
Atlet Sekolah Menyebalkan Jadi Suamiku
Bab 3
Alina tersentak, merasa bingung dan sedikit terluka. "Maksud lo apa? Apa yang dilakukan ayah lo?"
Arion menatapnya sejenak, lalu mengalihkan pandangannya.
"Duh, Alina, jangan terlalu dipikirin deh," Clarissa memutar bola matanya dengan angkuh. "Dan tolong... jangan ganggu Arion gue lagi."
Arion mendesah, memandang Clarissa frustrasi. "Gue benci banget denger lo nyebut gitu, Clarissa. Telinga gue rasanya pengen pecah! Semua ini cuma akting demi nyenengin ayah kita!"
Clarissa cuma mendengus.
"Lo pergi dulu deh ke kantor. Gue pengen ngomong berdua sama cewek ini."
Alina penasaran dan sedikit khawatir, "Apa ya yang bakal dia bilang? Kenapa dia bisa begitu marah sama gue?"
Clarissa menghentakkan kakinya ke tanah, tapi entah kenapa, dia tetap bisa menjaga penampilannya.
Kuku panjang berwarna pink tua miliknya menusuk-nusuk dada Alina. "Gue nggak tau lo mau ngapain," katanya dingin, "Tapi jangan harap lo bisa main-main sama ayah gue. Gue nggak akan biarin cewek pemeras kayak lo ada di sekitar dia."
Alina menahan diri, mencoba tetap tenang meski merasa terpojok. Clarissa jelas punya kontrol penuh atas situasi ini, dan Alina harus terima itu.
"Gue punya hak di sini," kata Clarissa lagi, penuh keyakinan. "Sedangkan lo? Lo ada di sini cuma karena ayah gue."
Ekspresi Alina tetap datar. "Gue nggak tau lo siapa," jawabnya pelan, "Tapi gue gak pernah memeras siapapun."
Clarissa mengejek sambil menjatuhkan tangannya. "Ah, lo nggak usah bohong deh. Dengan duit dan reputasi ayah gue yang luar biasa itu, dia nggak perlu bantuin orang kayak lo cuma buat dapetin keuntungan politik."
"Gue nggak memeras dia," tegas Alina. Namun, kebingungannya mulai muncul.
"Tunggu... Apa dia bilang ke lo kalau gue gitu?" Alina merasa aneh sejak awal, tapi pikiran bahwa Eric Clapton Wijaya bantu cuma buat alasan pribadi agak nggak masuk akal. "Gimana mungkin dia sama para donatur lain bisa terlibat gitu aja?"
Clarissa menyilangkan tangannya dan mendekati Alina, sikapnya menantang. Alina perlahan mundur.
"Satu-satunya alasan yang masuk akal," kata Clarissa dengan suara rendah, "Adalah lo nyembunyiin sesuatu dari ayah gue. Dan gue pengen tau apa itu."
Alina ingin banget dorong Clarissa, berharap melihatnya tersandung sepatu hak tinggi. Tapi ia tarik napas panjang, berusaha menenangkan jantungnya yang berdetak kencang.
"Gue juga nggak tau kenapa ayah lo ngelakuin ini," balas Alina pelan. "Dia tiba-tiba dateng ke rumah sakit waktu gue lagi berduka, lumpuh atau apalah itu... dan dia nawarin beasiswa ke gue. Itu aja."
Clarissa menyipitkan mata, bibirnya mengerut tajam. "Itu nggak masuk akal," katanya, "Tapi karena lo orang yang dibantu ayah gue, gue bakal tahan diri buat nggak jahat. Setidaknya, nggak di depan kamera." Senyum sinis terbit di wajahnya.
"Gue ngerti," jawab Alina dengan tenang.
Clarissa mengangguk tipis, tetap dengan tatapan meremehkan. "Gue pergi dulu. Tunggu di sini." Dia melengos pergi.
Namun, Alina nggak berniat nunggu. Ia memutuskan untuk balik, lalu lari menuju gerbang. Kulitnya gatal karena bulu kuduknya terus meremang menghadapi Clarissa.
Setelah berhasil keluar, Alina ngos-ngosan. Dia pun langsung pesen Go-Jek. Alina melirik dompetnya dan meringis melihat sisa uang yang makin menipis. Setiap kali mengeluarkan uang, rasa cemas itu datang-sumber keuangan yang ia miliki hampir habis.
Sesampainya di rumah, pikirannya berkecamuk. Alina tau, dia harus segera cari kerja-apa aja yang halal, asal bisa menutupi kebutuhan sehari-harinya.
***
Tak terasa Alina ketiduran sampai pagi di sofa ruang tamu karena kelelahan. Saat terbangun, dia langsung siap-siap buru-buru, karena dia harus datang ke sekolah lebih awal buat ngambil seragamnya.
Untungnya, Alina berhasil mendapatkan seragamnya dari kantor tadi. Sekarang dia harus ke perpustakaan, tapi baru ingat kalau nggak tau lokasinya. Dia cuma ingat jalan menuju kantor, jalan yang sama yang bikin dia terjebak konfrontasi sama Clarissa kemarin.
Mengingat itu air mata Alina mulai turun lagi, dia nggak bisa nahan. Alina lelah sekarang, dan dia berkeringat. Belum lagi pas pulang nanti dia harus jalan kaki lagi.
Alina tarik napas panjang, mengipas-ngipasi matanya. Lalu merasa jantungnya berdebar lebih cepat ketika sesosok datang...
"Hei... lo baik-baik aja?"
Akhirnya, pandangan Alina jadi jelas dan dia lihat cowok di depannya, dia nggak kalah tampan dari Arion. Dia pake jersey dan bawa ransel HIA berwarna biru tua.
"Ya, cuma agak lelah," gumam Alina. "Dan... nyasar."
Alina sadar dia ngadepin jalan cowok itu di lorong kecil ini. "Oh, maaf ya."
"Kenapa lo minta maaf?"
Alina nunjuk jalan. "Gue ngahalangin jalan lo."
"Nggak juga." katanya, ngusap rambut hitam gelapnya.
Mereka jalan beriringan lewat lorong yang sepi. Pria itu tampak santai, sementara Alina sesekali mencuri pandang.
"Gue liat lo cukup terkenal," katanya tiba-tiba, ngebangunin Alina dari lamunan. "Kemarin, gue nonton wawancara lo di televisi. Lo keren."
Pas senyum, matanya mengerucut kayak anak anjing. Tangan Alina jadi gatel, dia buru-buru turunin tangannya, ngelawan dorongan aneh buat nyentuh wajah pria itu.
Alina senyum kecut. "Ah, itu... Mereka cuma bikin gue yang lagi berduka keliatan cakep di layar."
"Hmm.. maaf. Gue tau itu nggak gampang." Wajahnya jadi lebih prihatin. Tapi langsung berubah jadi senyuman lembut.
"Oke... bilang aja lo mau kemana. Gue temenin."
Alina ngutuk dirinya yang nggak pintar. Harusnya dia liat peta dulu sebelum datang, tapi sejak kemarin dia lebih fokus cari kerja sampai dia lupa mikirin sekolahnya.
"Toko buku."
"Lo beruntung." Pria itu ngedipin mata.
"Karena gue sama sekali nggak tau."
Sudut mulut Alina terangkat. "Hmmm... dan gimana itu bikin gue beruntung?"
"Karena kita bisa nyari bareng. Sebenarnya gue juga pengen nemuin." Dia ngelirik ke luar, terus dengan lembut genggam lengan Alina dan bawa ke pintu samping.
"Cuma ada satu hal yang lebih baik dari nyasar sendirian."
"Oh gitu ya." Alina bener-bener senyum. Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, rasa sakit karena kematian orang tuanya agak mereda.
"Dan apa tuh?"
Dia menyenggol lengan Alina pakai bahunya. "Nyasar sama orang lain."
"Dengan gitu, lo bisa jalan-jalan sambil nunggu bel masuk. Selain itu, gue tau tata letak dasar sekolah, dan gue yakin kita bakal nemuin toko buku di tempat umum." Dia bukain pintu buat Alina.
"Kita bisa muter-muter danau waktu istirahat nanti. Yah... lo tau lah. Nggak mudah di tempat kayak gini." Dia perhatiin sekeliling.
"Kita bisa sembunyi dari para siswa kaya yang mungkin bakal ngasih lo pelajaran."
Perut Alina bergejolak. Tapi, perpustakaan itu tampak sepi. Meskipun ada beberapa siswa lewat. Mereka pake aksesoris bermerek yang harganya mungkin sama kayak sewa rumah Alina.
"Jadi, lo tau jalan? Kayaknya lo juga murid pindahan."
"Yup, bener. Kita punya banyak kesamaan." Dia memasukkan tangan ke saku sambil belok menuju ruangan lainnya.
"Gue murid pindahan dari sekolah lain pas ditawarin beasiswa sepak bola."
"Wah, keren."
Dengar kata sepak bola perut Alina tenggelam. Berarti dia kenal Arion Mahendra. Anak keturunan Korea nyebelin, yang bermarga Kwon itu.
"Kedengarannya lo nggak senang." Dia berpura-pura terkesiap.
"Gue berjanji gue nggak bermaksud kayak gitu." Alina ketawa, meski sedikit dipaksakan. Mungkin berteman dengan cowok asing ini-sesuatu yang dapat dimanfaatkan saat ini.
Cowok itu membuka pintu perpustakaan untuk Alina. Namun, sebelum ia benar-benar masuk, ia berbalik dan berkata, "Makasi ya... uh, gue belum tahu nama lo."
Cowok itu tersenyum lebar. "Ah. Nama gue.."
Anda Mungkin Juga Suka





