
Balas Dendam Sang Mantan Kekasih yang Dikhianati
Bab 2
Suasana di kediaman Adhitama pagi itu jauh lebih mencekam daripada badai manapun. Pagi yang seharusnya diisi dengan bau kopi pahit dan laporan bisnis harian, kini digantikan oleh ketegangan akut di ruang kerja Kakek Adhitama, atau yang akrab dipanggil Eyang.
Arya berdiri kaku, sementara Alana duduk di sofa sudut dengan wajah pucat. Mereka baru saja menceritakan, atau lebih tepatnya, mengakui bencana yang terjadi semalam, tentu saja dengan versi yang sudah disaring; Arya mengaku bahwa ia mabuk berat dan salah masuk kamar, mengabaikan fakta obat perangsang dan jebakan Clara.
Eyang Adhitama, seorang pria tua yang selama ini dipandang sebagai tiang utama keluarga, kini tampak jauh lebih menyeramkan daripada bad mood-nya yang biasa. Tangannya yang dipenuhi urat tampak gemetar saat menunjuk Arya.
"Mabuk? Salah masuk kamar?" Suara Eyang rendah, tapi mengandung ancaman yang mematikan. "Kamu pikir Kakek ini sudah pikun, Arya? Kakek tahu persis kamar mana yang kamu tempati. Dan Kakek tahu Alana ini seperti apa. Dia bukan wanita yang akan main-main dengan aib dan kehormatan!"
Arya menelan ludah. Eyang memang tahu segalanya, berkat pengawal dan pengawasan ketatnya.
"Kakek, dengarkan aku," ujar Arya, berusaha menahan emosinya. "Aku sudah bertanggung jawab. Kami sudah sepakat. Aku akan memberikan dia kompensasi yang layak-"
"Tutup mulutmu, Arya!" potong Eyang tajam. Teriakan itu membuat Alana tersentak di kursinya.
"Kamu pikir kehormatan seorang wanita bisa kamu beli dengan uangmu yang kotor itu?" Eyang bangkit dari kursinya, berjalan mendekati Arya dengan langkah yang lambat namun penuh otoritas. "Kakek mendidikmu untuk menjadi pria terhormat, bukan bajingan kelas kakap yang merusak hidup orang lain lalu membayar kerusakannya dengan segepok kertas!"
Eyang berhenti tepat di depan Alana, wajahnya melembut sedikit. "Alana, cucuku," katanya lembut. "Apa kamu benar-benar yakin dengan tawaran Arya itu? Katakan pada Kakek, apa maumu?"
Alana mengangkat wajahnya yang basah. Ia tahu, saat ini adalah kesempatan emas baginya untuk terbebas dari mimpi buruk ini, menerima uang, dan pergi. Tapi, sorot mata Eyang penuh harapan, seperti mencari keadilan terakhir.
"Eyang," bisik Alana. "Saya... saya hanya ingin masalah ini selesai tanpa ada yang tahu. Saya tidak ingin merusak nama baik siapapun."
Eyang menghela napas panjang. Ia kembali menoleh ke Arya dengan keputusan yang tak bisa diganggu gugat.
"Tidak ada kompensasi. Tidak ada uang tutup mulut," putus Eyang. "Hanya ada satu jalan, Arya Adhitama. Kamu nikahi Alana."
Arya terperanjat. "Apa!? Kakek tidak serius! Menikah? Kami tidak saling kenal, Kakek! Kami tidak punya perasaan apapun!"
"Perasaan? Cinta?" Eyang tertawa sumbang. "Apa kamu pikir pernikahan di keluarga ini dibangun di atas cinta, Arya? Itu dibangun di atas tanggung jawab dan nama baik. Jika kamu tidak menikahinya, Kakek akan mencoret namamu dari daftar waris, dan kamu akan dicabut dari jabatan CEO. Dan Kakek tidak main-main."
Ancaman itu menghantam Arya tepat di titik vitalnya. Jabatan CEO, kekuasaan, dan kendali atas perusahaan adalah harga diri dan hidupnya. Melepaskan itu demi mempertahankan egonya adalah hal yang mustahil. Tapi menikahi Alana? Perawat yang dianggapnya tak lebih dari pengasuh tua? Itu sama saja menghancurkan masa depannya yang sudah terencana sempurna.
"Kakek tidak bisa melakukan ini padaku!" protes Arya.
"Oh, Kakek bisa," balas Eyang dingin. "Pernikahan harus dilangsungkan minggu ini. Resmi. Secara agama dan hukum. Ini demi menjaga kehormatan Alana dan kehormatan keluarga kita. Kakek tidak ingin ada orang di luar sana, apalagi Clara, yang memanfaatkan kesalahanmu ini untuk merusak reputasimu."
Arya mengepalkan tangannya. Ia tahu Eyang sudah memikirkan semua konsekuensinya. Pernikahan ini bukan hanya hukuman untuknya, tetapi juga tameng.
"Baik," ucap Arya, kata itu keluar seperti racun dari mulutnya. "Aku akan menikahinya. Tapi ini adalah pernikahan kontrak. Kakek harus tahu itu. Kami menikah di mata hukum, tapi kami akan hidup terpisah. Dan aku akan pastikan kami bercerai setelah masa yang ditentukan."
"Terserah padamu bagaimana kalian akan menjalaninya," kata Eyang, kembali duduk dan mengambil tongkatnya. "Yang Kakek tahu, Alana akan menjadi nyonya Adhitama di mata semua orang. Sekarang, kalian berdua keluar. Kakek sudah memanggil penghulu dan notaris untuk hari Rabu. Jangan membantah lagi."
Keputusan Eyang adalah palu godam. Alana dan Arya keluar dari ruang kerja itu dengan beban yang berbeda. Alana merasakan beban takdir yang tak terhindarkan, sementara Arya merasakan beban kebencian yang mendidih.
Begitu pintu ruang kerja tertutup, Arya mencengkeram lengan Alana. "Dengarkan aku baik-baik," desisnya, mata birunya tajam menusuk.
"Aku menikahimu karena Eyang. Hanya karena ancaman Eyang. Kamu tidak lebih dari penyelamat yang tidak kusukai. Jangan pernah berpikir kamu bisa memanfaatkan status barumu ini untuk mencampuri hidupku, apalagi perusahaanku."
Alana menarik tangannya dengan cepat. Ia merasakan sakit di pergelangannya, tapi sakit di hatinya jauh lebih besar.
"Saya tidak pernah meminta semua ini, Tuan," balas Alana, ia menahan air mata yang akan tumpah. "Saya hanya ingin kembali ke hidup saya yang tenang. Tuan yang menghancurkannya. Dan janji saya tetap sama: pernikahan ini hanya di atas kertas. Saya tidak akan pernah mengganggu hidup Tuan, asalkan Tuan juga tidak mengganggu saya."
"Bagus," cibir Arya. "Kau ingat janjimu itu. Aku tidak ingin melihat wajahmu kecuali saat di depan Kakek atau saat kita harus pura-pura di depan umum."
Arya berjalan menjauh, meninggalkan Alana berdiri sendirian di lorong mewah yang terasa dingin.
Konflik belum berakhir. Di ruang makan, Ratih Adhitama-Ibu Arya-sudah menunggu. Wanita elegan itu sudah mendengar kabar burung dari para pelayan yang selalu ingin tahu.
"Jadi, benar?" tanya Ratih dengan nada yang menusuk, menatap Alana dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Kamu berhasil?"
Alana menunduk, tidak berani membalas tatapan Ibu mertuanya itu. "Nyonya, saya tidak-"
"Tidak usah berpura-pura polos," potong Ratih sinis. "Kamu pikir saya tidak tahu niatmu, hah? Gadis miskin dari kampung tiba-tiba menjadi perawat pribadi. Sekarang, memanfaatkan kemabukan anak saya untuk menjeratnya menjadi suamimu? Modus lama, Alana."
"Ibu!" Arya muncul, wajahnya tegang. Ia memang membenci Alana, tapi ia tidak suka Ibunya mempermalukan wanita di depannya. Bagaimanapun, Alana adalah tanggung jawabnya sekarang.
"Jangan ikut campur, Arya," ujar Ratih. "Ibu sedang bicara dengan wanita yang berhasil menjebakmu dengan harga diri palsu. Kamu sudah gila, Nak. Menikahi seorang perawat? Apa kata relasi bisnis kita? Apa kata socialite Jakarta?"
"Ini keputusan Kakek, Bu," kata Arya dingin. "Dan ini adalah tanggung jawabku. Ibu jangan khawatir, pernikahan ini tidak akan bertahan lama. Setelah semuanya tenang, kami akan bercerai."
Ratih tampak sedikit lega mendengar kata 'cerai', tetapi wajahnya masih menyimpan kebencian. "Baik. Tapi kamu harus tahu, Alana. Kamu mungkin menyandang nama Adhitama di KTP-mu, tapi kamu tidak akan pernah menjadi bagian dari keluarga ini. Jangan pernah bermimpi untuk menguasai harta atau posisi anak saya."
Alana hanya bisa diam, membiarkan semua hinaan itu menghantamnya. Ia sudah terbiasa dengan pandangan meremehkan dari Ratih. Yang ia rasakan hanyalah kekecewaan mendalam pada dirinya sendiri, karena ia tidak punya pilihan lain selain menerima nasib ini.
Tiga hari berlalu dalam keheningan yang tegang. Persiapan pernikahan dilakukan dengan sangat tertutup, hanya melibatkan pihak keluarga inti dan notaris. Alana dipaksa mencoba gaun yang dipersiapkan oleh asisten Arya-gaun mahal yang terasa asing dan dingin di kulitnya.
Di hari H, suasana semakin mencekam.
Saat akad nikah berlangsung, wajah Arya datar, tanpa ekspresi kebahagiaan. Ia mengucapkan janji suci itu dengan nada mekanis, seolah sedang membaca kontrak bisnis. Alana sendiri hanya bisa menatap lantai marmer, berusaha keras untuk tidak menangis di depan saksi-saksi.
Ijab kabul selesai. Secara sah, Alana Shafira kini menjadi Nyonya Aryan Adhitama.
Setelah acara yang sangat singkat dan dingin itu, Arya menyerahkan sebuah map tebal kepada Alana.
"Ini," kata Arya, wajahnya keras. "Kontrak pernikahan kita. Bacalah. Semua sudah tertulis jelas di sana. Mulai dari batasan fisik, batasan privasi, hingga pasal-pasal yang mengatur perceraian kita nanti."
Alana menerima map itu dengan tangan gemetar. Belum sempat ia membuka, Arya sudah melanjutkan.
"Mulai malam ini, kamu akan menempati kamar di lantai dua. Itu kamar sebelah kamarku. Jangan pernah masuk ke kamarku tanpa seizinku. Jangan pernah menyentuh barang-barang pribadiku. Tugas utamamu tetap merawat Kakek. Di depan Kakek, bersikaplah seperti istri yang manis. Di belakang Kakek, kita adalah orang asing."
Arya menatap matanya dalam-dalam. "Aku tidak ingin ada kecelakaan lagi, Alana. Ingat janjimu. Dan aku akan ingat janjiku untuk menjamin keamanan dan kenyamanan hidupmu selama pernikahan kontrak ini berjalan."
Alana mengangguk, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Ia memeluk map tebal itu erat-erat, seolah map itu adalah simbol rantai yang kini mengikatnya pada pria yang telah merenggut segalanya darinya.
Malam itu, Alana memasuki kamar barunya. Kamar yang mewah, luas, dengan balkon menghadap kota. Ia menutup pintu, menguncinya, dan akhirnya membiarkan air mata yang ia tahan selama tiga hari mengalir deras. Ia sudah menjadi Nyonya Adhitama, tapi ia merasa lebih miskin dan kesepian daripada saat ia pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta.
Sementara itu, di kamar sebelah, Arya menenggak whisky dalam sekali tegukan. Ia menatap ke luar jendela. Ia sudah kehilangan kontrol atas hidupnya. Ia membenci dirinya sendiri, dan ia membenci wanita di kamar sebelah yang kini menjadi istrinya. Ia bertekad, pernikahan ini harus menjadi neraka bagi mereka berdua.
Anda Mungkin Juga Suka





