
Arrogant Husband
Bab 2
"Menikahlah dengan Damian, Sayang. Kamu tidak akan kekurangan apa pun. Dia punya segalanya." Heri coba meyakinkan putri bungsunya yang dinilai lebih cantik dibandingkan putri kandungnya sendiri, Alexa.
"No! Dia jelek, arogan, penyakitan! Apa Papa nggak sayang Rissa sampai minta Rissa menikahi pria tua seperti dia? Rissa nggak mau, Pa!"
Alexa terkekeh menyaksikan drama menjijikkan antara ayah dan adik tirinya. Makan malam keluarga yang seharusnya tenang, berubah dipenuhi rengekan manja setelah Heri mengungkapkan tujuan utamanya mengajak mereka bertemu di restoran mewah.
"Kenapa harus Rissa? Biarkan saja Alexa yang pergi, Pa!"
Lagi, Rissa merajuk dengan bibir mengerucut. Dia bahkan mengentak-entakkan kakinya di lantai demi mendramatisir penolakannya. Dia tidak peduli pada alasan perjodohan tersebut.
Rumor yang beredar menyebutkan bahwa seorang Damian Ferdinand Alvarez adalah pria paruh baya yang tidak pernah muncul di muka publik. Tidak ada satu pun potretnya. Dia seorang perjaka tua yang tidak segan menindas lawan bisnisnya. Tidak pernah ada yang bertemu muka dengan pria itu, hanya asistennya saja yang mewakili seperti malam ini.
Alexa melanjutkan santap malamnya tanpa berkomentar apa-apa. Sudah hal biasa ketika Heri lebih mengutamakan anak tirinya dibandingkan dia, darah dagingnya sendiri. Pria separuh abad itu menganggap Rissa lebih layak mendapatkan tawaran untuk menjadi istri Damian, miliarder nomor tiga di negara ini.
"Sayang, dengarkan Papamu. Dia pasti membuat keputusan itu dengan penuh pertimbangan. Kamu tidak akan rugi." Selina berbisik menasehati putrinya, Alexa pura-pura tidak mendengarnya.
Sebagai seorang wanita materialistis, tentu Selina sudah mencari tahu informasi tentang Damian. Dia bahkan sudah memiliki gambaran berapa uang yang akan diminta untuk mengurus pernikahan dengan putrinya. Sungguh luar biasa.
"Tapi, Ma. Bagaimana dengan karir modelku? Aku baru masuk agensi."
"Gampang. Setelah menjadi istri Damian, kamu tidak perlu lagi bekerja. Dia akan memberikan segalanya untukmu. Mau rumah, mobil, vila, bahkan jalan-jalan keliling dunia sekalipun, dia tidak akan keberatan asal kamu bahagia."
Alexa hampir tersedak mendengar ucapan ibu sambungnya. Wanita itu seperti rubah licik yang bisa menjerumuskan anaknya sendiri ke dalam lubang. Entah di mana hati nuraninya. Bagaimana mungkin Heri bisa jatuh cinta dan bertahan hidup bertahun-tahun dengannya? Mengerikan.
"Aku tetap ingin jadi model, Ma. Itu cita-citaku."
"Kamu bisa memiliki agensi model sendiri." Heri kembali bersuara. "Tunjuk saja iklan mana yang ingin kamu bintangi, Damian dan agensi kalian akan mengurusnya. Kamu juga bisa menentukan hari kerjamu sendiri. Tidak perlu tertekan dengan jadwal seperti yang manajermu buat selama ini."
Alexa semakin tidak habis pikir dengan fungsi telinganya. Kenapa Heri begitu ingin Rissa menyetujui pengaturannya?
"Ayah, apa yang terjadi? Masalah apa yang Ayah buat sampai mengacaukan orang itu?"
Rissa yang sudah membuka mulutnya hendak mengeluarkan protes, hanya bisa menelan kata-katanya sendiri. Tatap matanya tertuju pada Alexa yang baru tiba dari Singapura tiga hari lalu. Dia secara khusus dipanggil pulang oleh Heri demi membantunya mengurus perusahaan.
Pembawaan Alexa lebih dewasa, dengan pemikiran yang lebih matang tentunya. Dibandingkan dengan Rissa, tentu gadis 25 tahun itu unggul amat jauh kemampuannya. Gadis itu bekerja sebagai seorang akuntan profesional yang terbiasa mengaudit laporan keuangan perusahaan. Baik nasional maupun internasional.
"Ap—apa maksudmu, Alexa?" Bukan Heri, Selina yang menyela dengan tergagap. Jelas ada ketakutan tersendiri saat berbicara dengan anak tirinya ini.
Alexa tersenyum, "Bibi, saya bicara dengan Ayah saya. Tolong diamlah sebentar, ya."
"Alexa!" Heri meninggikan suaranya, "Jaga sopan santun pada ibumu sendiri."
"Oh, ibu? Maaf, Ayah. Ibuku hanya ada satu, sudah ada di surga. Kita tidak perlu membahasnya atau aku akan murka. Sekarang tolong jawab saja pertanyaanku, apa yang membuat Ayah tidak bisa menolak permintaan orang itu? Terlilit hutang lagi seperti sebelumnya?"
Heri meremas jemarinya sendiri. Semakin dewasa Alexa Wiratama, semakin kritis pemikirannya. Persis seperti mendiang ibunya.
"Berapa jumlahnya, Yah?"
"Ini ... ini tidak seperti yang kamu bayangkan, Nak. Hanya ... hanya ...."
"Hanya empat miliar, Nona." Bukan Heri, Selina, ataupun Rissa yang bersuara, melainkan seorang pria yang sedari tadi duduk tidak jauh dari mereka. Dia tiba-tiba muncul dan berdiri di samping Alexa.
"Perkenalkan, saya Ray, sekretaris pribadi tuan Damian."
Pria dengan setelan kotak-kotak itu menundukkan badannya sebelum memberikan satu bundel dokumen kepada Alexa.
"Hari ini tenggat waktu pembayaran hutang itu harus dilunasi. Jika tidak, perusahaan tekstil atas nama tuan Heri Wiratama akan berpindah kepemilikannya menjadi aset milik tuan saya."
Alexa berusaha mencerna, membaca cepat poin-poin yang tercetak di atas kertas. Di sana tertulis kalau Heri Wiratama—ayahnya, bersedia melunasi hutang itu per hari ini. Jika tidak, maka dia harus menyerahkan perusahaan itu dan seorang putrinya untuk menjadi istri Damian.
Alexa memijat pelipisnya, mengambil napas dalam dengan mata terpejam. Perusahaan yang susah payah diperjuangkan oleh mendiang ibunya, kini tak lagi ada harganya. Dia yang terlalu fokus membangun karir di luar negeri, melupakan fakta kalau harta berharganya tidak dikelola sebagaimana mestinya.
"Maaf jika kedatangan saya mengganggu waktu makan malam Anda, Nona. Saya sudah berusaha menghubungi ayah Anda, tapi beliau selalu menolak untuk bicara." Ray menghormati Alexa, bisa melihat kalau wanita itu memiliki aura luar biasa. Sama seperti tuannya.
Alexa mengangguk, minta Ray duduk bersama mereka untuk menjelaskan detail perkara yang ada. Heri hanya bungkam seribu bahasa. Dia tidak tahu Ray akan memojokkannya di depan Alexa seperti sekarang ini. Padahal, dia berusaha menyelesaikan semuanya dengan caranya sendiri, yakni menggunakan Rissa sebagai tumbal. Sayangnya, gadis itu tidak bisa menurutinya begitu saja.
"Ma, ayo pergi." Rissa yang tidak mau terlibat dalam situasi pelik yang melibatkan ayahnya, menarik lengan Selina. Mereka tidak peduli pada teriakan Heri yang menggema, membuat pengunjung lain menoleh ke arahnya.
"Pergi. Pergi. Cari aman, Ma." Langkah Rissa dan Selina semakin menjauh. Keduanya tak menengok ke belakang sama sekali, enggan peduli, menyisakan Alexa, Heri, dan Ray di kursinya masing-masing.
Ray menjelaskan semua secara gamblang, awal mula Heri mengajukan pinjaman pada perusahaan mereka setahun lalu.
"Alexa, Ayah salah perhitungan. Ini sungguh di luar dugaan." Heri coba membela diri, menutupi kesalahannya sebelum Ray membuka kedoknya yang lain.
"Kami sudah memberi peringatan saat ayah Anda mengajukan pinjaman satu milyar yang ke tiga. Beliau menggunakan rumah sebagai jaminannya."
Tatapan Alexa semakin tajam, menyiksa Heri Wiratama yang gemetar ketakutan di tempatnya. Dia hanya bisa menundukkan kepala, tidak berani menatap mata putrinya.
"Kenapa kalian tetap memberi pinjaman kalau tahu ayahku tidak akan sanggup membayarnya?" tanya Alexa setelah Ray menyelesaikan penjelasan singkatnya. Dia berusaha tetap objektif memandang kejadian ini, tidak terpengaruh dengan statusnya sebagai putri kandung pihak yang berhutang.
Sebagai seorang akuntan, tentu dia tahu prosedur pinjam meminjam dan agunan yang dijaminkan. Namun, seharusnya mereka juga bisa menilai kapabilitas debiturnya.
Ray menelan ludah, mengambil jeda beberapa detik demi mencari kata yang tepat untuk menjelaskan. Dia tahu, tidak akan mudah berbicara dengan wanita karir semacam Alexa yang memiliki pengetahuan lebih di bidangnya.
"Kami adalah lembaga pinjaman yang berbasis bisnis, Nona. Selama debitur bisa memenuhi kewajibannya, tentu kami akan menyambut baik niat mereka. Anda—"
"Ah, menyambut baik? Lalu apa ini?" Alexa mengempaskan kumpulan kertas di tangan ke atas meja, membuat Ray menahan napas sepersekian detik sembari menolehkan kepala. Refleks tubuh yang mengira kalau dokumen itu akan menyapa wajahnya.
"Menyambut baik debitur dengan ancaman pengambilalihan agunan, itu masih bisa diterima. Memang seperti itu prosedurnya. Tapi ...." Alexa berdiri, mendekat ke arah Ray yang tetap berusaha tenang di tempatnya.
"Memaksa debitur menyerahkan salah seorang putrinya untuk menikah dengan pihak pertama, apa itu masuk akal?" Alexa mencondongkan badan, membuat wajahnya begitu dekat dengan wajah Ray.
Gadis itu berusaha mengintimidasi lawan bicaranya, merusak konsentrasi agar keputusan yang Ray ambil tidak rasional. Itu salah satu teknik memengaruhi orang agar mengambil keputusan sembarang.
Sayangnya, Ray bukanlah sekretaris kemarin sore yang mudah terpengaruh oleh tekanan orang-orang di sekitarnya. Dia lebih tangguh dari itu, justru tersenyum manis ke arah Alexa. Rasa kagum membuat sinar matanya berbinar cerah. Dia merasa tertantang menghadapi wanita cerdas yang tidak mudah menyetujui keadaan ini.
"Tuan Heri Wiratama sudah menandatangani surat perjanjian sebulan yang lalu. Tugas saya hanya mengingatkan kalau waktu persiapan tidak banyak. Lusa, saya akan menjemput Anda ataupun nona Rissa, salah satu dari kalian akan menjadi mempelai wanita untuk tuan saya. Bisa dimengerti, Nona?"
Kedua tangan Alexa terkepal erat di sisi badan. Dadanya naik turun dengan cepat, menahan kemarahan yang berusaha mengambil alih akal sehatnya. Kalau saja dia menuruti emosinya, tentu dia sudah menarik kerah baju Ray dan memukulnya sekuat tenaga. Sayangnya, dia masih sadar untuk tidak mempermalukan dirinya sendiri.
"Sampai jumpa. Kita bertemu lagi besok lusa, Nona." Ray menundukkan memberi hormat sebelum pergi. Gemeletuk sepatunya membuat Alexa semakin muak. Keadaan ini sungguh mencekik kewarasannya, membuatnya berteriak sekuat tenaga.
"AARGHH!"
Anda Mungkin Juga Suka





