
Beetwen love and hate
Bab 2
Mobil Luna menerobos panasnya jalanan. Membelah kota, hatinya kesal. Bahkan jari- jari mencengkeram kemudi setir dengan keras. Kesal, shock akan perlakuan Hendra, Di usir bak binatang yang menjijikan. Berkali- kali memukul meluapkan kekesalanya.
Dari hati yang terdalam Luna merindukan kasih sayang Hendra Pujian, dan kata cinta selalu mengiringi hari- harinya. Pelukan hangat tak pernah lepas dari sang kekasih saat bertemu, di tambah lagi kecupan manis di puncuk kepalanya yang tak luput dari bibir manis Hendra.
Luna meminggirkan mobilnya saat
Suara ponsel mengagetkanya. Nama Steven tertera di layar ponsel. Luna mendengus kesal, ia memilih mengacuhkanya. Sedetik kemudian suara ponsel kembali berdering. Luna sengaja mematikanya.
"Huuh-ganggu saja!" gerutu Luna kesal.
Steven adalah kekasih Luna, namun sengaja ia menjauh dari laki-laki itu. Ia ingin fokus mendapatkan cinta Hendra kembali.
Luna menyesal telah meminggirkan mobilnya. Kembali ia gas mobilnya kembali ke Apartemen. Sampai di di parkiran Apartemen, bayangan sikap Hendra bersilewan di kepala. Hatinya tak Terima, namun mencoba bersabar.
Luna meraih tas kecil dan menentengnya.
Kakinya melangkah masuk ke dalam lift. Setelah sepuluh menit akhirnya Ia sampai di depan pintu apartemenya. Kartu di tempel di pintu, pintu lift terbuka. Dengan langkah gontai ia duduk di sofa empuk itu. Memejamkan mata sejenak.
"Apa Hendra sudah punya pacar?" Luna bergumam sendiri, ia teringat Andi lalu meraih ponsel dan menghubunginya.
Panggilan tersambung tapi tak di angkat. Tapi Luna tak putus asa, jemari lentiknya mengirimkan pesan untuk Andi. Luna ingin segera bertemu Andi. Ingin menanyakan semua tentang Hendra. Tak ingin menyimpan ganjalan itu di hati.
Luna: [Andi, temui aku nanti malam. Di Kafe Star.] Luna. send ke nomer Andi.
Luna menghela napas panjang. Sedikit hilangkan kesal yang mengunung.
***
Ting..
Dari nomer tak di kenal. Kening Andi berkerut menatap layar ponselnya. Ada pesan masuk dari nomer tak di kenal.
Andi: 'Ooh dari Nona Luna, ada apa nih ngajak ketemuan?'
Andi berpikir sejenak, Tapi segera memasukan kembali ponselnya dan tak membalas pesan dari Luna.
Di Kafe Star.
Waktu malam tiba, Mentari berganti bulan. Bintang- bintang di atas sana bersinar. Malam ini di langit bulan purnama memancarkan pesonanya, sangat indah. Suasana terasa sangat syahdu. Tapi tidak untuk Luna, hatinya galau, gusar dan was- was menunggu kedatangan Andi. Saat ini Luna udah berada di Kafe Star. Di depanya ada jus Strawberry yang sudah mulai mencair esnya. Netranya sesekali melihat keluar berharap Andi akan datang. Hampir setengah jam menunggu kehadiran Andi. Namun batang hidungnya belum juga nongol.
Ia mengambil ponselnya dari tas, jarinya memencet nomer Andi. Panggilan tersambung namun tak respon. Luna mendengus kesal. Menunggu adalah hal yang paling menjemukan bagi siapapun.
'Iissh, kemana sih Andi, lama banget!'
Luna mulai kesal, apalagi jarum jam merangkak meninggalkan angka tujuh.
Di saat gelisah memuncak menunggu, Tak sengaja matanya menangkap seseorang yang di nanti. Laki-laki tinggi berbadan sixpack memakai kaos panjang hodie hitam menghampiri Wajahnya dingin datar menatap Luna.
Lalu menarik kursi dan duduk di depanya. Luna lega akhirnya Andi datang.
"Ada apa Nona mengundangku?" tanya Andi.
Andi ingin to the point, tak ingin basa-basi dengan mantan pacar bosnya itu.
"Mau minum apa Andi, biar aku pesankan!" ujar Luna basa-basi.
"Nggak usah Nona, aku nggak haus!" Andi menolak tawaran Luna.
Sebenarnya ia malas untuk datang namun Andi paksakan menemui Luna. Penasaran menghantui jiwanya.
Luna mendesah. Padahal ia ingin berbaik hati sama Andi.
"Aku ingin bertanya padamu, apa Hendra sudah punya pacar?" tanya Luna akhirnya to the point.
Luna to the point, tak ingin bertele-tele. Walau hatinya bergejolak.
Mendengar itu Andi tertawa memperlihatkan giginya yang putih. Lalu sejenak menatap Luna tajam.
"Apa kau cemburu Nona Luna!" Andi mengejek Luna, bibirnya ia naikkan sebelah. Dalam hati Andi sangat puas mendengar itu.
Luna mengepalkan tangannya, giginya gemelatuk. tanganya Reflek memukul meja.
"Jawab saja Andi!" Luna kesal. Matanya melotot.
Andi menatap datar wajah Luna, melipat kedua tangan di dada.
"Pikir sendiri, Nona!" Andi bangkit lalu meninggalkan Luna sendiri.
"Awas kau, kalau aku kembali ke pelukan Hendra, kau orang pertama yang ku pecat!" Luna teriak hingga terasa suaranya akan habis.
Orang- orang di sekitarnya kaget mendengar teriakan Luna. Bahkan mereka ada yang bisik- bisik membicarakan tentang Luna.
Tanpa membalik badan Andi berkata, "Silakan Nona."
Andi melangkah tegap menuju ke dalam mobilnya. Tak peduli ancaman Luna, melajukan mobil menuju rumahnya.
Luna menyesap jus strawberry di depannya. Hatinya panas, tak ingin jadi perhatian orang ia beranjak. Kaki jenjangnya melangkah ke dalam mobil, tancap gas menuju ke Apartemennya. Sampai di Apartemen Luna membanting apa saja di temui. Guci yang berada di pojokan ia tendang. Rasa sakit di kaki tak di hiraukanya lagi, yang penting rasa sakit hatinya terlampiaskan. Pecahan guci berserakan.
Lemari hias tak luput dari sasaran amukannya. Ia meraih gelas dan piring di banting ke lantai.
Suara pecahan kaca mengema di ruangan ini.
Pecahan gelas kaca berserakan di lantai. Luna terduduk dan menangis.
"Huhuhuuu---" Menarik rambutnya sendiri hingga awut- awutan. Emosi Luna menjalar ke ubun- ubun. Bahkan beberapa kali sumpah serapah keluar dari mulutnya.
"Awas kau Hendra, Andi. Akan ku balas kalian!" teriak Luna keras mengelegar di ruangan ini. Untung apartemen Luna kedap suara, tak ada tetangga yang mendengar suara Luna.
****
Hendra duduk di balkon teras apartemen. Di depannya ada segelas wine keluaran terbaru. Baru saja dapat kabar dari Andi kalau Luna mencari tau kenapa bisa berubah drastis padanya? Hendra mencibir mendengar kabar itu namun tak di hiraukan.
Angin malam bertiup sepoi, menembus kulit Hendra. Sentuhan angin mengingatkan luka yang di torehkan sosok Luna. Luka itu berhasil mencabik- cabik perasaanya hingga membuat Hendra tak percaya arti cinta. Torehanya sangat dalam hingga ia sangat membenci gadis bernama Luna Gayatri itu.
Setelah tersadar dari lamunanya. Ia menelfon Andi.
Hendra: [ Andi, kalau Luna tanya aku
sudah punya kekasih, jawab
saja sudah].
Andi : [Baik Tuan].
Sedetik kemudian Hendra menutup panggilanya dan Meletakkan ponselnya di atas meja. Ia kembali menyesap Wine di hadapannya lalu kembali meletakan di atas meja. Memejamkan matanya sebentar. Sakit di hatinya kembali menyapa. Sekuat tenaga hilangkan dari jiwanya tak ingin rasa itu membuatnya rapuh dan putus asa.
Menyesap wajahnya sebentar, merinding mengingat nasibnya yang tak seberuntung orang lain, bisa menjalin kasih hingga usia senja. Padahal punya wajah sempurna dan harta melimapah, namun tak menjamin di hargai wanita.
Kini kantuk dan pusing mulai menyerang, apalagi satu botol wine telah tandas ke tubuhnya. Ia melangkah ke kamar dan merebahkan diri di atas bednya.
Hendra menarik napas dalam dan meletakan kembali ponselnya di atas nakas. Lalu tangannya meraih remot kamar dan mematikan lampu. Waktu berputar cepat. Sinar mentari pagi pun datang.
Mata Hendra silau saat sinar itu masuk ke celah kamarnya. Mengejap beberapa kali mengumpulkan kesadaran seketika teringat ada rapat di kantor, Hendra gegas bangkit. Ritual mandi pagi ia lakukan secepat kilat setelah siap menuju ke mercedest metalic kesayangannya.
Hendra sampai di kantor, Andi menemui di ruangannya.
"Kau bertemu Luna, Andi?" tanya Hendra.
"Iya, dia ingin tau apa Tuan sudah pacar?" jawab Andi.
"lalu, apa Luna percaya?
"Sepertinya percaya Tuan." jawab Andi.
"Awasi Luna, jangan sampai dia menganggu hidupku lagi!" perintah Hendra tegas.
"Baik Tuan."
Hendra sangat membenci Luna. Cinta di hatinya menguap tak tersisa, hanya ada kebencian yang bersarang.
Apa yang akan di lakukan Luna, untuk meraih cinta Hendra kembali?
Bersambung.
Anda Mungkin Juga Suka





