
Bayangan Luka di Balik Seragam Putih
Bab 3
Langit malam menggantung kelam tanpa bintang.
Hanya sesekali bulan muncul malu- malu di balik awan tebal yang menggulung seperti arus ombak di lautan.
Angin malam berembus dingin, menyapu jalanan kota dan menyusup ke sela-sela jaket Aldian.
Namun tak ada sedikitpun raut gentar di wajahnya. Matanya justru tampak lebih tajam dari biasanya-seperti mata pemburu yang telah mengunci targetnya.
Dengan langkah tenang tapi mantap, ia berjalan menelusuri gang belakang sekolah, tempat di mana pagar besi setinggi dada tak terlalu sulit untuk dipanjat.
Tangannya cekatan menarik tubuhnya ke atas, lalu melompat masuk ke dalam area sekolah yang telah gelap dan sunyi total.
Tak ada suara selain derik ranting pohon dan suara gesekan daun kering yang terseret angin.
Gedung sekolah itu berdiri dalam diam, tampak seperti raksasa tua yang sedang tertidur lelap.
Aldian berjalan menyusuri sisi utara bangunan, melewati taman kecil yang penuh tanaman menjalar dan semak yang sudah tak terurus.
Tujuannya kali ini jelas, ruang guru di sayap kiri gedung.
Bangunan itu biasanya ramai di pagi dan siang hari, tapi malam ini sepi seperti kuburan.
Tidak ada lampu yang menyala di koridor. Bahkan suara langkahnya yang pelan sekalipun terdengar menggema menampar dinding lorong dengan tajam.
Sayap kiri gedung terletak agak terpisah dari ruang kelas utama.
Jalur menuju ke sana melewati sebuah jembatan kecil di atas kolam hias yang sekarang airnya kotor dan nyaris tak bergerak.
Aldian melangkah melewatinya tanpa ragu, bahkan ketika kayu lantai jembatan itu berderit lirih dibawah telapak sepatunya.
Ia tiba di depan pintu kaca ruang guru. Terkunci, seperti dugaannya.
Namun Aldian tak kehabisan akal. Ia mengeluarkan pin kecil dari saku jaketnya-alat seadanya yang biasa dipakai gengnya untuk hal-hal seperti ini.
Dengan keahlian yang telah diasah sejak remaja, hanya butuh beberapa menit sebelum kunci itu berdecit dan pintu terbuka perlahan.
Aroma ruangan yang tertutup lama menyeruak keluar- perpaduan kertas lama, tinta, dan jejak parfum yang tersisa di udara.
Tak ada rasa takut dalam diri Aldian.
Yang ada hanya tatapan tajam, dan dorongan dalam hati yang semakin membara.
Aldian melangkah masuk, membiarkan pintu menutup pelan di belakangnya.
Jari- jarinya menyusuri setiap meja, membuka laci demi laci, membaca setiap kertas yang menurutnya mencurigakan.
Malam ini bukan hanya tentang pencarian bukti.
Ini tentang kebenaran yang harus digali dari tempat paling gelap- tanpa peduli seberapa dalam ia harus masuk, dan seberapa gelap malam yang mengelilinginya.
Aldian menghela napas kasar, keringat dingin mengalir dari pelipisnya meski udara malam begitu menggigit.
Tangannya yang cekatan sudah mengobrak-abrik hampir semua laci, lemari, dan tumpukan berkas di ruang guru itu- tapi hasilnya nihil.
Tak ada dokumen mencurigakan. Tak ada catatan jadwal yang terlihat janggal. Tak ada surat.
Bahkan tidak satu foto pun yang bisa membuka sedikit celah atas apa yang ia curigai selama ini.
"Sial..." gumamnya pelan, nyaris tak terdengar, tapi nadanya penuh kejengkelan.
Kepalanya tertunduk sejenak, tangan mengepal kuat di sisi meja.
"Seberapa rapih mereka menyembunyikan semuanya? Kenapa gak ada jejak sama sekali?" Kata Aldian dengan penuh kemarahan.
Kemarahan menyesak di dadanya. Ia ingin menghancurkan sesuatu- melempar kursi, menjungkirkan meja- tapi dia tahu, satu suara saja bisa membongkar kehadirannya di tempat ini.
Lalu...
Tap... Tap... Tap...
Langkah kaki. Berat. Teratur. Mendekat.
Aldian reflek membeku. Napasnya terhenti sepersekian detik. Ia menajamkan telinga, memastikan suara itu bukan hanya ilusi. Tapi langkah itu semakin dekat- dan berhenti tepat di depan pintu ruang guru.
Satpam.
Tanpa membuang waktu, Aldian bergerak cepat.
Ia melompat ke balik lemari arsip yang sedikit terbuka dan cukup besar untuk menyembunyikan tubuhnya. Nafasnya tertahan, jantung berdetak kencang tak terkendali.
Ceklek.
Gagang pintu dicoba. Terkunci.
Tok. Tok. Tok.
"...Ada orang?" suara berat satpam memecah keheningan. Tak ada jawaban.
"Baru aja tadi aku liat kayak ada bayangan masuk..." gumamnya pada dirinya sendiri.
Satpam itu menempelkan wajah ke kaca pintu, mengintip ke dalam ruangan. Mata tuanya menyipit, mencoba menerobos gelapnya interior ruang guru.
Tapi tak ada gerakan. Tak ada bayangan. Tak ada suara.
Setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya bagi Aldian, langkah kaki itu menjauh, kembali menyusuri lorong.
Satpam itu tampaknya menyerah dan melanjutkan patroli malamnya.
Begitu suara langkah menghilang, Aldian keluar perlahan dari tempat persembunyiannya.
Dengan cekatan dan penuh kehati- hatian, ia menutup kembali laci- laci yang sempat ia buka, merapikan sedikit agar tak meninggalkan jejak yang mencolok.
Dia tahu betul, satu ketidakteraturan bisa menimbulkan kecurigaan.
Dalam diam, ia meninggalkan ruang guru, menyelinap kembali melewati lorong gelap, menyeberangi jembatan kecil, dan keluar dari pagar sekolah yang tadi ia panjat.
Semua dilakukan dalam senyap, seolah angin malam sendiri yang membawanya pergi.
Meski tidak menemukan bukti apa- apa, malam itu justru semakin membakar tekad Aldian.
"Mereka pikir bisa sembunyi selamanya? Kita lihat saja..."
Langkah kaki Aldian terdengar lemah saat ia mendorong pintu rumahnya yang sederhana.
Kunci pintu bergemerincing sebelum akhirnya mengatup rapat di belakangnya. Malam sudah larut, tetapi mata lelaki itu masih menyala-bukan karena kantuk, tapi karena bara dalam hatinya yang belum juga padam.
Ia berjalan tanpa suara menuju ruang tamu, lalu menjatuhkan diri di kursi kayu panjang yang menghadap jendela.
Udara malam masih tersisa, dingin merambat masuk lewat celah ventilasi.
Aldian memejamkan mata, mencoba meredakan denyut sakit di lengannya yang terbalut perban.
Namun seketika, dalam gulita itu.
Wajah gadis berkuncir kuda, muncul begitu jelas.
Wajah yang lembut, polos... tapi juga penuh kepedulian.
Senyum sederhana yang muncul ketika gadis itu menjelaskan letak ruang Tatap Usaha.
Senyum yang tidak seharusnya mengganggu pikiran Aldian sekarang.
Aldian mendengus, mengusap wajahnya kasar dengan tangan satunya.
"Kenapa sekarang malah dia yang muncul di kepala gue..." gumamnya rendah, hampir seperti gerutuan.
Bayangan wajah gadis itu menari dalam pikirannya, mengaburkan batas antara kenyataan dan niat dendamnya yang telah lama ia pelihara.
Tapi ia menepis perasaan itu.
"Enggak... ini bukan waktunya goyah," bisiknya pada diri sendiri, tajam.
"Gue harus balas semua yang mereka lakuin ke adik gue... Harus."
Ia membuka matanya perlahan, menatap kosong ke langit- langit rumah. Matanya tak menyala karena emosi, melainkan penuh dengan tekad dingin.
"Sekalipun, Ratih dan keluarganya harus ngerasain luka yang sama..."
Aldian menggenggam ujung sandaran kursi kuat- kuat, hingga sendi- sendi jarinya memutih.
" Kalau perlu- gue akan pastikan mereka semua ngerasain yang adik gue rasain."
Udara malam makin menusuk, tapi tubuh Aldian tetap tak bergerak. Dingin tak mempan untuk membekukan dendam yang mulai mendidih lagi dalam nadinya.
Dan di tengah keheningan itu, hanya ada satu yang tersisa yaitu niat untuk menghancurkan.
Anda Mungkin Juga Suka





