Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Antara Takdir dan Cinta

Antara Takdir dan Cinta

Daren memaksa Azra Guzel Nawala untuk menikahinya tanpa memberi ruang untuk menolak. Bagi Azra, pria egois itu tidak memahami cinta suci dan hanya memberikan perintah mutlak. Meski Azra sangat mencintai Bima, sosok yang terasa mustahil ia gapai, takdir justru menyeretnya ke pelukan orang asing yang terobsesi memilikinya. Kini, Azra terjebak dalam dilema antara perasaan tulusnya pada Bima dan pernikahan paksa yang menghancurkan harapannya akan kebahagiaan sejati.
Bab
Bagikan

Bab 1

Taman Putri Kaca Mayang, Pekanbaru.

Jum'at, 5 Agustus 2022.

Siang hari, 14.00 WIB.

Azra sedang duduk di salah satu tempat yang ada di taman Putri kaca Mayang Pekanbaru. Matanya menatap kosong ke depan menerawang sesuatu yang sudah beberapa hari ini membuat sesak dadanya. Sekuat mungkin Azra menahan air mata yang terus saja mendesak ingin keluar. Berbagai macam beban bertumpu di pundak. Belum selesai satu masalah, sudah datang lagi masalah yang lain sampai Azra sendiri bingung bagaimana caranya mencari solusi agar dapat keluar dari segala kerumitan ini.

Hah!

Azra menghembuskan nafas panjang. Mencoba tersenyum sembari menatap anak-anak yang berbahagia tengah bermain bersama keluarga mereka. Terlintas di pikiran Azra, andai saja dia dapat tertawa lepas bahagia seperti anak itu mungkin semuanya akan terasa sangat ringan tanpa beban. Getaran ponsel mengalihkan perhatian Azra. Senyuman manis terukir di bibirnya mendapati pesan dari seorang pria yang sangat dia cintai.

"Lagi di mana, Dek? Udah pulang dari klinik, belum?" Isi pesan singkat dari Bima, pria yang sudah menjalin hubungan dengannya beberapa bulan terakhir. Hanya pesan singkat seperti itu saja, tetapi berhasil menghangatkan hati Azra.

"Udah, Mas. Nih, aku lagi duduk di Kaca Mayang," balas Azra dengan cepat. Dia tidak mau Bima terlalu lama menunggu pesan balasan darinya.

"Gimana kata dokter, Dek?" tanya Bima akan kesehatan Azra yang memang sedikit terganggu beberapa bulan terakhir.

"Semuanya udah mulai baik, Mas. Cuma, bulan depan tetap harus check up lagi. Setiap bulan harus ke klinik sampai benar-benar sembuh." Azra mengetik dengan gerakan yang sangat cepat. Wajar saja, dia yang menggunakan ponselnya untuk mencari uang tambahan tentu sudah terbiasa mengetik cepat.

"Maaf, Mas ngak bisa ngantar," lanjut Bima dengan emoticon sedih.

Mengirimkan balasan dengan senyuman yang terdapat love di sana, Azra berusaha menunjukkan kalau dia sekarang sedang baik-baik saja.

"Ngak papa, Mas. Aku ngerti, ko."

"Lagian, aku udah biasa kemana-mana sendiri. Jadi, aku nggak kaget lagi. Mas tenang aja. Mas tahu kan, kalau aku pemberani?"

Dua kali Azra mengirimkan pesan singkat balasan. Azra tidak mau Bima mengetahui kalau sebenarnya saat ini dia sedang membutuhkan sandaran.

Berbagi cerita dan keluh kesah sembari mengeluarkan segala apa yang tertahan di hatinya. Sayang sekali, kesempatan itu belum datang padanya saat ini.

"Iya, Mas tahu. Cuma, rasanya lain aja. Biasanya, kan Mas bisa ngantar Adek, tapi karena kerjaan Mas yang bener-bener ngak bisa ditinggal, jadi Adek harus pergi sendiri," balas Bima mengungkapkan penyesalannya.

Yah, sebelumnya Bima tidak pernah absen mengantarkan Azra pergi ke klinik memeriksakan kesehatannya. Hanya saja, kali ini pekerjaan yang menumpuk benar-benar tidak bisa ditinggal. Bahkan beberapa berkas kantor yang akhir-akhir ini menggunung membuat Bima harus lembur tiap malam.

Azra tersenyum kecut membaca pesan dari kekasihnya. Dia sama sekali tidak marah. Bukan teman pergi ke klinik yang dibutuhkan Azra, tapi teman untuk berbagi masalah yang saat ini mengganggu pikirannya.

"Yah, Mas rasanya memang lain. Bukan cuma karena Mas Bima yang nggak bisa ngantar aku ke klinik, tapi ada hal lain yang lebih besar dari itu. Sesuatu yang membuatku terganggu dalam tidurku. Sayangnya, Mas Bima nggak pernah mau membicarakan hal itu bersamaku," gumam Azra pelan sembari menatap ponsel dalam genggamannya. Membaca pesan Bima yang sampai saat ini sudah lebih dari 15 menit belum juga dia balas.

"Belum lagi tentang ibu yang kesehatannya semakin hari semakin memburuk. Dari mana aku harus mendapatkan uang sebanyak itu? Sementara gajiku dari bekerja ditambah dengan tabunganku masih jauh dari kata cukup," lanjut Azra yang masih menatap ponsel seolah Bima mendengar apa yang menjadi kegelisahannya saat ini.

Belum sampai Azra mengetik pesan balasan untuk Bima, pesan baru yang masuk dari pria itu membuat Azra hanya bisa tersenyum terpaksa.

"Ya, udah dulu ya, Dek. Mas mau lanjut kerja biar nanti malam ngak lembur. Mas pingin pulang cepet biar bisa istirahat cepet juga," isi pesan Bima. Lalu tidak lama kemudian pesan kedua dari Bima menyusul.

"Nanti kalau mau pulang, hati-hati. Jangan ngebut-ngebut. Oh, ya, jangan lupa kasih tahu sama Mas kalau udah sampai rumah. Assalamualaikum."

Senyuman tipis terbit di sana, Azra menggeleng tidak mengerti. Padahal Bima tahu kalau rumahnya tidak jauh. Masih sekitaran Pekanbaru, tapi pria itu menganggap rumahnya seolah berada di ujung dunia sampai harus memberikan pesan seperti itu.

"Yang semangat kerjanya, Mas. Kalau capek natap laptop terus, Mas istirahatkan sebentar matanya. Jangan lupa menjaga kesehatan. Nanti kalau udah kayak aku, jadinya malah payah buat sembuh." Pesan pertama sudah Azra kirimkan. Dia kembali mengetik pesan kedua untuk membalas pesan kedua Bima.

"Ya, nanti kalau aku udah sampai di rumah, aku kasih tahu Mas Bima. Jangan lupakan kalau rumahku sebenarnya deket, cukup 30 menit saja udah sampe. Jadi, Mas Bima ngak usah khawatir banget sama aku. Wa alaikumussalam."

Pesan sudah terkirim keduanya, tapi belum bercentang biru. Padahal saat ini Bima masih aktif. Mungkin pria itu sedang sibuk dengan rekan kerjanya, pikir Azra mencoba untuk selalu berpikiran positif.

Merasa dia sudah cukup mengistirahatkan pikirannya di tempat itu Azra beranjak dari tempat. Dia berjalan sembari membawa minuman di tangan kanannya. Tas ransel sederhana selalu setia menemani kemanapun Azra pergi.

Saat sudah hampir sampai di tempatnya meletakkan sepeda motor, Azra yang sedang sibuk dengan ponselnya tidak fokus melihat keadaan. Dia hampir saja terserempet oleh orang yang tengah melintas dengan kecepatan tinggi. Bahkan bisa dibilang orang itu termasuk ugal-ugalan dalam membawa sepeda motor di tempat yang tidak seharusnya.

Beruntung sesuatu yang tidak diinginkan tidak terjadi. Tepat ketika Azra hampir saja terserempet, seseorang menariknya cepat menyelamatkan.

Azra merasa tubuhnya tertarik kuat. Spontan, Azra tidak sadar langsung mengalungkan kedua tangannya di leher orang yang sudah menyelamatkan dia sembari memejamkan matanya erat.

Syukurnya ponsel Azra tidak terjatuh. Benda pipih itu masih tetap berada dalam genggaman meski saat ini dia memeluk leher orang yang sudah menyelamatkannya.

"Orang itu sudah pergi, Nona. Anda sudah bisa tenang, sekarang. Lain kali berhati-hati lah kalau sedang berjalan. Jangan hanya karena sebuah ponsel justru membuat nyawa anda berada dalam bahaya," ucap seorang pria yang saat ini kedua tangannya memeluk pinggang Azra.

Posisi mereka berdua terlihat begitu mesra. Jika orang tidak tahu mengenai kejadian yang sebenarnya pasti mereka mengira yang tidak-tidak tentang Azra dan pria itu.

Suara seorang pria yang terdengar sangat dekat membuat Azra membuka pejaman matanya. Seketika dia langsung disambut oleh mata indah pria itu. Azra seperti terhanyut di dalamnya. Bahkan dunia terasa berhenti berputar.

Bukan hanya itu saja, orang-orang yang tengah melintas dan melihat mereka berdua yang masih dalam posisi berpelukan menganggap seolah dunia hanya milik mereka berdua, yang lain cuma numpang.

"Terpesona oleh ketampananku, Nona?" Pria itu bertanya setelah tidak mendapatkan tanggapan Azra.

Ternyata, pertanyaan itu masih belum dapat menyadarkan Azra. Akhirnya pria itu kembali membuka suara sembari melepaskan sebelah tangan kanannya yang tadi memeluk pinggang Azra.

Sementara tangan kiri masih tetap berada di sana menahan tubuh Azra. Dengan tangan kanan menyingkirkan rambut halus yang menutupi wajah Azra, perkataan pria itu berhasil membawa wanita di hadapannya kembali pada kesadaran saat ini.

"Apa aku terlalu mempesona sampai membuatmu melupakan duniamu, hmm? Atau aku perlu membawamu langsung menghadap kedua orang tuamu lalu merubah status kita berdua menjadi sah?"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BENIH KAKAK IPAR
8.3
Nayla Maldania merasa hidupnya sempurna bersama Alvin Rayes, suami mapan yang ia cintai. Namun, kebahagiaan itu hancur saat perselingkuhan Alvin terbongkar. Di tengah luka mendalam dan kondisi hamil, Nayla justru terjebak dalam perasaan terlarang dengan kakak iparnya, Alvaro Rayes. Kini ia berada di persimpangan jalan antara mempertahankan pernikahan demi sang buah hati atau menyambut cinta tulus Alvaro. Siapa yang akhirnya akan menjadi sandaran hidup Nayla?
Sampul Novel CEO Dingin Itu Penyelamatku
7.8
Embun terjebak dalam pernikahan yang menyiksa. Alih-alih kasih sayang, Putra justru menciptakan neraka karena hatinya terpaku pada wanita lain yang sudah Embun anggap kakak sendiri. Meski telah berkorban demi meraih cinta sang suami, perjuangan Embun selalu dipandang sebelah mata. Luka hatinya kian dalam saat Putra menyebut nama wanita itu usai mereka berhubungan intim. Di tengah kepedihan ini, mampukah Embun tetap bertahan saat kehadirannya tak lagi dianggap?
Sampul Novel Falling for him
9.1
Theo percaya bahwa hati manusia selalu berubah layaknya angin, sebuah keyakinan pahit dari masa lalunya yang kelam. Namun, pandangannya terusik saat bertemu Jaane Kim, gadis berpendirian teguh yang menutup rapat pintu hatinya untuk cinta. Bagi Theo, keteguhan Jaane adalah tantangan yang belum pernah ia temui sebelumnya. Mampukah sang 'Pied Piper' menaklukkan hati Jaane dengan pesonanya? Ikuti kisah romansa musim semi yang penuh debar dan keajaiban ini.
Sampul Novel Gadis Kecil itu Istriku
8.2
Kehidupan seorang siswi SMK berubah drastis setelah sebuah malam pesta yang tak terkendali. Saat menghadiri acara di hotel mewah milik rekannya, ia justru kehilangan kesuciannya dalam situasi yang tidak terduga. Tragedi ini menjadi titik balik bagi sang gadis muda dalam menghadapi realitas dunia dewasa yang keras. Kini, ia harus menanggung konsekuensi dari peristiwa malam itu sembari berjuang menentukan arah masa depannya yang kian rumit.
Sampul Novel Gairah Terkutuk
8.5
Liana memaksa Hart masuk ke dunianya dan menjadikannya budak tanpa menyadari bahwa pria itu berasal dari masa lalunya. Hart sengaja menyembunyikan identitas aslinya demi sebuah rencana besar. Pertemuan mereka yang tampak kebetulan di hidup Veronica ternyata telah diatur rapi oleh Hart sejak awal. Di balik kepatuhannya, Hart menyimpan rahasia gelap dan ambisi tersembunyi yang menjadi tujuan utamanya mendekati Liana dalam jeratan gairah penuh misteri.
Sampul Novel Luka Cinta Dari Suami Obsesif
8.6
Demi nyawa kakek, aku terpaksa menikahi Simon Adijaya yang telah mengurungku selama sedekade. Namun, aku justru disiksa oleh Virginia hingga wajahku hancur. Bukannya menolong, Simon malah menyebutku sampah dan membuangku ke sungai es. Di ambang maut, aku tahu kakek telah tiada. Simon merampas segalanya dariku: orang tua, kebebasan, dan harapan. Kini, dendam membara dalam sukmaku. Aku bersumpah akan menghancurkan hidupnya hingga dia memohon kematian yang takkan pernah kuberikan.