Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel BAYANGAN CINTA DI MASA SILAM

BAYANGAN CINTA DI MASA SILAM

Alia mengemudikan mobilnya dengan perlahan, melintasi jalanan berliku di tengah hamparan kebun teh yang luas. Harum tanah basah dan pucuk daun yang berpadu dengan sejuknya embun pagi seketika membangkitkan kenangan lama dalam benaknya. Setelah sekian lama merantau, ini adalah momen pertamanya kembali menginjakkan kaki di tanah kelahirannya. Perjalanan ini bukan sekadar pulang, melainkan sebuah pertemuan kembali dengan memori masa lalu yang telah lama ia tinggalkan.
Bab
Bagikan

Bab 1

Mobil Alia melaju perlahan menelusuri jalan berkelok yang membelah perkebunan teh hijau membentang luas. Aroma tanah basah dan daun teh bercampur dengan embun pagi, membangkitkan nostalgia dalam dirinya. Sudah bertahun-tahun sejak terakhir kali ia menginjakkan kaki di kampung halamannya ini.

Alia, wanita karir sukses di Jakarta, kini kembali ke desa kecil tempat ia dibesarkan. Keputusan mendadak ini diambilnya setelah menerima kabar duka tentang meninggalnya sang nenek. Rasa kehilangan dan kerinduan menggerogoti hatinya, memaksanya untuk kembali ke tempat yang menyimpan begitu banyak kenangan.

Seiring mobil mendekati rumah neneknya, ingatan masa kecil bermunculan dalam benaknya. Ia teringat bermain petak umpet di halaman rumah, berlarian di sawah bersama Raka, dan menikmati sore hari dengan duduk di teras sambil mendengarkan cerita nenek.

Raka, cinta pertamanya. Sosok yang selalu hadir dalam mimpi-mimpi Alia, meskipun sudah bertahun-tahun mereka tak bertemu. Raka, pemuda sederhana dengan senyum yang selalu berhasil membuat hati Alia berdesir.

Alia menghentikan mobil di depan rumah neneknya. Rumah kayu tua itu masih berdiri kokoh, meskipun tampak sedikit usang. Ia turun dari mobil, matanya tertuju pada taman kecil di depan rumah. Taman yang dulu dipenuhi bunga-bunga warna-warni, kini hanya tersisa beberapa tanaman kering.

"Alia?"

Suara itu membuat Alia tersentak. Ia menoleh dan mendapati seorang pria paruh baya berdiri di ambang pintu. "Pak Darto?" tanyanya.

"Ya, Alia. Kamu sudah datang." Pak Darto tersenyum hangat. "Nenekmu sudah dimakamkan kemarin. Kamu datang terlambat."

Alia mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Maaf, Pak. Saya baru bisa datang sekarang."

Pak Darto menuntun Alia masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu, Alia melihat beberapa kerabat neneknya sedang berkumpul. Ia menyapa mereka dengan canggung, hatinya dipenuhi rasa sedih dan kehilangan.

"Alia, kamu sudah besar. Sudah cantik sekali," kata seorang perempuan paruh baya yang Alia kenal sebagai Bu Tini, tetangga neneknya.

Alia tersenyum tipis. "Terima kasih, Bu."

"Kamu tinggal di Jakarta?" tanya Bu Tini.

"Iya, Bu. Saya bekerja di sana."

"Kerja apa, Alia?"

"Saya bekerja di perusahaan desain."

Bu Tini mengangguk, matanya berbinar. "Hebat sekali, Alia. Nenekmu pasti bangga padamu."

Alia terdiam. Ia merasakan sesak di dadanya. Ia tahu neneknya selalu bangga padanya, tapi ia juga tahu bahwa neneknya selalu berharap agar Alia kembali ke kampung halaman dan menikah dengan Raka.

"Raka bagaimana kabarnya, Bu?" tanya Alia.

Bu Tini terdiam sejenak. "Raka masih di sini, Alia. Dia masih bekerja di kebun teh. Dia masih... menunggumu."

Alia tertegun. Raka masih menunggunya? Setelah sekian tahun?

"Dia masih menunggumu, Alia. Dia tidak pernah melupakanmu," kata Bu Tini lagi.

Alia merasakan jantungnya berdebar kencang. Ia merasa seperti kembali ke masa lalu, ke saat ia masih muda dan naif, dan Raka adalah segalanya.

"Aku... aku harus menemuinya," kata Alia, suaranya bergetar.

Bu Tini tersenyum. "Ya, Alia. Temuilah dia. Mungkin ini adalah kesempatan untukmu kembali ke titik awal."

Alia mengangguk, matanya berkaca-kaca. Ia merasa seperti terjebak dalam pusaran kenangan, dan ia tidak tahu bagaimana cara melepaskan diri dari semuanya.

"Aku akan menemuinya," kata Alia, suaranya berbisik.

Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk menemuinya. Untuk kembali ke titik awal, untuk merasakan kembali cinta yang pernah mereka miliki.

Namun, ia tidak tahu bahwa pertemuan ini akan membawa banyak perubahan dalam hidupnya.

Bab 2: Pertemuan Tak Terduga

Alia berjalan menyusuri jalan setapak menuju kebun teh. Udara sejuk pagi menyapa kulitnya, membawa aroma tanah basah dan daun teh yang menyegarkan. Ia teringat masa kecilnya, saat ia dan Raka sering bermain petak umpet di antara barisan pohon teh hijau yang menjulang tinggi.

Seiring berjalan, ia mulai merasakan debar jantung yang semakin kencang. Rasa gugup dan penasaran bercampur aduk dalam dirinya. Bagaimana Raka sekarang? Apakah ia masih ingat padanya? Apakah ia masih merasakan hal yang sama seperti dulu?

Alia akhirnya sampai di sebuah gubuk kecil di tengah kebun teh. Di sana, ia melihat seorang pria sedang duduk di teras, sedang mengupas kulit kacang. Pria itu mengenakan baju kaos oblong dan celana pendek, rambutnya sedikit memutih di bagian pelipis.

"Raka?" tanya Alia, suaranya sedikit gemetar.

Pria itu menoleh, matanya terbelalak. Ia berdiri dan menghampiri Alia, wajahnya dipenuhi kekaguman. "Alia?" tanyanya, suaranya bergetar.

"Iya, aku Alia," jawab Alia, matanya berkaca-kaca.

Raka menatap Alia dengan tatapan penuh kerinduan. "Kau sudah berubah, Alia. Kau semakin cantik."

Alia tersenyum tipis. "Kau juga, Raka. Kau semakin dewasa."

Mereka berdiri terdiam, saling menatap dalam diam. Seolah-olah waktu berhenti berputar, membawa mereka kembali ke masa lalu, ke saat mereka masih muda dan saling mencintai.

"Bagaimana kabarmu, Alia?" tanya Raka, suaranya sedikit serak.

"Aku baik, Raka. Aku bekerja di Jakarta."

"Aku senang mendengarnya," jawab Raka. "Kau sukses, Alia."

"Terima kasih, Raka. Kau juga, kau masih bekerja di kebun teh?"

Raka mengangguk. "Ya, aku masih bekerja di sini. Aku tidak pernah meninggalkan tempat ini."

Alia terdiam. Ia tahu bahwa Raka selalu mencintainya, dan ia tidak pernah melupakan Raka. Namun, jalan hidup mereka telah membawa mereka ke arah yang berbeda.

"Alia, aku... aku ingin bertanya sesuatu padamu," kata Raka, suaranya bergetar.

Alia menatap Raka dengan penuh harap. "Apa, Raka?"

"Apakah... apakah kau masih mencintai aku?" tanya Raka, matanya berkaca-kaca.

Alia terdiam. Pertanyaan Raka membuatnya tertegun. Ia tidak tahu jawabannya. Apakah ia masih mencintai Raka?

"Alia, aku... aku menunggumu selama ini," kata Raka, suaranya berbisik. "Aku selalu menunggumu."

Alia merasakan air mata mengalir di pipinya. Ia terharu mendengar kata-kata Raka. Ia tahu bahwa Raka mencintainya dengan tulus, dan ia tidak pernah melupakan Raka.

"Aku... aku tidak tahu, Raka," jawab Alia, suaranya bergetar. "Aku... aku harus memikirkan semuanya."

Raka mengangguk. Ia mengerti bahwa Alia membutuhkan waktu untuk memikirkan semuanya.

"Aku akan menunggumu, Alia," kata Raka. "Aku akan selalu menunggumu."

Alia menatap Raka dengan penuh harap. Ia merasa seperti kembali ke titik awal, ke saat ia masih muda dan naif, dan Raka adalah segalanya.

Namun, ia tidak tahu bahwa pertemuan ini akan membawa banyak perubahan dalam hidupnya.

Alia duduk di teras rumah neneknya, pikirannya melayang-layang. Pertemuannya dengan Raka tadi pagi masih membekas di benaknya. Rasa haru, rindu, dan kebingungan bercampur aduk dalam dirinya.

Ia teringat masa kecilnya, saat ia dan Raka menghabiskan waktu bersama di kebun teh, bermain petak umpet, dan saling bercerita tentang mimpi-mimpi mereka. Ia teringat bagaimana Raka selalu ada untuknya, bagaimana ia selalu merasa aman dan nyaman di dekat Raka.

Namun, waktu telah berlalu. Mereka telah tumbuh dewasa, dan jalan hidup mereka telah membawa mereka ke arah yang berbeda. Alia telah sukses dalam karirnya di Jakarta, sedangkan Raka tetap tinggal di kampung halaman, bekerja di kebun teh.

Alia menatap langit senja yang mulai memerah. Ia teringat kata-kata Raka, "Aku menunggumu selama ini, Alia. Aku selalu menunggumu." Kata-kata itu membuatnya terharu, namun juga membuatnya bingung.

Ia mencintai Raka. Ia tidak pernah melupakan Raka. Namun, apakah ia masih bisa kembali ke masa lalu? Apakah ia masih bisa meninggalkan kehidupan yang telah ia bangun selama ini?

Alia teringat pada mimpi-mimpi masa kecilnya. Ia ingin menjadi desainer terkenal, dan ia telah berhasil mewujudkannya. Ia telah membangun karir yang sukses, dan ia memiliki kehidupan yang nyaman di Jakarta.

Namun, ia juga teringat pada Raka. Ia teringat pada cinta yang tulus dan sederhana yang pernah mereka miliki. Ia teringat pada kebahagiaan yang ia rasakan saat bersama Raka.

Alia merasa terjebak di antara dua pilihan. Ia harus memilih antara masa lalu dan masa depannya. Ia harus memilih antara cinta dan ambisinya.

"Alia?"

Suara Bu Tini membuyarkan lamunannya. Bu Tini menghampirinya, membawa secangkir teh hangat. "Kamu sedang memikirkan apa, Alia?" tanya Bu Tini.

Alia tersenyum tipis. "Aku sedang memikirkan masa depan, Bu."

Bu Tini mengangguk. "Masa depan memang selalu menjadi hal yang sulit untuk diputuskan. Tapi, ingatlah bahwa kamu tidak sendirian. Kamu punya keluarga dan teman-teman yang selalu mendukungmu."

Alia terdiam. Ia tahu bahwa Bu Tini benar. Ia punya keluarga dan teman-teman yang selalu mendukungnya. Namun, ia juga tahu bahwa keputusan ini harus ia ambil sendiri.

"Terima kasih, Bu," kata Alia. "Aku akan memikirkan semuanya."

Alia kembali menatap langit senja. Ia tahu bahwa keputusan yang ia ambil akan menentukan masa depannya. Ia berharap bahwa ia bisa membuat pilihan yang tepat.

Bersambung...

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CEO My Husband
8.6
Hidup Tasya berubah menjadi penuh tekanan sejak kehadiran Revan, bos barunya yang sangat menyebalkan. Sebagai CEO muda yang baru saja mengambil alih takhta perusahaan milik ayahnya, Revan terus-menerus mengusik ketenangan hidup Tasya tanpa henti. Setiap hari, Tasya harus menghadapi gangguan dari sang atasan yang membuat hari-harinya tidak pernah damai. Kisah ini mengikuti dinamika antara karyawan yang kewalahan dan bos miliarder yang dominan.
Sampul Novel DENDAM ISTRI TARUHAN
8.2
Perjanjian pranikah tak mampu melindungi Dea saat noda lipstik di baju Kevin mengungkap tabir perselingkuhan. Icha, sang pelakor, justru membeberkan fakta pahit bahwa Dea hanyalah istri taruhan hasil permainan Kevin dan kakak kandungnya. Meski awalnya berniat cerai, Dea mengubah rencana setelah tahu hartanya dikuasai sepihak oleh Kevin. Kini, Dea bangkit untuk menuntut balas atas pengkhianatan keji ini. Akankah ia berhasil menghancurkan mereka yang telah menyakitinya?
Sampul Novel DIKEJAR CINTA CEO PREMAN
8.8
Hubungan Khanza Azzahra dan Erlangga Yudistira kandas akibat penolakan ayah Zahra. Sosok Erlangga yang dianggap preman urakan dinilai tidak memiliki masa depan. Demi membuktikan ketulusannya, Erlangga pun kembali ke identitas aslinya dan bertransformasi menjadi CEO berwibawa. Namun, rintangan baru muncul saat Zahra justru dijodohkan dengan pria bernama Andi. Mampukah Erlangga meyakinkan ayah Zahra dan memperjuangkan kembali cinta mereka yang terpisah?
Sampul Novel Dosa yang Tak Termaafkan
8.9
Dewi menemukan bukti perselingkuhan suaminya melalui tumpukan bon belanja barang wanita dan tiket bioskop yang mencurigakan. Meski ia berusaha berbicara dengan suara lirih, amarah besar terlihat jelas saat ia mengonfrontasi pengkhianatan yang terulang kembali. Dewi menegaskan bahwa batas kesabarannya telah habis; ia tidak akan memberi kesempatan kedua setelah peringatannya diabaikan. Hubungan pernikahan mereka kini berada di ambang kehancuran total.
Sampul Novel Kau Ingkar Janji, Kunikahi Kakakmu!
8.9
Dicampakkan di hari pendaftaran nikah setelah lima tahun menjalin hubungan, Nayla yang murka memutuskan menikahi Simon, kakak kandung mantan pacarnya. Simon adalah pewaris takhta Keluarga Jatmiko sekaligus raksasa keuangan global yang disegani. Meski awalnya asing dan dingin, Simon justru sangat memanjakan Nayla sebagai istrinya. Saat mantan kekasihnya menghina Nayla, Simon tidak tinggal diam dan membelanya dengan keras. Bertahun-tahun kemudian, barulah terungkap bahwa Simon sebenarnya telah menyimpan rasa cinta rahasia kepada Nayla selama sepuluh tahun.
Sampul Novel Kubeli Kesombongan, Gundik Suamiku
8.7
Keysa adalah istri dari seorang abdi negara yang juga berprofesi sebagai dosen serta influencer. Namun, kehidupannya terusik saat ia harus berhadapan dengan Risa, seorang wanita kaya raya yang diduga menjadi selingkuhan suaminya. Meski Risa sangat sombong dengan kekayaannya, Keysa justru bangkit menjadi sosok yang jauh lebih tangguh. Mampukah Keysa membungkam kesombongan Risa dan memenangkan persaingan ini? Simak perjuangan Keysa yang penuh emosi.