Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Baaridul Hubby (Cinta Si Dingin)

Baaridul Hubby (Cinta Si Dingin)

Berlatar gejolak reformasi 1998 di kota pelajar, Aruni memulai perjalanan spiritual yang mengubah hidupnya. Namun, perubahan penampilan dan keyakinan baru ini justru memicu konflik tajam dengan sang ayah yang membenci keputusannya. Di tengah tekanan keluarga, Aruni juga harus memendam perasaan cinta secara rahasia kepada seseorang yang ia kagumi. Akankah ia mampu bertahan di jalan pilihannya sambil meraih restu keluarga? Sebuah kisah romansa remaja yang diangkat dari kisah nyata.
Bab
Bagikan

Bab 1

Brak!!

“Bilang sama Bapak! Kamu ikut jaringan yang diberitakan di TV itu, kan?”

“Demi Allah, Aruni tidak ikut seperti itu, Bapak.”

“Bapak tidak percaya, orang-orang kampung sini sekarang menatap kamu dengan pandangan sinis demikian juga ketika bertemu dengan Bapak. Pilihan ada di tanganmu, lepaskan baju-baju besarmu itu atau lebih baik Bapak kehilangan telur satu biji!

“Bapak!!”

“Istighfar, Aruni anak kita, Pak.

Aruni menatap Ibunya dengan wajah terharu, netranya sudah berkaca-kaca tak mampu mengucapkan sepatah katapun ketika Bapaknya dalam keadaan emosi. Hanya ibunya yang selalu membelanya di saat dia dimarahi Sang Bapak karena penampilannya, hanya Ibunya yang selalu menyela luapan amarah Bapaknya agar sedikit mereda.

“Pak, coba lihat sikap Aruni sekarang? Bukankah dia menjadi anak yang lebih penurut dibandingkan dulu? Aruni juga lebih santun dan sopan dengan kita, Bapak harusnya bersyukur, jangan memedulikan omongan orang.”

“Bagaimana tidak perduli, lihat penampilannya sekarang isu bom meledak sedang merebak, dan Aruni oleh orang-orang kampung dianggap ikut jaringan itu! Bagaimana tidak menjadikan pikiranku? Belum lagi sikap sinis mereka ketika bertemu denganku!”

“Tapi Aruni tidak melakukan kesalahan Bapak, apa yang Aruni pakai adalah pakaian yang dianjurkan sebagai muslimah kafah.”

“Bapak lebih ikhlas kamu pakai pakaian seperti dulu, jika itu bisa membuat status keluarga kita terjaga dari rasa malu! Lagi pula siapa yang akan menikahi kamu jika kamu tertutup begitu?

Aruni terhenyak, dia menatap wajah Bapaknya dengan perasaan yang tidak bisa dijabarkan, antara sedih, kecewa dan juga prihatin karena Bapaknya lebih memilih mengedepankan status sosial di masyarakat daripada melindungi keluarganya. Aruni tidak mampu mengatakan apapun selain air mata yang mulai menetes membasahi wajahnya, berikut jilbab yang dia kenakan.

Sebenarnya diamku adalah kemenangan di hadapan orang yang mengharapkan aku marah dan tegar adalah pilihan di hadapan orang yang mengharapkan aku menangis.

Aku harus bertahan, sebab aku sudah jatuh cinta dengannya ketika diam-diam dia menyapa lembut relung hatiku.

Dengannya, aku mulai merasakan manisnya iman, apapun rintangannya aku akan pertahankan atas apa yang aku cintai ini meskipun nyawaku akan tercabut karenanya.

(Aruni Prameswari)

===

“Run!”

“Astaghfirllah!

Aruni terlonjak kaget ketika pundaknya ditepuk tiba-tiba dari arah belakang, botol air mineral berukuran 300 ml yang dia pegang sampai terloncat dari tangannya, tetapi dengan sigap Aruni mampu menangkapnya kembali. Reflek dia menoleh dan matanya langsung membulat lebar ketika tahu siapa yang telah mengagetkannya.

Sila terkekeh melihat reaksi sahabatnya itu, yang menurutnya sangat lucu.

“Silaaaa, rese banget, lo!” umpat Aruni sambil menaruh botol air mineral itu di atas meja makan kantin di samping selembar kertas yang tadi sempat dia baca sambil berdiri. Aruni dengan wajah cemberut kemudian menarik kursi dan duduk.

“Sory, habisnya kamu kelihatan serius banget. Tadi lagi baca apaan, sih?”

“Eitttttsss, gue belum selesai baca! Gak boleh lihat dulu!” seru Aruni gegas mengambil selembar kertas ketika Sila hendak membaca.

Sila nyengir kuda, “Alah palingan surat peringatan dari kampus agar segera melunasi uang semester, iya kan?”

“Enak aja, bukanlah ... Bapak gue udah bayar kali.”

“Oo, surat dari calon suami pilihan Bapak, ya?” ujar Sila bernada pertanyaan sambil tertawa mengejek membuat Aruni melotot.

Suara tawa Sila mengundang beberapa mahasiswa yang sedang berada di kantin itu menoleh memperhatikan mereka.

“Ssstt, diem lo! Ketawa lo itu jadi bahan perhatian!” tegur Aruni.

Sila reflek menghentikan tawanya beralih dengan senyuman lebar kemudian menarik kursi dan duduk di depan Aruni.

“Jadi bener, itu kertas profil laki-laki pilihan Bapak?”

“Ngaco, bukanlah Bapak kan nggak ngebolehin aku nikah sebelum lulus kuliah.”

“Eh, siapa tahu? Kan lo pernah bilang kalau misal tu cowok kerjaan bagus, dari keluarga yang jelas bobot, bebetnya dan sudah mapan, katanya boleh-boleh aja langsung mengiyakan ketika dilamar?”

“Enggaklah ... udah stop! Jangan bicarakan nikah! Lagian kita juga baru semester 3, pacar aja nggak punya!” sergah Aruni.

Sila terkikik geli mendengar perkataan Aruni tentang sosok pacar.

“Kasihan banget sih, lo. Mau punya cowok aja harus diseleksi ketat macam ikut pendidikan aja,” ujar Sila masih tertawa membuat Aruni makin manyun bibirnya kek mulut teko.

“Bisa diem enggak? Gue cabut aja kalau masih mau ngeledekin gue.”

“Upppsss, okey ... kasih tahu dong dapat surat apaan, sih?”

“Janji ya, jangan teriak dulu.”

“Okey siap grak!!”

Aruni tertawa lirih melihat sahabatnya ini, meski mereka sering berantem tapi ni Sila nggak pernah tersinggung dan dia care banget sama dirinya, selalu sama-sama, jadi temen curhat dan rumah orang tuanya sering dijadikan rumah kedua baginya jika sedang berselisih dengan ibu terutama Bapaknya.

Aruni dan Sila sebenarnya sudah berteman sejak kecil karena mereka satu kampung hanya beda RT tetapi menjadi sahabat dekat setelah sama-sama satu kampus dan satu jurusan.

Aruni kemudian menyodorkan lembaran kertas pada Sila, Sila mulai membaca deret-deret kalimat cetak pada lembaran itu.

“Beneran, nih? Wah, selamat Run, ini beasiswa sampai nanti kelar kuliah, lho. Pingin juga dapat, tapi belum rezeki aku,” ujar Sila dengan mata berbinar tapi kemudian bibirnya mengerucut.

“Lha, bukannya lo juga dapat dari PPA?”

“Mana? Belum ada kabar.”

“Ajuin jalur yang lain coba.”

“Ntar deh coba aku cari info, eh ... tapi kenapa muka lo kelihatan kurang respek gitu dapat beasiswa ini?”

“Iya pasti lah, kayak nggak tahu aja situasi negeri kita.”

“Udah, nggak usah di pikirin, biar jadi bahasan mereka yang berkepentingan,” ujar Sila sambil mengibaskan tangannya di depan muka Aruni yang hanya tersenyum mengiyakan.

“Eh, mau pesan apa? Biar aku yang traktir, tanda syukur dong.”

“Asyik ... bakso aja deh sama es jeruk.”

“Siap.

Aruni segera beranjak dari duduknya dan kemudian membalikkan badannya, tetapi tiba-tiba ...

Bruk!!

Tubuhnya menabrak seseorang, buku diktat kuliah berserakan di lantai keramik kantin.

“Astaghfirllah, maaf. Saya tidak sengaja,” ujar Aruni kemudian berjongkok membantu cowok itu membereskan buku-bukunya.

“Tidak apa-apa, tidak usah dibantu, terima kasih,” ujar cowok itu kemudian berdiri setelah buku-buku itu berhasil dia bereskan sendiri.

Aruni merasa bersalah, sejenak dia berdehem kemudian, “Maaf ya, tadi aku tidak sengaja langsung berbalik badan,” ujar Aruni sambil mengulurkan tangannya untuk minta maaf.

Cowok itu hanya tersenyum tipis kemudian mengangguk tanpa menanggapi uluran tangannya dan berlalu meninggalkan Aruni yang masih termangu heran dengan cowok berkaca mata tadi.

“Eh, tangan gue najis kali, ya? Tuh cowok nggak mau sentuh tanganku ... dasar cowok aneh,”

“Cieee, dilihatin terus, awas lho entar jatuh cinta. Jangan heran ma dia, tipe-tipe cowok penghuni surga, hehe,” ujar Sila membuat Aruni menoleh padanya.

“Lo kenal dia?”

“Kenal sih enggak, cuma tahu aja ... anak TP, paling anti tu sama cewek bawel seperti kita, jangan ngarep deh bakalan dekat dengan dia atau jadi pacarnya. Dia juga tipe-tipe ogah pacaran.”

“Eh, katanya lo nggak kenal? Tapi kenapa bisa tahu tentang karakternya?”

Sila nyengir sambil garuk-garuk kepala, “Dia kan cakep, wajarlah akunya penasaran.”

“Yeee, dasar!” ujar Aruni menjitak pelan kepala sahabatnya itu kemudian berlalu untuk memesan makanan.

***

Aruni berlari melalui lorong fakultasnya untuk menuju ruang laboratorium, “Duh, gue telat, nih. Sial, kenapa semalem nurutin saran Sila ... mana dia udah berangkat duluan lagi,” gumam Aruni masih dengan berlari kecil sambil melihat arloji yang melingkar manis di lengan kirinya.

Brak! Auw!

Tiba-tiba kepalanya berdenyut saat dia terjerembab jatuh ke lantai. Pandangannya sedikit kabur, Aruni beberapa kali menggelengkan kepalanya untuk memulihkan kesadarannya. Buku diktat kuliah yang dia pegang terlempar agak jauh dari tubuhnya yang ambruk setengah berbaring.

“Mbak, nggak papa?”

Suara khas seorang cowok terdengar menegurnya dari arah depan, Aruni menoleh....

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Budak di atas Ranjang - Season 2
8.8
Izabelle terpaksa menyerahkan kesuciannya demi melunasi utang judi ayahnya yang nyaris membuat mereka gelandangan. Di hadapan Jordan Heron, bos mafia yang kejam, ia harus menanggung rasa sakit dan penghinaan dalam sebuah transaksi panas. Meski kehormatannya direnggut oleh pria yang baru ditemuinya itu, Izabelle tak punya pilihan demi membebaskan sang ayah dari sandera. Kini, ia terjebak dalam takdir kelam bersama sang bajingan. Bagaimana nasibnya ke depan?
Sampul Novel Cinta, Dusta, dan Vasektomi
8.1
Hamil delapan bulan, duniaku runtuh saat menemukan bukti vasektomi Bima setahun lalu. Di kantornya, aku mendengar ia dan Erlan menertawakan kehamilanku sebagai bagian dari taruhan kejam demi Elsa, adik angkatnya. Pernikahan kami hanyalah permainan demi uang, bahkan mereka bertaruh soal siapa ayah bayi ini. Merasa dikhianati dan dijadikan piala dalam kontes menjijikkan, hatiku membeku. Dengan tenang, aku menelepon klinik untuk mengakhiri segalanya.
Sampul Novel CINTA SEJATI SANG PESULAP
8.5
Jaime bekerja sebagai pelayan restoran cepat saji meski memiliki bakat sulap luar biasa. Ia memilih menyembunyikan kekuatannya demi mendukung impian wanita yang ia cintai. Perjuangan itu membawanya pada takdir besar yang menembus ruang dan waktu. Namun, meski telah mencapai puncak kejayaan, Jaime tetap terobsesi mengejar cinta lamanya tanpa memedulikan risiko. Ia tidak menyadari ada seseorang yang setia menanti dan tulus menerima dirinya apa adanya.
Sampul Novel Cinta yang Telah Menjadi Masa Lalu
9.0
Amukan pasien di rumah sakit berujung tragis bagi seorang istri. Berniat menyelamatkan suaminya, Elvano Wiratama, dari sabetan pisau, ia justru ditarik menjadi tameng hidup demi melindungi adik junior suaminya. Tusukan fatal itu merenggut nyawa janin di rahimnya. Alih-alih peduli pada kondisi istrinya yang sekarat, Elvano malah menurunkan paksa tubuhnya dari brankar ICU demi menyelamatkan sang junior terlebih dahulu. Di ambang maut, sang istri akhirnya menyerah dan memutuskan.
Sampul Novel FATED (Tuan Mafia dan Nona Badut)
9.5
Raline merasa hidupnya penuh kesialan setelah dua kali gagal menikah. Mantan kekasihnya, Aksa dan Heru, justru menikahi wanita lain meski sudah lama menjalin hubungan dengannya. Di tengah keputusasaan, takdir mempertemukannya dengan Axel Delacroix Adams. Kakak dari rivalnya yang merupakan seorang mafia itu melamar Raline hanya dalam empat menit. Akankah ini menjadi akhir penderitaannya atau awal masalah baru? Sebuah kisah tentang rahasia jodoh yang datang tepat waktu.
Sampul Novel Gurauan yang Berakhir Tragis
8.6
Pernikahan dalam novel Gurauan yang Berakhir Tragis retak setelah sang suami tega membeberkan trauma masa sekolah istrinya sebagai lelucon di depan teman-temannya. Merasa dihina dan diremehkan saat meminta cerai, sang istri akhirnya kehilangan kesabaran. Jika sang suami menganggap penderitaan masa lalu hanyalah candaan untuk bersenang-senang, kini giliran sang istri yang akan membalasnya dengan membongkar skandal gelap milik teman masa kecil suaminya.