Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Antara Tajir dan Hafidz Qur'an

Antara Tajir dan Hafidz Qur'an

Nadia adalah wanita ambisius yang terbiasa hidup dalam kemewahan. Namun, dunianya berubah saat ia bertemu Akbar, seorang penghafal Al-Qur'an yang sangat sederhana. Di tengah ambisinya, Nadia mulai meragukan nilai materi setelah mengenal spiritualitas Akbar. Kini ia bimbang antara menjaga gengsi sosial atau memilih cinta sejatinya. Sayangnya, keluarga Nadia menentang keras karena perbedaan kasta ekonomi. Mampukah mereka bersatu meski terhalang tembok status sosial?
Bab
Bagikan

Bab 2

"Kenapa aku nggak bisa berhenti mikirin dia?"

Nadia bergumam, menatap kosong pada layar laptop yang menampilkan laporan bisnis yang harusnya dia kerjakan sejak tadi. Namun, sudah berjam-jam duduk tanpa satu pun kata yang terbaca. Pikirannya justru terjebak pada satu sosok yang baru kemarin ditemuinya-Akbar.

Bayangan tentang ketenangan pria itu, ketegasannya dalam menjawab setiap pertanyaan, kesederhanaan pakaiannya, serta kalimat-kalimatnya yang berhasil menusuk Nadia seperti slide rusak di dalam kepalanya. Sekeras apa pun dia menepisnya, bayangan itu semakin kuat tertanam.

"Kenapa aku harus peduli sama orang kayak dia?" Nadia bergumam lagi sambil menutup laptopnya dengan kesal.

Sofi, yang kebetulan duduk di sebelahnya, mengangkat alis, tampak bingung melihat tingkah Nadia. "Nad, ngomong sama siapa sih? Dari tadi kayak orang gila ngomong sendiri."

Nadia hanya mendesah, mencoba menyembunyikan kegelisahan di hatinya. "Nggak, Sof. Cuma lagi kepikiran kerjaan aja."

Sofi tersenyum tipis, seolah bisa membaca kebohongan itu. "Ya, keliatan aja. Lagian, dari kemarin kamu aneh banget. Penasaran ya sama Akbar? Hayo ngaku!"

Jantung Nadia berdegup lebih cepat. Ia tidak menyangka Sofi bisa menebak. "Hah? Kenapa tiba-tiba kamu ngomongin dia?"

Sofi mengangkat bahu santai. "Kalau penasaran ya cari tahu! Temuin orangnya, ajak ngobrol. Kalau nggak berani, samperin aja kalau dia lagi ngisi kajian di masjid deket kampus kita. Siapa tahu kamu dapet jawabannya dari sana?"

Nadia terdiam, menatap sahabatnya yang tampak tahu segalanya. Dia ingin menyangkal, tapi apa gunanya? Mungkin Sofi benar. Mungkin ini semua karena rasa penasaran. Bagaimana bisa seseorang hidup sederhana tapi tampak sebahagia itu?

"Aku cuma heran aja, Sof. Gimana bisa ada orang kayak dia, yang kelihatannya bahagia meski nggak punya banyak?" kata Nadia, akhirnya mengakui sedikit dari apa yang mengganggunya.

Sofi menatapnya sambil tersenyum jahil. "Makanya, cari tahu. Kalau memang penasaran, kenapa nggak datengin dia? Setauku, dia sering ngisi kajian. Siapa tahu kamu menemukan sesuatu yang kamu cari," ujarnya, tak melepaskan senyumnya yang jahil.

Nadia tertawa pendek, meski terasa sedikit aneh. Ikut kajian? Itu bukan dirinya. Hal-hal berbau religius selalu dia anggap sebagai sesuatu yang asing, tidak penting. Hidupnya selama ini dipenuhi ambisi dan pencapaian dunia.

Namun, semakin dipikirkan, rasa penasarannya semakin menguat. Bagaimana jika dia pergi? Sekali saja. Mungkin setelah itu, ia bisa mengusir bayangan Akbar dari pikirannya.

---

Keesokan harinya, Nadia akhirnya memutuskan untuk hadir di kajian itu. Masjid kecil dekat kampus tampak tenang, hanya beberapa orang lalu lalang. Rasa gugup menyelimutinya saat melangkah masuk. Baru kali ini Nadia berada di tempat seperti ini tanpa acara resmi atau undangan keluarga.

Namun, rasa penasaran mengalahkan segalanya.

Suara Akbar terdengar dari dalam. Ia berbicara dengan nada rendah, tapi setiap kata yang terucap terdengar penuh makna. Nadia berdiri di pintu, menyaksikan Akbar berbicara dengan beberapa orang yang duduk mendengarkan dengan tenang.

"Kedamaian itu bukan sesuatu yang kita cari di luar diri kita. Dia ada di sini," Akbar menunjuk dadanya sendiri, "di dalam hati yang ridho pada apa yang Tuhan berikan."

Nadia menarik napas panjang, berusaha memahami kata-katanya. Ridho pada apa yang Tuhan berikan? Baginya, hidup adalah tentang mencapai sesuatu yang lebih, bukan sekadar menerima apa yang ada.

Seseorang menoleh ke arah pintu, menyadari kehadiran Nadia, dan memberi isyarat agar dia masuk. Dengan sedikit ragu, Nadia melangkah masuk lalu duduk di belakang, mencoba tidak mencolok.

"Kedamaian bukan berarti kita berhenti berusaha atau bermimpi. Tapi, kedamaian adalah saat kita tidak terikat pada hasil akhirnya. Kita tetap berusaha, namun menyerahkan segalanya pada-Nya," lanjut Akbar, suaranya tenang dan dalam.

Nadia memandang Akbar dengan sorot mata penuh tanda tanya. Bagaimana mungkin ada orang yang bisa hidup tanpa merasa terikat pada hasil dari usaha mereka? Bagaimana bisa seseorang merasa cukup hanya dengan menyerahkan semuanya?

Kajian itu berlanjut dengan penjelasan-penjelasan yang bagi Nadia terasa seperti paradoks. Mengapa harus merasa cukup, padahal dunia ini menawarkan begitu banyak hal? Mengapa menyerahkan segalanya pada Tuhan, sementara manusia bisa berjuang untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan?

Saat kajian selesai, orang-orang mulai bubar dan sebagian menghampiri Akbar untuk bertanya atau sekadar berbincang. Nadia tetap duduk di tempatnya, menatap Akbar dari jauh, memikirkan apakah ia harus mendekat atau tidak. Dia ingin bertanya, ingin tahu lebih dalam, tapi ada sesuatu yang menahannya.

Namun, Akbar menyadari kehadiran Nadia. Ia menoleh, dan ketika mata mereka bertemu, Akbar tersenyum ramah, isyarat agar Nadia mendekat.

Dengan ragu, Nadia melangkah maju, hati kecilnya berdebar. Ini adalah pertemuan kedua mereka, namun rasanya begitu intens. Ketika sampai di depan Akbar, pria itu menyapanya dengan lembut, "Nadia. Apa kabar?"

Nadia mengangguk, berusaha terlihat biasa saja. "Kabar baik. Aku cuma ... penasaran aja ... dengan apa yang kamu bilang kemarin."

Akbar tersenyum tipis. "Oh ya? Menurutmu bagaimana?"

Nadia menggigit bibirnya, bingung harus menjawab apa. "Aneh. Aku nggak ngerti kenapa kamu bisa yakin begitu. Kamu bilang hidup tanpa ambisi lebih baik, tapi ... apa nggak ada yang kamu pengen raih?"

Akbar memandangnya dengan tatapan tenang. "Ambisi itu penting, Nadia. Tapi, apa artinya jika semua yang kita raih tidak membawa ketenangan? Terkadang, saat kita mengejar sesuatu, kita lupa apa yang sebenarnya kita cari."

Nadia terdiam. Kata-katanya mengena, meski tak bisa dijelaskan mengapa. "Jadi, maksudmu aku selama ini mengejar yang salah?"

Akbar menggeleng. "Bukan salah atau benar. Hanya saja, mungkin kita perlu bertanya pada diri sendiri, apa yang benar-benar penting. Apa yang membuat kita tenang. Kalau kita terus mencari tanpa tahu apa yang kita cari, bukankah kita hanya berputar-putar?"

Nadia merasa hatinya berdesir. Seumur hidup, ia terbiasa mengejar target, mencapai prestasi, meraih pengakuan. Namun kini, kata-kata Akbar menggugurkan semua yang ia pegang teguh.

"Aku nggak tahu," Nadia mengakui, suaranya lirih. "Aku cuma ... aku cuma nggak ngerti kenapa kamu bisa hidup dengan cara itu, seakan-akan semua hal duniawi nggak penting."

Akbar menatapnya dengan pandangan penuh pengertian. "Nadia, semua yang ada di dunia ini penting. Tapi tidak ada yang lebih penting daripada kedamaian dalam diri kita. Kita boleh saja mengejar apapun yang kita inginkan, selama kita tidak kehilangan arah."

Detik itu, Nadia merasa seperti terhempas ke dalam pemahaman baru. Ada sesuatu dalam dirinya yang terusik, sesuatu yang ia takutkan selama ini. Seakan-akan ia baru menyadari bahwa, di balik semua kesuksesan dan pencapaiannya, ada lubang yang tak terisi.

Akbar mengamati wajahnya yang tampak bingung. "Mungkin, kamu perlu waktu untuk memikirkannya. Jangan terburu-buru, Nadia."

Nadia mengangguk, masih dalam keterdiaman. Ia belum menemukan jawaban, tapi rasa penasaran itu tidak kunjung hilang. Justru semakin kuat.

"Terima kasih, Akbar," ucapnya pelan sebelum berbalik dan berjalan keluar masjid.

Di luar, angin malam menyapu wajahnya, membawa kesejukan yang menenangkan. Namun, kedamaian itu hanya sebentar. Dalam beberapa langkah, ia kembali tenggelam dalam pikiran-pikirannya.

Semalaman, bayangan Akbar dan kata-katanya terus membayangi Nadia. Perasaan yang ia rasakan sulit dijelaskan, seolah-olah ada dorongan untuk mencari lebih dalam lagi. Akhirnya, Nadia tahu satu hal: ia tidak bisa berhenti di sini. Ada sesuatu dalam hidupnya yang belum ia temukan, dan, entah bagaimana, ia merasa Akbar adalah kuncinya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Anak Yang Ku Bawa Dalam Rahimku
8.6
Baru seminggu bekerja di kediaman Arsanta, Alesha Devandra mengalami tragedi kelam saat Reiner yang sedang mabuk akibat dikhianati kekasihnya melampiaskan amarah padanya. Alesha yang trauma memilih kabur ke desa, namun ia justru mendapati dirinya hamil. Kini ia terjepit antara menuntut tanggung jawab pada Reiner yang mungkin lupa, atau membesarkan bayinya sendirian di tengah cibiran. Akankah Reiner mengakui darah dagingnya saat rahasia ini terungkap?
Sampul Novel Cinta Dibalik Dusta
7.8
Delapan tahun membina rumah tangga, Nia tak menyangka kebahagiaannya hanyalah kepalsuan. Hatinya hancur saat mengetahui fakta bahwa dirinya adalah istri kedua Arvan. Namun, saat Nia ingin bercerai, alasan Arvan berkhianat pun terkuak. Ternyata, Ayu sebagai istri pertama telah lebih dulu berselingkuh hingga memiliki anak dari pria lain. Kini Nia terjebak dalam dilema besar. Akankah ia tetap pergi, atau bertahan setelah memahami motif Arvan yang sebenarnya?
Sampul Novel Cinta Itu Luka
8.9
Hidup Nur Alia hancur setelah kehilangan lima calon buah hati akibat keguguran dan janin tak berkembang. Alih-alih mendapat dukungan, ia justru didepresi dan difitnah mandul oleh suaminya sendiri. Kehadiran sosok baru yang semula menjanjikan kesembuhan malah menorehkan luka yang lebih perih. Namun, di tengah keputusasaan dan keraguan akan cinta, sebuah keajaiban datang saat Tuhan menitipkan dua malaikat kecil di rahim yang sebelumnya dianggap tak berdaya.
Sampul Novel Di Balik Kilau Giok, Ada Cinta yang Mati
9.7
Empat tahun membina rumah tangga, sang istri selalu dihadiahi gelang batu giok oleh suaminya sebagai penebus dosa setiap kali pria itu berselingkuh. Setelah mengoleksi 99 gelang dan memberikan 99 kali maaf, batas kesabarannya akhirnya mencapai titik akhir. Kepulangan sang suami dari perjalanan dinas selama tiga hari dengan membawa sebuah gelang giok hijau kekaisaran seharga puluhan miliar rupiah menjadi pertanda jelas. Alih-alih memaafkan lagi, ia kini mantap untuk melayangkan gugatan cerai.
Sampul Novel Kawin Kontrak Sang Pewaris Tunggal
8.5
Maya Syaqilla merantau ke kota demi mengangkat derajat keluarganya. Awalnya ia mengira akan bekerja sebagai asisten rumah tangga, namun kesepakatan dengan Handoko justru menjadikannya istri kontrak sang majikan selama setahun. Meski caranya salah, kemakmuran kini menyelimuti keluarganya. Akankah benih cinta tumbuh antara Maya dan Boy hingga pernikahan mereka menjadi nyata? Ataukah rahasia besar ini akan terbongkar dan memicu kemarahan besar dari kedua keluarga besar mereka?
Sampul Novel Ketika Cinta Adalah Sebuah Kebohongan
9.7
Tiga tahun Kesha menderita dalam pernikahan beracun dengan Juan hingga sebuah pengkhianatan keji dari adiknya menjadi titik balik. Setelah dijebak, Kesha memilih pergi dan meninggalkan surat cerai. Tahun-tahun berlalu, ia kembali sebagai sosok sukses yang memukau. Juan yang terpaku melihat kemiripan Kesha dengan cinta barunya mulai menyadari bahwa ia hanya menjadikan Kesha pengganti. Dalam keputusasaan, Juan mengejarnya demi jawaban atas luka masa lalu mereka.