
Baaridul Hubby (Cinta Si Dingin)
Bab 3
“Eh, kalian udah saling kenal?”
Tiba-tiba suara teguran terdengar mengagetkan Aruni dan Hanif, keduanya menoleh sumber suara hampir bersamaan....
“Tio,” ujar Aruni dan Hanif bersamaan.
“Sampai barengan gitu negurnya,” ujar Tio sambil tertawa lirih.
“Yo, dia temen, Lo?” tanya Aruni kepada Tio temen satu jurusan dengannya.
“Tetangga gue, lo kenal?”
“Enggak!” tegas Aruni.
“Ketemu kebetulan saja,” sela Hanif.
“Iya, ketemu kebetulan dan tidak menyenangkan,” ujar Aruni sambil melirik sebel pada Hanif.
Tio tertawa, “Jangan judes-judes sama Hanif, Run ... ntar lama-lama suka, lho.”
“Rese, Lo,” ucap Aruni sambil mulutnya manyun pada Tio, kemudian menatap Hanif, “Jadi nama lo, Hanif?”
Hanif hanya mengangguk sambil garuk-garuk kepala dan terlihat tersipu.
“Sopan dikit, Run. Dia tu di atas kita satu tingkat,” ujar Tio.
“Aih beneran? Sory, kirain seangkatan. Lo juga manggil gue Mbak, sejak kapan kita bersaudara?”tanya Aruni mencibik kesal.
“Maaf kalau tersinggung, nggak mungkin juga kan aku panggil dik nanti dikira nganggep anak kecil dan lagi saya kan nggak kenal dengan anti.
“Nama gue Aruni, bukan Anti, sok tahu!” sela Aruni makin gemes.
“Lo yang sok tahu, Run. Anti itu bahasa arab artinya kamu perempuan,” sela Tio menjelaskan, “Gue juga baru belajar dari dia,” lanjut Tio sembari nyengir.
“Oo gitu, anti dari bahasa Arab,” tanggap Aruni sambil manggut-manggut kemudian, “Yo, gue cabut ya ... jagain tu temen lo, calon penghuni surga,” ujar Aruni sembari tertawa dan melajukan motor bebeknya meninggalkan halaman parkir.
“Woi, gue doain lo suka ma Hanif!” teriak Tio tertawa.
“Husstt,” protes Hanif sambil menggelengkan kepala melihat tingkah Tio.
“Nif, Aruni tu manis, lho. Cuma emang tu cewek begitu, hmmm ... rada urakan, tapi pinter, kayaknya dapat beasiswa juga,” ujar Tio sambil memundurkan motornya.
“Terus apa hubungannya denganku?”
“Ya, gue cuma cerita aja, gue tahulah kriteria calon istri, Lo. Pastinya bukan Aruni cewek yang nggak asyik, kan?” ujar Tio sambil menaiki motornya.
“Pastinya bukanlah, cewek aneh gitu,” ujar Hanif pelan sembari membonceng motor Tio.
“Sebenarnya kalau Aruni santun dikit aja, gue juga mau jadi pacar dia,” ujar Tio tertawa sambil melajukan motornya.
“Dasar!”
***
Pagi harinya Aruni berangkat kuliah bareng dengan Sila, saat sampai di ruang kuliah keduanya terlihat keheranan karena temen-temennya sedang fokus membicarakan hal penting. Semuanya terpaku pada perkataan Alex sang ketua kelas.
Aruni mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang kuliah, dan matanya tertuju pada sosok perempuan satu-satunya di jurusannya yang memakai penutup wajah. Azizah biasanya selalu mengambil tempat duduk di pojok dekat tembok dan dia selalu sibuk dengan kegiatannya sendiri seperti membaca buku atau sekedar menuliskan sesuatu di lembaran kertas. Aruni suka mengamati Azizah, entah mengapa dia terkadang penasaran dengan baju yang dipakai Azizah,
‘Apa tidak gerah dan panas? Kalau makan bagaimana?’ monolog Aruni dalam hatinya ketika memperhatikan penampilan Azizah yang sangat berbeda dengan teman-temannya termasuk juga dirinya.
Awal bertemu dengan Azizah, dia sempat kaget dan heran karena baru pertama kali Aruni melihat pakaian seperti itu, ‘Apa wajahnya jelek atau jerawatan hingga malu dan menutupinya dengan kain? Bagaimana nanti laki-laki akan menyukainya jika wajah ditutup begitu? Bukankah wajah menjadi salah satu daya tarik laki-laki?’
Beberapa pertanyaan penasaran itu hanya dia simpan dalam hati, Aruni tipe gadis yang sangat toleran, dia tidak mau menyinggung perasaan orang jika pertanyaan itu disampaikan, apalagi jika orang itu belum lama dia kenal. Tetapi setelah sekian bulan mengenal Azizah, pertanyaan Aruni terbantahkan. Nyatanya, wajah Azizah cukup cantik menurut penilaian Aruni dan itu tak sengaja Aruni ketahui ketika mereka satu ruangan di toilet. Azizah membuka kain penutup wajahnya ketika sedang mengaca di depan wastafel. Aruni saat itu baru keluar dari kamar mandi tentu saja bisa melihat wajah Azizah yang terpantul dari cermin.
“Azizah!” tegur Aruni.
Azizah menoleh dan tersenyum kemudian kembali disibukkan dengan membenahi jilbabnya.
“Kok, wajah Lo dibuka? Ternyata wajah Lo cukup menarik, lho. Tapi kenapa di tutup dengan kain ini?” tanya Aruni penasaran setelah mendekat pada Azizah dan memegang ujung kain yang menggantung di depan d*d*.
Azizah hanya tersenyum, “Nanti aku jelaskan jika sudah di luar, ya? Karena tidak adab membicarakan di kamar mandi,” ujar Azizah kemudian memakai kembali kain penutup wajah itu dan keluar kamar mandi, Aruni mengikutinya dari belakang.
Setelah sampai di luar kamar mandi Azizah menarik tangan Aruni dan mengajaknya duduk di bangku agak sedikit jauh dari ruang toilet. Entah mengapa Aruni menurut saja, tanpa protes seperti yang biasa dia lakukan jika dengan Sila sahabatnya. Mungkin karena rasa penasarannya itu yang membuat Aruni ingin segera mengetahui jawaban dari pertanyaannya.
“Tadi kamu tanya apa?” tanya Azizah setelah keduanya duduk.
“Iya, aku heran saja kenapa wajah kamu ditutup lalu kenapa di buka saat di kamar mandi? Kan ada aku di situ?”
“Kamu kan perempuan sama sepertiku, jadi tidak apa-apa jika kamu melihat wajahku, lain hal jika kamu laki-laki tentu aku selalu menutup wajahku dengan cadar.”
“Ca-dar?”
“Heem, ini namanya cadar dalam bahasa arab disebut niqab.”
“Oo,” Aruni melongo sedikit tahu, “Terus kenapa wajahmu ditutup jika ada laki-laki?”
“Karena mereka bukan mahramku,” ujar Azizah sambil tersenyum dibalik cadarnya.
“Mahram? Apaan itu?
“Mahram itu seseorang yang tidak boleh dinikahi selama-lamanya.”
“Oo ... muhrim? Kalau itu aku tahu, Zah.”
“Bukan, yang benar mahram. Kalau muhrim itu pakaian untuk ihrom.”
“Pakaian untuk haji maksud, Lo?”
Azizah mengangguk masih dengan wajah tersenyum karena matanya terlihat menyipit.
“Apa Lo nggak merasa panas dan gerah memakai pakaian seperti ini?”
Azizah menggeleng pelan, “Sudah terbiasa, gerah pastinya iya kalau suasana panas,” ujar Azizah sambil tertawa lirih.
Aruni nyengir sambil garuk-garuk kepalanya yang tertutup jilbab segi empat.
===
Beberapa hari kemudian, saat kelas tidak ada dosen, terlihat teman-teman Aruni sedang foukus mendengarkan penjelasan ketua kelas mereka.
"Run, gabung yuk dengan mereka sepertinya mereka sedang membahas rencana pekan kemarin,” ujar Sila membuyarkan lamunan Aruni tentang Azizah.
Aruni menoleh, “Enggak ah males, Lo aja deh ... aku tinggal tunggu info darimu aja,” ujar Aruni tersenyum.
“Maunya.” Sila manyun kemudian melangkah mendekati temen-temennya yang sedang fokus mendengarkan penuturan ketua kelas.
Aruni kemudian melangkahkan kaki mendekati Azizah. Sejak dia berbicara dengan Azizah di dekat toilet beberapa waktu lalu, dia semakin ingin tahu tentang sosok temennya itu.
“Zah, lo nggak ikut gabung?” tanya Aruni begitu di dekat Azizah.
“Wa’alaikumsalam,” Azizah justru menjawab salam yang membuat Aruni tersipu.
“Sori lupa salam, assalamu’alaikum,” ujar Aruni nyengir kuda.
“Wa’alaikumsalam,” balas Azizah dengan mata yang menyipit menandakan dia sedang tersenyum.
“Lo, nggak ikut nimbrung? Lagi pada bahas rencana pekan kemarin, ya?” tanya Aruni kemudian menarik bangku kuliah kemudian duduk di depan Azizah.
Mendengar pertanyaan Aruni, Azizah hanya mengangkat bahunya kemudian menggeleng pelan....
“Hmmm, Zah?”
“Ya, ada apa?”
“Anu....
Aruni menghentikan bicaranya sedikit bingung, sedang Azizah terlihat mengerutkan dahinya merasa heran dengan sikap Aruni.
“Anu apaan? Jangan aneh-aneh ya, kamu wanita normal, kan?”
“Hah!”
Anda Mungkin Juga Suka





