut. Mengusap kasar wajahnya, Diandra ingat dengan kejadian semalam.
"Aku kotor!" Menahan air matanya. Diandra tidak ingin menangis demi laki-laki kejam itu.
Perlahan, dia memindahkan kakinya ke lantai. Perih, Diandra memegang perutnya.
Alis Diandra tertaut saat melihat sebuah kartu berwarna hitam di nakasnya. Dia meraih dan memperhatikan dengan teliti.
"Dia benar-benar menjadikanku pelacur!"
Kali ini, Diandra tak tahan lagi menumpahkan air matanya. Dalam benak, Diandra mempertanyakan keputusannya?
"Apa aku salah?"
"Apa aku ceroboh?"
"Apa aku terlalu naif?"
Diandra mengusap kasar air matanya, meraup napas dalam dan mengembuskan.
"Tapi aku niat menolong."
**
Diandra sangat suntuk dan dia memutuskan untuk bertemu temannya, Tasya, di cafe.
Keputusan mendadaknya untuk berhenti bekerja di cafe, membuat sang owner kelabakan. Dia harus mencari pengganti Diandra saat itu juga, yang menjadi masalah, tidak ada yang serajin dan seteliti Diandra, hingga membuat semua kelimpungan.
Tasya pun sama, bukan hanya terkejut, menghilangnya Diandra membuat pertanyaan besar di otaknya. Sahabatnya tidak pernah seperti itu dan jika Diandra keluar dari kebiasaannya berarti ada masalah yang dihadapi.
Dan siang ini, Diandra datang. Mengejutkan Tasya juga yang lainnya.
"Wah, lo benar-benar!" Tasya menunjuk-nunjuk muka Diandra yang bingung.
"Napa lo risen gitu aja?"
"Maaf, Tasya. Aku ada urusan."
"Urusan apa sampai sahabat sendiri ngga dikasih tau?"
Diandra mengajak Tasya duduk. Tapi suasana cafe di siang hari yang ramai membuat Tasya harus meninggalkan Diandra untuk bekerja.
"Tunggu, Beb. Aku kerja dulu!"
Diandra tersenyum menanggapi.
Hingga pukul setengah tiga siang, Tasya bisa bernapas lega.
"Capek gila! Kalau gue punya modal mending kerja ndiri."
"Aku dukung kamu."
Duduk di depan Diandra, Tasya memandang temannya itu dengan tatapan selidik.
"Jadi?" Tasya mengerutkan keningnya.
"Aku udah nikah."
Tasya menutup mulutnya supaya tidak memaki.
"Maaf, nggak kasih tau. Ini dadakan."
"Lu baru dua puluh tahun! Cita-cita punya cafe ndiri gimana?"
Diandra diam, kuku jarinya sibuk mengelupas kutikula hingga tak terasa mengeluarkan darah. Tapi Diandra biarkan itu dan menutupinya supaya Tasya tidak melihat.
Diandra sangat gugup, ditatap Tasya seperti ini. Belum saatnya temannya itu tahu yang sebenarnya terjadi. Dia tidak ingin Tasya menganggapnya sebagai perempuan materialistis yang mengincar harta. Bukan! Sekali lagi bukan itu yang Diandra mau.
"Nikah ma siapa emangnya?" Tasya sangat ingin tahu.
"Dave Airlangga."
"Anjir! Keluarga Airlangga! What the fuck, Diandra! Lu udah gila atau gimana!"
Sekali lagi Tasya melihat Diandra. "Ini beneran Dave Airlangga yang orang kaya itu?"
Diandra panik dengan reaksi Tasya yang berlebihan.
"Kamu diam, ya. Jangan bilang siapa-siapa."
"Bisa kenal gimana?"
Diandra masih menyusun kata untuk menjelaskan dengan penjelasan yang tepat dan masuk akal.
"Bahkan media nggak bisa sentuh keluarga itu dan lo, anjir, Di! Daebak!"
Diandra menutup mulut Tasya yang semakin menjadi.
Suara panggilan dari manager cafe membuat Tasya terperangah. Dia harus kembali bekerja.
"Kita lanjut abis ini."
Diandra menolak. Dia harus cepat kembali ke apartemen, takut jika Dave tiba-tiba kembali dan dia tidak ada di rumah.
"Besok aku balik."
Setidaknya, Diandra masih ada waktu untuk mengarang cerita atau tidak bercerita sama sekali dengan Tasya mengenai pernikahan mendadaknya.
**
Sudah lima belas hari Diandra menikah dan selama itu juga Dave selalu pulang larut dalam keadaan mabuk.
Sialnya, dia selalu membuat Diandra sibuk di malam hari. Rutinitas yang memuakkan bagi Diandra pada awalnya, tapi makin hari, dia semakin menikmati pergumulannya dengan Dave.
Tidak hanya memberikan sesuatu yang baru bagi Diandra, tapi Dave memberikan kenyamanan juga kenikmatan yang tidak pernah Diandra terima.
"Dd-Dave, u–udah."
Malam yang kesekian kalinya Diandra merintih dalam kenikmatan. Dave memberikan segalanya.
Tapi, Diandra sadar diri. Mereka tak lebih dari sekedar tuan dan pemuas nafsu belaka. Diandra tidak pernah berharap lebih, sakit memang. Tapi ini konsekuensi yang harus diterimanya.
"Apa kamu bilang tadi?"
"Udah? Cuma aku yang bisa menentukan kapan ini berakhir!"
Diandra terdiam, memejamkan matanya dan membayangkan sesuatu yang indah daripada mendengarkan cacian, juga makian Dave di telinganya.
"My bitch you are so hot."
Risih. Ingin Diandra menyumpal mulut laki-laki itu. Dia juga ingin menegaskan, jika dia bukan pelacur! Tapi pada kenyataannya, dia memang terlihat seperti itu.
Selesai dengan kebutuhannya, Dave menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Dibiarkan Diandra begitu saja dan terkesan tidak peduli.
"Kamu semakin pucat, Bitch!"
"Bisa nggak, nggak panggil aku dengan itu, Dave."
Dave terbahak. "Terus apa?"
Tawa itu sangat menusuk hati Diandra. Ingin menangis, tapi untuk apa? Ini semua juga ada andil darinya.
"Lain kali pakailah makeup supaya wajahmu lebih baik. Aku tidak tidur dengan mayat!"
"Kamu datang terlalu malam dan aku tidak sempat istirahat. Wajar kalau pucat."
"Siang waktumu tidur dan malam waktumu bersamaku. Tidak ada bantahan!"
Dave membalikkan badannya dan beberapa saat terdengar dengkuran halus darinya.
Mengembuskan napas berat, Diandra hanya bisa menahan segala sesak di dadanya.
"Sabar, Diandra. Sebentar lagi. Ya, sebentar lagi!"
Dan seperti hari sebelumnya, Dave datang dini hari dan pergi pagi-pagi sekali.
"Dia ke sini hanya untuk memuaskan nafsunya, bahkan dia tidak pernah sarapan."
Selepas mandi, Diandra merebahkan dirinya di sofa, menonton acara televisi.
Headline news pagi ini membuat Diandra tersenyum puas. Presenter itu menjelaskan tentang perkembangan perusahaan Airlangga juga pergantian pimpinan utama dari Adrian Airlangga ke anak laki-lakinya, Dave Airlangga.
Diandra menyaksikan pelantikan itu. Terlihat jelas jika suaminya tersenyum dengan terpaksa, hanya untuk menghindari pertanyaan mendesak dari wartawan yang memuakkan.
Namun, dalam hatinya Diandra sangat bahagia, meski dia tidak mendampingi sang suami.
Diandra berpikir ulang. Memangnya, siapa dia? Mendampingi Dave? Setelah ini, dia akan pergi. Untuk apa berharap lebih?
Diandra tertawa sumbang. Meratapi nasibnya yang ternyata mengenaskan.
**
Malam Minggu ini, Dave datang lebih awal. Meminta Diandra membuat makan malam romantis dan berakhir dengan kegiatan ranjang yang brutal. Memang terlihat aneh, tapi Diandra hanya mengikuti perintah saja. Perempuan itu tak pernah berpikir jika makan malam ini untuk perayaan atau untuk dirinya, tapi kejadian setelah itu yang terpenting untuk Dave. Kegiatan ranjang yang panas.
Dan pagi harinya, ada yang berbeda. Dave menetap hingga pukul delapan pagi, bahkan dia mengundang temannya untuk datang ke apartemen.
Bahan makanan yang habis, membuat Diandra harus berbelanja.
Hingga setengah jam kemudian, dia kembali dari minimarket yang dekat dengan apartemennya.
Suara berisik, Diandra dengar dari balkon, ternyata teman-teman Dave sudah datang.
Samar-samar, Diandra mendengar namanya disebut.
"Enak lu tinggal ma jalang itu!"
Terdengar suara tawa menggelar.
"Padahal tiap malam jajan, ini masih tidurin juga si jalang itu."
"Emang anjir Dave. Kuat banget."
Dave tidak menanggapi. Dia terlihat hanya mengisap rokok dan tersenyum. Terkesan membenarkan perkataan teman-temannya.
"Sampai kapan pelihara jalang itu?"
Pertanyaan dari salah satu teman Dave membuat Diandra berang. Apalagi dia mendapatkan fakta jika Dave tidur dengan perempuan lain selain dirinya.
Baiklah, untuk peraturan Dave dan sikap dinginnya, Diandra bisa menerima. Tapi untuk perselingkuhan? Tidak! Masa lalu Diandra yang kelam bergelayut di kepalanya. Dia benci pengkhianatan! Sangat benci!
"Nanti kalau gue dah puas, baru lepasin!" Dave kembali sibuk dengan nikotinnya.
Diandra melempar belanjaan di sembarang tempat. Mendekati Dave dengan langkah gontai juga menahan air mata, Diandra menegarkan dirinya.
"Nggak usah nunggu nanti. Kita akan cerai sekarang, Dave! Detik ini juga!"
Semua terkejut dengan kedatangan Diandra. Termasuk Dave.
Dave tertawa meremehkan. "Baiklah, Diandra Natasha. Aku kabulkan permintaan kamu. Kita cerai sekarang!"
Anda Mungkin Juga Suka





