
ANAKKU TIDAK SEPERTI ANAKKU
Bab 3
"Ibu apa-apaan sih?"
Rudi melotot tajam kepadaku, emosinya langsung terpancing setelah aku menyampaikan rencana mengontrakkan rumah untuk keluarga besar Elsa. Aku menatapnya tak gentar, tidak perlu melotot cukup menatapnya lama dan dalam saja. Rudi kemudian berdehem, lalu membuang tatapannya. Sementara keluarga Elsa semua sedang memandangi aku dengan tatapan aneh.
"Besan dan keluarga semua kan akan berada di sini sampai Elsa melahirkan, sementara kehamilannya baru memasuki bulan ke delapan. Masih ada satu bulan lagi waktunya melahirkan."
Aku menjelaskan maksud ucapanku soal rencana mengontrakkan rumah untuk keluarga besan yang datang beramai-ramai.
"Rumah ini kamarnya terbatas, lalu... Maaf sebelumnya ya... Saya paling tidak suka kamar pribadi saya dan anak-anak dimasuki orang lain selain kami keluarga intinya," lanjutku lagi.
"Ehemmmm.. Begini saja, Ibu Rudi,"
Apak Elsa memotong percakapanku, matanya menunjukkan ketidak sukaan pada ucapanku. Seketika aku merasa tak enak hati, tapi kalau diam saja dalam keadaan begini selama berbulan-bulan siapa yang tahan?
"Sepertinya kedatangan kami sudah membuat Ibu repot, jadi... Biarlah saya dan keluarga kembali saja ke kampung. Nanti kalau Elsa sudah melahirkan, kami akan kembali."
Nah... Benar, kan? Mereka sudah pasti tak terima diperlakukan seperti ini.
"Lho... Nggak bisa gitu dong Pak!! Bang!!"
Elsa mulai ikut bicara, wajahnya cemberut menatap Rudi, menuntut suaminya untuk melawan keinginanku. Rudi menoleh sebentar pada Elsa, lalu kembali menatap nyalang kepadaku.
"Atau begini saja... Biar saya saja yang mengontrak, besan dan keluarga silahkan tinggal di rumah ini selama kalian mau."
Aku lekas merebut kesempatan untuk bicara, sebelum Rudi berbuat dosa lagi dengan melawan keinginanku.
"Nah... Begitu dong, Bu... Itu yang namanya memuliakan tamu. Tamu adalah raja... Iya kan, Bang?"
Wajah Elsa sudah kembali tersenyum sumringah. Aku kembali menatap Rudi dengan tatapan iba, ingin sekali mengatakan "ini yang kamu mau kan, Nak?"
*
"Ibu ini aneh... Ibu yang punya rumah koq malah Ibu yang angkat kaki... Duh.. Bu Risma ini, terlalu lembek sama menantu!" ujar Bu Yuni dengan bibir yang dimiringkan.
"Iya, Bu... Itu kan rumah kita, rumah yang kita bangun bersama suami. Selama kita masih hidup, Rudi atau Reza sekalipun belum punya hak untuk memiliki rumah itu," sahut Bu Ety, aku memaksakan tersenyum untuk menguatkan hati. Tidak ada yang tahu bagaimana perasaanku saat ini, tidak ada yang mengerti kenapa keputusan ini aku ambil dan tidak akan ada yang bisa memahami caraku mencintai anak dan menantu.
"Saya hanya malas ribut, Bu," ucapku lemah dan nada suara bergetar menahan tangis, ibu-ibu yang duduk menemaniku berubah tatapan. Mereka yang awalnya menatapku seperti mengejek, sekarang berubah menatapku iba.
"Sabar ya, Bu Rahmi."
Akhirnya para tetanggaku itu memberikan kekuatan dan dukungan moral kepadaku. Topik pembicaraan pun seketika berubah, sudah tidak tentang aku yang pindah ke kontrakan Pak Haji lagi, tapi mulai membahas harga bahan pokok yang naik, anak tetangga yang akan menikah sampai tentang nasib anak pasangan artis yang baru saja meninggal dunia. Beginilah ibu-ibu kalau sudah kumpul, dari Sabang sampai Merauke semua bisa dikunjungi.
*
Rudi POV
["Kenapa malah Ibu yang pindah, Bang? Kenapa bukan tante, adik dan iparnya Kak Elsa yang pindah ke kontrakan?"]
aku terdiam, tak tahu harus menjawab apa.
["Itu rumah Ibu lho, Bang... Kita berdua belum pernah menyumbang satu butir pasir pun untuk membangun rumah itu, Abang dan aku... Kita belum punya hak menguasai rumah Ibu."]
["Aku bukan menguasai, Re."]
["Lalu, apa namanya kalau bukan menguasai? Abang tega dan diam saja melihat Ibu yang pindah ke kontrakan. Abang nggak mikir, apa kata tetangga nantinya melihat Ibu yang pindah tinggal ke kontrakan Pak Haji, sementara keluarga besar Kak Elsa ada di rumah Ibu saat ini."]
["Mereka itu tamu, Re.. Memuliakan tamu itu juga kewajiban!"]
Akuu mulai emosi mendengar ucapan Reza. Dia lupa kalau usianya sepuluh tahun lebih muda dariku, dia nggak punya hak mengajariku terlalu jauh seperti ini.
["Tamu itu paling lama dua tiga hari menginap, Bang. Kalau sampai berbulan-bulan bukan tamu lagi namanya, tapi menumpang hidup!"] Balas Reza sinis.
["Hati-hati kalau bicara, Re!"]
["Ya sudah... Terserah! Bagaimanapun caranya, Ibu harus kembali ke rumah! Kenapa tidak Abang bawa saja semuanya ke rumah Abang? Toh Kak Elsa juga kan belum waktunya lahiran!"]
aku mendadak bingung, bisa-bisanya Reza punya ide seperti itu. Bagaimana mungkin aku mengajak semua keluarga Elsa menginap di rumahku?
["Arghhh... Sudahlah! Kamu masih kecil sok-sokan kasih ide! Kamu urus saja pekerjaan dan kehidupanmu di sana! Sudah, aku mau tidur!"]
Ku putus sambungan telepon dengan Reza secara sepihak, harga diriku serasa diinjak. Berani-beraninya anak kecil itu bicara dengan nada tinggi, apa dia lupa kalau aku ini Abangnya. Ini semua gara-gara Ibu, beliau tak mau berbesar hati melayani keluarga Elsa yang sedang datang berkunjung. Aku juga awalnya kaget melihat kedatangan Apak, Emak tak hanya berdua saja, bahkan hampir membawa semua anggota keluarga. Hanya tinggal nenek dan Paman Elsa saja yang tak ikut, itupun karena nenek sudah sangat tua dan istri dari Paman yang juga sedang menunggu hari lahiran, makanya Paman tak bisa ikut.
Hanya dua atau tiga bulan saja apa salahnya sih? Akhir-akhir ini Ibu terlalu perhitungan kepadaku. Bahkan untuk tinggal secara akur dengan menantu pun beliau tak bisa. Ada saja masalah yang diributkan, seolah-olah beliau tak pernah hamil saja dulu. Aku kasihan pada Elsa, sudah hamil besar tapi masih harus menghadapi ibu yang keras hati.
"Bang!!"
aku menoleh cepat ke arah pintu, Elsa istriku yang manis dan menggemaskan sedang berdiri di sana. Wajahnya cemberut, bibirnya maju dan matanya melotot marah.
"Kamar Reza dan kamar Ibu terkunci, pasti Ibu yang membawa kuncinya!" ucap Elsa sambil berjalan mendekati ku dengan langkah kasar.
"Beneran?" tanyaku kaget.
"Beneran lah... Abang cek aja sendiri! Semakin hari tingkah Ibu semakin seperti anak-anak deh, ada-ada aja," ucap Elsa sambil perlahan duduk di atas pangkuanku. Elsa menarik tangan kananku perlahan, lalu meletakkannya di atas perut.
""Bang... Minta gih kunci kamarnya... Kasihan tante-tante ku, mereka capek mau istirahat," ucap Elsa manja, dadaku langsung berdesir mendengar kalimat manjanya itu, istriku ini tahu sekali bagaimana caranya melemahkan aku. Dia juga sangat pandai melayani, membuat cintaku semakin besar kepadanya.
"Ya, sudah... Abang ke kontrakan Ibu dulu," ucapku kemudian, Elsa bangkit perlahan lalu berdiri menghadapkan tubuhnya kepadaku. Perutnya yang semakin besar langsung berhadapan dengan wajahku.
"Ya udah... Cepetan balik ya... Nggak usah lama-lama nanti di sana. Minta kunci aja, trus pulang," pesannya sebelum aku bangkit, matanya mengerling indah merayu hasrat. Aku tahu sekali apa maksud tatapan itu.
"Siap, 86!" ucapku cepat. Elsa tertawa kecil, lalu membelai rambutku. Ku kecup perutnya, lalu bangkit hendak segera menemui Ibu di kontrakan.
*
Pintu rumah kontrakan yang ditempati Ibu tertutup rapat, lampu di dalam rumah sudah dimatikan, hanya lampu luar saja yang menyala. Aku mendekati pintu rumah dengan ragu-ragu, takut kalau ada tetangga yang mendengar dan tahu kedatanganku. Apa lagi kalau tetangga tahu kalau tujuanku datang ke sini untuk meminta kunci kamar Reza dan kamar Ibu, mati lah aku jadi topik pembicaraan hangat dan harus menanggung malu nantinya.
"Bu..."
ku rapatkan mulut ke pintu dan memanggil Ibu dengan suara sangat pelan, hampir seperti sebuah bisikan. Pintu rumah ku ketuk dengan jari telunjuk saja, agar tak terdengar oleh tetangga yang tinggal di kiri dan kanan kontrakan Ibu.
"Assalammualaikum, Ibu...." ulangku memanggil, tak ada jawaban dari dalam. Hanya keheningan saja yang menjawab lewat suara angin.
"Bu... Ini aku, Rudi. Buka pintu...."
"Eh!! Siapa kau!!"
Aku melonjak kaget mendengar suara lantang dari seseorang yang berlogat Batak, laki-laki itu menatapku tajam dan memperhatikan aku dari kepala sampai kaki.
"Yah... Kau nya Rud!! Udah kayak maling aja kau ku tengok, pake mengintip segala! Mau apa kau!" tanyanya kepadaku. Laki-laki ini selalu mengakhiri kalimatnya dengan tanda seru, tak ada lembut-lembutnya sedikitpun. Padahal dia sudah hampir lima belas tahun tinggal di kota ini, tapi logat dan dialek Bataknya tak juga pudar.
"Mau... Hmmmm... Ini Bang, aku mau...."
"Mau ketemu Mamakmu? Jawab gitu aja pun kau tak bisa! Lembek kali kau jadi laki-laki! Arghhh?!" potong laki-laki bernama Joni itu cepat.
"Mamakmu di ajak Bu RT ke Payakumbuh, ada keluarga Bu RT yang pesta. Kalo nggak salah, Mamakmu kenal sama yang pesta itu makanya dia mau aja ikut waktu diajak Bu RT," tambah Bang Joni menjelaskan.
"Eh... Teringatnya lah kan, yang kau usir nya mamakmu dari rumah?! Kenapa pulak dia tinggal di kontrakan, sementara rumahnya ada!"
Aku lekas menggeleng-gelengkan kepala, mataku melotot takut menatap Bang Joni.
"Ish!! Apa pulak yang tidak, diketawakan orang kau Rud!! Mamak kau tinggal di kontrakan, sementara rumahnya dikuasai keluarga istrimu. Udah kayak kau pulak yang punya rumah itu, kejam kali lah kau, Rud!!" sambung Bang Joni lagi. Aku sudah nggak tahan lagi mendengar ucapannya yang seperti menuduh itu, aku harus segera pergi dari sini. Kalau tidak, tuduhannya akan bertambah banyak nanti.
"Udah Bang, aku permisi dulu." ucapku sambil beranjak menjauhinya. Lama-lama bicara dengannya membuat jantungku senam aerobik terus. Suaranya yang lantang bahkan bisa membelah kegelapan dan mampir di empat puluh rumah tetangga sekitar. Aku lebih baik lekas menghindarinya daripada terus mendengar ocehannya.
"Yah... Mau kemana kau, Rud! Belum selesai lagi aku bicara, kau udah pergi!! Alahhhh!! Dasar laki-laki lembek kau, Rud!"
tak kuperdulikan teriakan Bang Joni yang kembali memecah keheningan malam, telinga dan jantungku tak cukup kuat untuk mendengar suaranya dari jarak dekat. Seandainya dia seorang muslim dan di suruh adzan di mesjid, aku yakin sekali dia tidak butuh pengeras suara lagi. Suara standarnya saja sudah bisa mengalahkan pengeras suara.
Ini semua gara-gara Ibu, beliau pasti sudah bicara kesana kemari tentang alasannya pindah ke kontrakan. Karena Ibu sudah lama tinggal di sini, tentu saja semua tetangga akan lebih mempercayai ceritanya. Mereka tak akan peduli sekalipun Ibu sudah berbuat dzalim pada menantunya selama ini, bahkan Ibu tega sekali membiarkan tamu tidur di ruang nonton beralaskan karpet saja. Seburuk-buruknya perangai Ibu, beliau pasti dibela tetangga. Arghhhh!! Ibu!!
Anda Mungkin Juga Suka





