
Ayahku Menikahi Pelakor
Bab 3
Suasana pagi di rumah kecil itu terasa lebih hangat meski udara masih dingin. Sinar matahari menembus tirai tipis, membentuk garis-garis cahaya di lantai kayu yang usang. Di sudut ruang tamu, Lia duduk di atas kursi kecil sambil meremas tangan ibunya, Miranda. Mereka berdua tampak lebih tenang dibandingkan hari-hari sebelumnya, tapi di mata Lia masih tersimpan kecemasan yang sulit dihapus.
"Bu," suara Lia pelan tapi penuh makna. "Aku ingin bicara soal ayah."
Miranda menarik napas panjang, matanya berkaca-kaca. "Aku tahu, Nak. Aku juga sering memikirkan dia."
Hari itu, perbincangan mereka membuka luka lama yang belum benar-benar sembuh. Jonathan Ardhana, ayah Lia, telah resmi bercerai dari Miranda setahun lalu. Namun, kehadirannya seolah masih membayang setiap sudut hidup mereka. Lia yang dulu hidup dalam kemewahan, kini terlempar ke dunia yang sama sekali berbeda.
"Kenapa ayah harus seperti itu, Bu? Kenapa dia tega meninggalkan kita untuk wanita lain?" suara Lia bergetar, menahan tangis yang ingin tumpah.
Miranda memeluk Lia erat, mencoba menguatkan putrinya. "Kadang orang dewasa punya pilihan yang sulit, Nak. Tapi itu bukan salahmu, atau salah kita."
Lia menatap ibunya, mencari jawaban yang lebih pasti, tapi ia hanya menemukan kesedihan yang sama. Perasaan kehilangan yang membuatnya merasa hampa.
Hari-hari Lia di sekolah semakin berat. Selain harus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru, ia juga mulai menghadapi bisik-bisik yang semakin keras. Ada yang membicarakan soal perceraian orang tuanya, ada pula yang menyindir soal perubahan gaya hidupnya.
Namun, di tengah semua itu, Darren selalu menjadi pelindung tak terlihatnya. Suatu hari, ketika Lia duduk sendirian di taman sekolah, Darren mendekatinya dengan secangkir kopi hangat.
"Kau harus kuat, Lia. Aku percaya kau bisa melewati semua ini," katanya dengan suara lembut.
Lia tersenyum tipis, merasa sedikit lega. "Terima kasih, Darren. Kau selalu ada saat aku butuh teman."
Mereka pun mulai semakin dekat. Darren yang dulu hanyalah sosok asing, kini menjadi orang yang penting dalam hidup Lia. Namun, Lia sadar, ia tak bisa terlalu bergantung pada seseorang, terutama saat hatinya masih penuh luka.
Di rumah, Mbok Rini menjadi sosok yang tak tergantikan. Setiap pagi dan sore, ia membantu Miranda dan Lia menjalani hari-hari yang sulit. Mbok Rini mengajarkan Lia memasak berbagai hidangan sederhana, mengatur keuangan keluarga yang terbatas, dan selalu memberi semangat ketika mereka hampir putus asa.
"Lia, jangan pernah malu dengan asalmu. Hidup itu soal bagaimana kau bangkit dari kejatuhan," pesan Mbok Rini suatu sore saat mereka duduk bersama di dapur kecil.
Lia menatap Mbok Rini dengan penuh rasa hormat. "Aku ingin menjadi kuat, Mbok. Untuk Bu dan untuk diriku sendiri."
Mbok Rini tersenyum hangat. "Kau sudah mulai kuat, Nak. Jangan menyerah."
Namun, bayangan masa lalu masih terus menghantui. Suatu hari, ketika Lia sedang membantu ibunya membersihkan rumah, telepon rumah berdering. Miranda mengangkatnya dengan ragu.
"Ya, Bu Miranda? Oh, iya, saya Jonathan," suara di telepon itu membuat udara di ruangan seketika berubah tegang.
Lia menatap ibunya dengan mata penuh tanya. Setelah telepon selesai, Miranda hanya berkata, "Jonathan ingin bertemu kita."
Perasaan Lia campur aduk. Antara rindu, marah, dan takut. Ia tahu pertemuan itu pasti membawa konsekuensi.
Pertemuan di sebuah kafe mewah menjadi babak baru yang tak terduga. Jonathan datang dengan penampilan yang sama mewah dan percaya diri seperti dulu. Di sisinya, wanita yang selalu menghantui pikiran Lia-Clara.
Jonathan membuka percakapan dengan suara tenang tapi penuh kekuatan. "Miranda, Lia, aku ingin memperbaiki semuanya. Aku salah dan aku ingin kita mulai dari awal."
Miranda menatapnya dingin. "Mulai dari mana? Setelah kau meninggalkan kami, aku dan Lia hampir kehilangan segalanya."
Lia menahan amarahnya, tapi Clara tersenyum sinis. "Jonathan sudah berubah. Dia kini punya kehidupan baru yang lebih baik."
Lia mengacuhkan Clara dan menatap ayahnya. "Aku tidak butuh permintaan maaf, Ayah. Aku hanya ingin kau tahu, aku dan Bu sudah baik-baik saja tanpa kau."
Jonathan terdiam, lalu berkata, "Aku ingin membantu kalian. Aku akan memberikan nafkah yang layak."
Miranda dan Lia saling pandang. Tawaran itu terasa seperti jebakan, tapi juga kesempatan yang sulit untuk diabaikan.
Setelah pertemuan itu, Lia merasakan dunia kembali berputar. Ia harus memilih antara membiarkan luka lama tetap membekas, atau membuka peluang baru untuk masa depan yang lebih baik. Tapi keputusannya belum jelas.
Di sisi lain, hubungan Lia dengan Darren semakin erat. Mereka mulai berbagi cerita dan rahasia, dan Lia merasa ada harapan baru tumbuh di hatinya.
Namun, tidak semua berjalan mulus. Clara, wanita yang selalu mengganggu keluarganya, mulai menunjukkan sikap licik. Ia sering menghubungi Jonathan dengan maksud mengatur semuanya agar Lia dan Miranda tidak bisa tenang.
Suatu malam, Mbok Rini menemukan pesan-pesan aneh di telepon Miranda yang membuat semua orang waspada.
"Kita harus hati-hati, Bu," kata Mbok Rini. "Mereka tidak akan berhenti sampai mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan."
Lia mengangguk, tekadnya semakin kuat. Ia tahu perjuangan mereka belum selesai.
Di penghujung bab, Lia berdiri di depan cermin dengan mata penuh tekad. "Aku akan melawan. Untuk Bu, untuk Mbok Rini, dan untuk diriku sendiri. Aku tidak akan membiarkan masa lalu menghancurkan masa depanku."
Anda Mungkin Juga Suka





