Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Arrogant vs Crazy

Arrogant vs Crazy

Mencari nafkah tak semudah kisah fiksi. Nesta, gadis lulusan SMA bertubuh mungil, harus berjuang keras demi menyambung hidup. Keajaiban datang saat PT Taruna menerimanya sebagai office girl. Namun, nasib sial menimpa ketika bos angkuh memecatnya di hari pertama kerja. Nesta tak menyerah begitu saja karena ia sangat membutuhkan uang halal. Strategi gila apa yang akan ia lancarkan agar bisa bertahan di sana dan menghadapi sang atasan yang sombong?
Bab
Bagikan

Bab 3

Teriakan Viano menggelegar ke mana-mana. Dia menunjuk gadis di depannya, bertanya dengan kesal siapa dia.

"Saya, Pak?" tanya gadis itu sendiri.

"Iya, kamu!" ketus Viano.

"Saya--"

Belum selesai kalimat gadis itu, seseorang membuka pintu. "Ada apa ini, Pak?"

Ivan bukannya malaikat atau manusia punya indra keenam yang bakal bis langsung tahu kalau bos-nya lagi marah-marah.

Dia kebetulan mau diskusi sama Viano soal laporan kinerja karyawan, tapimalah dibuat kaget dengan keberadaan Nesta--dengan muka cengoknya-- dan juga Viano yang marah. Firasat dia mengatakan pasti sudah terjadi sesuatu yang sangat mengerikan di sini.

"Apanya yang ada apa! Kamu gak liat ini." Viano menunjukkan celananya yang ketumpahan kopi panas. Lebih tragis lagi, kopi itu tumpah di 'area terlarang'.

"Maafin saya, Pak." Si pelaku berusaha menjelaskan.

"Aduh ...." Ivan menepuk jidat. "Maafin dia, Pak. Dia OG baru.

Viano mendengkus. "Pecat dia sekarang juga!"

Ivan melirik pada Nesta--OG yang baru saja menumpahkan kopi.

Nesta panik. Masa iya, baru kerja sehari sudah dipecat? Mana, ada rencana makan-makan awal bulan, mau jalan-jalan.

Belum lagi si Yato yang sudah menodong hadiah macam-macam ke Nesta, ibunya yang minta daster baru sekalian ganti kompor, dan bapaknya yang diam-diam meminta sepatu kulit.

Hih! Kalau dipecat, bisa sirna harapan empat orang rakyat jelata.

Nggak banget, deh!

"Pak, maafin saya." Nesta mengambil tisu coba untuk bersihkan noda yang ada di celana Viano.

"Mau ke mana tangan kamu!"

"Mau bersihin celana Bapak."

Astaga! Ivan geleng-geleng.

Viano mundur satu langkah. "Jangan coba-coba, ya! Kamu istri saya aja bukan, mau pegang-pegang."

"Istri?" Nesta mengernyit bingung. Apa ini yang dinamakan nasib kacung, sana-sini salah melulu.

Dia bodoh atau bagaimana? Mana mau, Viano membiarkan perempuan asing menyentuh dia sembarangan.

"Keluar kamu dari ruangan saya!"

"Hah?" Asli ini mulut Nesta menganga dia merasa bego banget dalam situasi ini.

Ivan mengambil alih situasi. "Kamu keluar dulu, ya."

"Tapi, Pak." Mau bilang saya jangan dipecat, kok kelihatan menderita amat. Makanya Nesta tahan itu omongan.

"Udah, keluar aja dulu. Ini biar saya yang urus."

Nesta menurut. Dia permisi keluar pada para bos.

"Sial! Cewek itu dari mana, sih? tanya Viano setelah Nesta menutup pintu.

"Itu, 'kan, karyawan kemarin kita rekrut, Pak," jelas Ivan.

"Terus kamu ambilnya asal-asalan?"

"Loh?" Ivan tidak terima tuduhan Viano. Sembarangan dibilang asal. Dia sampai lembur. "Kan, Bapak sendiri yang bilang pilih karyawan yang hasil tesnya terbaik. Dan itu yang terbaik, Pak."

"Terbaik dari mananya!" Viano menukas. "Kamu enggak lihat, dia numpahin kopi panas ke sini." Viano menunjuk celananya. "Gimana coba masa depan saya!"

Ivan hanya menghela napas.

Setelah emosinya sedikit reda, Viano duduk di office chair-nya.

"Pokoknya saya nggak mau tahu, pecat itu karyawan hari ini juga!"

Ivan menarik napas dan mengembuskannya perlahan. "Kita udah keseringan pecat karyawan, Pak. Kalau kali ini kita pecat dia, itu namanya Bapak zalim. Dia masih karyawan baru, kita harus kasih kesempatan. Biasanya kalau di tv-tv, Bos zalim kena azab."

Viano meradang. "Kamu yang saya pecat!"

Ivan jadi sakit kepala. "Tapi, Pak, di luar itu, dia kemarin udah tanda tangan kontrak dengan kita. Dia minimal kerja 1 tahun dengan kita. Kalau dia berhenti di tengah jalan, kita kenakan denda 3 bulan gaji. Sedangkan kalau kita memecat dia kurang dari 1 tahun tanpa alasan fatal, kita akan kenal penalti seratus juta."

Viano tersentak. "Gila! Seratus juta? Orang bego mana yang buat aturan itu?"

"Bapak sendiri yang buat."

Damn! Viano merasa begitu bodoh buat aturan semacam itu. Semuanya karena dia kesal dengan diri sendiri, karena tak bisa menahan diri untuk tidak memecat karyawan yang menjengkelkan.

"Jadi gimana?" Ivan penasaran dengan keputusan Viano.

Pria 34 tahun itu menyandarkan tubuh di kursi.

"Gimana apanya? Sana kerja lagi."

"Saya kira, Bapak masih ada yang mau diomongin."

"Nggak ada." Viano kini mengetuk-ketuk meja. "Lagian, Van, kalau yang begini mau lama-lama kita bahas, itu namanya buang waktu! Kamu nggak paham apa, kalau waktu itu sangat berharga."

"Iya, Pak. Paham."

"Ya sudah sana kalau paham, kembali ke ruangan kamu. Kerja."

Viano dengar dengkusan Ivan. Persetan soal itu, dia bos di sini.

Ivan sidah biasa menghadapi ini. Kalau bos terdesak, pasti langsung cari alasan lain biar dia langsung kembali ke ruang kerja.

***

Nesta pergi ke pantry untuk membereskan sisa-sisa pekerjaannya. Tangannya sedikit gemetaran. Bagaimana ya kalau dia benar-benar dipecat?

Baru juga memikirkan akhir bulan bisa gajian, akhir tahun bisa jalan-jalan ke Bali malah sudah dipecat. Kalau begini sih, akhir tahun bukan jalan-jalan ke Bali, tapi ke BIKINI BOTTOM. Lihat si Kuning sama si Pink ketawa-ketawa tidak jelas.

Lusi tiba-tiba datang mencengkeram tangan Nesta.

Nesta mengaduh kesakitan.

"Tadi kamu ngapain aja di ruangan Pak Viano?"

"Bikin Vlog," jawabnya santai. Lagi pula, pertanyaan Lusi terlalu aneh. Nesta di ruangan Viano? Ya sudah pasti membawakan kopi.

"Jangan main-main kamu, ya!" Lusi galak bukan main ke Nesta.

"Ibu aneh, udah tahu saya lagi kerja masih ditanya apa."

"Kamu nggak pernah diajarin sopan santun, ya! Ngomong sama atasan nggak ada sopan-sopannya."

"Bukan gitu, Bu. Ibu justru yang aneh, datang-datang main kekerasan fisik. Terus, saya juga bingung kenapa Ibu penasaran banget."

Lusi mencebik. "Ada ribut-ribut apa tadi?"

"Tadi saya numpahin kopi ke celananya Pak Viano."

Lusi mengernyit. "Kok bisa?"

"Ya, Habisnya waktu saya mau tanya Pak Viano kopinya mau ditaruh di mana dia diem aja."

"Terus?"

"Karena dia diem aja pas saya panggil, saya tepuk pundaknya. Dia malah kaget. Tumpah semua, deh, kopinya."

"Kamu berani banget pegang Viano!"

"Bukan pegang, Bu, tapi cuma tepuk. Di sini ...." Nesta menujukkan pundaknya. "Itu pun cuma pakai kuku, pelan lagi," tambahnya. Belum tahu saja, Nesta kalau sama Yato bisa pakai sandal jepit buat panggil adiknya.

"Ih!" Lusi mulai kesal. "Kamu banyak omong, ya."

"Nanti kalau saya diam aja, Ibu bingung."

"Ya, Tuhan ...." Lusi semakin kesal. "Awas sana!" Dia menggeser tubuh Nesta.

Bergeser, Nesta kembali melanjutkan pekerjaannya. Lusi kembali ke ruangan.

"Aneh dia yang tanya, dia yang marah-marah. Dasar sekretaris carper. Sok cantik." Nesta mengomeli gelas kotor.

Nesta harus sabar. Namanya orang kerja begini. Penting untuk diingat, tidak punya uang lebih horor, daripada dimarahi Bos!

***

Ivan masih ada di ruangan Viano. Mendengarkan ocehan atasannya tersebut. Nasib dia memang sial hari ini. Dia diam, Viano mengusir. Dia mau pergi, Viano juga marah-marah lagi. Kelihatannya belum selesai marah-marah.

Apes!

"Kamu, kok bisa salah pilih karyawan begini, Van? Biasanya kamu enggak pernah salah rekrut karyawan."

Ivan hanya diam.

"Coba bayangin, baru satu hari kerja udah begini. Kamu tumben nggak becus pilihnya."

Kali ini, Ivan menjawab. "Lho, bukannya Bapak sendiri yang minta supaya saya pilih karyawan sesuai dengan keinginan Bapak?"

"Keinginan saya gimana?" sergah Viano.

"Bapak bukannya bilang, pilih karyawan yang kuat, rajin, bisa kerja, gak baperan, tahan banting kalau Bapak lagi marah, nggak mudah tersinggung."

Viano memijit kepala saat dengar penjelasan Ivan.

"Waktu saya tes, Nesta itu, yang jawabannya paling mendekati kriteria Bapak. Karena, dia bilang dia udah biasa dengan situasi begini." Ivan mengetuk meja kerja Viano supaya diperhatikan. "Dia tinggal sama ibu tirinya yang cerewet."

"Jadi maksud kamu, saya sama cerwetnya dengan ibu tiri dia?"

Ivan mengerucutkan bibir. Pikir aja sendiri!

Viano coba mengingat. "Emang saya minta begitu?"

"Saya bisa tunjukin rekamannya ke Bapak." Ivan hendak mengambil ponselnya. Ivan memang selalu siap sedia, karena Viano itu labil. Dia memang punya strategi bagus untuk urusan project bisnis. Namun, soal emosi dia nol besar.

Sering disalahkan, Ivan akhirnya mengatur strategi. Setiap kali Viano memerintahkannya, dia akam rekam di ponsel. Sebagai cadangan, kalau boss-nya itu 'kumat'.

Viano buru-buru mencegah. "Nggak usah. Yang penting mulai hari ini, saya nggak mau lihat dia lagi."

"Tapi kita nggak bisa main pecat gitu aja, Pak, karyawan juga punya hak asasi."

"Terserah kamu. Pokoknya saya nggak mau lagi lihat dia."

"Oke, Pak, kita bisa atur supaya Bapak nggak lihat dia lagi."

"Saya nggak percaya kamu lagi. Saya buatin aturan sendiri, nanti kirim ke email kamu."

Ivan menunggu, kalau-kalau Viano masih ada perlu.

"Kok, kamu masih diem. Lanjut kerja, Van!"

Mendesah, Ivan permisi. Awas, kalau Viano masih mau 'ceramah' lagi! Bisa-bisa, nanti dia yang mengajukam resign.

"Misi, Pak!" Ivan taham emosi.

"Humh!" Viano mana peduli.

Kembali ke ruangan, Ivan duduk di kursi. Mengatur napas sebentar, dia menelepon Nesta, meminta gadis itu masuk. Nesta datang tak lama setelahnya.

"Masuk!" Ivan mempersilakan, ketika ada yang mengetuk pintu. Tebakannya, Nesta yang datang.

Nesta masuk. "Permisi, Pak." Dia duduk di depan Ivan, dalam hati menebak kalau dia pasti akan dipecat.

Ivan menatap Nesta. "Kamu tahu, pagi ini kamu sudah keterlaluan," ujar Ivan.

Nesta hanya menunduk. "Maafin saya, Pak."

Ivan berdecak, lalu dia salin sebuah file dari ponselnya ke komputer. Nesta mendelik, ketika sesuatu tercetak dari mesin printer.

Ivan membacanya sekilas, kemudian dia lipat rapi kertas tersebut. "Ini untuk kamu." Ivan menyodorkan hasil print-nya.

Yah, beneran dipecat, deh.

"Baca itu baik-baik, dan jangan sampai ada kesalahan."

"Baik, Pak."

"Kamu boleh kembali kerja."

Nesta keluar dari ruangan Ivan. Sebelum mulai kerja, dia baca kertas yang tadi diserahkan Ivan. Matanya terbelalak. Bukan surat pemecatan. Namun, ini LEBIH BAHAYA.

Viano gila!

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ayah CEO Pengen Pelukan
9.1
Nadia menghabiskan malam bersama pria asing setelah dikhianati orang terdekatnya. Meski sempat menyesal, ketampanan pria itu justru membuatnya malu hingga ia nekat meninggalkan uang sebelum pergi. Kresna, sang pria misterius, merasa sangat terhina karena dianggap sebagai pria bayaran. Dengan amarah yang meluap, ia segera memerintahkan asistennya melacak identitas Nadia melalui rekaman CCTV hotel demi membalas perbuatan wanita tersebut.
Sampul Novel Brave Heart
8.7
Hidup Seruni Arkadewi hancur setelah kecelakaan membuatnya timpang. Ia dikhianati kekasih dan sahabatnya, lalu dipaksa ayah tirinya menikahi pria tua demi harta. Seruni pun kabur demi membuktikan kemandiriannya meski fisik terbatas. Di sisi lain, Antonio Brata Kesuma adalah pria kaya yang membenci segala bentuk kecacatan. Bagi Antonio, tekad Seruni hanyalah misi bunuh diri, namun Seruni tetap teguh berjuang menggapai mimpinya tanpa mau dikasihani.
Sampul Novel Dari Istri Tercampakkan Menjadi Pewaris Berkuasa
9.3
Dunia Kirana runtuh saat suaminya, Bima Nugraha, memamerkan kehamilan selingkuhannya di depan publik. Demi kelancaran bisnis, Bima dan keluarga angkat Kirana bersekongkol menjadikannya tahanan di rumah sendiri. Kirana difitnah gila dan dipaksa menggugurkan kandungannya. Namun, mereka tidak tahu identitas asli Kirana. Dengan satu panggilan, ia menghubungi ayah kandungnya, Antony Suryoatmodjo, konglomerat kuat yang siap menghancurkan Bima hingga tak bersisa.
Sampul Novel Darling Enemy
8.7
Vanilla Putri Mahameru sangat membenci Altan Wijaya Kesuma, putra dari mantan kekasih ibunya yang sering menghinanya tidak berotak. Altan, seorang konglomerat angkuh, menganggap Vanilla hanya mengandalkan nama besar keluarganya. Konflik memuncak saat Vanilla harus magang di kantor Altan selama empat bulan. Sejak sesi wawancara yang penuh drama dan jawaban nyeleneh, Vanilla harus berjuang menghadapi tekanan kerja di bawah pengawasan ketat pria yang ia juluki Setan Borjuis tersebut.
Sampul Novel Dipaksa Melayani CEO-Cinta Satu Malam
9.1
Sefia adalah Wedding Organizer sukses yang nasib cintanya berakhir tragis. Tepat semalam sebelum menikah, ia memergoki Wisnu berselingkuh dengan asistennya sendiri. Hancur karena dihina, Sefia yang kalap menawarkan dirinya kepada pria asing di dalam lift. Namun, candaan itu berujung petaka saat pria setinggi 180 cm tersebut benar-benar membawanya ke ranjang. Kini Sefia terjebak dalam konsekuensi satu malam yang mengancam masa depannya tepat di hari pernikahan.
Sampul Novel Hari Pernikahannya, Pembalasan Dendam Sempurnanya
9.2
Dahulu aku menyelamatkan Arya Wicaksana, membangunnya menjadi raja bisnis, dan menikahinya secara rahasia. Namun, ia mengkhianatiku dengan menyebutku beban dan menghancurkan klinik kenangan putri kami demi kekasih barunya. Arya menyalahkan ambisiku atas kematian anak kami, berusaha menghapus jejak masa lalu kami sepenuhnya. Ia pikir ia telah menang, namun undangan pernikahannya justru menjadi awal kehancurannya yang akan aku eksekusi tepat di hari bahagianya.