
Bangkitnya Ahli Waris Tersembunyi
Bab 2
“Apa agenda kita malam ini?” tanya Hito.
Ia tampak sibuk dengan tabletnya sambil duduk di bangku belakang sebuah mobil super mewah.
“Tidak ada. Mungkin kau hanya mengerjakan tugas kuliah dan bersantai-santai sejenak sebelum sibuk dengan skripsi,” pikir John.
“Apa kau bisa memberitahukanku di mana rumah Adit? Aku merasa berutang padanya. Mungkin besok aku bisa mengunjunginya,” pikir Hito.
“Baiklah, aku akan mencarinya,” jawab John.
Setelah pulang dari kampus sore tadi, Hito masih saja teringat dengan kejadian di kantin fakultas yang terjadi paginya. Rasa bersalah masih menghinggapi dirinya yang hanya bisa menyaksikan Adit di olok-olok oleh sepupu dan gengnya. Padahal ia bisa saja maju dan menghentikan aksi bodoh Sena karena ia berada di sana sejak awal kejadian.
Namun Hito tidak bisa berbuat banyak karena sejujurnya ia sama sekali tidak ingin ikut campur dalam urusan sepupunya. Saat itu sebenarnya ia ingin segera masuk ke kelas bersama John, tapi saat melihat Sena menarik Adit hingga memukulinya di kantin, ia pun mengurungkan niatnya untuk ke kelas.
“Bos, sepertinya ada yang membuntuti kita,” ungkap John ketika ia mengintip dari balik spion.
“Membuntuti? Siapa?” tanya Hito. Ia pun melirik ke kaca belakang.
Tapi ketika sedang mengintip, kaca mobilnya tampak retak oleh tembakan. Sontak saja John segera menyuruh bosnya untuk duduk merunduk agar tidak terkena tembakan. Untungnya kaca mobil super mewah milik Hito dibuat tahan peluru. Tapi mobil yang membuntuti mereka tidak semudah itu melepaskan Hito dan John.
“John! Cepat kabur!” teriak Hito.
Mobil dipacu cepat di jalan tol yang tampak sepi. John terus mencoba melarikan diri dari kejaran mobil Van hitam yang terus mengejar. Tapi ketika sampai di jalan keluar tol, tiba-tiba ada beberapa mobil lagi yang mendekat dan menghimpit tubuh mobil Hito.
“Siapa mereka?!” Hito tampak terguncang. Ia berupaya keras untuk tetap sadar di tengah-tengah kekacauan.
“Bos, bantu aku! Tembak mereka!” John menyuruh Hito mengambil pistolnya.
“Aku tahu! Jangan memerintahku!” Hito segera menembaki kedua mobil di sisi kanan dan kiri mobilnya.
Sayangnya, ujung dari jalan itu adalah perbatasan sebuah dataran tinggi. Mobil Hito terus digiring menuju ke pinggir jalan hingga kedua mobil itu berhenti dan membiarkan mobil yang ditumpangi Hito melesak menuruni dataran tinggi yang kira-kira setinggi sepuluh meter itu.
“John! Awas!” Hito melihat ada pagar pembatas.
Mobilnya tak kuasa menabrak pagar beton dan terus melesak turun ke bawah. Hingga akhirnya mobil itu terbalik berkali-kali di perkebunan singkong.
Untungnya, John masih bisa sadarkan diri karena mengenakan sabuk pengaman. Tapi bosnya tampak tergeletak tidak berdaya di kursi belakang.
“Bos!” John berusaha merangkak keluar dari dalam mobil. Ia melewati jendela yang pecah. Tampak wajahnya babak belur oleh serpihan kaca yang beterbangan saat mobil terbalik berkali-kali.
“Api?” Ia melihat adanya api yang berkobar tepat di atas mobil yang terbalik. Sepertinya itu berasal dari saluran bensin yang bocor.
“Gawat! Aku harus segera mengeluarkannya!” John berusaha kembali untuk Hito. Tapi sayangnya, tubuh bosnya terperangkap. Jendela belakang tidak hancur. Alhasil, John harus memukulnya berkali-kali.
“Ayo, hancurlah!” teriak John.
Duk! Duk! Duk!
Pukulan demi pukulan ia kerahkan hingga kepalan tangannya berdarah. Tapi karena jendela itu begitu keras, John tidak punya pilihan lain selain terus berusaha. Ditambah lagi, api kian membesar dan menjalar ke tempat lain. Kala itu, tidak ada seorang pun yang membantu karena hari sudah agak malam. Ia pun menggunakan cara lain dengan menarik tubuh Hito yang tak sadarkan diri melalui jendela tempatnya melarikan diri.
“Sial! Ini tidak akan berhasil!” pikir John yang kembali masuk ke dalam.
Di lain tempat, Adit tampak menaiki kursi plastik di ruang tengah kontrakannya. Dengan tali tambang yang menggantung di langit-langit, ia memasukkan tali yang telah dibentuk melingkar itu ke kepalanya. Derai air mata Adit tampak tumpah hingga menetes ke bajunya. Matanya terlihat berkaca-kaca dan hendak melupakan semua kejadian di pagi tadi.
“Maaf, mungkin ini akhirnya.” Adit menggeser bangku yang menjadi pijakannya hingga ia terjerat oleh tali tambang dan membuat lehernya terikat kencang.
Ia kesulitan bernapas hingga tubuhnya meronta-ronta tanpa bisa berkata apa-apa lagi. Yang bisa ia rasakan hanyalah napasnya yang kian pendek. Dan lama-kelamaan kedua matanya tampak membayang dan pandangannya kian menggelap. Terlihat pupil hitam di matanya naik hingga menghilang ke atas dan hanya menyisakan putih saja.
“Maaf … Ayah, Ibu.” Dalam beberapa menit terakhirnya, Adit berimajinasi bila dirinya berada di sebuah taman luas yang begitu sejuk. Di sana ia bisa melihat kedua orang tuanya yang sedang menunggu dengan senyuman.
Tak lama kemudian, ia pun meregang nyawa di jerat tambang itu.
***
Di sisi lain, John mengetahui kalau api telah membakar separuh mobil. Ia pun tidak bisa berbuat banyak kecuali mengurungkan niatnya menyelamatkan Hito yang terjebak di bangku belakang. Ia tidak memiliki waktu lagi. John segera keluar secepatnya dari mobil dan menjauh.
DUAR!
Ledakan hebat tampak memporak-porandakan seisi mobil. Terlihat api yang berkobar sampai mengepul ke atas dan menciptakan bunyi bising yang luar biasa.
“Bos!” John berteriak sejadi-jadinya.
Tangisnya pecah di tengah kebakaran hebat itu. Pikirnya, tidak mungkin Hito bisa selamat dari sana. John pun berkali-kali berteriak meluapkan gusar hatinya dengan memukul tanah berbatu berulang kali.
“Sial! Sial! Sial!”
Di lain tempat, Sena yang berada di klub malam bersama gengnya baru saja mendapatkan kabar dari anak buah geng kenalannya. Kabar gembira kematian Hito itu langsung disambut dengan meriah oleh satu gengnya.
“Akhirnya anak sok kaya itu mampus!” ucap Daniel.
“Sepertinya besok aku akan menghadiri pemakaman sepupuku. Aku harus balik cepat untuk menyiapkan setelan jas hitam,” sindir Sena.
Di lain sisi, tali tambang yang menjerat leher Adit tiba-tiba terlepas dan menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Ia yang sudah mati tampak bernapas kembali dan membuka kedua matanya dengan menjerit tak karuan.
“John, tolong!”
Ia pun berusaha bangun. Tapi ia merasakan sakit yang luar biasa di sekitar leher.
“Apa ini? Ke … kenapa ada tali tambang yang mengikat leherku?”
Ia pun melepaskan tambang itu dari lehernya. Dengan kedua tangannya ia merasakan kalau lehernya tampak lebam dan bengkak sedikit. Lalu ketika ia berusaha berdiri dan berjalan menuju ke cermin di lemari pakaian, ia tampak bingung dengan suasana di sekitarnya.
“Ada apa ini? Ini bukan kamar atau rumahku? Di mana ini?” pikirnya.
Dan saat ia melihat dirinya di cermin, ia pun berteriak sangat keras.
“Aaaargh!”
“Kenapa wajahku berubah menjadi … Adit?!”
“Ada apa ini?! Kenapa aku ada di dalam tubuhnya?!”
Hito terus bicara dan bertanya pada keadaan. Tapi tidak ada yang bisa menjelaskannya lagi. Saat ini yang ia tahu dan ia rasakan adalah dirinya yang merasuk ke dalam tubuh Adit; si mahasiswa yatim-piatu yang miskin.
“Ini mustahil! Kenapa bisa jadi begini?!”
Anda Mungkin Juga Suka





