
Anak Yang Terbuang
Bab 3
Di pagi hari, kembali ku lanjutkan pencarianku akan kerjaan, Aku mendatangi kembali Rumah Makan Padang yang kemarin, berniat menanyakan apakah pemilik Rumah makan tersebut datang dan berniat meminta pekerjaan dari-nya.
Tapi sayang, ternyata rumah makan itu masih tutup, Aku pun menunggunya sampai 1jam, tapi tetap belum buka juga, Akhirnya ku putuskan untuk pergi dari situ, berniat mencari kerjaan ke rumah makan yang lain, Aku pun bertanya ke beberapa rumah makan, tapi semua menolak ku! Sudah 4 rumah makan hari ini yang ku datangi, tapi tak satu pun yang bersedia mempekerjakan ku, bahkan Aku sendiri sudah bilang dan memohon tak masalah tak di gaji, yang penting ada tempat ku tinggal dan juga bisa makan.
Dalam hati ku berkata, kok susah bangat cari kerjaan, tibalah Aku di depan sebuah sekolah SMP, waktu itu mereka lagi jam istirahat, ku tatap mereka dari pagar sekolah. Aku sangat antusias melihat mereka bermain bersama di lapangan, seolah berharap Aku lah salah satu dari mereka, Memakai seragam Putih dan biru, sambil melihat mereka, Aku pun tersenyum sendiri, seolah hayalan ku nyata! bahwa Aku ada diantara mereka semua yang sedang asik bermain.
Aku akhirnya disadarkan oleh bunyi bel sekolah, anak anak smp yang se usia ku itu lalu masuk ke ruangan mereka, Aku lalu melangkah-kan kaki ku meninggalkan sekolah tersebut, sekarang perut ku benar benar keroncongan, karna semalam dan tadi pagi, Aku hanya memakan roti 2 ribuan untuk mengisi perut ku, akhirnya kuputuskan mencari rumah makan, dan menemukannya.
"Bang, boleh beli Nasi sama kuah doang ga?
"Boleh, berapa bungkus?
"Satu bungkus aja bang, Pake kuah aja ya Bang"
"Iya, Sebentar ya"
"Berapa?
"Tujuh ribu dek"
Aku kemudian membayarnya, tidak lupa Aku meminta air teh di plastik, untuk menghemat air minum ku. Aku kemudian mencari tempat yang nyaman buat ku makan, lalu melahap Nasi Kuah itu sampai habis, tak tersisa sebutir nasi pun, bahkan jari ku sendiri ikut bersih dari sisa nasi. hah..." perut ku pun kenyang.
Kembali Aku melangkahkan kaki mencari dan bertanya tanya kerjaan ke beberapa rumah makan, ke beberapa toko, tapi tetap tidak ada yang menerima ku, dan sekarang sudah hari ke 4 Aku mencari pekerjaan, tapi tetap tidak dapat. Sekarang sudah sore, Aku pun berjalan di dekat sebuah lapangan, tiba tiba Aku dihampiri 2 orang dewasa yang menurut ku seram! Rambutnya ber warna warna, lalu mereka meng kompas ku, meminta uang ku.
"Tolang Bang, Aku ga ada uang Bang"
"Diam lu! ku habisi kau kalau sampai teriak!
"Coba lihat isi kantongnya celananya! ucap salah seorang dari mereka, lalu dompet ku pun di ambil dan uang ku di ambil.
Aku kemudian memohon ke mereka, sambil memegang kakinya yang akan meninggalkan ku setelah uang ku diambil. Tolong Bang kembalikan uang ku Bang, ucap ku sambil menangis, tapi yang ada perut ku malah di tendang! mereka pun meninggal kan ku yang merintih kesakitan karna perut ku ditendang sangat kuat! sambil meringkuk di lapangan kupegangi perut ku yang kesakitan, air mata ku membasahi semua wajah ku. Tiba tiba hujan pun turun, dan membasahi semua tubuh ku, dan bercampur dengan air mata ku, yang masih meringkuk kesakitan, seolah Bumi menangis untuk penderitaan hidup ku.
Tiba tiba seorang Nenek nenek menghampiri ku yang masih meringkuk kesakitan.
"Kamu kenapa Nak? kok tiduran di situ dan kehujanan"
Dia pun semakin memperdekat dirinya, lalu melihat ku menangis ter sedu sedu sambil tangan ku memegang perut ku, kemudian membantu ku bangun dan berdiri
"Kenapa Nak?
"Aku habis di kompas Bu, uang ku diambil semua, trus perut ku di tendang kuat sama mereka"
"Oh.... Kasihan kamu Nak, Ayo kesana berteduh dulu di emperan toko"
Aku dan si Ibu pun akhirnya berteduh di emperan sebuah toko yang sudah tutup, walau pakaian kami berdua sudah basah, Aku lalu teringat akan photo keluarga ku, kuraba kantong ku, lalu kukeluarkan photo itu, sekarang sudah sedikit basah, si Ibu lalu menanyakan siapa di photo itu, Aku lalu mengatakan itu alm Ibu ku dan Ayah ku, dan Photo Aku waktu bayi. Lalu si ibu kemudian bertanya
"Nama kamu siapa Nak?
"Farhan Bu"
"Oh.. Nak Farhan mau kemana?
"Aku dari kampung bu, aku pengen nyari kerja di sini, tapi belum dapat dapat"
"Nak farhan kan masih kecil, ya pasti susah nak dapat kerja"
"Iya Bu, ga ada yang mau nerima Farhan kerja, kalau ibu sendiri?
"panggil aku nenek aja ya Farhan, soalnya sudah tua, kalau nenek cuman pemulung Farhan"
"Pemulung itu seperti apa Nek?
"Ya... Ngambil ngambil botol plastik Nak Farhan, seperti ini" (sambil menunjuk-kan isi dalam karung -nya)
"Trus Nek?
"Kalu sudah banyak Nenek jual ke pengumpul, uangnya buat bertahan hidup Nak Farhan"
"Oh... Boleh Farhan ikut nenek jadi pemulung?
"Boleh Nak Farhan, sambil kamu nanti bisa cari kerja"
Hari pun mulai gelap, dan hujan juha sudah mulai reda. Aku pun memutuskan utuk mengikuti Nenek, sebelum sampai di tempatnya, Nenek membelikan 2 bungkus nasi pake telor bulat, lalu kami melangkah menyusuri jalan, sekarang Aku lah yang membawa karung Nenek, dan akhirnya kata nenek, kita sudah sampai. Kulihat tempat nenek hanya berupa bangunan seperti gubuk, nenek pun menyuruh ku masuk ke dalam, lalu dia memberikan ku sebuah sarung yang sudah kusam untuk kupakai menggantikan pakaian ku yang basah, dan nenek menyuruh ku mandi di belakang, karna dibelakang ada drum air, dan sekarang pasti sudah penuh air karna hujan kata Nenek. Dan ini lah untuk pertama Aku mandi sejak merantau dari kampung, sebelumnya hanya cuci muka di tempat wudhu masjid.
Setelah itu, kami pun makan bersama diterangi lampu teplok, lalu nenek menyuruh ku tidur diatas tikar yang sudah di siapkan. Pagi hari nenek sudah bangun duluan, dan Aku juga akhirnya bangun, lalu Nenek mengatakan agar aku di rumah saja hari ini, tidak usah ikut memulung, sampai perut ku sudah baikan, tapi kukatakan ke Nenek kalau perut ku sudah baikan sekarang, sudah tidak sakit lagi. Tetap saja nenek tidak mengijinkan ku ikut dengannya memulung
"Kamu di rumah saja, nanti sebelum nenek pergi, nenek beliin kamu makanan"
"Emang kenapa Nek? kok Farhan ga boleh ikut?
"Ya kamu gak malu emang Farhan, memulung hanya pakai sarung itu? Pakaian mu kan masih basah, Nenek baru cuci semua tadi subuh"
"Oh... Hehehehe... Iya Nek, lupa kalau pakaian Farhan basah semua"
"Ya udah ya, Nenek beli makan dulu buat mu, Nenek pun pergi sebentar meninggalkan ku"
Tak lama berselang, nenek memberi ku sebungkus nasi uduk, lalu nenek pun pergi meninggalkan ku sediri di rumah sederhana ini, kalau di kampung ku, ini mungkin namanya Gubuk. Aku lalu memakan yang dibelikan oleh Nenek, pas aku menyuapkan nasi ke mulut ku, tiba tiba terlintas di benak ku akan alm Nenek Ku yang baik, Aku jadi teringat padanya, seolah sekarang Tuhan mengirimkan ku seorang Nenek yang baik seperti alm Nenek ku. Sambil makan, tak terasa air mata ku pun menetes membasahi wajah ku.
Dan hari ini ku habiskan waktu ku di rumah si Nenek, sambil menunggu-nya pulang. Hari Pun sudah sore, Nenek belum juga datang, Aku jadi sedikit gelisah! entah kenapa, pikiran ku malah menduga duga kalau Nek Ijah kenapa napa di jalanan, apa karna Aku menganggapnya sebagai pengganti nenek ku? Sehingga Aku se kawatir ini?
Tak berselang lama, Nek Ijah akhirnya nyampai, dia sambil memikul karung besar yang berisi botol botol plastik.
"Capek Nek?
"Iya Nak, namanya cari uang ya pasti capek, oh iya, ini nenek beliin kamu makan, kamu pasti udah lapar kan"
"Hehehe... Iya Nek"
Aku pun memakan Nasi yang dibelikan nenek, perut ku kembali terisi oleh Nasi, kemudian ku perhatikan Nek Ijah sibuk dengan botol botol plastiknya, dan seperti mengupasi tutup dari aqua gelas
"Nek, kok di kupasi gitu?
"Iya Nak, biar lebih mahal di jualnya"
"Oh gitu ya Nek, Farhan bantuin ya"
"Iya Nak Farhan"
"Nek, besok Farhan dah boleh ikut kan?
"Emang perut mu ga sakit lagi?
"Udah baikan ko Nek, besok Farhan ikut ya"
"Iya, iya Nak Farhan"
Akhirnya Aku dan Nenek mengupasi tutup dari aqua gelas itu, tak terasa hari sudah gelap, Nek Ijah pun menyalakan lampu teplok , sementara Aku sibuk memasukkan kembali botol botol plastik itu ke dalam karung, sekarang di rumah ada 2 karung besar berisi botol plastik.
"Nek, mau Farhan pijatin gak kakinya?
"Ah ga usah Nak, toh dah biasa kok Nenek berjalan jauh setiap hari"
"Oh... Emang ga pegal Nek?
"Pegal sih pegal, tapi harus dilawan! sakit itu jangan dimanjain Nak Farhan, sekarang dah tidur sana, biar besok badan lebih segar"
"Iya Nek"
Akhirnya Aku dan Nek Ijah pun tidur, dengan beralas tikar dan bantal yang terbuat dari baju baju yang sudah rusak yang tidak bisa di pakai lagi. Pagi harinya, Nek Ijah kembali memebeli nasi uduk buat serapan kami, sambil makan, nek ijah berkata.
"Nak Farhan, nanti bantu Nenek ya, ngangkat karung itu satu"
"Iya Nek, emang mau dibawa kemana?
"Nanti kita mau jual ke pengumpul, biar ada karung buat kita pakai mulung lagi"
"Iya Nek"
Akhir-nya Aku dan nenek pun membawa kedua karung yang berisi botol botol plastik itu, lalu tibalah kami disebuah tempat, dan itu kata Nek Ijah lapak pengumpul, memang aku lihat disitu banyak bertindi tindi karung berisi botol plastik, ada juga banyak kardus, dan rongsokan lainnya. Dari hasil jualan botol itu, Nek Ijah di kasih uang 45 ribu, kemudian kami pun melangkah dan mulai mencari botol botol plastik, tak terasa hari sudah sore, dan karung kami juga sudah penuh, akhirnya kami pun pulang, sebelum sampai rumah, kami juga mampir membeli makan dan air minum.
"Nak Farhan, sekarang langsung kupasin dan bersihin ya, biar besok pagi langsung kita jual, biar cukup uangnya buat beli baju buat kamu"
"Ga usah Nek, Farhan pake ini aja terus"
"Kan itu kotor Farhan kalau ga pernah di ganti bajunya, mana tau nanti kamu dapat kerja, masa pake baju kotor dan bau gitu"
"Tapi uang Farhan dah gak ada Nek, sudah di kompas orang Nek"
"Pake uang yang tadi pagi, sama uang hasil mulung hari ini, nanti pagi kita jual"
"Iya deh Nek, makasih ya Nek, dah baik sama Farhan"
Nek Ijah pun senyum samaku, kemudian Aku disuruh mandi duluan, habis itu langsung makan, dan besoknya kembali kami jual hasil dari memulung kami, kali ini kami dapat uang 50 ribu. Setelah itu, Aku dan Nenek pun langsung berjalan kaki ke pasar, kebetulan disana ada yang jual baju baju bekas, Akhirnya Nek Ijah membelikan ku 1 celana pendek, dan 1 kaos , sementara Nek Ijah tidak beli apa apa. Sehabis itu, kami kemudian mulai memulung lagi. Begitulah keseharian ku dengan Nek Ijah, dia selalu menasihati Aku, agar jangan pernah mengemis, dan jangan pernah mencuri.
Sekarang sudah ada 4 bulan Aku tinggal bersama dengan Nek Ijah. suatu waktu, Nek Ijah Sakit, dan Akhirnya hanya Aku sendiri yang memulung, Aku pun seolah tak kenal lelah, agar Aku dapat mengumpulkan banyak uang, agar bisa membawa Nek Ijah berobat, tapi takdir berkata lain, Nek Ijah akhirnya meninggal saat Aku pergi meninggalkannya sebentar untuk meminta tolong sama teman teman pemulung lainnya, saat kami akan membawanya ke rumah sakit. Aku kembali kehilanngan orang yang tulus menyayangi Aku, Aku benar benar sedih kehilangan Nek Ijah. Kami pun memakamkan Nek Ijah, setelah melapor ke dinas pemakaman.
Sekarang hanya Aku sendiri yang memulung dan tinggal di rumah gubuk ini, tapi itu juga hanya sebentar, karna sekitar 1 bulan setelah Nek Ijah meninggal, pemerintah Kota yang memiliki hak tanah tempat gubuk itu bediri, membongkarnya tampa sepengetahuan ku. Saat itu Aku sedang memulung seperti biasa, sore harinya Aku pulang, dan kudapati Gubuk ku sudah rata dengan tanah, dan barang barang yang ada disana juga katanya diangkut oleh mereka, yang tersisa hanya pakaian ku yang sempat di selamatkan oleh teman pemulung yang juga sama gubuknya di bongkar juga. Akhirnya, Aku pun dan teman pemulung lainnya tidur di emperan toko.
Sekarang aku sudah punya banyak teman, bahkan ada bapak bapak, ibu ibu juga, tapi semuanya sama seperti ku, hanya pemulung, hehehe... Kami sudah seperti keluarga bersama, dengan berjalannya waktu, tingkatan ku sebagai pemulung pun sudah bisa dikatakan bagus, sekarang Aku sudah punya gerobak buat ku memulung, dan itu juga ku jadikan untuk tempat ku tidur.
Jadi, ada sebuah tempat di dekat jembatan yang kami jadikan basecamp, dimana disana kalau malam hari, akan banyak gerobak gerobak pemulung yang berjejer, di sana juga banyak yang 1 keluarga, suami istri dan ada anaknya juga, pernah juga Aku lihat, dan ini pengalaman pertama untuk ku melihatnya, ada Ibu ibu pemulung yang melahirkan di gerobak juga, jadi cuman di bantu oleh Ibu ibu lain saja dalam proses melahirkannya.
Tapi! selalu saja kami ini ibarat Tikus dan Kucing, selalu saja kejar kejaran dengan Dinas sosial, pokoknya! Kami akan selalu kompak, kalau ada yang melihat ada rajia dari Pemerintah, dari dinas sosial, maka akan langsung cepat cepat memberitahukannha, agar ada kesempatan buat kabur atau sembunyi. Kadang aku berpikir, apa kah kami ini menyusahkan Pemerintah? Apakah kami ini membebani pemerintah? Sehingga kami selalu di buru oleh Dinas sosial! Entahlah, hanya mereka yang tau, otak kami tidak sampai ke situ! Yang kami tau, kami pemulung tidak pernah menyusahkan siapa pun, bahkan pernah Ada Bapak bapak pemulung bilang gini ke Dinas sosial yang melakukan rajia, Kami tidak pernah memakan uang pemerintah! Kami tidak pernah membebani pemerintah dengan memakai minyak subsidi! Kami tidak pernah mengeluh ke pemerintah untuk dapat kerjaan! Aku yang mendengar itu, tentu kurang paham, yang aku pahami saat ini, hanya bagaimana agar hasil memulung ku bisa mendapatkan uang banyak.
Banyak kenangan yang ku alami selama jadi pemulung, baik suka dan duka. kehilangan Nek Ijah tentu sangat membuat ku terpukul, dialah penyelamat ku di sini, di Kota ini. selama hampir 2 tahun ku habiskan waktu ku berkeliling Kota Pekanbaru sebagai pemulung, sehingga Aku pun sudah sangat hapal dengan seluk beluk Kota ini.
Anda Mungkin Juga Suka





