
ANTARA BISNIS DAN CINTA
Bab 2
Bu Windi tampak melamun memandangi taman bunga dari jendela besar di ruangan CEO, tempat mendiang almarhum suaminya dulu bekerja. Hari ini dia merasa begitu lelah. Dia masih tidak percaya bahwa keluarga Danujaya berhasil menguasai lima puluh persen saham perusahaan yang dibesarkan oleh suaminya.
Selain membeli dua puluh lima persen saham Arnold, ternyata mereka juga telah membeli dua puluh lima persen saham milik para direksi PT Gembira Raya. Apa yang sebenarnya mereka inginkan? Perusahaan ini bukanlah apa-apa dibandingkan dengan Danujaya Group.
Terlintas kembali wajah Joshua Danujaya di benak Bu Windi. Dia berharap bahwa lelaki yang usianya baru di awal tiga puluhan itu adalah anaknya. Tidak seperti Arnold yang selalu saja membuat masalah, Joshua kompeten dan bisa diandalkan. Hal itu terlihat dari cara Joshua tadi mengambil alih rapat pemegang saham.
“Jangan melamun, Ma.” Jessica menyentuh lengan ibunya.
Bu Windi tersenyum tipis. Untung saja dia masih punya Jessica, anak gadisnya yang selalu bisa diandalkan. “Sudah selesai keliling ke area workshop?” tanyanya lembut.
“Sudah sih, Ma. Tapi saya masih mau di sini. Mama pulang saja duluan.”
“Mau ngerjain apa sih, Jess?”
“Mau cek data penjualan bulan ini. Sekalian mau koordinasi dengan tim marketing,” jawab Jessica berbohong.
“Ya sudah, mama pulang dulu ya. Kamu jangan malam-malam pulangnya.”
“Iya, Ma. Nanti saya makan malam di rumah.” Jessica mencium pipi ibunya yang tampak pucat.
Setelah melihat ibunya berjalan keluar dari ruangan itu, Jessica segera meraih pesawat telepon. Dia menekan nomor extension ruang kerja yang dulunya ditempati Arnold.
“Halo,” sapa suara berat di telepon setelah beberapa detik.
“Pak Joshua, saya Jessica. Bapak ada waktu? Saya ingin bicara berdua saja dengan bapak,” kata Jessica tanpa basa-basi.
Ada jeda sebentar di antara mereka. “Boleh, beri saya waktu lima menit,” jawab Joshua akhirnya.
Siang ini dia harus membujuk Joshua Danujaya untuk menjual sahamnya kembali. Dia tidak tega melihat ibunya susah tidur dan susah makan sejak kemarin. Ibunya punya keyakinan bahwa perusahaan ini harus tetap menjadi milik keluarga, apapun yang terjadi.
Jessica duduk di sofa kulit yang ada di ruang kerja CEO. Sampai saat ini dia tidak nyaman duduk di kursi kerja ayahnya walaupun tidak ada yang melarang. Joshua belum datang juga. Diliriknya jam tangan Fossil yang melingkari pergelangan tangan kirinya. Lima menit belum pernah terasa selama ini, batin Jessica.
Terdengar suara ketukan di pintu lalu dengan cepat pintu itu terbuka. “Nggak keberatan kan kalau saya langsung masuk?” tanya Joshua sambil menutup pintu.
“Nggak, silahkan duduk.” Jessica menyunggingkan senyum.
Joshua duduk di sofa yang berhadapan dengan Jessica. Dia mengenakan kemeja abu pucat yang lengannya digulung sampai ke siku, menampakkan sebagian kecil tattoo yang ada di lengan kirinya. Dari sudut mana pun, Joshua tampak enak dilihat. Postur tubuhnya yang tegap membuat Jessica bertanya-tanya dalam hati, apakah dia pernah menjadi model fashion?
“Jadi, apa yang mau kita bicarakan?” tanya Joshua membuyarkan lamunan Jessica.
“Maaf,” ucap Jessica. Pipinya tersipu. Dia malu karena Joshua memergokinya sedikit termenung memperhatikannya.
“Never mind, saya sudah terbiasa dengan perhatian-perhatian semacam itu,” jawab Joshua dengan kepercayaan diri yang luar biasa. “Jadi, apa yang mau kita bicarakan?” tanyanya tidak sabar.
“Saya nggak mau membuang waktu Bapak yang berharga, jadi langsung saja ya. Saya ingin membeli saham yang sudah Arnold jual kepada Bapak. Itu merupakan kesalahan yang sangat fatal. PT Gembira Raya adalah perusahaan keluarga. Tidak seharusnya Arnold menjual saham bagiannya kepada orang lain.”
Joshua mengamati gadis yang ada di depannya. Bibirnya yang berwarna pink pucat tampak lembab menggoda. Bulu matanya lentik alami menaungi dua bola mata hitam pekat yang menatapnya.
Sebelum bertemu dengannya pagi ini, Joshua telah mempelajari latar belakang Jessica Marie Armantyo, putri bungsu keluarga Armantyo. Lulusan Nanyang Business School, Singapura dengan gelar summa cumlaude. Jujur, dia tidak menyangka bahwa Jessica jauh lebih cantik dibandingkan dengan foto-fotonya yang beredar di media sosial.
“Ehem, bagaimana, Pak?” Jessica berdeham. Dia tidak nyaman duduk berdiam diri berhadapan dengan pria tampan yang belum dikenalnya dengan baik itu. Sebenarnya bukan ketampanannya yang membuatnya tidak nyaman, tapi kekuasaan yang dimiliki keluarga Joshua yang membuat Jessica tidak nyaman.
Joshua hanya tersenyum.
"Jadi bagaimana dengan tawaran saya tadi? Apakah Bapak bersedia menjual dua puluh lima persen saja dari saham yang sudah Bapak beli sebelumnya?”
“Bu Jessica sudah tahu berapa nilai saham yang saya beli?”
“Iya, saya sudah dapat angkanya dari pengacara kami.”
“Lima kali,” kata Joshua. Sekali lagi senyum mengembang di wajahnya.
“Lima kali? Maksud Bapak?”
“Saya bersedia menjual dua puluh lima persen saham itu kepada Bu Jessica dengan nilai lima kali lipat.”
Apa dia sudah gila? Batin Jessica. Dia tidak menyangka akan berhadapan dengan orang yang serakah. Kalau saja dia tidak memikirkan ibunya yang pucat pasi tadi di ruang meeting, Jessica sudah pasti akan mengumpat dan memaki lelaki itu sekarang.
"Naik lima kali lipat? Hanya dalam waktu satu bulan saja? Saya yakin Bapak bisa bermurah hati untuk menurunkan harganya," kata Jessica mengiba.
Tiba-tiba wajah Joshua yang tampan itu terlihat memuakkan di mata Jessica. Bisa-bisanya dia menaikkan harga sesukanya!
"Kita sama-sama tahu saya tidak membutuhkan uang itu," kata Joshua sambil berdiri dari duduknya.
Joshua berjalan ke arah pintu. Tangannya sudah memegang handle pintu ketika Jessica menarik lengannya. "Tunggu! Bagaimana kalau saya setuju dengan harga tersebut?" tanya Jessica yang hampir hilang akal.
Joshua menaikkan sebelah alisnya. Dia bisa mencium aroma keputusasaan menguar dari lawan bicaranya. Dia yakin Jessica tidak punya uang sebanyak itu. "Jangan gegabah. Keputusan semacam itu seharusnya Bu Jessica bahas dengan Bu Windi."
"Arnold menjual sahamnya kepada Bapak tanpa membicarakannya terlebih dulu dengan ibu kami. Maka saya juga berhak membeli saham itu kembali tanpa sepengetahuan ibu kami."
Joshua tersenyum, "Hati-hati, Bu. Belum tentu apa yang Bu Jessica inginkan sama dengan keinginan Bu Windi."
Tanpa sadar, Jessica masih memegang lengan Joshua. Mata mereka beradu. Perasaan yang berbeda berkecamuk di benak mereka masing-masing. Jessica merasa kesal karena menghadapi Joshua yang serakah, sedangkan Joshua terpesona dengan kecantikan Jessica dari dekat.
Rambut hitamnya yang sebahu membingkai sempurna wajah mungilnya. Kulit wajahnya bersih dan lembab. Pipinya bersemu merah. Sekali lagi Joshua menatap bibirnya. Bibirnya penuh dan tampak lembut. Ya Tuhan, gadis ini cantik sekali, batin Joshua.
"Saya masih ada urusan," kata Joshua akhirnya. Walaupun enggan, dia perlahan melepaskan genggaman tangan Jessica dari lengannya. "Bu Jessica ikut meeting dengan tim marketing kan besok pagi?"
Jesica mengangguk saja tanpa berkata apa pun lagi.
"Kalau begitu, sampai ketemu besok pagi," kata Joshua mengakhiri pertemuan mereka.
Anda Mungkin Juga Suka





