
Barter libido yuk, say !
Bab 3
"Pasti. Siapa namamu ?"
Kenny menatap tajam wajah pucat pasi pelayan yang berdiri di hadapannya.
"Beno. Nama saya beno. Sebaiknya anda jangan buka pintu ini tapi lewatlah pintu rahasia di belakang, tuan Kenny !"
Beno menatap Kenny dengan tatapan yang sulit di cerna.
"Ya, Beno."
Kenny mengangguk dengan pasti, hatinya berdebar-debar tidak karuan seiring dengan firasat buruk yang menyeruak di pikirannya.
"Tolong jangan bersuara, tuan !"
Beno melihat sepasang sepatu Kenny.
"Baiklah, Beno !"
Kenny tahu maksud Beno, jangan sampai ada yang mendengar suara sepatunya. Mereka berdua berjalan memutar lewat belakang dan berhenti di depan pintu yang tertutup rapat. Perlahan Beno mengeluarkan sebuah kunci dari kotak yang tergantung di atas pintu.
"Silahkan masuk, tuan ! Saya menunggu anda di luar sini !"
Beno membuka pintu perlahan tanpa suara. Kenny menoleh padanya dan menarik nafas panjang.
"Ikutlah denganku, Beno !"
Paksa Kenny bernada pelan tapi sangat tegas penuh pemaksaan. Beno mengangguk, ia melangkah pelan menyamai langkah Kenny masuk ke dalam dan menutup pintu tanpa suara.
"Silahkan duduk, tuan !"
Beno mengambilkan kursi untuk Kenny yang masih berdiri tegak dengan kedua tangannya masuk ke dalam saku jasnya.
"Ada apa ini sebenarnya ?"
Gumamya sembari melirik Beno yang membuka jendela kecil baja yang menempel di dinding baja yang tertutup kaca film gelap.
"Anda bisa melihat orang di dalam tapi orang di dalam tidak bisa melihat anda, tuan Kenny !"
Kenny mengangguk mendengar penjelasan detail dari Beno. Di saat ia mengalihkan pandangannya ke jendela baja yang terbuka, di saat itu pula mata melotot.
"Ini tidak mungkin, Beno !"
Beno hanya terdiam tidak membalas ucapan Kenny tapi ia yakin pasti pemuda kaya raya itu mengalami kehancuran yang luar biasa dan ia tak sanggup melihat ekspresi wajah Kenny saat ini.
"Kamu menggairahkan dan menggoda sekali, Gracia sayang."
Mata indah kenny membulat sempurna tertuju pada aksi mereka berdua tidak tahu malu, benar-benar bukan main biadabnya, mereka membohongi selama ini, bahkan di hari raya perayaan tunangan Kenny Reagen dan Gracia Isidro.
"Dasar binatang, lebih baik kalian berdua mati."
Geram Kenny, sambil mengambil pistol dari saku jasnya namun buru-buru Kenny menahan tangan Kenny.
"Anda orang baik, tuan. Jangan kotori tangan anda dengan membunuh sepasang orang gila itu !"
"Tapi Bone, aku.."
Bone tersenyum dan membisikkan sesuatu pada Kenny yang tenggelam dalam lautan emosi. Mereka berdua tersenyum,
"Kamu benar, Beno !"
Cetus Kenny seraya tertawa lirih dan merangkul bahu Bone. Mereka berdua mengalihkan pandangan ke jendela baja yang terbuka.
"Aku memang penggoda, Bleiz cintaku !"
Suara genit Gracia di susul tawanya menggema di semua sudut ruang ganti baju disertai kerlingan nakal. Terdengar suara desahan keluar dari mulut Bleiz saat Gracia mengulum penisnya yang sudah menegang.
"Teruskan, Gracia !"
"Apakah kamu mau 'keluar' sekarang, bleiz ?"
Goda gracia sambil mempermainkan penis Bleiz yang makin menegang. Bleiz tertawa kecil dan menarik tubuh sintal calon tunangannya kenny.
"Ohh.. bleiz cintaku .."
Kamu yang di atasku, Gracia cantik !"
Perintahnya pada Gracia yang mulai bangkit dari kursi meja rias dan menindih tubuh bugil gracia di sambut suara manja yang membuat hati kenny makin sakit
Anda Mungkin Juga Suka





