
Anak Durhaka Tidak Berguna
Bab 3
Jika dibandingkan dengan saat berbicara di telepon, ekspresi putraku yang histeris ini membuatnya terlihat jauh berbeda. Situasi sudah seperti ini. Apa lagi yang tidak kupahami? Kecelakaan mobil itu tidak nyata. Putraku merasa aku adalah beban hidupnya. Itu sebabnya, dia berusaha mencampakkanku!
"Kalau kamu masih punya hati nurani, cepat pergi dari sini! Jangan menghancurkan pernikahanku!" Putraku memelototiku dengan galak. Dia menunjuk pintu masuk hotel dengan ekspresi jijik.
Saat ini, Elvi datang. Dia menepuk bahu putraku, lalu berpura-pura memasang ekspresi suram saat berkata, "Dia ibu kandungmu. Kenapa kamu malah mengusirnya? Seharusnya orang luar sepertiku yang pergi."
"Jangan bicara begitu!" sela putraku buru-buru. "Di hatiku, kamu baru ibuku. Wanita ini yang mengganggu hubunganmu dengan ayahku. Dia merusak hubungan kalian dengan melahirkanku. Dia baru pelakor!"
Usai berbicara, putraku menoleh menatapku dan mengancam, "Kalau kamu tahu diri, cepat pergi dari sini. Kalau nggak, kupanggil satpam!"
Aku menarik napas dalam-dalam. Hatiku diliputi kekecewaan. "Edo, aku sudah lama memperingatkanmu untuk nggak berhubungan dengan wanita ini. Kalau nggak, kamu bakal sial."
Setahun lalu, putraku pernah memberitahuku bahwa dia bertemu Elvi di kota ini. Selain itu, katanya Elvi menikah dengan pria kaya.
Elvi bersandiwara dengan sangat baik di depan putraku. Dia terlihat seperti seorang senior yang elegan dan bermartabat. Hanya aku yang tahu dia punya niat jahat.
Aku berkali-kali memperingatkan putraku untuk tidak berhubungan dengan Elvi. Aku menyuruhnya menghindar sejauh mungkin. Namun, putraku ini hanya berpura-pura menuruti nasihatku.
"Sial? Justru aku sial kalau bersamamu!" Tebersit rasa bersalah pada ekspresi putraku untuk sesaat. Segera, yang terlihat adalah amarah.
"Bibi Elvi memperkenalkanku kepada banyak orang hebat. Dia punya banyak uang! Sementara itu, restoranmu bangkrut. Pada akhirnya, aku yang harus menghidupimu! Aku masih muda. Aku nggak ingin kamu menjadi bebanku! Apa ada yang salah?"
Hanya dengan beberapa kalimat, putraku menunjukkan dengan jelas bahwa dia tidak mengindahkan nasihatku selama ini.
"Ngapain basa-basi dengannya?" Gladys tiba-tiba berdiri di samping Edo dan melirikku dengan sinis. "Cepat suruh satpam seret dia keluar. Nanti ada tamu penting yang bakal datang."
Ekspresi putraku berubah sedikit. Kemudian, dia menyuruh satpam menyeretku keluar. Aku tidak menghentikan dan hanya menyaksikan dengan ekspresi datar. Yang kurasakan hanya kekecewaan, tetapi aku tetap tenang.
"Cuma satu hal yang ingin aku tanya, kamu yakin mau mengakuinya sebagai ibumu?" tanyaku sambil menunjuk Elvi. "Kalau kamu mau mengakuinya, mulai sekarang kita nggak punya hubungan apa pun lagi. Aku anggap aku nggak punya anak. Kalaupun kamu menangis dan memohon kepadaku, aku nggak bakal memaafkanmu."
Putraku seolah-olah mendengar lelucon terkonyol di dunia ini. "Aku? Memohon kepadamu? Aku justru ingin memintamu jangan pernah muncul di hadapanku lagi."
Saat ini, satpam datang. Putraku menyuruh mereka menarikku keluar. Kemudian, dia memapah Elvi untuk kembali ke aula.
Aku mengelak dari tangan para satpam itu, lalu memekik, "Hotel ini sudah kusewa hari ini! Justru kalian yang harus pergi!"
Anda Mungkin Juga Suka





