
Belenggu Cinta
Bab 2
Ternyata, Yohan malah mengatakan hal yang di luar dugaanku.
Aku tidak tahu kenapa dia semarah ini, "Iya, benar."
Yohan mau marah besar, tapi dia menahannya, "Kalau kamu masih marah soal penghargaan itu, kamu tetap nggak seharusnya melampiaskan kemarahanmu pada anakmu!"
Aku langsung tersulut emosi mendengarnya.
Aku sudah berkecimpung di industri ini selama delapan tahun, dan sudah lima kali dicalonkan sebagai penerima penghargaan Aktris Terbaik.
Dan akhirnya aku bisa mendapatkan gelar Aktris Terbaik, tapi Yohan malah membantu Maudy untuk merebutnya dariku.
Gara-gara itu, penggemar Maudy mengolok-olokku dan menyebutku sebagai aktris spesialis peran pembantu yang tidak pernah mendapat penghargaan.
"Aku melakukannya bukan karena marah. Aku melakukannya karena kita kan akan bercerai, jadi buat apa punya anak. Aku juga sudah meminta pengacara untuk menyiapkan surat cerainya, dan besok akan dikirimkan. Kamu tinggal tanda tangan saja."
Yohan yang memang bertemperamen buruk ini makin tidak bisa menahan emosi.
"Kamu seharusnya nggak perlu sampai seperti ini hanya karena sebuah penghargaan Aktris Terbaik. Kalau kamu memang sangat menginginkannya, aku akan memberikannya padamu tahun depan. Kita akan membahas hal yang lain setelah kamu jauh lebih tenang."
Aku sudah pergi aborsi dan meminta cerai, Yohan sama sekali tidak terpikir untuk meminta maaf ataupun mengakui kesalahannya. Dia malah mengambil kunci mobil dan pergi.
Seperti biasa, dia memang tidak peduli seberapa besar rasa sakit yang kualami. Dia selalu meninggalkanku dan membiarkanku menghadapi semuanya sendirian.
Dia pasti mengira, sebentar lagi aku akan bergegas menemuinya dan meminta damai.
Tapi, kali ini dia tidak tahu kalau hal itu tidak akan terjadi lagi.
Aku sudah kehilangan kedua orang tuaku sejak kecil. Aku hanya bergantung pada kakakku untuk bertahan hidup.
Kemudian, kakakku didiagnosa menderita penyakit ginjal. Ibu Yohan membantu membiayai operasi kakakku, dan juga membiayaiku melanjutkan pendidikan.
Aku sangat berterima kasih padanya. Demi membalas kebaikannya, aku rela mengawasi Yohan belajar di sekolah, menemaninya saat patah hati, hingga akhirnya menikah dengannya.
Ibu Yohan bilang, jika sepuluh tahun setelah pernikahan ini aku masih tidak punya perasaan untuk anaknya. Dia tidak akan memaksaku lagi.
Sekarang, batas waktunya sudah tiba.
Pagi-pagi sekali, pengacara datang dengan membawakan surat cerai.
Aku menelepon Yohan, tapi tidak ada jawaban.
Aku pun memutuskan untuk mengirimkan surat cerai dalam bentuk digital padanya.
[ Baca ini, kalau nggak ada masalah, pulang dan tandatangani. ]
Usai mengirimkan pesan tersebut, muncul tanda seru merah di layar.
Dia lagi-lagi memblokir nomorku.
Dia selalu melakukannya setiap kali kami ada masalah. Tidak peduli dia yang salah, tetap aku yang harus melakukan segala cara untuk menenangkannya.
Dia sudah lama terbiasa denganku yang selalu mengejar-ngejarnya.
"Menyebalkan! Untung saja bisa cerai darinya, aku jadi nggak perlu terus bersabar lagi!" Aku merasa sedikit lega.
Tapi, Yohan sama sekali tidak pulang ke rumah selama tiga hari berturut-turut. Dia justru terang-terangan menemani Maudy belanja di mal, berjalan di karpet merah sebuah acara, hingga beberapa kali jadi trending topik.
Orang-orang di dunia maya menyebut hubungan mereka makin dekat.
Sudah empat hari dia tidak pulang, dan aku sudah kehilangan kesabaran. Aku pergi ke pesta ulang tahunnya untuk menemuinya.
Yohan hanya mengundang teman-temannya, dan acara pesta ulang tahunnya diadakan di salah satu vila miliknya.
Aku membuka pintu dan masuk, membuat semua orang langsung menoleh ke arahku.
Maudy tampak tertawa sinis, "Sudah nggak bisa duduk diam lagi, ya?"
Orang-orang yang lain ikut tertawa mengejekku.
"Maudy bilang, Ziva mengancam mau menceraikan Pak Yohan dan berharap bisa dapat harta gono-gini. Sayangnya, Pak Yohan mengabaikannya."
"Kak Yohan nggak akan mempan diancam seperti itu. Sekarang, Ziva pasti takut Kak Yohan benar-benar mau menceraikannya, makanya mau datang merayunya lagi?"
"Kak Yohan kan sukanya Maudy, tapi Ziva terus saja mengganggunya. Dia memanfaatkan orang tua Kak Yohan, makanya mereka bisa menikah. Kalau aku jadi dia, aku akan diam saja. Mana berani aku bertingkah setiap hari!"
Teman-teman Maudy jelas akan mendukungnya.
Sedangkan teman-teman Yohan, mereka menganggapku lelucon karena sikap dingin pria itu padaku.
Aku tidak mau buang-buang waktu dan banyak bicara, jadi langsung saja berterus terang, "Mana Yohan?"
"Siapa yang mengizinkanmu datang ke sini?"
Suara dingin Yohan terdengar dari belakang.
Dia lalu berjalan ke samping Maudy.
Seseorang di antara mereka pun mengejekku, mereka menungguku dijadikan bahan tertawaan.
Aku tidak memedulikan mereka, dan langsung berkata pada Yohan, "Ada sesuatu yang perlu kubicarakan denganmu."
Dia merupakan bos dari ST Entertainment, dan sebuah skandal dapat memengaruhi nilai saham perusahaan.
Aku juga salah satu pemegang saham utama di perusahaan, dan enggan terang-terangan mempermalukannya. Makanya, aku mau bicara berdua saja dengannya.
Tapi Yohan jelas tidak mau menunjukkan sedikit respek padaku, "Katakan saja langsung. Tapi kamu nggak perlu mengatakan apa-apa kalau memang kamu menyesal dan mau rujuk. Aku mau saja kita nggak jadi cerai, tapi ini adalah terakhir kalinya kamu boleh membuat keributan seperti ini!"
Aku sudah berusaha menghormatinya, tapi dia malah menghinaku. Sekarang, buat apa aku harus menghormatinya lagi?
"Aku nggak mengenal kata menyesal dalam kamusku."
Aku mengeluarkan surat cerai dari dalam tas dan menyerahkannya padanya, "Tandatangani!"
Yohan tidak menerimanya, malah menatapku dingin, "Kamu mau aku menandatanganinya? Lalu kamu akan cari masalah lagi selama proses perceraian? Ziva, aku nggak punya waktu untuk main-main denganmu!"
Aku kesal dengan sikap sok tahu dan egoisnya, "Tenang saja, kamu bicara begitu karena mengira aku menyukaimu. Tapi dari SMA sampai sekarang, aku tetap berada di sampingmu hanya demi balas budi!"
"Sekarang, batas waktu sepuluh tahun yang sudah aku sepakati dengan ibumu sudah habis. Aku nggak akan terlibat dengan urusanmu sama sekali setelah ini. Kamu menyebalkan, dan aku juga sudah muak dengan hubunganmu bersama Maudy. Kamu selingkuh dan melakukan kekerasan psikis dalam rumah tangga. Aku membencimu."
Kukira, Yohan akan menandatangani surat cerai itu setelah aku jujur seperti ini.
Apalagi, dia juga menyukai Maudy, dan sudah beberapa kali bilang membenciku yang jadi istrinya.
Tapi ekspresinya malah makin suram setiap kali aku bicara begini.
Dia seperti tidak percaya, sekaligus takut dan cemas.
Akhirnya, tatapannya berubah jadi tajam dan seolah mau memakanku hidup-hidup.
Anda Mungkin Juga Suka





