
Antara Takdir dan Cinta
Bab 3
"Shut! Kamu ini!" tegur seseorang mengingatkan kalau Azra masih berstatus sebagai kekasih Bima.
Suara mereka berhasil membawa Azra kembali pada kesadarannya.
"A ... aku," gagap Azra yang wajahnya langsung memucat.
Azra sadar kalau seluruh keluarga Bima tidak merestui hubungan mereka dan mencarikan seorang wanita yang lebih sempurna untuk menjadi calon istri pria itu. Namun, tetap saja kata-kata yang tidak disengaja oleh temannya itu menusuk ke dalam hatinya.
Secara tidak langsung perkataan singkat itu mengungkapkan bahwa sudah banyak orang yang mengetahui kalau ternyata Azra dan Bima tidak akan pernah bersatu. Bahkan berita perihal Bima yang sudah memiliki calon istri pilihan keluarganya juga sudah tersebar kemana-mana.
Disaat Azra bingung akan menanggapi perkataan mereka dering pesan masuk dari ponselnya berhasil menyelamatkan. Azra membuka pesan masuk dengan gerakan cepat dengan tangan gemetar.
'Putri Zahrana, nama pena yang indah. Azra Guzel Nawala, nama asli yang tidak kalah indahnya. Aku tahu siapa kamu dan semua identitas mu.'
'Tinggalkan semua pekerjaanmu hari ini dan temui aku di alamat ini dalam satu jam ke depan. Aku tunggu kamu di sana.'
Pesan dari nomor asing itu mengandung kalimat perintah yang tidak boleh ditolak oleh Azra. Hal itu membuat keningnya berkerut tidak mengerti sembari melihat alamat yang tertera di sana.
Belum sampai Azra membalas pesan itu, ponselnya kembali berdering. Ternyata panggilan masuk dari Ziya, teman baiknya yang sudah bersama sejak mereka masih kecil.
"Azra, cepat ke rumah sakit. Ibu masuk rumah sakit lagi dan kondisinya kritis. Aku tidak tahu harus bagaimana." Suara Ziya dengan panik dan isak tangis langsung menyambut pendengaran Azra.
"Kamu tunggu aku datang. Sekarang juga aku ke rumah sakit," jawab Azra dengan cepat.
Tanpa menunggu lama Azra langsung menuju ke parkiran sepeda motornya berada. Dia tidak lagi kepikiran untuk meminta izin terlambat masuk atau bahkan libur. Yang ada di pikiran Azra hanya ibunya. Namun, sekuat mungkin berusaha untuk tenang dan fokus.
"Ibu masuk rumah sakit dan nomor asing itu meminta aku untuk menemuinya. Bahkan nomor itu juga menyuruhku untuk meninggalkan semua pekerjaan hari ini."
"Kenapa semuanya kebetulan seperti ini?" gumam Azra sembari mengendarai sepeda motornya ke rumah sakit.
Air mata tidak berhenti mengalir sepanjang perjalanan mengingat kondisi kesehatan ibunya yang akhir-akhir ini memang mengkhawatirkan. Terpikirkan sesuatu, Azra menepi dan membuka ponselnya. Dengan cepat jemarinya mengetik sesuatu.
'Ziya, kamu tenang sebentar, ya. Tunggu ibu dan jangan tinggalkan dia. Aku ada urusan sebentar,' kata Azra dalam pesan singkatnya.
'Aku tidak punya waktu satu jam ke depan. Aku akan menemuimu sekarang,' lanjut Azra menuliskan pesan dan mengirimkan kepada nomor asing sebelumnya.
'Okey. Datanglah. Aku menunggumu sekarang.'
Balasan dari nomor asing itu dengan cepat Azra dapatkan. Sementara dia mengabaikan pesan balasan dari Ziya. Selanjutnya Azra melajukan sepeda motornya ke alamat seseorang misterius di sana.
"Pengobatan ibu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Kalau orang itu tahu identitas ku dan namaku dalam dunia literasi, itu artinya kemungkinan dia orang yang mengenalku dengan baik," pikir Azra dalam perjalanan.
"Baik buruknya akan aku hadapi nanti di depan. Sekarang aku hanya berharap semoga kebaikan dan pertolongan yang besar akan datang. Aku yakin Tuhan akan memberikan rezeki tak terduga untuk pengobatan ibu."
Azra meyakinkan diri sendiri dalam kegundahannya kali ini. Bagaimana tidak, seluruh tabungan dia tidak cukup untuk membayar biaya rumah sakit nanti.
Kalau pergi tanpa membawa uang yang cukup, itu hanya akan membuat Ziya dan ibu menjadi sedih. Harapan Azra kali ini semoga saja ada yang mau meminjamkan dia uang. Entah itu nomor asing tadi atau siapapun yang Tuhan kehendaki.
"Silakan masuk, Nona Azra. Tuan sudah menunggu anda di atas," ucap Erick begitu bertemu Azra di lobby.
"Emm ... terima kasih." Azra menjawab seadanya, tetapi dia tetap berdiri di sana sembari memperhatikan Erick.
"Mari ikuti saya, Nona. Jangan khawatir karena anda akan baik-baik saja. Tidak akan terjadi sesuatu yang buruk pada anda," jelas Erick mengetahui pandangan waspada Azra kepadanya.
"Saya Erick, sekretaris pribadi tuan," imbuh Erick merasa perlu untuk memperkenalkan dirinya mengingat mereka akan sering bertemu di masa depan.
Begitu mengetahui Azra akan datang lebih cepat, Erick sengaja menunggu di depan pintu lobby untuk menyambut sekaligus mengantarnya sampai ke atas menemui Daren. Namun, Erick tidak lagi membuka suara lebih banyak untuk menjelaskan sesuatu karena semua itu akan disampaikan sendiri oleh bos besarnya.
"Selamat pagi, Sweety," sapa Daren begitu Azra masuk ke dalam.
"Maaf sudah membuatmu repot untuk datang ke sini. Seharusnya aku yang langsung datang menemuimu, bukan malah sebaliknya seperti ini," kekeh Daren melanjutkan sembari tersenyum.
"Kamu ...." Azra terkejut mendapati pria di depannya. Dia merasa tidak mengenal pria itu dan mereka tidak sengaja bertemu hanya satu kali saja.
"Maaf, apakah ada masalah di antara kita?" tanya Azra langsung pada intinya setelah dia dipersilahkan duduk di sofa yang ada di sana.
"Bukankah saya sudah meminta maaf atas kejadian waktu itu? Dan saya juga sangat berterimakasih atas bantuan anda yang sudah menyelamatkan saya. Lalu, seharusnya sudah selesai semuanya disaat itu juga, bukan?"
Merasa putus asa atas harapannya mendapatkan pertolongan untuk tambahan biaya pengobatan sang ibu, Azra merasa tidak perlu lagi berbasa-basi di sini. Semakin cepat pergi dari tempat ini, maka semakin baik. Terlebih ada Ziya yang sedang menunggu dia segera ke rumah sakit.
"Jangan terburu-buru, Sweety. Aku mengundangmu kesini bukan untuk membahas kejadian itu," sanggah Daren disertai senyuman yang tak luntur dari wajahnya.
Padahal sebenarnya Daren termasuk pria yang hanya memiliki ekspresi dingin dan datar. Hanya saja, setelah bertemu Azra, dia merasa senyumnya muncul lebih cepat dengan sendirinya ke permukaan.
"Lalu? Aku sama sekali tidak memiliki lebih banyak waktu disini bersamamu untuk membicarakan omong kosong dan hal yang tidak penting," balas Azra dengan cepat. Dia sama sekali tidak takut pada laki-laki di hadapannya yang sepertinya memiliki kekuasaan besar.
"Baiklah kalau begitu. Aku langsung saja pada intinya."
Daren menatap Azra dengan serius. Dia tahu benar apa yang membuat Azra terburu-buru seperti ini. Karenanya Daren juga tidak akan menahan lebih lama di sini setelah menyampaikan niatnya. Meskipun sebenarnya dia sangat menginginkan hal itu.
"Azra, menikahlah denganku. Aku mau kamu menjadi istriku."
Glek!
Azra menelan salivanya susah payah. Dia memicing menatap wajah Daren yang terlihat sangat serius dan tidak ada jejak bercanda di sana.
"Kamu melamarku, heh?" kata Azra meremehkan. Kemudian dia bangkit dan hendak pergi dari sana tanpa permisi.
"Azra, aku serius dengan perkataan ku." Daren mencegah Azra pergi dengan menahan lengan tangan kirinya.
"Aku mau kamu menjadi istriku."
"Azra Guzel Nawala, menikahlah denganku. Jadilah istriku dan ibu dari anak-anakku. Satu-satunya wanita yang akan melahirkan keturunanku," ulang Daren dengan mantap tanpa keraguan sedikitpun.
Hati Azra bergetar begitu mendengar nama lengkapnya diucapkan dengan lugas.
'Kenapa?'
'Kenapa nama lengkapku terdengar begitu indah saat kamu mengucapkannya?'
'Kenapa bukan Mas Bima yang datang kepadaku dan memintaku untuk menikah dengannya?'
'Kenapa bukan orang yang kucintai yang melamarku saat ini?'
'Kenapa keluarga Mas Bima tidak merestui hubungan kami?'
'Apa salahku? Di mana letak kesalahan besarku kepada mereka?'
Begitu banyak pertanyaan yang muncul dalam benak Azra. Semua hal indah yang sudah diganggunya bersama Bima terlintas begitu saja.
Di sudut hatinya, Azra masih berharap kalau Bima akan memperjuangkan cinta mereka. Walau saat ini dia sudah sakit hati atas berita yang simpang siur mengenai pertunangan kasihnya itu dengan seorang dokter.
Mencoba melepaskan tangannya namun gagal, membuat Azra membuka suara tanpa berbalik menatap Daren yang berada sedikit di belakang.
Anda Mungkin Juga Suka





