
Balas Dendam Seorang Adik yang Tersakiti
Bab 2
Rasa sakit di siku Aura tidak sebanding dengan perihnya harga diri yang terkoyak. Ia berdiri kaku di ambang pintu kamar mainan, mematikan. Ia telah dipermalukan dua kali dalam satu hari: pertama oleh pemilik kos yang melemparkan barangnya, dan kedua oleh suami kakaknya yang mencampakkannya setelah menghayati ciuman yang ia berikan.
Ia mendengus, mengendalikan kemarahan yang membakar. Ia harus kembali ke bawah. Ia adalah orang dewasa yang harus bertanggung jawab menjaga keponakannya. Menyimpan dendam dan hasrat anehnya pada Baskara-pria yang baru saja ia cium dan caci maki-harus ia singkirkan untuk sementara.
Aura mengambil kotak robot Optimus Prime yang tergeletak di kakinya. Ia merapikan sedikit lipatan pada dress hitamnya, menarik napas dalam-dalam, dan berjalan menuruni tangga. Ia memasang topeng senyum palsu untuk Kian.
"Tadaa! Lihat, Tante dapat mainanmu!" seru Aura ceria saat tiba di ruang keluarga.
Mata Kian langsung berbinar-binar, melupakan sejenak keterlambatan tantenya. "Yess! Terima kasih, Tante Aura! Tante memang jagoan!"
Aura meletakkan kotak itu di karpet berbulu. Kian segera merobek bungkusnya dengan antusiasme khas anak-anak, berteriak kegirangan saat melihat figur robot yang mengilap. Aura duduk di sebelahnya, menyandarkan punggungnya ke sofa.
Saat itulah ia menyadari ada sosok lain di ruangan itu. Baskara sudah berdiri, tidak lagi di meja kerjanya. Ia mengenakan setelan jas abu-abu yang begitu pas di tubuh atletisnya, membuat Aura terpaksa mengakui, meski dalam hati, betapa mempesonanya pria itu. Pria itu sudah berubah dari pekerja serius menjadi seorang CEO yang siap memimpin rapat. Aura merasakan hatinya berdesir, diikuti oleh gelombang kebencian yang langsung menenggelamkannya.
Baskara berjalan mendekati Kian. Ekspresinya masih datar, tetapi ada sedikit kelembutan yang muncul di sudut matanya ketika ia menatap putranya.
"Jagoan Papa," suara Baskara terdengar lebih rendah dari biasanya. Ia membungkuk sedikit, membuat dirinya sejajar dengan Kian. "Papa harus pergi sekarang. Ada rapat penting sampai malam."
Kian yang tadinya sangat fokus pada robot barunya, mendongak. Kebahagiaan di wajahnya meredup.
"Papa pergi lagi?" tanya Kian, nada suaranya terdengar merajuk.
Baskara mengangguk. Ia mengangkat tangan dan dengan lembut mencium kening Kian. Sentuhan itu sangat kontras dengan cara ia menjatuhkan Aura beberapa menit yang lalu.
"Iya, Sayang. Pekerjaan. Ada banyak hal yang harus Papa urus di kantor," jawab Baskara sabar. "Tapi nanti malam, Papa usahakan telepon Mama agar kamu bisa bercerita tentang robot barumu ini, ya?"
Kian mendorong robotnya ke karpet dengan sedikit kasar. "Papa sibuk terus. Mama juga sibuk terus. Kian mainnya sama Bi Inah atau Kak Wulan. Sekarang ada Tante Aura. Tapi Papa sama Mama enggak pernah main lama-lama sama Kian."
Pernyataan lugu Kian menusuk hati Aura, tetapi seolah tidak mempan pada Baskara. Pria itu hanya berdiri tegak kembali.
"Papa bekerja keras untuk masa depan Kian, Nak. Itu sama saja seperti bermain, hanya saja mainan Papa lebih besar," ujar Baskara, mencoba menjelaskan dengan cara yang rumit bagi anak seusia Kian. Ia melirik sekilas ke arah Aura. Tatapan itu cepat dan tanpa emosi, namun cukup untuk membuat Aura merasakan dinginnya penghakiman.
"Tante Aura, Papa dan Mama memang begitu. Selalu sibuk. Rumah ini besar, tapi Kian sering sendirian," bisik Kian pada Aura, seolah memberinya informasi rahasia.
"Maafkan Papa, Nak," kata Baskara, sedikit tertekan. Ia kemudian menoleh ke Aura, tatapannya kini berubah menjadi formal dan otoriter.
"Aura," panggilnya. Aura mendongak, merasakan perlawanan otomatis dalam dirinya. "Saya sudah meminta Bi Inah untuk menyiapkan makan siangmu dan Kian. Tugasmu adalah memastikan dia tidak rewel dan tidak keluar dari area rumah. Dan jangan ajari dia hal-hal yang tidak-tidak. Jaga sikapmu."
Kata-kata "jaga sikapmu" ditekankan, jelas merujuk pada insiden ciuman di lantai atas. Aura mengepalkan tangannya di balik punggung. Ia merasa wajahnya memanas karena amarah. Bagaimana mungkin pria ini bisa bersikap begitu egoistik dan munafik?
"Tentu saja, Mas Baskara," jawab Aura, dengan senyum manis yang dipaksakan dan suara yang begitu sopan hingga terdengar seperti ejekan. "Saya tahu batas-batas. Saya tahu posisi saya sebagai tamu di rumah ini."
Baskara menatapnya selama sedetik. Ada percikan tak terbaca di mata mereka, sebuah pertempuran sengit yang tersembunyi di balik kesantunan semu. Tanpa berkata apa-apa lagi, Baskara berbalik dan melangkah keluar, derap sepatunya di lantai marmer menggema seolah menegaskan kekuasaannya. Pria itu menghilang di balik pintu utama, meninggalkan keheningan dan ketegangan yang kental.
Aura menghela napas panjang. Ia benci pria itu. Ia benci kehidupannya sendiri yang membuatnya harus menumpang dan menerima perlakuan seperti itu. Ia benci fakta bahwa suaminya Kakaknya itu sangat tampan dan memiliki uang tak terbatas, sementara ia harus berjuang mati-matian, menari di bawah sorot lampu redup, mengorbankan waktu kuliahnya demi uang sewa.
Perangkap Kehidupan Sempurna
Waktu berlalu. Ruangan mewah itu terasa seperti sangkar berlapis emas. Aura berusaha keras mengalihkan pikirannya dari Baskara dengan bermain bersama Kian. Mereka pindah ke area kolam renang indoor, bermain kapal-kapalan dengan mainan robot.
Aura mengamati Kian. Anak itu cerdas, lucu, dan sangat baik. Tapi Kian jelas kesepian. Ia merindukan orang tuanya. Kehidupan mewah ini, rumah besar ini, hanya terasa sebagai latar belakang yang indah untuk kesendiriannya.
"Rumah ini besar, tapi Kian sering sendirian."
Kata-kata Kian kembali terngiang. Aura memandang sekeliling. Rumah ini bukan sekadar rumah; ini adalah markas kekayaan dan kesuksesan yang diukir oleh Baskara. Di taman belakang terdapat gazebo bergaya Bali, di sampingnya ada lapangan basket kecil, dan kolam renang itu sendiri berukuran olimpiade.
Ini semakin memicu rasa iri yang mendalam di hati Aura. Kakaknya, Maya, mendapatkan segalanya tanpa perlu melewati jalan berbatu seperti dirinya. Maya tidak perlu menjual penampilannya di panggung yang remang-remang. Maya tidak perlu memikul beban kuliah dan biaya hidup sendirian.
Maya dan Baskara: pasangan yang sempurna, kaya raya, berpendidikan tinggi, dan mapan.
Aura merasa sangat kecil. Ia merasa dirinya hanyalah debu yang singgah, yang mungkin akan segera disapu bersih begitu Baskara jenuh dengan kehadirannya. Namun, emosi itu cepat berubah menjadi resolusi.
Aku tidak akan membiarkan mereka meremehkanku. Aku akan tunjukkan bahwa aku juga bisa menjadi seseorang.
Ia memandang bayangan dirinya yang terpantul di air kolam. Tubuhnya yang berisi, payudaranya yang besar menggoda, dan bokongnya yang padat-aset yang selama ini ia gunakan untuk mencari nafkah di dunia malam. Ia memang harus bekerja sebagai penyanyi dangdut untuk menopang kuliahnya dan kebutuhan lain, tetapi ia tidak pernah merasa rendah diri. Ia adalah seorang survivor.
Namun, di hadapan Baskara, semua itu terasa seperti aib.
Menggali Informasi di Dapur
Untuk meredakan gejolak dalam hatinya, Aura memutuskan untuk mencari secangkir kopi. Ia berjalan ke dapur. Dapur itu luar biasa-berdesain island mewah dengan peralatan stainless steel terbaru. Di sana, ia bertemu dengan Bi Inah, asisten rumah tangga yang sudah lama bekerja di sana, dan Kak Wulan, seorang asisten pribadi yang merangkap nanny sementara untuk Kian.
"Bi Inah, Kak Wulan," sapa Aura ramah. "Saya boleh buat kopi sendiri?"
"Silakan, Non Aura. Biar saya buatkan saja," tawar Bi Inah lembut.
Saat kopi disajikan, Aura memanfaatkan kesempatan itu untuk sedikit menggali informasi.
"Kalian sudah lama bekerja di sini, ya?" tanya Aura santai, menyesap kopi panasnya.
"Lumayan, Non. Saya sudah hampir sepuluh tahun. Sejak Den Kian masih bayi," jawab Bi Inah sambil memotong sayuran.
"Mas Baskara itu memang selalu sibuk, ya?" pancing Aura, mengusap mug kopinya.
Bi Inah dan Kak Wulan saling pandang. Kak Wulan, yang lebih muda, berbisik, "Kalau Bapak, sibuknya itu sudah level dewa, Non. Perusahaannya banyak sekali, namanya ada di mana-mana. Mulai dari properti, logistik, sampai investasi asing. Dia orang yang sangat, sangat serius."
Aura mengangguk. Informasi itu menegaskan betapa jauhnya jurang pemisah antara dirinya dan pria itu.
"Tapi... hubungan Bapak dan Ibu Maya selalu baik-baik saja, kan?" tanya Aura, pura-pura khawatir sebagai adik.
Bi Inah berdeham. "Oh, tentu saja, Non. Mereka pasangan ideal. Sama-sama sibuk, sama-sama sukses. Ibu Maya itu dokter spesialis yang pintar sekali. Cuma ya itu, Non. Karena sama-sama sibuk, mereka jarang di rumah bareng-bareng. Kasihan Den Kian."
"Ya, Kian tadi bilang dia kesepian," ujar Aura, mencoba bersimpati. "Seharusnya dengan kekayaan sebanyak itu, setidaknya Baskara bisa meluangkan waktu lebih untuk anaknya."
Kak Wulan tersenyum pahit. "Bapak Baskara itu orang yang sangat disiplin dan berorientasi pada hasil, Non. Uang baginya adalah kekuasaan, dan dia tidak akan membiarkan kekuasaan itu lepas. Bahkan saat di rumah pun, dia masih bekerja, seperti tadi pagi. Ruang kerjanya itu seperti kantor cabang kedua."
Aura merasakan sedikit kepuasan. Ternyata, tidak semua yang mengilap itu emas. Kehidupan Maya dan Baskara terlihat sempurna dari luar, tetapi di dalamnya, ada kerapuhan emosional Kian dan mungkin juga hubungan mereka yang terancam oleh obsesi Baskara pada pekerjaan.
Jadi, dia hanya pria kaya raya yang dingin dan workaholic. Lebih mudah untuk membencinya jika aku tahu dia tidak sempurna.
Namun, memori akan ciuman panas di lantai atas itu kembali menyeruak. Aura tahu, ada sesuatu yang tersembunyi di balik ketenangan dingin Baskara-api yang dapat membakar siapa pun yang mendekat, termasuk dirinya. Ia harus waspada, tetapi pada saat yang sama, rasa penasarannya menguat.
Makan Siang dan Tatapan Pertama
Siang hari tiba. Aura membantu Bi Inah membawa makanan ke meja makan di ruang makan mewah. Aura duduk di samping Kian. Di tengah kemewahan itu, Aura yang hanya mengenakan dress kasualnya terasa sedikit salah tempat.
Kian mengoceh tentang robot barunya dan betapa enaknya makanan yang disajikan. Aura berusaha menjadi pendengar yang baik, mencoba menggantikan peran orang tua Kian yang absen.
Saat mereka makan, pintu utama terbuka. Aura mengangkat pandangan.
Baskara sudah kembali. Wajahnya yang tegang menunjukkan bahwa rapatnya pasti berjalan tidak mulus. Ia melepas jasnya, meninggalkannya di sofa ruang tamu, dan hanya menyisakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan otot lengan yang kuat. Pria itu tampak marah dan frustrasi.
Ia berjalan ke dapur untuk mengambil air minum, melewati ruang makan.
"Papa!" seru Kian, gembira melihat ayahnya pulang.
"Sudah makan, Nak?" tanya Baskara, sedikit melembutkan ekspresinya.
"Sudah! Papa makan juga, ya!"
Baskara menatap piring di meja, lalu ke Kian, dan akhirnya, matanya bertemu dengan Aura.
Tatapan pertama setelah insiden ciuman mereka.
Aura tidak mengalihkan pandangan. Ia menahan napas. Ia menantangnya. Ia ingin melihat apakah pria itu akan menunjukkan rasa bersalah atau malu.
Baskara juga tidak mengalihkan pandangan. Namun, tatapan dinginnya seolah menembus Aura, seperti kaca yang tidak terpengaruh oleh panas. Tidak ada kilatan hasrat yang terlihat. Yang ada hanya peringatan dan penilaian.
Aura merasa terintimidasi. Ia kembali merasakan dirinya hanyalah penyanyi dangdut murahan yang tak layak duduk di meja makan Baskara.
"Tidak, Papa harus kembali. Hanya mengambil berkas yang tertinggal," kata Baskara pada Kian, suaranya kembali datar.
Ia menyesap air minumnya, lalu berjalan ke ruang kerjanya. Punggungnya lurus dan angkuh. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun pada Aura, seolah wanita itu adalah perabotan yang tidak terlihat.
Aura merasakan amarahnya kembali mendidih. Dia memperlakukanku seperti sampah! Setelah apa yang terjadi di atas!
"Dasar dingin," gumam Aura pelan.
Kian menoleh. "Tante bilang apa?"
"Eh, enggak, Sayang. Tante bilang, robot Papa itu dingin. Kayak lemari es," elak Aura, mencoba tertawa.
Konflik Batin dan Eksplorasi
Setelah Kian tidur siang, Aura kembali ke kamar tamu di lantai bawah. Ia merasa canggung dan terperangkap. Ia tidak bisa pergi ke mana-mana-ia tidak punya uang dan takut bertemu Bu Rini.
Ia membuka kopernya. Di dalamnya, ada beberapa dress panggungnya yang berkilauan. Pikirannya melayang pada pekerjaannya. Malam ini, ia seharusnya ada jadwal audisi untuk klub yang lebih besar.
Apakah aku harus manggung lagi? Di rumah kakakku sendiri?
Manggung berarti ia harus keluar malam, memakai pakaian yang terbuka, dan pulang subuh. Itu akan sangat sulit untuk disembunyikan dari Maya, dan apalagi dari Baskara yang otoriter. Ia tidak ingin Maya khawatir atau Baskara semakin meremehkannya.
Di satu sisi, ia ingin berhenti dari dunia malam, tetapi ia harus membayar kuliahnya dan mencari kos baru. Uang adalah segalanya.
Aura berdiri, gelisah. Ia memutuskan untuk menjelajahi rumah itu sedikit, hanya untuk menghilangkan rasa bosannya. Ia tahu itu melanggar 'batasan' yang ditetapkan Baskara, tetapi ia tidak peduli.
Ia berjalan ke ruang kerja Baskara, yang terletak di ujung lorong lantai bawah. Pintu kayu cokelatnya tertutup rapat. Aura mendekat, tangannya terangkat, ingin tahu apa yang ada di balik pintu itu.
Ia menyentuh kenop pintu. Dingin. Pikirannya dipenuhi gambaran: dokumen-dokumen penting, rahasia bisnis yang menggiurkan, dan mungkin... rahasia pribadi Baskara.
Saat tangannya hampir memutar kenop, ia menariknya kembali. Ini bukan hanya melanggar batas, ini adalah invasi.
Aura berbalik, berjalan menuju tangga. Ia naik ke lantai atas. Ia melewati kamar utama Maya dan Baskara yang tertutup. Pintu-pintu lain, kamar mandi mewah, kamar tamu lain-semuanya memancarkan ketenangan yang mahal.
Aura kembali ke kamar mainan, tempat insiden ciuman itu terjadi. Ia duduk di lantai kayu yang sama, menghela napas. Kenangan itu begitu jelas: sentuhan kuat Baskara, ciumannya yang menuntut, dan kemudian penolakan brutalnya.
Dia ingin menciumku. Dia hanya terlalu takut untuk mengakuinya.
Pria sedingin itu, dengan kehidupan yang begitu terstruktur, pasti terkejut dengan hasratnya sendiri. Aura yakin, di balik jas dan kekuasaan itu, ada pria yang terperangkap oleh aturan dan citra dirinya. Dan Aura, dengan segala kebar-barannya, adalah ancaman bagi citra dirinya itu.
Aura bersandar di dinding. Ia menyentuh bibirnya. Rasa ciuman itu masih samar-samar terasa.
Ia tahu bahwa pertempuran utamanya di rumah ini bukan mencari tempat tinggal, melainkan perang psikologis melawan Baskara. Pria itu sudah meremehkannya habis-habisan. Ia harus membuktikan dirinya-entah dengan menjadi penghuni yang sempurna atau dengan cara lain yang lebih berisiko.
Ia memutuskan untuk segera mencari pekerjaan baru di pagi hari. Pekerjaan yang lebih bermartabat, yang bisa membuatnya keluar dari dunia malam dan membayar sewa.
Tapi sampai pekerjaan itu datang, ia harus bertahan di bawah atap ini. Dan selama ia di sini, ia akan mengamati Baskara. Ia akan mencari tahu celah dalam tembok es yang didirikan pria itu.
Aura bangkit. Ia melihat kotak robot Optimus Prime di sudut. Ia mengambilnya, membawa kembali ke kamar Kian. Ia harus fokus pada apa yang penting: menjaga keponakannya dan menghormati Maya.
Namun, saat ia berjalan menuruni tangga, ia tidak bisa mengabaikan suara hatinya yang berbisik. Bisikan itu menyarankan untuk bermain sedikit api dengan pria dingin itu.
Aura tahu dia memiliki kekuatan: daya pikatnya, kepercayaan dirinya yang tinggi, dan fakta bahwa dia tidak takut pada Baskara.
Mari kita lihat seberapa lama kau bisa mempertahankan sikap datar dan dinginmu itu, Tuan Baskara.
Aura tersenyum tipis. Senyum itu bukan lagi topeng, melainkan janji-janji untuk membuat kehidupan Baskara yang terlalu sempurna menjadi sedikit tidak nyaman.
Anda Mungkin Juga Suka





